Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 79 Tita hanya ingin mama bahagia


__ADS_3

“Aku sedang tidak melakukan kebaikan, tapi melaksanakan kewajiban” Jawab Asisten Je memotong ucapan Raya membuat wanita itu reflek menoleh dan menggeleng pelan.


“Tita sayang, Tuan Je atasan mama yang bertanggung jawab menyelesaikan urusan mama karena mama masih di bawah kerjanya” Kata Raya.


“Kenapa harus ada kewajiban? Bukannya cukup ada asuransi kesehatan?”


Raya tidak menjawab, ia bingung harus mengatakan apa, Titania bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi, ia akan dengan cerdas bertanya dan bertanya kalau tidak sesuai dengan kenyataan.


“Iya, saya harus bertanggung jawab penuh pada karyawan saya apalagi ini menyangkut putrinya” Kata Asisten Je masih sabar.


“Kenapa bukan perusahaan langsung yang turun tangan?” Tanya Titania lagi masih penasaran. Karena ia yakin ada sesuatu yang terjadi antara mamanya dan atasannya itu. Ia tidak akan melarang mamanya dekat dengan laki-laki manapun, asal mamanya bahagia ia akan ikut bahagia. Tapi jangan lupa kalau laki-laki yang menyukai mamanya harus melalui ujian dari Titania dulu. Hadew, kayak mau melamar pekerjaan aja…


“Titania” Peringatan Raya langsung membuat Titania terdiam, ia tidak ingin dikatakan anak yang tidak patuh, tapi ia hanya ingin yang terbaik buat mamanya, tidak lebih. Apalagi selama ini banyak laki-laki yang mendekat ke mamanya tapi hanya dekat dan ingin mamanya saja tanpa mau berusaha mendekati kedua putrinya. Siapa juga coba yang mau sama wanita yang sudah mempunyai dua anak? Kalaupun mau pasti hanya karena wanitanya, setelah jadi suaminya, kedua anaknya akan dikirim ke sekolah asrama.


Hah!


“Maaf ma, Tita hanya ingin mama bahagia” Kata gadis itu akhirnya membuat mamanya membelalak terkejut. Direngkuhnya tubuh putrinya dengan haru. Titania memang selalu menerima siapapun yang dekat dengan dirinya tapi dia akan berubah ketus dan judes ketika laki-laki yang mendekati dirinya hanya bermaksud memiliki dirinya saja tanpa mau dekat dan menerima anaknya. Titania akan memberikan vonis ingin mamanya maka harus sekomplit dengan yang dimiliki mamanya.

__ADS_1


“Mama akan jelaskan nanti setelah pulang ke rumah ya?” Kata Raya mengelus rambut Titania. Gadis itu mengangguk.


“Mama” Lirih suara dari atas ranjang.


Raya menoleh dan langsung bangkit menuju ranjang dimana putri kecilnya terbaring lemah. Hanum menoleh bersamaan dengan datangnya Raya dan matanya langsung berkaca-kaca. Gadis kecil itu mengulurkan kedua tangannya pada Raya.


“Mama…huaaa” Hanum langsung menangis di pelukan Raya, dielusnya punggung putri kecilnya itu untuk meredakan tangisnya.


“Sayang sudah dong, mama kan sudah ada di sini, Hanum tahan dulu sebentar ya, hanya sebentar kok, setelah infusnya di cabut, Hanum boleh pulang” Bujuk Raya lembut.


“Aku panggilkan dokter dulu, sepertinya tidak apa-apa jika infusnya dilepas sekarang” Kata Asisten Je mendekat ke ranjang Hanum. Kepala gadis kecil itu mendongak dengan mata yang langsung berbinar cerah.


Asisten Je mengulurkan tangan kanannya untuk mengelus kepala gadis kecil itu. Ia ingin membuktikan lagi bahwa sentuhan mereka tidak akan membuat alergi pada tubuhnya. Dan, ternyata memang tidak terjadi reaksi sama sekali.


“Iya, om kan juga khawatir sama Hanum” Jawab Asisten Je tersenyum.


“Bolehkah gendong?” Tanya Hanum dengan binar mata yang berharap.

__ADS_1


Asisten Je memandang Raya bingung, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sementara tangan kiri Hanum sedang tertancap selang infus. Ia khawatir kena tarikan dan lepas yang akan membuat gadis kecil itu tersiksa.


“Bolehkah? Selang infusnya masih…” Tanya Asisten Je ragu-ragu.


“Katanya om ganteng khawatir, cuma gendong aja ndak mau” Hanum sudah mulai cerewet kembali. Rupanya kondisi tubuhnya sudah membaik dan ia punya semangat saat ada Asisten Je yang dikaguminya sejak pertama kali bertemu.


“Tinggal gendong aja apa susahnya sih, yang penting jangan cabut infusnya!” sindir Titania kesal. Mengaku seorang asisten perusahaan emas terbesar di Malang, tapi soal begituan saja remeh. Kesal Titania dalam hati.


“Kamu pegang tangan Hanum” Pinta Asisten Je yang masih khawatir, dia takut salah mengenai selang infusnya. Hanum sudah mulai meringis hendak menangis, Asisten Je merentangkan kedua tangannya lalu meraih tubuh Hanum ke dalam gendongannya.


Hanum langsung saja menyandarkan kepalanya di bahu Asisten Je. Titania memandang dengan tatapan mata tak terbaca, ia merasakan ketulusan laki-laki itu saat berada di dekat adiknya.


Raya tersenyum lembut seraya mengelus punggung Hanum.


“Masih sakit?” Tanya Asisten Je. Hanum dalam gendongannya menggeleng.


Dokter dan perawat langsung datang ke ruang rawat Hanum dengan raut wajah yang tegang. Ada seorang kepala rumah sakit juga dan dua dokter lain. Mereka tentu saja khawatir ketika Asisten Je menghubungi dokter jaga. Mereka takut ada sesuatu diagnosis yang salah pada gadis kecil itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2