Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 112 Darah!


__ADS_3

Dengan mata yang masih terpejam dan rasa kantuk yang masih menyergap, Asisten Je meraba tempat tidur di sampingnya. Tangannya yang biasanya melingkar di perut istrinya terasa hampa. Benar, tempat tidur di sampingnya kosong, seseorang yang biasanya dia dekap erat menghilang. Rasanya tidak nyaman kalau mendapati istrinya meninggalkan nya tanpa ijin begini. Asisten Je menoleh ke jendela, Suasana langit masih temaram menunjukkan masih pagi buta.


“Sayang!” Kepalanya menoleh melihat sekitar kamarnya tapi keberadaan istrinya raib. Apa dia pulang lagi tanpa ijin? Ia segera mengambil hp dan menghubungi Lani untuk memastikan Raya di antar pulang ke rumahnya, namun jawaban Lani yang mengatakan ia belum mengantar Raya membuat laki-laki itu khawatir.


Asisten Je bangkit dari kamar kemudian berteriak lagi lebih keras. “Raya!” Kali ini terdengar sahutan dari dalam kamar mandi.


“Aku di kamar mandi sebentar sayang, tidurlah lagi” Asisten Je menghela nafas lega, ia merasa tenang istrinya masih berada di sisinya. Asisten Je kembali menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur tapi tetap terjaga.


Asisten Je meraih guling dan memeluknya, terdengar suara kran air yang terbuka dan air meluncur ke bawah secara terus menerus. Laki-laki itu tampak mengernyit heran, apa istrinya mandi pagi buta begini?


Sudah lebih dari 30 menit Raya di dalam kamar mandi, kesabaran Asisten Je benar-benar diuji membuat hatinya semakin gelisah saja. Tidak pernah Raya sampai sedemikian lama di kamar mandi. Asisten Je bangun dari Kasur dan beranjak cepat menuju kamar mandi.


Jegrek.


Handle pintu kamar mandi di putar dan ditariknya keras namun tidak bergerak.


Jegrek. Jegrek. Jegrek.


Bagaimana pun ia berusaha tetap saja tidak bisa dibuka karena pintu kamar mandi itu terkunci dikunci dari dalam. Tidak biasanya Raya mengunci pintu kamar mandi ketika mandi atau hal lainnya, kecuali kalau di tempat umum. Di tempat umum pun saat bersama Asisten Je Raya juga tidak pernah mengunci pintu kamar mandi.


“Raya! Buka!” Kali ini bukan berusaha membuka handle pintu lagi tapi menggedor pintu kamar mandi dengan keras dan menggebu hingga terdengar nyaring di dalam kamar mandi.


Raya masih bergeming di dalam dengan keadaan yang sama, gelisah.


“Buka Raya! Kenapa mengunci pintu segala? Apa yang kau lakukan di dalam?” Teriakan Asisten Je lebih ke arah panik.


“Iya sayang, sebentar, aku malu, aku bersihkan badanku dulu ya” Teriakan Raya terdengar putus asa mengetahui ktidaksabaran suaminya.


“Apalagi yang membuatmu malu, aku bahkan sudah tahu setiap inchi bagian tubuhmu tanpa baju. Buka sekarang!” Tidak mau mendengar alasan apapun bahkan suaranya makin keras menggelegar dalam kamar.

__ADS_1


“Raya buka sekarang!” Teriak Asisten Je sekali lagi.


“Sayang… aku sedang kedatangan tamu bulanan, aku malu” Menyerah sudah dengan kepasrahan diri dan malu luar biasa. Raya tidak pernah berada dalam situasi seperti ini saat bersama suaminya.


“Apa? Kau bilang apa? Kamu menerima tamu di kamar mandi? Beraninya kamu, buka sekarang! Siapa yang kau sembunyikan di dalam kamar mandiku hah!” Gedoran pintu semakin keras bahkan seakan-akan pintu itu akan lepas dari engselnya. Nada suaranya sudah menunjukkan kemarahan yang luar biasa. Ia berpikir istrinya selingkuh dan menyembunyikan pria nya di kamar mandi.


