Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 19 Welcome To The Lembur…Again


__ADS_3

Raya kembali ke ruangannya setelah


berpisah dengan Meili dan kedua anak kembarnya di lobi perusahaan. Ia menghirup


nafas dengan dalam dan meregangkan otot-otot jari tangannya untuk kembali


memulai bekerja dengan sangat teliti dan cekatan. Sebentar ia melihat jam yang


melingkar di tangan kanannya. “Hm…waktu istirahatku menjadi berlebih deh,


semoga asisten itu tidak marah kalau tahu aku isritahat sangat lama sekali.”


Gumamnya pelan, “Baiklah Raya ayo semangat, selesaikan tugasmu secepatnya” Raya


menyemangati dirinya dengan mengepalkan tangannya ke udara.


Dengan cekatan jari-jari lentiknya


mulai menekan dan mengetik berkas yang ada di sebelahnya. Tidak diragukan lagi


kepiawaiannya dalam mengetik, tanpa melihat ke keyboard, pandangannya hanya


mengarah pada berkas yang perlu diketik. Sesekali tangannya membalik berkas


itu. Dalam waktu 3 jam semua berkas yang menumpuk selesai ia kerjakan, terdapat


8 file yang telah tersimpan dalam laptopnya.


Wanita itu menghela nafas lega, ia menyandarkan


punggungnya di kursi sembari meregangkan otot-otot yang kaku. “Alhamdulillah,


akhirnya pekerjaan yang tertunda telah selesai, aku bisa istirahat dulu sebelum


waktunya pulang” Gumamnya seraya tersenyum. Ia memejamkan mata sejenak untuk


merilekskan pikirannya, takut kebablasan ia membuka matanya dan beranjak ke


kamar mandi.


Setelah ritual umum di kamar mandi


selesai ia kembali ke meja kerjanya. ia bersyukur ruangannya dilengkapi dengan


kamar mandi dalam sehingga ia tidak harus naik turun lift untuk ke kamar mandi.


Sampai di depan mejanya ia membelalak


tak percaya, bayangkan saja berkas yang tadi sudah diketik dan berpindah tempat


kini di atas meja kerjanya kembali ada setumpuk berkas yang lebih tinggi dari


yang tadi.


“Apa maksudnya ini? Bukannya berkas


tadi sudah aku ketik semua? Kenapa ada berkas baru lagi dan lebih banyak?


Astaghfirullah, siapa yang berusaha mencegahku pulang nih? Apa asisten itu?”


Berbagai pertanyaan terlontar dari mulutnya dengan gemas, “Ck…apa maksudnya


coba memberiku berkas lagi segini banyak? Emang dia kuasa sih, tapi kan nggak


harus begini juga dia memanfaatkan jabatannya, huh” Raya menggerutu di dalam


ruangannya seraya tangannya mengepal dengan kesal.


“Kalau bukan atasanku sudah aku….eh”


Umpatannya terhenti karena ada teguran marah di belakangnya, reflek kepalanya


menoleh dan senyum meringis langsung terbit di wajahnya.


“Kau akan apa hah?!” Tampak Asisten Je


berdiri di belakangnya dengan wajah yang ….sungguh menyeramkan, sampai-sampai


Raya sempat bergidik ngeri. Raya hanya tersenyum kikuk.


“Hehe…tidak berani Tuan” Kedua jari


telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya membentuk huruf V. Asisten Je


hanya mendengus kasar walaupun jantungnya berdebar keras melihat ekspresi Raya


yang malah terlihat menggemaskan.


“Itu hukuman sebagai ganti istirahatmu


tadi…” Katanya seraya menunjuk tumpukan berkas di atas meja kerja Raya dengan


dagunya.


“Baik Tuan” Raya tidak mau menambah


kemarahan Asisten Je, lebih baik dikerjakan dengan teliti dan benar biar cepat


selesai, dari pada protes nanti ditambah kerjaan lagi.


“Hari ini harus selesai” Ucap Asisten


Je dengan pandangan tajam seolah menguji kemarahan Raya. Wanita itu hanya


tersenyum mengangguk dan lagi-lagi menjawab…


“Baik Tuan” Asisten Je membalikkan


badannya cepat, apa yang diharapkan dari kemarahan wanita itu tidak terjadi malah


membuat ia marah dan kesal sendiri. Raya menatap kepergian Asisten Je dengan


senyuman tipis di wajahnya, dia kembali menatap tumpukan berkas itu dengan


menghela nafas kasar.


