Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 12 Keputusan


__ADS_3

“Asisten Je…apa Anda yakin dengan


pilihan pertama, karena pilihan kedua juga bagus walaupun sedikit…” Kata Antoni


di ruangan Asisten Je.


“Terserah saja…pada akhirnya mereka


hanyalah wanita yang merepotkan” Ucapnya malas.


“Apa perlu saya langsung mengambil


keputusan saja?” Tanya Antoni lagi.


“Biarkan saja, aku ingin melihat


bagaimana perangai dan kepribadian mereka jika sudah berhadapan denganku”


Jawabnya tegas.


“Baik Asisten Je”


“Kau tahu Toni, kalau Tuan Muda tidak


meminta ku mencari sekretaris, cukup dengan kemampuanku bisa melayani kerja


Tuan Muda” Keluhnya pelan. Ia memang sudah biasa curhat dengan Antoni,


laki-laki itu selain bawahannya juga termasuk sahabatnya sejak SMA dulu, tapi walaupun


begitu Antoni bisa menempatkan diri ketika di dalam masa bekerja. Dia akan


memanggil dan berbicara formal dengan atasannya di kantor itu, tapi ketika


sudah di luar pekerjaan maka mereka akan berubah menjadi sahabat tanpa ada


batasan formal lagi. Bahkan ada yang menyebarkan rumor bahwa mereka adalah


pasangan gay, tapi mereka tidak memperdulikan rumor tersebut.


Antoni menghela nafas pelan, sebenarnya


ia sendiri juga kasihan dengan Asisten Je, usia matang, kedudukan mapan,


penghasilan mantab, bahkan ia memiliki usaha kafe yang tersebar di beberapa


kota, tapi sampai saat ini ia masih tetap membujang.


“Asisten Je harus sabar menghadapi Tuan


Muda dan Nona Muda, saya yakin keputusan itu adalah yang terbaik”


“Hah…terbaik ya…, bagiku wanita itu


menyusahkan saja, buat apa coba kalau kita merasa mampu tanpa bantuan mereka?”


Antoni menggeleng.


“Tidak semua wanita menyusahkan Asisten


Je, Nona Muda Meili dan kekasih saya contohnya”


“Huh, kau mau pamer kalau memiliki


kekasih begitu” Cibirnya, “Bagiku wanita itu akan menggangguku bekerja,


merepotkan, manja, pengkhianat…”


“Maaf Asisten Je…” Antoni ingin


menyela.


“Iya aku tahu selain Nona Meili dan


kekasihmu.” Sergahnya sinis. Antoni hanya tersenyum kecut seraya menggaruk


tengkuknya yang tidak gatal. “Kau atur semuanya, jika pilihanmu salah, jangan


lupa pintu terbuka lebar untuk menendangmu keluar” Lanjutnya dengan kesal.


“Baik Asisten Je, saya permisi” Kata


Antoni seraya membungkukkan badan dan berlalu keluar.


.


.


.


Pagi ini dengan sangat menyesal, Raya


tidak bisa melakukan lari pagi, karena sebelum jam 07.00 ia sudah harus di


perusahaan Diamond Jewerly untuk melakukan tahap akhir seleksi. Jadinya ia


menyerahkan semua keperluan Titania dan Hanum kepada Bu Nanik, ia juga lupa


untuk menanyakan kepada Pak Malik, tentang prt yang bisa membantunya.


“Pak Malik, nunggu saya hubungi ya,


kalau nanti diterima dan langsung harus bekerja di tinggal aja untuk cari


penumpang…”


“Baik neng”


“O ya pak, apa bapak punya kenalan


seseorang untuk bisa membantu saya di rumah?”


“Membantu gimana neng?”


“Bantu-bantu beres rumah sama cuci


setrika pak”


“Oooo, ada neng, kebetulan tetangga


bapak baru pulang dari Saudi, katanya pingin di Indonesia saja neng, orangnya


cekatan kok usianya kira-kira seusia bapaklah neng”


“Iya deh pak Raya setuju, nanti suruh


ke rumah aja ya pak”


“Baik neng siap aja mah bapak” Raya


tertawa mendengar jawaban Pak Malik. Ingin sekali ia bisa mengunjungi keluarga


Pak Malik, ia merasa orang yang baik padanya begitu peduli padanya, jadi ia


ingin membalas kebaikan mereka dengan menganggap mereka keluarganya.


Mereka sampai di perusahaan 15 menit


sebelum waktu yang ditentukan, Raya langsung memasuki loby perusahaan dan

__ADS_1


menemui resepsionis.