Kaki Asisten Je sudah menerjang keras ke pintu kamar mandi sambil terus melontarkan amarahnya. “Beraninya kamu membawa selingkuhan kemari, lihat saja habis kamu Raya!”


Raya di dalam kamar mandi hanya bisa meredam malu tapi juga shock mendengar kata-kata lontaran suaminya. Apa suaminya tidak pernah tahu apa itu datang bulan atau istilah banyak orang kedatangan tamu?


Hah, benar-benar suami bodoh! Hardik Mbak Author.


Diam kau thor! Lagi panik juga! Hardik Asisten Je tidak mau kalah.


Serah lu deh asisten bahlul. Mbak Author undur diri.


“Apalagi itu Raya, kamu sudah mulai berani mempermainkan aku ya, apa kamu sudah bosan hidup? Buka sekarang dan keluarlah!” Masih dalam emosi yang luar biasa sehingga otaknya tidak menerima alasan apapun yang diterimanya.


Dia tadi bilang kedatangan tamu bulanan lalu apa itu tadi… mensi mensru? Ah.Asisten Je dengan rapat menempelkan telinganya di daun pintu berharap ada pergerakan dari istrinya dan apa tadi tamu bulanannya. Huh!


“Buka Raya! Aku hitung sampai tiga. Tidak buka pintu, habis kau nanti. Aku tidak main-main ya!” Karena tidak mendengar suara apapun selain air yang mengalir akhirnya ancamanlah yang keluar dari mulutnya.


Belum mulai menghitung.


Jegrek.


Pintu terbuka perlahan.


“Tiga!”

__ADS_1


Hah, dasar Singa Galak, suka sekali menghitung langsung ke angka tiga, itu kan curang namanya.


Asisten Je langsung mendorong pintu kuat karena dilanda rasa kesal serta ingin membuktikan bahwa ada laki laki simpanan di dalam kamar. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar mandi tapi tidak menemukan siapa-siapa kecuali istrinya.


Raya sedang memakai jubah mandi berdiri kikuk berusaha menyembunyikan bercak merah yang menempel pada jubah mandi yang kebetulan berwarna putih sehingga bercak merah itu terlihat sangat jelas.


Baju tidurnya sudah banyak terkena noda darah jadi ia melepaskannya, sialnya ia lupa tanggal datang bulannya. Tidak terpikir kalau suaminya akan terbangun di situasi semacam ini. Tidak terbayang raut muka Raya yang memerah karena malu.


Darah!


Wajah Asisten Je langsung pias melihat jubah mandi yang menutupi tubuh Raya dan baju tidur yang tercecer di lantai dengan noda darah yang banyak menempel.


“Kau sudah gila ya? Kau berdarah dan menutupinya?” Kepanikan membuat akal Asisten Je langsung blank. Laki-laki itu langsung menghambur memeluk tubuh istrinya kemudian memeriksa seluruh bagian tubuh istrinya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Matanya terbelalak saat menyaksikan darah merembes di sela-sela pahanya.


“Sayang aku…”


Tidak mendengarkan kata istrinya, Asisten Je langsung merengkuh tubuh Raya dan menggendongnya dalam pelukan, keluar dari kamar mandi. Ajaibnya, laki-laki itu menangis dengan wajah pucat.


Bagaimana aku menjelaskan ini, kenapa dia bodoh sekali sih, ini kan urusan perempuan, apa dia tidak punya ibu atau adik perempuan. Monolog Raya dalam hati.


Hati-hati Asisten Je meletakkan tubuh Raya di atas tempat tidur, diluruskannya kedua kakinya kemudian berlari menuju kamar mandi, keluar sudah membawa handuk bersih basah dan membasuh kedua paha istrinya yang terkena darah.


Raya sampai tidak habis pikir, ia mendengar sesenggukan ringan suaminya.


Pasrah.


Tanpa bicara apapun atau berusaha menjelaskan semuanya, Raya membiarkan Asisten Je membantunya mengganti baju sampai pada bagian yang terdalam kemudian melingkarkan selimut sampai ke lehernya. Wanita itu sampai ingin tertawa terpingkal-pingkal, ia berusaha menahannya, takut suaminya tersinggung.


TBC

__ADS_1


__ADS_2