Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 37 PERETAS HANDAL


__ADS_3

"Makasih buat yang masih tertarik sama cerita ini. Please dukungannya ya...karena menulis itu butuh semangat dan pikiran yang nyaman, supaya menghasilkan cerita yang lebih baik lagi. Dan menulis itu gak semudah dan secepat membaca. Maka, please...harap mengerti kalau up agak lama, demi mendapat inspirasi dan tulisan yang lebih berkualitas lagi"


Selamat membaca kembali reader kuuuuhh....


Laki-laki itu duduk tegap dengan bersandar pada kursi kebesarannya, tatapannya tajam bak Singa yang siap  menerkam mangsanya. Sementara wanita di depannya hanya berani menunduk menunggu perintah atau kesalahan apa yang dilakukannya. Ruangan hanya diisi oleh keheningan mereka berdua.


  5 menit.


10 menit.


15 menit.


Kembali Raya dibuat diam menunggu sampai keheningan ruangan itu buyar karena dering telepon di meja kerja Asisten Je. Laki-laki itu melirik sekilas ke angka yang menyala merah.


1


Raut wajahnya langsung berubah melunak. Diangkatnya gagang telepon dengan pelan dan tenang.


“Halo Tuan Muda” Sapanya sopan. Raya terkejut sekilas melihat perubahan wajah dan suara laki-laki di depannya.  Kenapa bicara datar, kasar, jutek, kalau bicara lembut dan sopan bisa? Namun ucapan itu hanya ada di dalam batin nya saja.


“…”


“Baik Tuan Muda, saya segera ke ruangan” Laki-laki itu meletakkan gagang telepon kemudian berdiri tanpa  memperdulikan wanita yang sedari tadi duduk di depannya. Sepertinya ada masalah serius sampai-sampai ia lupa akan keberadaan Raya.

__ADS_1


“Tuan…” Panggil Raya saat Asisten Je memutar handel pintu. Laki-laki itu menoleh, ia baru tersadar bahwa  sekretarisnya masih berada di ruangannya.


“”Kembali bekerja” Perintahnya datar kemudian keluar menuju ruangan sang bos besar. Raya hanya mendengus pelan seraya keluar menuju ruangannya.


“Huh…sudah menunggu lama, ternyata hanya diam, apa maksudnya coba?” Ucapnya pelan. Saat akan memasuki ruangannya tampak Anthony keluar dari lift dengan berlari tergesa.


“Ada apa Pak Anthony?” Tanya Raya heran. Sepertinya memang ada kejadian serius.


“Data di kantor di retas subuh tadi, kita sudah berusaha memblokirnya, namun tidak bisa. Jika sampai satu jam lagi  tidak bisa dihentikan, semua data berhasil dibobol. Kemungkinan besar akan berpengaruh pada nilai saham perusahaan yang akan turun anjlok. Bisa saja perusahaan ini bangkrut karena data yang diretas adalah data penting perusahaan termasuk desain terbaru diamond jewerly” Kata Anthony terburu-buru.


Hah…benar ternyata. Tanpa sadar Raya mengikuti langkah Anthony menuju ruangan dan melihat bagaimana raut kepanikan di kedua wajah atasannya tersebut.


“Thoni…”


“Baik Tuan Muda” Seperti telah mengerti apa tugasnya, Anthony langsung bergerak menuju laptop Alvero dan  mengutak-atiknya dengan serius, 20 menit berlalu, namun hal itu sepertinya tidak merubah keadaan. Raut wajah nya berubah tegang dan panik.


“Sial! Siapa yang mencoba bermain-main denganku!” Geram Alvero seraya mengepalkan tangannya.


“Tuan Muda, bolehkah saya mencoba?” Tanya Raya yang langsung mendapat pelototan terkejut dari Asisten Je yang baru menyadari kalau ada Raya di dalam ruangan.


