Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 84 bentar lagi pasti kumat cerewetnya


__ADS_3

Sekitar pukul 04.00 pagi Raya terbangun, dia masih berada di tempat tidur yang sama dengan suaminya. Tubuhnya berada dalam kungkungan tubuh tegap Asisten Je. Laki-laki itu benar-benar mendekapnya erat, mengurung dirinya dalam pelukan posesifnya.


Untuk sesaat Raya menatap wajah tenang tampan suaminya itu. Asisten Je, pria itu selalu melakukan segala hal sesuai dengan kehendaknya. Sampai saat ini Raya hanya mengetahui bahwa suaminya biasa di panggil Asisten Je. Haha, lucu ya, istri sendiri tidak tahu nama lengkap suaminya.


Perlahan Raya mengelus wajah suaminya hingga berhenti di bibir seksi suaminya. Wanita itu tersenyum malu, ia jadi kembali membayangkan bagaimana rakusnya suaminya itu mengeksplor seluruh wajah dan tubuhnya, tidak ada yang terlewat satupun. Adil kan? Hahaha…rupanya pikiran Raya sudah mulai kacau.


“Terima kasih suamiku, kau selalu tahu apa yang aku butuhkan, terima kasih telah menerima ku, menerima anak-anak ku, aku akan berusaha menjadi istri terbaik untuk mu, walaupun rasa itu belum hadir sepenuhnya” Bisik Raya sambil tersenyum lembut.


Tidak tega untuk membangunkan suaminya yang tampak lelap itu, ia perlahan turun dari ranjang, berusaha tidak banyak membuat pergerakan agar tidak membangunkan suaminya. Setelah berhasil turun, ia segera memakai piyamanya semalam dan mendekati tempat tidur.


“Aku pergi dulu sayang, maaf tidak membangunkan mu dulu, aku tidak tega membangunkan mu yang lelap ini.” Bisik Raya sambil mendaratkan satu ciuman hangat dan lembut di bibir Asisten Je.


Setelah itu ia keluar dari kamar menuju pintu keluar untuk langsung pulang ke rumah. Walaupun masih tampak sepi, tapi De Rumah selalu aman setiap harinya, satpam kompleks akan selalu rutin mengadakan patrol keliling tiap satu jam sekali.


Jadi Raya tidak pernah khawatir, malah yang ia khawatirkan adalah kedua anaknya, terutama Hanum yang biasa bangun langsung menuju ke kamarnya.


Tiba di rumahnya Raya langsung masuk dengan menggunakan kunci cadangan, ada gunanya juga punya kunci ganda, sehingga jika Raya pulang malam atau seperti saat ini, ia tidak perlu mengetok pintu atau memanggil penghuni yang lain di dalam rumah.


Raya segera masuk ke kamar dan membersihkan diri dengan mandi besar, kemudian melaksanakan sholat tahajut, membaca al-qur’an sambil menunggu adzan subuh. Suara merdu nya memperdengarkan lantunan ayat suci di dalam kamarnya. Adzan berkumandang, Raya pun menyudahi membaca Al-qur’an kemudian melanjutkan dengan sholat subuh.


Kegiatan ibadah telah selesai, ia beranjak menuju kamar Titania untuk membangunkan gadisnya itu.

__ADS_1


Tok tok


“Nak…bangun, subuh yuk” Raya menepuk lengan putrinya perlahan, seperti biasa Titania langsung terbangun dan menuju ke kamar mandi. Raya melanjutkan untuk membangunkan Hanum di kamarnya.


Tok tok


Raya masuk dan menempelkan telapak tangannya di kening putri kecilnya itu. Hmmm, sudah tidak ada panas lagi, berarti Hanum sudah benar-benar sembuh.


“Alhamdulillah, Hanum sayang, bangun yuk, sholat subuh dulu, jangan sampai ditinggalin sholat subuhnya yaaa”


Tampak gadis kecil itu menggeliat kemudian perlahan membuka kedua matanya dan melihat mamanya sudah ada di depannya dengan tersenyum lebar dan jangan lupakan, manis.


“Mama…” Suara serak Hanum memanggil mamanya, kedua tangannya menadah minta di bantu bangun.


“Masih kangen, pingin manja terus…”


“Iya-iya, maafin mama ya udah buat Hanum sakit”


“Mama nggak salah kok minta maaf, Hanum kan hanya sebentar sakit perutnya…” Raya tersenyum.


Raya membantu putrinya membersihkan diri, dia ingin berpuas-puas memanjakan Hanum sebelum kembali pada rutinitas pekerjaannya.

__ADS_1


“Mama nggak akan pergi lagi kan?” Tanya Hanum memelas.


“In syaa allah, mama usahakan nggak akan pergi lagi” Raya tersenyum mengangguk membuat senyum Hanum langsung mengembang sempurna.


Setelah selesai dengan semua ritual di kamar mandi, Raya membantu Hanum melaksanakan sholat Subuh. Memang usia Hanum masih 5 tahun, tapi pembelajaran akan lebih mengena pada kinerja otak usia dini.


Raya sudah berkutat kembali di dapur ditemani oleh Bu Arumi. Dua wanita baya itu hanya bisa menemani Hanum saat di rumah sakit pada siang hari, jadi ketika Raya datang pagi buta, kedua wanita itu berada di rumah.


“Hanum sudah sehatkah nak?”


“Sudah bu, bentar lagi pasti kumat cerewetnya” Raya tertawa. Bu Arumi ikut tertawa.


“Maaf ibu tidak menjaga Hanum dengan baik” Sesal Bu Arumi.


“Eh, nggak kok bu, Hanum tuh hanya kangen aja sama aku bu, jadi dia sakit perutnya karena sedang sedih aja.”


“Ada memang gitu?”


“Ya adalah buktinya Hanum” Bu Arumi tertawa.


“Nak Raya ini bisa aja” Raya tertawa.

__ADS_1


TBC


__ADS_2