
“Malah saya sudah menikah dengan ibunya, Tuan Muda” Jawab Asisten Je, tapi hanya dalam hati ya. Haha, belum seberani itu ia jujur pada atasannya. Selama proses audit ia hanya memberikan kabar berupa pembenahan keuangan saja dan melaporkan kecurangan atau pelanggaran yang dilakukan oleh pimpinan cabang, semua keputusan mutlak diberikan kepada asistennya itu, jadi untuk masalah pribadi Asisten Je masih menutup rapat.
Mengetahui Asisten Je yang tidak menjawab pertanyaan Tuan Muda Alvero, mereka berdua kemudian memutuskan untuk menutup telepon.
“Sayang, setelah lahiran aku ingin menjenguk putrinya Raya, ya” Rengek Nona Meili.
“Iya honey, sekarang kamu fokus dulu sama lahirin anak kita”
Nona Meili mengangguk tersenyum namun sedetik kemudian wajahnya meringis sambil tangan kanannya mencengkram erat lengan suaminya.
“Sayang, aku…sudah mau lahiran, panggil suster, cepat sayang, aduh” Tuan Muda Alvero yang panik langsung berlari menuju pintu dan menyuruh bodyguard untuk memanggil dokter.
Yaelah Al…di atas kepala istrimu tuh ada tombol. Lupa ya, ckckckck. Maklum, bos lagi panik. Hahahaha, semua hal yang mudah langsung menjadi sulit.
Asisten Je kembali ke depan ruang tunggu kamar rawat Hanum. Ia hanya bisa berada di luar, ia masih belum menemukan cara untuk bisa mendekati Titania. Untuk Hanum, ia yakin gadis kecil itu akan mudah didekati. Karena sepenglihatannya, gadis kecil itu sepertinya sangat mengaguminya.
“Tuan, ini pesanan Anda” Lani datang dengan membawa paper bag berisi berbagai macam makanan dan cemilan. Asisten Je menerima paper bag itu kemudian berlalu ke dalam.
“Kamu bereskan barang di dalam ketika kami keluar”
__ADS_1
“Baik Tuan, ini kartunya” Lani menyodorkan kartu kredit pada atasannya, namun atasannya tersebut malah menghiraukan dengan tetap masuk ke dalam kamar.
“Aku bawakan makanan, kamu pasti belum makan kan?” Asisten Je menyodorkan paper bag pada Titania, gadis itu diam sebentar tapi akhirnya menerima paper bag itu.
“Kak Tita makan dulu ya, mama sudah makan tadi” Raya membujuk putrinya untuk mau mengisi perutnya. Gadis itu mengangguk kemudian duduk di sofa. Ia mulai membuka isi paper bag dan mengeluarkan yang ia suka, omelet dan susu coklat panas.
Asisten Je mengusap pelan kepala Hanum dan memberikan kecupan hangat di keningnya. “Hanum cepat pulih ya, mama sudah balik nih” Bisik Asisten Je di telinga Hanum.
Asisten Je mengangkat tubuhnya menghadap istrinya, dia meraih lengan istrinya lembut.
“Jangan sedih, Hanum sudah baik-baik saja, kondisi Hanum kata dokter tidak perlu dikhawatirkan karena tidak ada masalah yang serius, hanya masalah pencernaan ringan” Ujar Asisten Je menghibur Raya seraya mengelus punggung tangannya lembut. Tadi sebelum masuk ke kamar rawat Hanum, ia sempat bertanya pada dokter yang menangani Hanum. Direktur rumah sakit juga langsung membawakan hasil tes laboratorium dan hasilnya baik-baik saja.
“Dia Pasti baik-baik saja, dia anak yang kuat, dia hanya merindukan mamanya” Asisten Je menepuk punggung Raya lembut. Wanita itu tanpa sadar menyandarkan kepalanya di dada Asisten Je. Dia menyadari bahwa dia ingin memiliki seseorang yang bisa berbagi beban dengannya seperti ini, tapi masih ada rasa khawatir di hatinya. Terutama persetujuan Titania, Raya reflek mengangkat tubuhnya dan menoleh ke arah putrinya yang duduk tenang di sofa. Ia bernafas lega putrinya itu menunduk asyik menikmati makanannya dan tidak melihat ke arahnya.
Padahal tanpa sepengetahuan kedua orang itu, Titania melihat semua perlakuan Asisten Je pada mamanya dan bagaimana sikap mamanya pada laki-laki itu. Tapi Tita memilih diam, ia sudah cukup simpati dengan tindakan cepat laki-laki itu yang langsung memilih pulang dan menangani adiknya walaupun dari jarak yang sangat jauh. Hatinya tersentuh melihat perhatian laki-laki itu pada Hanum tadi. Apa mungkin perhatian itu hanya antara atasan dan sekretaris saja? Menurut hati Titania, lebih dari itu, karena tidak mungkin seorang atasan akan langsung turun tangan terhadap karyawannya, apalagi ini anaknya yang sakit.
“Kata dokter setelah infusnya habis, Hanum boleh pulang” Kata Asisten Je. Raya mengangguk paham.
“Kamu belum makan dari di pesawat, biar Hanum aku yang menjaga” Tawar Asisten Je.
__ADS_1
“Tidak, aku ingin menunggu Hanum di sini, Sekitar dua jam lagi infusnya habis. Aku mau kalau dia bangun dan membuka mata, ada aku di sisinya” Jawab Raya seraya mengelus pipi gembul putri kecilnya itu.
“Aku tahu, tapi kamu juga perlu istirahat dan makan, selama di pesawat kamu juga tidak tidur sama sekali” Asisten Je membawa Raya ke sofa duduk di sebelah Titania yang sudah selesai dengan makannya. Kini gadis itu menikmati coklat panasnya dalam diam.
Asisten Je membuka paper bag satunya untuk diberikan pada Raya, Wanita itu menerima dengan enggan, namun karena tatapan tajam suaminya akhirnya ia mengalah dan memakannya.
“Terima kasih karena urusan administrasi Hanum menjadi sangat mudah dan Hanum mendapat fasilitas kamar terbaik” Raya tersenyum lembut pada suaminya.
“Sekarang ada aku yang bersedia berbagi beban denganmu, tidak usah berterima kasih padaku” Usap Asisten Je pada tangan istrinya.
“Kenapa kamu begitu baik?” Tanya suara di samping mereka membuat Raya terkejut yang baru menyadari bahwa masih ada Titania di kamar itu.
“Sayang…” Raya menoleh dan memeluk lembut putrinya.
“Mama…”
“Aku sedang tidak melakukan kebaikan, tapi melaksanakan kewajiban” Jawab Asisten Je memotong ucapan Raya membuat wanita itu reflek menoleh dan menggeleng pelan.
TBC
__ADS_1