
Raya memeluk putrinya, air matanya terus menetes tanpa henti, ia tidak pernah berharap putrinya menyetujui pernikahan sirinya itu. Sudah cukup ia merasakan kebahagiaan bersama Revian suaminya. Dulu pun ia sudah bertekad untuk tidak menikah lagi walaupun hal itu di tentang oleh seluruh keluarga besarnya, tapi ia hanya melanjutkan hidup sesuai alurnya saja.
“Terima kasih sayang” Lirih Raya.
“Adek harus tahu kalau akan punya ayah baru” Kata Titania melepaskan pelukannya, “Kakak yakin adek langsung setuju” Sambungnya tersenyum.
Raya mengangguk, ia senang bisa berbicara dari hati ke hati dengan putrinya, perasaannya lega, tidak ada lagi kekhawatiran tentang hubungan mereka. Ia hanya takut apa yang mereka lakukan akan menghadirkan benih baru di saat restu putrinya belum di dapatkan. Rasa sayang dan cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Ia yakin akan hal itu.
Apalagi di mata orang statusnya masihlah seorang janda dengan dua orang putri. Menjadi janda bukanlah sebuah kemauan dan juga sebuah pilihan. Tapi menjadi janda adalah sebuah takdir yang sudah di gariskan oleh Sang Pencipta.
Sekeras apapun kita berusaha kuat dan tegar serta sabar, jika takdir kita harus menjadi janda, maka tak akan bisa di ubah.
Semua wanita tentu tak mau jika menjadi seorang janda. Apalagi janda di kalangan Masyarakat adalah status yang meresahkan dan hina.
Masih banyak di masyarakat yang menjudge status janda, jika janda itu pelakor, genit, matre, pake guna-guna, penggoda, dan masih banyak lagi. Tapi sebenarnya tak semua janda itu seperti yang selama ini orang pikir dan duga.
….
Hari ini Raya sudah siap dengan blouse tanpa lengan di balut blazer abu-abu, celana kain warna hitam, dan hijab yang senada dengan blazernya. Raya akan langsung berangkat kerja, namun kali ini ia akan langsung menuju restoran tempat janji temu dengan Nitha Amelia. Gadis itu sudah datang malam kemaren dan ia langsung menghubungi Raya untuk bertemu.
“Sayang…., ayolah bareng aku aja, aku antar sampai tujuan” Rengek Asisten di layar telepon. Wajah laki-laki itu benar-benar tidak cocok dengan rumor yang tersebar. Wanita itu memutar bola mata malas.
__ADS_1
“Jangan memasang tampang seperti itu Tuan, tidak cocok sekali tahu” Jawab Raya.
“Kamu mau ya bareng aku, please…” Asisten Je masih tetap mempertahankan wajah gemasnya, bahkan sekarang ia sudah menunjukkan ekspresi sendu dengan bibir manyun. Mirip gadis yang di tolak cintanya.
Raya menggeleng-geleng tak percaya melihat ekspresi suaminya itu. Wanita itu menghela nafas pelan, kemudian memasang aksesoris hijab sebagai pelengkap terakhir outfit nya hari ini. Senyum manis tercetak di bibirnya membuat laki-laki di layar telepon Raya menggeram pelan.
“Jangan memancingku sayang….” Geramnya kesal.
“Eh, aku sedang tidak di tambak ya sayang” Goda Raya seraya mengambil tas dan membawa hp di tangannya. Ia tersenyum manis sekali.
“Tidak lucu Raya” Raya tertawa renyah telah berhasil membuat laki-laki paripurna itu marah.
“Iya…iya, silahkan jemput, tapi setelahnya kamu langsung berangkat ke kantor” Kata Raya akhirnya.
Raya berlalu ke dapur setelah meletakkan tasnya terlebih dahulu di sofa ruang tamu. Seperti biasa Ia sudah memasak subuh tadi dan menyiapkan tiga bekal di meja dapur. Tentu yang satu teristimewa untuk si Tuan Asisten, sesuai arahan pertama menjadi sekretaris merangkap istri kontrak dulu. Sekarang hal itu sudah menjadi kebiasaan bagi Raya untuk menyiapkan tiga kotak bekal.
Bu Arumi tentu hanya membantu saja, karena Raya menginginkan kuality time dalam memasakkan makanan untuk kedua putrinya, bukan tidak percaya pada Bu Arumi. Tapi sebisa mungkin ia ingin menjadi yang pertama dan utama dalam pelayanan kepada kedua putrinya.
Raya di bantu Bu Arumi membawa semua makanan yang sudah siap dan di tata di meja makan. Anak-anak masih belum keluar dari kamarnya masing-masing. Mungkin mereka masih menyiapkan semua perlengkapan sekolah mereka.
“Nak Raya, ibu panggil anak-anak dulu ya” Pamit Bu Arumi. Sekarang memang Bu Arumi yang meminta untuk memanggil dan membantu menyiapkan keperluan anak-anak.
__ADS_1
“Iya bu, Raya akan menata makanannya, sebentar lagi Bu Nanik pasti juga datang” Jawab Raya. Bu Arumi tersenyum mengangguk kemudian berlalu untuk memanggil Titania dan Hanum.
“Mama ku sayang” Hanum sudah siap dengan tas sekolah di punggungnya.
“Jangan lari sayang… pelan-pelan aja” Peringat Raya khawatir akan putri kecilnya itu. Hanum malah tertawa senang seraya memeluk Raya erat. Raya membungkuk untuk mencium pipi putrinya dengan gemas. Titania tampak berjalan tenang di belakang Hanum di ikuti oleh Bu Arumi. Raya tidak mencium gadis itu karena Titania tidak suka di cium, dengan alasan ia sudah bukan anak kecil. Tapi kalau memulai mencium mamanya, akan ia lakukan. Raya tidak mempersalahkan hal itu.
“Assalamu’alaikum” Terdengar salam dari arah ruang tamu. Tampak Bu Nanik dan Pak Malik muncul dari ruang tengah.
“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka serempak.
“Bu Nanik, Pak Malik, ayo sarapan bareng, ini sudah siap nih” Ajak Raya, dia hendak mengambil piring ke dapur. Jarang-jarang Pak Malik mau bergabung sarapan dengan mereka. Biasanya laki-laki baya itu selalu menunggu di dalam mobil.
“Tidak usah neng, tadi saya sudah sarapan sama keluarga” Tolak Pak Malik halus.
“Nggak papa kek, ayo sarapan” Ajak Hanum menarik tangan Pak Malik.
“Sungguh Hanum, kakek sudah sarapan, tapi kalau secangkir kopi bolehlah” Kata Pak Malik menawar membuat Bu Nanik dan Bu Arumi tertawa.
“Baiklah, tunggu sebentar ya pak, saya buatkan dulu” Kata Bu Arumi seraya berlalu menuju ke dapur.
“Duduk dulu pak” Raya mempersilahkan Pak Malik untuk duduk, laki-laki itu mengangguk sopan seraya duduk di kursi yang paling ujung.
__ADS_1
TBC