“Selamat pagi mbak, ada yang bisa saya


bantu?” Tanya resepsionis itu ramah. Di perusahaan ini memang sudah ditekankan


dari awal, bahwa semua pegawai harus bisa bersikap netral dan ramah terhadap


semua pengunjung.


“Saya peserta yang lolos seleksi


kemaren mbak…”


“O…baik, atas nama Mbak Raya ya?”


Tanyanya membuat Raya heran. Resepsionis itu mengerti keheranan Raya.


“Mbak sudah di tunggu di ruangan


Asisten Je, mari saya antar.” Raya mengikuti resepsionis tersebut menuju ke


lift karyawan, ia melihat gadis itu menekan tombol angka 5. Keluar dari lift


nampak ada 3 ruangan saja di sana, Pintu yang terlihat megah bertuliskan CEO


Room, pintu kedua bertuliskan Asisten Room, dan pintu ketiga dan kelihatan


dengan ruang yang lebih kecil karena terdapat kaca besar yang langsung tembus


pandang ke ruangan itu bertuliskan secretary Room.


“Silahkan ditunggu sebentar mbak, di


dalam masih ada peserta lainnya”


“Terimakasih” Raya menunggu di depan


ruangan Asisten dengan duduk di sofa, belum lama menunggu pintu sudah terbuka


dan keluarlah seorang wanita dengan pakaian yang seksi sekali sambil menangis.


Raya mengenalnya sebagai kandidat kedua.


“Erika…ada apa? Mengapa kau menangis?”


Tanya Raya bingung, namun gadis itu hanya berlari tak menghiraukan pertanyaan


Raya.


Pintu kembali terbuka lebar dan


laki-laki selaku HRD itu keluar dengan aura yang tidak bisa di gambarkan


seperti apa. Nampak seorang laki-laki di dalam sedang sangat marah.


“Nona Raya? Anda sudah siap? Jangan


hiraukan gadis itu” Seakan tahu keheranan Raya.


“Boleh saya bertanya Tuan?”


“Kau ingin bertanya kenapa gadis itu


keluar dengan menangis?” Raya mengangguk mengiyakan.


“Asal kau tidak membuat kesalahan, maka


kau aman” Kata Antoni tegas, ia mempersilahkan Raya masuk dan pandangannya langsung


bertabrakan dengan sepasang mata tajam di depannya. Sepertinya aku pernah


namun sedikit gelagapan karena sempat memandangi wanita tersebut tanpa


berkedip.


“Selamat pagi Tuan, perkenalkan nama


saya Raya Septiani Sudjana” Ucap Raya sopan, laki-laki itu hanya diam tanpa


ekspresi.


“Silahkan duduk Raya” Ucap Antoni,


kemudian laki-laki itu memberikan salinan kontrak kerja yang akan langsung di


tanda tanganinya. Ia mengernyit heran, apa ia langsung diterima?


“Ya Raya, kau kandidat terakhir, jadi


karena Erika gagal maka secara otomatis kamu yang terpilih sebagai sekretaris


Asisten Je” Jelas Antoni seperti mengerti isi pikiran Raya.


“Aku tidak suka cewek manja, centil dan


semacamnya” Tegas suara di depannya membuat Raya mendongak menatap dan mengernyit


heran. Ia mulai bisa mengambil kesimpulan kenapa Erika tadi menangis. Hmmm,


asisten yang aneh.


“Satu lagi…jangan suka menyentuh


sembarangan” Tegasnya lagi, kali ini dengan nada yang sangat tajam membuat Raya


bergidik ngeri. Benar kata Pak Malik, atasannya aneh dan kejam, ucapnya dalam


hati.


“Kau baca kontraknya dulu, setelah kau


setuju kau bisa tanda tangan” Kata Antoni.


Raya membaca kontrak kerja sekaligus


peraturan aneh itu dengan teliti, tak lama matanya membulat sambil melihat ke


arah Antoni dengan tatapan protes.


“Apa maksudnya saya harus tinggal di


apartemen bersama asisten?” Tanyanya.


“Ya…maksudnya seperti yang tertulis,


kau akan menjalani training dengan tinggal bersama Asisten Je selama sebulan,


untuk melihat apakah kau sudah pantas menjadi sekretaris pribadi Asisten Je apa


tidak, kau paham tugas sekretaris pribadi kan?” Raya diam sebentar, ya dia


sangat paham betul beda sekretaris kantor dengan sekretaris pribadi. Kalau


sekretaris pribadi fungsinya hampir sama dengan seorang istri, yang harus


menyiapkan segala kebutuhan atasannya, terkecuali kebutuhan ranjang tentunya.