“Tenanglah Raya, kerjakan tugas dengan


sebaik-baiknya, kau pasti bisa…welcome to the lembur…again…hihihi”


Raya menuju kursi kebesarannya…hehe, ia


meraih hp di dalam tasnya dan mengetikkan pesan ke Pak Malik untuk menjemputnya


setelah ia telepon nantinya, setelah itu jari jemarinya kembali berkutat di


atas keyboard dan fokus terhadap berkas yang ada di sampingnya. Semakin cepat


selesai semakin cepat bisa pulang.


Ruangan Raya menjadi sangat hening,


yang terdengar hanya bunyi tuts-tuts keyboard laptop dan kertas yang


terbolak-balik di meja. Tatapannya benar-benar fokus hanya pada berkas,


sesekali ia meneliti kembali file yang sudah diketik sebelum disimpan dalam


bentuk file, kemudian berkas yang sudah diketik ia pindahkan ke rak bagian


belakang tubuhnya hanya dengan menggeser kursinya. Setelah itu ia kembali fokus


terhadap berkas yang baru dengan membuka word kembali dan memindahkan berkas di


meja dengan ketikan di word tersebut.


10 berkas ia kerjakan dengan sangat


teliti, cekatan, bahkan saking seriusnya, ia sampai mengabaikan rasa lapar di


perutnya, sesekali ia hanya meminum dari botol tupperwarenya ketika merasa


haus.


Tanpa Raya sadari ada sepasang mata


yang mengawasinya dari balik kaca, Asisten Je ya laki-laki itu yang telah


mengawasi kinerja Raya. Ia berharap wanita itu akan kewalahan dan menyerah


kemudian memutuskan untuk mengerjakan esok hari. Namun yang ia lihat wanita itu


tetap bisa fokus mengerjakan berkas yang seharusnya dilakukan pada hari senin


lusa. Tangannya sempat terkepal, “Aku menugaskan dia menyelesaikan file itu,


tapi apa ini? Kenapa dia bisa mengerjakan tugas itu dengan baik dan terlihat


masih bisa santai?” Gumam Asisten Je, ia melihat Raya meneguk minuman dari


botol minumnya, kemudian mulai fokus lagi. Sejenak ia merasa bersalah melihat


gurat kelelahan di wajah wanita itu, tapi rasa itu segera ditepisnya jauh-jauh


dengan menghindar dari kaca itu.


Waktu menunjukkan pukul 21.00 malam, beberapa


karyawan yang lembur di lantai bawah ada yang mulai meninggalkan ruangan,


bahkan karyawan bagian toko perhiasan sudah pukul 18.00 tadi pulang. Namun


seorang wanita di lantai 5 masih terus mengetik tanpa lelah. Di meja kerjanya


tinggal satu berkas terakhir, kini ia membalik kertas terakhir dari berkas itu,


kemudian matanya tampak meneliti ketikan di laptop dan sebentar kemudian terdengar


bunyi ‘klik’ file tersimpan.


Senyum lega muncul di bibir wanita itu,


ia meregangkan otot-otot punggungnya yang kaku ke sandaran kursi dan terdengar


bunyi gemeretak dari jari jemarinya yang di satukan.


“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,


hmmm sudah jam 22.00 saja ini, okeh Raya waktunya pulang, mandi trus melihat


anak-anak langsung tidur…” Ia membereskan meja kerjanya dan berkas-berkas yang


telah selesai, kemudian bersiap untuk pulang. Ketika hendak keluar ruangan,


telepon di meja berdering, desisan pelan terdengar dari mulutnya. “Jangan lagi


Ya Allah…saya sudah lelah”


Raya mengangkat gagang telepon, belum


mengeluarkan sepatah katapun lawan bicaranya sudah menyapa dengan ketus.


“Apa menunggu waktu yang lama untuk

__ADS_1


mengangkat telepon?” Teriak suara di seberang dengan tajam.


“Maaf Tuan…” Jawabnya mulai jengah,


“tolong jangan cari gara-gara Tuan, aku bisa saja membalas anda” Lirihnya


sangat pelan.


“Apa tugasmu sudah selesai?” Tanya


suara itu lagi dengan tegas.


