
Mereka berdua telah sampai kembali di perusahaan tanpa membuahkan hasil dari kerja sama itu. Raya masuk ke dalam ruangannya, sementara Asisten Je setelah mengantar Raya ia masuk juga ke ruangannya. Emosinya masih belum stabil benar. Ia tidak mengira wanita itu akan mengincarnya kembali sampai-sampai harus ke Malang.
Pikirannya tidak fokus, ia menghentikan semua aktifitasnya. Tuan Alvero tidak mengetahui pembatalan kerja sama itu, apa jadinya kalau dia tahu pembatalan kerja hanya karena masalah pribadi.
Asisten Je meregangkan tubuhnya, ia meraih hpnya dan menghubungi Raya.
“Ke ruangan ku ya” Tanpa menunggu jawaban Asisten Je langsung mematikan panggilan.
Sebentar kemudian Raya masuk dengan ekspresi kesal, Asisten Je hanya tersenyum tanpa merasa bersalah.
“Ada apa?” Tanyanya langsung duduk di sofa.
Asisten Je hanya diam, tapi perintah tangannya menyuruh Raya mendekat.
“Tidak mau!”
“Durhaka lho tidak menurut perintah suami” Goda Asisten Je.
Raya hanya mendengus, tanpa menolak lagi ia menghampiri suaminya dan berdiri di samping suaminya.
“Akhhh…” Raya menjerit tertahan karena badannya langsung ditarik oleh Asisten Je untuk duduk di pangkuannya.
“Jangan macam-macam, ini di kantor”
“Emang siapa yang mau macam-macam? Atau kamu yang pingin yaaa” Goda Asisten Je lagi.
“Huh, lepas sayang, nanti kalau ada yang masuk…”
Klik.
Asisten Je mengeluarkan remot dari laci.
“Sudah aku kunci, tidak ada yang bisa masuk”
Raya hanya terdiam pasrah, melawan suaminya tidak ada menangnya malah dia yang selalu rugi.
“Kamu hubungi Panada Diamond, kerja sama akan berlanjut tapi harus ganti modelnya” Kata Asisten Je seraya menciumi kepala istrinya.
“Kenapa harus diganti, kelihatannya model itu professional” Kata Raya seraya berusaha menjauhkan tubuhnya dari suaminya. Suaminya ini kenapa tidak mau melepaskan sedikit saja waktunya untuk sendiri.
“Kata siapa professional?”
“CV nya jelas-jelas dia model internasional lho”
“Nggak jamin”
Raya terdiam cukup lama, ia sempat kaget ketika model itu secara tiba-tiba memeluk suaminya dan yang lebih membuatnya terkejut, terdapat reaksi yang baru diketahuinya. Apakah benar suaminya tidak bisa bersentuhan dengan lawan jenis, lalu bagaimana dengan mereka yang telah berhubungan lebih dari hanya sekedar pegangan tangan.
__ADS_1
“Siapa Daliya? Sepertinya dia begitu akrab dengan mu, bahkan dia menyebutmu dengan Nero” Asisten Je menyibakkan hijab Raya sampai telinga istrinya terlihat.
“Cemburu?” Bisik Asisten Je tepat di lubang telinga Raya membuat wanita itu langsung merinding. Tangannya berusaha menutup hijabnya tapi saat itu juga tangannya digenggam dengan lembut.
“Buat apa cemburu?” Sewot Raya.
“Nadamu marah” Sarkas Asisten Je.
“Nggak ada ya, jangan mengada-ngada” Sergah Raya seraya menyentak tangan suaminya membuat tangan itu lepas dan Raya langsung berdiri seraya merapikan hijabnya.
Asisten Je memberengut kesal atas tindakan Raya yang melepaskan dirinya, laki-laki itu menatap istrinya dengan pandangan yang merasa kehilangan.
“Dia bukan orang penting” Asisten Je berbicara malas.
“Dia menyentuhmu seakan kamu kekasihnya” Raya mundur selangkah melihat pergerakan suaminya yang tiba-tiba berdiri menghampirinya. Wanita itu terus mundur karena suaminya terus melangkah dengan senyum menyeringai sampai langkahnya terhalang dinding.
“Aku sudah punya istri ya” Kata Asisten Je seraya kedua tangannya menempel dinding memblokir pergerakan istrinya.
“Iya mantan” Ralat Raya.
Asisten Je hanya diam tidak menanggapi, mulutnya masih menyeringai, tangannya kembali menyibakkan jilbab istrinya sampai ke leher hingga terlihatlah leher jenjang yang putih bersih. Nafasnya menjadi berat.