“Apa yang bisa kamu lakukan, Anthony yang mahir saja tidak mampu” Ketus Asisten Je yang langsung menohok Anthony, membuat pria itu tersenyum kecut. Namun jawaban Alvero membuat matanya membulat.


“Lakukan!” Perintahnya.

__ADS_1


Raya mengangguk kemudian berlalu menuju kursi kebesaran Tuan Muda Alvero dan duduk tenang di atasnya kemudian jari jemarinya mulai menari di atas tuts keyboard dengan membuat puluhan bahkan ratusan angka-angka rumit dengan cepat. Ia sangat fokus menghadap laptop di depannya, hingga ia tidak bisa melihat ekspresi wajah ketiga orang di depannya yang saat ini melihat Raya dengan piawainya mengetik dengan sangat cepat.


“Selesai” Ucap Raya tersenyum setelah 5 menit berkutat di laptop.


“Apa?! Sudah selesai?” Tanya Tuan Muda Alvero kaget, karena ini baru 5 menit dan wanita di depannya ini telah  menyelesaikan memblokir peretas itu.


“Sudah Tuan Muda, Anda bisa cek apa ada data yang hilang atau berhasil di ambil oleh pihak lain.” Ucap Raya. Alvero langsung mendekat dengan cepat dan matanya langsung berbinar ceria. Ia mendapati semua datanya aman dan sistem keamanan kembali normal bahkan semakin diperkuat oleh sistem baru yang di buat oleh Raya.


“Kamu hebat Raya, Je saja tidak mampu” Cibirnya seraya menepuk pundak Raya bangga. Wanita itu hanya tersenyum kikuk seraya melirik Asisten Je kemudian bergeser berdiri di sebelah Anthoni. Laki-laki yang disindir oleh Alvero hanya diam tak bergeming, antara terkejut dan takjub melihat kelebihan dari sekretaris yang baru di ketahuinya.


“O iya Tuan Muda, sepertinya ada pengkhianat di dalam perusahaan. Saya menemukan keganjalan saat memblokir serangan pencuri data itu. Pasti ada orang dalam yang terlibat karena kode keamanan hanya diketahui oleh orang penting di perusahaan.”


“…Dan saya sudah berhasil meretas akun yang mencoba mencuri data perusahaan. Semua data dan bukti terkait pelaku sudah saya simpan di dalam flashdisk, orang itu tak lain adalah General Manager Tuan Muda.” Jelas Raya panjang lebar.


“Apa?!” Semua yang hadir berteriak kaget, membuat Raya langsung menutup telinganya.


“Je…kau tahu apa yang harus kau lakukan?” Tanya Alvero yang lebih menjurus ke arah perintah. Laki-laki itu mengangguk mengerti.


“Mengerti Tuan Muda”


“Kenapa kamu tidak bilang kalau bisa meretas data?” Tanya Asisten Je Ketika mereka telah berada di luar ruangan bos.


“Anda tidak pernah bertanya Tuan” Jawab Raya enteng, kemudian berpamitan menuju ke ruangannya. Namun  langkahnya terhenti saat ada yang menahan lengannya, membuat wanita itu menoleh terkejut. Ia memandang ke arah lengannya yang masih dalam cengkeraman Asisten Je. Reflek laki-laki itu melepasnya walaupun ada rasa tidak rela di hatinya.

__ADS_1


“Mulai sekarang, apapun yang kamu bisa harus kamu laporkan pada ku” Kata Asisten Je tegas. Sepertinya ia sendiri bingung kenapa ia harus mengatakan itu pada Raya, semakin ke sini, perasaannya semakin berkembang, dan ada rasa ingin melindungi terhadap wanita di depannya ini.


“Baiklah Tuan, saya permisi” Jawab Raya malas. Ia tidak bersemangat berdebat dengan atasannya itu, suatu hal yang tidak masuk akal kalau diperdebatkan bukan malah bagus tapi malah ia yang akan dirugikan.


__ADS_2