“Sudah Tuan, mohon jangan memberi tugas


lagi Tuan, saya benar-benar lelah” Kata Raya dengan nada memelas.


“Apa kau melawan atasanmu hah?” Seru


Asisten Je.


“Maaf Tuan, tapi tenaga saya ada


batasannya juga, saya sungguh tidak sanggup untuk bekerja lagi”


“Huh…baru jam 10.00 kamu sudah menyerah,


kau lihat satpam yang berjaga dia siap bekerja 24 jam penuh” Kata Asisten Je


tanpa mengendurkan nada bicaranya.


“Sayangnya saya bukan satpam Tuan…”


Balas Raya berani.


“Berani sekali kau menjawab hah? Apa


kau tidak takut kupecat?” Ancam Asisten Je.


“Maaf Tuan, saya sudah menyelesaikan


tugas saya dengan sangat baik, bahkan dua kali lipat untuk hari ini, kalau Anda


masih belum puas juga, silahkan Anda pecat saya toh dari awal Anda yang


memanggil saya” Jelas Raya semakin berani, ia sudah jengah dengan aturan yang


dibuat Asisten Je yang terkesan tidak masuk akal dan ia siap jika harus


berhenti bekerja.


“Kau…!” Asisten Je kehabisan kata-kata


untuk membalas Raya.


“Maaf Tuan, kalau tidak ada hal yang


penting lagi saya akan menutup telepon dan permisi pulang duluan” Terdengar


geraman di ujung teleponnya dan sejenak kemudian ia mendengar klek tanda


hubungan telepon diputus sepihak. Raya hanya menghela nafas panjang kemudian


meletakkan telepon dan meraih tasnya. Apapun perintah selanjutnya ia akan tetap


memilih pulang, ia bukan robot yang harus bekerja 24 jam tanpa lelah.


Raya keluar dari ruangannya bertepatan


dengan Alvero yang keluar juga dari ruangan CEO, sedetik kemudian tampak


Asisten Je membuka pintu ruangannya.


“Lho Raya, kamu lembur juga? Sepertinya


hari ini tidak ada jatah lembur?” Tanya Alvero heran menatap Raya. Wanita itu


membungkuk hormat. Hmm, kenapa CEO nya malah lebih ramah dari asistennya,


harusnya kan CEO nya yang cuek dan dingin, ini malah asistennya.


“Iya Tuan Muda, ada yang memberi tugas


tambahan sebagai hukuman karena saya terlalu lama istirahatnya” Kata Raya


dengan nada menyindir seraya melirik ke arah Asisten Je.


“Kau yang memberi tugas Je?” Tanya


Alvero menatap Asisten Je, laki-laki itu mengangguk mengiyakan.


“Benar Tuan Muda, itu sebagai…”


“Meili yang mengajaknya, bukannya


harusnya Meili juga kena hukuman?” Tanya Alvero tajam, ia seorang CEO yang


selalu menerapkan aturan kerja sesuai dengan aturan yang berlaku, kalau tidak


ada tugas mendadak maka lembur juga tidak ada. Asisten Je gugup sejenak namun


ia cepat mengalihkan mode wajahnya kembali datar.


“Maaf Tuan Muda, tugasnya saya lihat


belum selesai…” Elaknya.


“Benar begitu Raya?” Tanya Alvero


menegaskan membuat Raya menghela napas pelan, ia tidak mau ada keributan


“Benar Tuan Muda, maafkan saya…” Raya


menunduk.


“Hmm, lain kali kau bisa menolak ajakan


Meili kalau tugasmu belum selesai”


“Baik Tuan Muda, terimakasih atas kemurahan


hati Anda” Kata Raya seraya melirik tajam ke arah Asisten Je, seakan ia


berkata, “Aku sudah menolongmu di hadapan Tuan Mudamu, jadi jangan macam-macam”


Tapi laki-laki yang dilirik tetap dalam mode datar.


Raya hendak menekan lift khusus


karyawan namun langsung di cegah oleh Alvero.


“Bareng di sini saja Raya, lebih cepat


turunnya”


“Ah…baik Tuan Muda, terimakasih” Dan


Raya masuk terakhir setelah Asisten Je masuk, ia memilih berdiri di belakang


para pria penguasa itu dengan sesekali tangannya mengepal dan mengarahkan ke


punggung Asisten Je. Ia tidak sadar bahwa dinding lift itu berkaca hingga apa


yang dia lakukan tidak luput dari pandangan Tuan Muda Alvero dan Asisten Je.