“Tunangan ya, au…sayang ih, kenapa leherku di gigit sih” Raya berusaha menghindar dari suaminya tapi gagal.
“Berisik” Sentaknya dengan suara yang mulai berat.
“Kekasihku dan istriku cuma satu dan itu kamu, titik. Jangan berpikir macam-macam. Mengerti?” Raya menghela nafas pelan. Ia yakin wanita itu mantan tunangan suaminya, ia harus pintar-pintar menjaga miliknya dari jangkauan wanita itu. Ia tidak suka saat hubungan dengan laki-laki lain sudah terjalin, ternyata di antara mereka ada seorang pelakor. Jauh-jauh saja dari pandangan Raya, kalau mereka tidak ingin menjadi samsak hidupnya. Raya tersenyum menyeringai.
“Iya-iya di mengerti”
“Baguslah” Asisten Je mengangkat istrinya dan membawanya ke ruangan istirahat di belakang dinding pembatas itu.
“Hei…mau kemana? Sayang…”
“Janji tidak lama…”
“Ish” Cemberut Raya yang langsung disambut dengan ******* bibir suaminya.
Raya kembali ke ruangannya dengan pakaian yang masih sedikit kusut. Bibirnya masih mengerucut kesal dengan suaminya, yang mengeksplor tubuhnya bukan hanya sekali.
“Dasar, Singa Galak apanya…kucing garong iya mah” Kesalnya masih menggerutu.
Ia mengambil hpnya untuk menghubungi Nitha Amelia, brand ambassador Diamond Jewerly. Jangan lupakan sepak terjang gadis itu. Sejak pernah menjadi model Perusahaan Alvero, namanya langsung melambung, job datang dengan sendirinya. Perusahaan juga tidak mengekang gerak Langkah Nitha, selama ia tidak ada job di Perusahaan ia boleh mengambil job lain. Ia menghela nafas panjang untuk menetralkan amarahnya.
“Assalamu’alaikum Nitha” Raya menjauhkan hpnya dari telinganya karena teriakan melengking dari suara di telepon.
“Mbak Rayaaaa, kangennnnn”
__ADS_1
“Hadew… dasar bocah” Keluh Raya yang hanya di sambut tertawa senang oleh Nitha. Gadis itu memang bebas bermanja dengan Raya yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya.
“Ada apa mbak?” Tanya Nitha mulai serius.
“Kamu ada di mana ini?” Tanya Raya.
“Aku di Surabaya mbak, hari ini terakhir syuting. Apa ada job buat aku?” Tanya Nitha percaya diri.
“Iya nih, kami butuh kamu untuk menjadi model, tapi bukan untuk Diamond Jewerly”
“Lah…terus?”
“Kami bekerja sama dengan Panada Diamond dari Kalimantan, dia mengajukan model tapi tidak cocok dan kami harus mencari pengganti. Kamu bersedia nggak?”
“Mau..mau mbak, nanti tetap Mbak Raya yang koordinir kan?”
“Aku usahakan ya”
“Yess, aku tunggu mbak, nanti malam aku langsung balik Malang mbak, besok aja aku main ke rumah ya”
“Oke Nitha, aku tutup dulu ya”
“Oke mbak, bye”
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam, hehe”
Sambungan terputus.
Raya memilih berkas-berkas yang harus di selesaikan sampai malam ini, tidak mau ya dia lembur lagi, bisa gawat kalua terus berdekatan dengan suaminya. Berdua lagi. Sampai saat ini Tuan Alvero juga belum masuk.
Ceklek.
Raya mendongak melihat siapa yang masuk ke ruangannya. Asisten Je tersenyum memandang istrinya. Raya langsung merubah wajahnya menjadi cemberut.
“Masih marah?” Asisten Je mendatangi kursi istrinya dengan masih menyunggingkan senyum.
“Misih mirih?” Sewotnya dengan bibir di manyunkan.
“Maaf deh…aku kan kelepasan sayang”
“Mana ada kelepasan sampai tiga kali” Cibir Raya membuat Asisten Je terkikik.
“Iya-iya, ndak lagi”
“Huh, nggak bisa dipercaya”
__ADS_1
“Pulang yuk, dah malem ini” Asisten Je menunjukkan jam tangannya ke hadapan Raya. Wanita itu bergegas memberesi semua berkas di mejanya, setelah rapi ia bergegas berdiri meninggalkan suaminya. Laki-laki itu hanya mengikuti istrinya dalam diam namun bibirnya tetap tersenyum. Suka sekali dia membuat istrinya merajuk. Ah…sering-sering aja istrinya marah. Hehe…
TBC