“Ini lagi? Ketika bertemu dengan klien

__ADS_1


wanita, maka saya bertugas sebagai kekasihnya?” Tanyanya lebih gusar.


“Begini Raya, Asisten Je sering menggantikan


agenda Tuan Muda untuk meeting dan tak jarang klien yang datang adalah wanita


yang sudah pasti hasil akhirnya mereka akan menggoda Asisten Je” Jelas Antoni


panjang lebar.


“Apa urusannya dengan saya? Bukankah


Anda tinggal menjaga Tuan dengan baik? Dan Saya bukan wanita murahan” Marahnya.


Antoni menghela nafas bingung seraya mengusap tengkuknya. Yang satu kecentilan,


yang satu memegang teguh prinsip. Ia setuju dengan pemikiran Raya tapi bagaimana


lagi kalau Asisten Je sudah memutuskan.


Tinggal selama sebulan di apartemen


bersama laki-laki yang tidak dia kenal, mana ada aturan sekretaris pribadi


harus bertugas layaknya istri. Dia pernah jadi sekretaris pribadi suaminya dulu


sebelum menikah tapi tidak harus menginap juga. Lagi pula bagaimana dengan


Titania dan Hanum? Dia tidak akan tega menyerahkan pengasuhan mereka hanya


kepada Bu Nanik. Satu bulan lho ini, itu sesuatu yang sangat mustahil.


Sepertinya ia harus mencari pekerjaan lain atau kalau tidak menuruti perkataan


Titania membuka kafe.


“Bagaimana apa kau bersedia?” Tanya


Antoni penuh harap. Raya menghela nafas panjang, ia sudah mengambil keputusan.


“Baiklah…” Sebelum ia menyelesaikan


kalimatnya sudah dipotong oleh Asisten Je dengan sinis.


“Huh, wanita sama saja!” Dengusnya


tajam. Ia memandang rendah terhadap Raya, karena setuju dengan keputusan


menginap selama sebulan, sebenarnya itu hanya pancingan saja, ternyata semua wanita


sama saja, penggoda, berpura-pura sopan dan baik tapi ujung-ujungnya penggoda


juga.


“Segeralah tanda tangan” Ucap Asisten


Je dengan tajam.


“Maaf Tuan…tapi saya bukan bermaksud


setuju tadi, saya lebih baik mengundurkan diri sebelum saya tanda tangan” Ucap


Raya tegas kemudian berdiri dari duduknya, membungkuk sopan dan keluar.


“Permisi Tuan”


“Huh, kita lihat saja, kau akan kembali


memohon padaku!” Serunya marah. Raya tidak peduli, ia terus melangkah dan


keluar dari pintu. Antoni memijit pelipisnya, mulai merasa pusing dengan


Asisten Je. Sudah diberi sekretaris yang cerdas, handal, dan cekatan, masih


juga membuat kesalahan.


2 menit


5 menit


10 menit


Pintu itu masih tertutup rapat, “wanita


itu benar-benar tidak kembali?” Desisnya pelan tak percaya.


“Asisten Je, maaf, yang saya lihat


selama seleksi, dia memang wanita yang berbeda dengan yang lain, dia tidak


pernah kecentilan dan berbuat yang aneh, saya rasa dia benar-benar bersih… sayang…”


“Kau menyalahkanku begitu?” Teriak


Asisten Je marah membuat bulu kuduk Antoni merinding.


“Maafkan saya Asisten Je”


“Keluarlah, sudah aku bilang aku tidak


butuh sekretaris!” Sinisnya. Baru saja selesai bicara telepon di mejanya


berdering.


“Ya Tuan Muda?”


“Bawa sekretaris barumu ke ruanganku,


Meili ingin bertemu dengannya” Perintah Alvero langsung menutup teleponnya


tanpa memberi kesempatan Asisten Je untuk menjawab. Asisten Je tercengang, ia


menatap Antoni bingung.


“Gawat”


“Kenapa?”


“Nona Muda ingin bertemu dengan


sekretaris baruku” Katanya frustasi. Kali ini Antoni hanya angkat bahu.


“Bukan urusan saya Asisten Je, saya


permisi” Katanya berani seraya meninggalkan ruangan asisten aneh itu. Asisten


Je melempar bolpoint ke arah Antoni dengan marah tapi laki-laki itu keburu menutup


pintu dengan tertawa sehingga bolpoint itu hanya mengenai daun pintu.


To Be Continued


Hei-hei hallow readers


Jumpa lagi sama othor nih, met nikmati ya


dukung terus yah


met baca aja deh dan semoga syukaaaa

__ADS_1


__ADS_2