“Kenapa tanganmu Raya?” Tanya Alvero


dengan menahan tawanya, Wanita itu terkesiap dan langsung menyembunyikan


tangannya di belakang punggungnya.


“Tidak Tuan Muda, saya hanya pegal


saja” Bohongnya.


Mereka sampai di lantai dasar dan


langsung menuju ke tempat parkir. Raya lupa tidak langsung menghubungi Pak


Malik, ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih, ia


merasa kasihan kalau harus menelepon Pak Malik jadi ia memutuskan pulang naik


taksi saja.


“Kau dijemput?” Tanya Alvero yang


melihat Raya akan berjalan ke jalan raya.


“Tidak Tuan Muda, saya akan naik taksi


saja…” Raya membungkuk sopan dan hendak berlalu.


“Je…” Tegur Alvero.


“Ikutlah bersama kami…”


“Tidak usah Tuan…saya naik taksi saja…”


“Malam-malam begini?” Asisten Je


menaikkan kedua alisnya.


“Iya…gak papa Tuan”


“Masuklah…tidak ada penolakan” Perintah


Asisten Je, sementara Alvero sudah masuk lebih dulu di kursi penumpang yang


tengah. Raya yang hendak menolak akhirnya mengiyakan ajakan Asisten Je,


otomatis ia masuk ke kursi depan. Tidak mungkinkan ia duduk bersebelahan dengan


Tuan Muda?


Asisten Je mengendarai mobilnya


membelah jalan raya yang mulai sepi dari kendaraan yang lalu lalang.


“Saya mengantar Tuan Muda dulu baru


setelah itu mengantarmu” Kata Asisten Je memecah kebisuan dalam mobil.


“Baik Tuan…” Raya mengarahkan


pandangannya ke luar jendela, ia sudah tidak sabar ingin segera tiba di rumah,


rasanya kangen sekali tidak mendengar celotehan Hanum. Apakah ia sudah tidur,


kasihan sekali gadis kecilku, apa Bu Nanik masih di rumah? Mengetahui itu, Raya


segera mengambil hpnya dan mencari kontak Bu Nanik.


Tut

__ADS_1


Tut


Deringan itupun langsung di angkat…


“…..”


“Wa’alaikumussalam…kok belum tidur


sayang?”


“…..”


“Hmm, iya maaf ya…ini tadi lembur


mendadak lagi”


“…..”


“Iya, ini masih di jalan, sabar yah”


“…..”


“Waalaikumussalam”


Raya memasukkan hpnya kemudian menghela


nafas pelan.


“Kalau terburu naik pesawat saja!”


Ketus Asisten Je. Raya menoleh heran.


“Di rumah saya tidak ada landasan


pesawat Tuan” Jawabnya cuek, membuat Alvero menahan tawanya.


“Kenapa juga telepon kalau sudah tahu


lembur”


“Tuan sudah menikah?” Tanya Raya


membuat Alvero tertawa lepas. Asisten Je hanya mendengus keras.


“Belum ya, apalagi punya anak? Kalau


Anda punya anak dan menanyakan kenapa tidak pulang-pulang bagaimana perasaan


Anda? Sementara Anda harus mendadak lembur?” Tanya Raya lagi membuat Asisten Je


hanya terdiam, “Anda bisa bertanya kepada Tuan Muda tentang hal ketidaktahuan


Anda itu!” Lanjutnya dengan ketus. Asisten Je terdiam tidak mampu membalas


perkataan Raya, sementara Alvero semakin tak bisa menahan tertawa.


“Je…kau kalah telak” Kata Alvero


setelah berhasil berhenti dari tertawanya. Ia sebenarnya heran dengan sikap


asistennya yang sepertinya bertanya terlalu banyak dengan orang yang tidak


terlalu dekat dengannya.


“Maaf Tuan Muda…” Asisten Je hanya bisa


menjawab dengan sopan di depan Alvero.


“Satu lagi Tuan…kalau Anda terlalu


mengurusi urusan saya, saya takut nanti…” Raya menjeda kalimatnya dengan


sengaja karena ingin membuat asisten itu penasaran dan ternyata memang benar.


