Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 67 amanah yang harus aku jaga


__ADS_3

Assalamu'alaikum readers....


Maaf...maaf baru bisa up, lagi bener-bener sibuk abis nih, sekarang waktuku dah lumayan banyak, ada holiday, yeeey, holiday...waktu me time untuk menulis hehehe...


Cus...met baca ya readers....


Raya menangkup kedua pipi suaminya dan mencium bibir pucat itu lalu memeluknya kembali. Raya melihat ke arah depan dimana kedua putrinya masih bersama Zidan, namun ada sosok lain di samping mereka seakan melindungi mereka.


“Aku berjanji namamu tidak akan pernah hilang, aku berjanji sayang…” Raya menangis tersedu-sedu.


“Sayang, hei, sayang, Raya bangun” Asisten Je mengguncang tubuh istrinya yang menangis tersedu-sedu. Mimpi apa istrinya sampai tersedu begitu. Asisten Je menepuk-nepuk pipi Raya karena dia masih tidak mau bangun.


“Mas Ian!” Raya terbangun dengan nafas terengah-engah dan tangis yang berderai. Dia melihat sekeliling seperti mencari sesuatu.


“Mana Mas Ian, tadi dia di sini” Tangisnya semakin menjadi, ia terbangun mencari ke luar balkon, Asisten Je dengan panik mengikuti kemanapun langkah istrinya.


“Sayang, tenanglah, tidak ada siapa-siapa di sini” Asisten Je meraih pergelangan tangan istrinya untuk  membawanya kembali ke tempat tidur.

__ADS_1


“Tidak, aku harus mencari Mas Ian, dia ada di sini!” Sentaknya dengan menepis tangan suaminya. Asisten Je dengan cepat meraih tubuh istrinya dan memeluknya dengan sangat erat, wanita itu berontak tapi Asisten Je semakin memeluknya dengan erat.


“Tenanglah, ada aku di sini, semua baik-baik saja, tenanglah” Asisten Je mengelus punggung istrinya dengan lembut berusaha menyalurkan ketenangan melalui elusan dan pelukannya. Lambat laun tubuh yang berontak itu mulai tenang, hingga menyisakan isakan kecil.


“Sudah tenang?” Tanya Asisten Je seraya melonggarkan pelukannya, di pandangnya wajah istrinya yang sembab. Wanita itu menatap manik mata suaminya dengan sendu kemudian mengangguk.


“Duduk dulu, aku ambil air minum ya” Asisten Je mendudukkan Raya ke tempat tidur kemudian mengambil minum di kulkas, menuangnya dalam gelas dan menyerahkan pada istrinya.


“Minumlah…” Raya menerima gelas dari suaminya dengan masih memandang suaminya lekat. Ia baru menyadari mimpi bersama suaminya Revian menjelang kematiannya. Namun yang ia bingungkan kenapa ada Asisten Je di sana, mengapa Revian bisa mengetahui bahwa laki-laki yang dalam mimpi itu akan menjadi suaminya, padahal mereka tidak saling mengenal kan? Raya kembali mengingat kata-kata Revian, “Dia laki-laki yang sempurna, dia laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dia pantas menjadi suamimu kelak dan juga ayah yang penyayang pada Tita dan Hanum”


“Kenapa memandangku seperti itu?” Tanya Asisten Je seraya menghapus air mata yang masih mengalir di pipi istrinya. Raya hanya terdiam, namun yang mengejutkan Asisten Je ia memeluk Asisten Je dengan sangat erat dan menangis di dada bidang itu. Asisten Je mengelus rambut Raya sayang.


“Menangislah bila itu akan membuatmu lebih tenang” Saat ini Asisten Je tidak ingin bertanya tentang mimpi yang  membuat istrinya sampai menangis tersedu-sedu.


“Terima kasih” Lirihnya. Asisten Je tersenyum seraya mengeratkan pelukannya. Raya teringat kata pepatah “lebih baik belajar mencintai orang yang mencintai kita, dari pada mencintai orang yang tidak mencintai kita” Dari situ Raya mantab dengan keputusannya.


“Untuk apa?”

__ADS_1


“Aku…aku bersedia menikah dengan mu” Ucap Raya malu-malu seraya semakin menelusupkan kepalanya ke dada suaminya. Asisten Je terkejut sampai merenggangkan pelukan. Laki-laki itu menangkup dagu istrinya dengan satu tangan sementara tangan lainnya masih memeluk pinggang istrinya. Raya tidak berani menatap mata suaminya, pipinya sudah bersemu merah.


“Sayang, tatap aku, hei…kamu serius? Apa karena mimpi tadi?” Raya mendongak menatap suaminya mencari kesungguhan di matanya untuk tetap di sisinya. Dan Raya semakin yakin akan hal itu. Wanita itu mengangguk.


“Aku bermimpi ke masa suamiku sakit parah dan meninggal di pangkuanku, sebelum meninggal dia menunjuk seseorang di seberang jalan yang sedang menatap ke arah kami yang saat itu menemani Tita dan Hanum bermain. Sebelum suamiku menutup mata ia mengatakan bahwa dia laki-laki yang sempurna, laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dia pantas menjadi suamiku juga seorang ayah yang penyayang untuk Tita dan Hanum. Setelah itu aku  terbangun” Kata Raya panjang lebar, air matanya kembali mengalir.


“Kau tahu siapa yang dimaksud suamiku?” Tanya Raya kembali menatap suaminya. Laki-laki itu menggeleng.


“Laki-laki yang memandang kami dari seberang jalan adalah Asisten Je suamiku” Kata Raya tersenyum sementara  suaminya membelalak tak percaya.


Asisten Je memeluk istrinya dengan erat, diciumnya puncak kepala istrinya dengan sayang.


“Aku anggap itu sebagai amanah yang harus aku jaga”


“Dia suami keduaku, suami pertamaku ayah Tita yang menghadiri wisuda kemarin, setelah perpisahan baik-baik, aku menjadi anak bungsu di keluarga mantan mertuaku. Jadi, aku adalah wanita janda 2 kali, aku harap kamu berpikir ulang”


TBC

__ADS_1


__ADS_2