“Kenapa memang?” Tanyanya penasaran.


“Anda suka sama saya, tapi maaf Anda


bukan tipe saya Tuan…” Jawab Raya semakin telak membuat Asisten Je menggeram


marah. Sekali lagi Alvero tertawa di belakangnya.


“Je…hati-hati lho…aku takut hal itu


akan mempengaruhimu…” Goda Alvero.


“Tidak akan Tuan Muda…”


“Huh, percaya diri sekali…” Sinis Raya.


“Diamlah…!” Sentak Asisten Je.


Asisten membuka pintu belakang dan


mengantarkan Alvero sampai ke depan pintu.


“Sudah kau antar saja sekretaris itu,


tapi ingat pegang kata-katanya tadi…”


“Apa Tuan Muda?”


“Huh, ingatanmu ternyata buruk sekali.


Kau bilang tidak akan tertarik pada sekretaris itu kan? Pergilah”


“Baik Tuan Muda, saya permisi dulu”


“Hmmm….”


.


.


Mobil yang ditumpangi Asisten Je dan


Raya kembali memecah kesunyian malam, waktu sudah menunjukkan pukul 22.15


malam.


“Sebutkan alamat rumahmu biar cepat”


“Perumahan xxx Blok B no 25”


“Apa?” Asisten Je menoleh kepada Raya


seakan tak percaya.


“Kenapa? Apa saya juga tidak pantas


untuk menempati perumahan elit itu?” Tanya Raya seraya menatap tidak suka


kepada Asisten Je.


“Bukan begitu” Kata Asisten Je pelan.


Laki-laki itu mengeratkan pegangan


tangannya pada setir, ia merasa terkejut dengan kenyataan bahwa mereka tinggal


di dalam kompleks perumahan yang sama. Kenapa selama ini ia tidak tahu


keberadaan Raya? Mereka tinggal dalam satu blok yang sama hanya beda nomor


rumah dan lokasi tapi Asisten Je tidak pernah melihat sekalipun Raya maupun


keluarganya.


“Terus kenapa Anda seperti tidak


percaya saya tinggal di perumahan tersebut?” Tanya Raya setelah mereka berada


di jalan. Laki-laki itu hanya diam.


“Tidak ada” Jawabnya singkat kembali


pada mode datar. Terdengar decakan kesal di sampingnya.


“Anda harusnya berterima kasih kan ke


saya?” Tanya Raya berusaha mengingatkan Asisten Je.


“Untuk?” Bukannya menjawab malah


Asisten Je bertanya tanpa menoleh ke arah Raya.


“Bukannya tadi saya telah menyelamatkan


Anda dari kemarahan Tuan Muda Alvero? Jangan bilang Anda lupa”


“Hmmm” Jawab Asisten Je datar.


“Hmm…hmm, itu untuk iya atau tidak?


Saya kan bukan pembaca pikiran yang akan mengerti Anda dengan hanya jawaban


hmm” Kata Raya kesal seraya menatap Asisten Je.


“Cerewet!” Dengusnya tajam


“Apa!!!” Raya melotot tak percaya


mendengar satu kata yang keluar dari mulut Asisten Je sampai wanita itu tidak


mampu berucap apa-apa. Ia hanya bisa menggeram dalam hati.


Asisten Je langsung menghentikan


mobilnya tepat di depan rumah Raya. Sejenak wanita itu mengernyit heran,


bagaimana dia langsung tahu posisi rumahnya tanpa harus mencari atau bertanya


dulu.


“Kenapa? Tidak mau turun? Kau mau ikut


ke rumahku?” Tanya Asisten Je sinis melihat Raya tidak segera turun dari


mobilnya.


“Huh…bisa pingsan di jalan saya…” Kata


Raya cuek.


“Apa maksudmu?!” Tanya Asisten Je


tajam.


“Hmmm, badanku bisa membeku karena di dalam mobil es


batunya terlalu dingin, tapi terima kasih Tuan Anda bersedia mengantar saya…”


Kata Raya seraya turun dari mobil kemudian menutup pintu dengan sedikit keras

__ADS_1


dan berlalu masuk ke dalam rumah. Asisten Je hanya berdecak kesal kemudian


melajukan mobilnya menuju ke blok B no 12.


__ADS_2