Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 34 Pertemuan Yang Tidak Disengaja


__ADS_3

“Ternyata kamu bisa garang juga ya” Kata Asisten Je saat mereka meluncur kembali ke kantor. Raya menoleh memandang raut muka atasannya yang sepertinya menyindirnya.


“Tuan menyindir atau memuji saya ya” Usil Raya tersenyum membuat laki-laki itu mendengus.


“Siapa juga yang memuji” Sergahnya ketus. Raya mesam mesem sendiri membuat Asisten Je mengerutkan kening heran.


“Kenapa? Kamu teringat laki-laki tadi?” Tanyanya masih dengan nada ketus. Raya hanya tersenyum menanggapi ucapan laki-laki di sampingnya.


“Nggak juga Tuan, cuma saya merasa lucu saja”


“Apanya yang lucu?”


“Yaaa Tuan tidak mengakui kalau memang sedang memuji saya. Gini ya Tuan, ketegasan itu perlu ditunjukkan di situasi yang tepat dan tindakan yang tepat pula Tuan.” Jelas Raya serius.


“Kamu mencoba mengatakan bahwa saya selalu tegas gitu dan itu salah?!” Serunya tajam membuat Raya menghela nafas pelan. Hm, susah deh kalau sudah mulai ngegas.


“Saya kan menggambarkan diri saya Tuan” Kata Raya pada akhirnya yang membuat laki-laki itu langsung terdiam namun sangat jelas sekali genggaman erat kedua tangannya pada setir mobil.


30 menit kemudian mereka telah sampai di kantor dan langsung menghadap pada Tuan Muda Alvero untuk mendiskusikan hasil pemantauan mereka selama di lapangan. Hasil yang memuaskan dan selanjutnya mereka tinggal mengawasi pembangunan hotel itu secara berkala dan menempatkan salah satu kepercayaan Asisten Je di lokasi pembangunan, sehingga mereka tidak perlu setiap hari harus datang untuk mengecek. Mereka tinggal  menunggu laporan dari kepercayaan Asisten Je.


Waktu telah berlalu hingga waktu pulang pun menjelang, jam masih menunjukkan 19.15, namun Raya sudah bersiap-siap untuk pulang, Jason tadi mengabarkan bahwa ia sudah di Malang dan langsung mengajak kedua ponakannya gerilya ke mall, ia juga meminta Raya untuk menyusul ke mall. Wanita itu keluar dari ruangan dengan menenteng tas kemudian mengunci ruangannya, untung saja tidak ada agenda lembur sama sekali, sejenak ia melirik ke ruangan Asisten Je, ruangan itu juga tampak sudah gelap. Hmm, berarti dia sudah pulang, baguslah jadi aku bisa pulang tanpa ada adegan debat dan berujung pada lembur.


Raya bergegas melangkah ke area lift dan masuk ke dalamnya, pas di lantai 4 lift terbuka dan masuklah segerombol karyawan yang hampir memenuhi lift reflek Raya langsung mundur ke belakang.

__ADS_1


“Hei Ra tumben pulang sore, biasanya lembur” Sapa Teja yang kebetulan berada satu lift.


“Iya nih, sang bos lagi di luar kayaknya, beruntung banget aku bisa pulang sore” Jawab Raya sambil tersenyum.


“Wah, sering-sering aja mbak Tuan Bos dinas luar, kita kan bisa makan malam bareng nih” Kata Weni ceria.


“Maaf sekali Wen, hari ini aku ada janji, mungkin lain kali deh ya”


“Yaa nggak serulah makan malam kita kalau Mbak Raya nggak gabung” Timpal Reni.


“Lain kali pasti aku usahain deh” Janji Raya sambil memandang teman-teman sesama sekretarisnya.


“Janji ya mbak” Kata para cewek serempak, Raya mengangguk tersenyum.


Ting.


Seperti biasa Pak Malik telah menunggu di tempat parkir dan segera membuka pintu begitu melihat kehadiran Raya mendekat.


“Assalamu’alaikum neng” Sapa laki-laki tua itu ramah sambil tersenyum.


“Wa’alaikumussalam pak, kita langsung ke mall xxx ya pak, anak-anak lagi di sana sama om nya”


“Baik neng”

__ADS_1


Mobil segera meluncur ke area mall xxx dengan kecepatan sedang, suasana malam ini juga tidak terlalu padat sehingga jarak ke mall xxx hanya ditempuh dalam waktu 15 menit. Pak Malik langsung pulang sesuai perintah dari Raya, karena dia nanti akan pulang bersama anak-anak dan Jason. Wanita itu langsung masuk ke dalam mall dan mencari keberadaan anak-anaknya yang telah di share sedang berada di area permainan.


Bruk!


“Aw…” Tubrukan terjadi antara Raya dan seseorang yang membuat tubuh Raya langsung oleng, tapi dengan sigap seseorang itu langsung menarik tangan Raya dan menggenggamnya erat agar tidak terjatuh. Raya menatap wajah laki-laki penabraknya dengan penuh keterkejutan. Asisten Je! Kenapa dia ada di sini? Apa ada acara yang di adakan di mall atau..?


Namun hal itu hanya sebentar, sejenak kemudian Raya dan Asisten Je sama-sama tersadar dengan apa yang mereka lakukan, pegangan itupun terlepas, apalagi ada suara deheman yang membuat mereka juga secara sadar melepas pegangan mereka.


“Ehm!” Deheman keras membuyarkan keterkejutan mereka berdua dan reflek Raya langsung menarik tangannya dan menoleh pada suara di belakang mereka. Tanpa sadar wanita itu membelalakkan matanya panik.


“Ah..Jason, i..ini tidak seperti yang kamu lihat, aku…bisa jelasin, anak-anak, mama..hanya..” Jelas Raya yang entah


kenapa dia harus merasa gugup untuk memberikan penjelasan kepada tiga orang yang kebetulan berada di sebelahnya. Tatapan Jason dengan alis yang ke atas membuat Raya menjadi semakin panik. Ia tidak mau di tuduh yang tidak-tidak oleh mantan adik iparnya.


“Oke girls, masih mau lanjut?” Tanya Jason mengalihkan tatapan matanya pada kedua gadis di sebelahnya. Titania


memandang tajam dan sinis ke arah laki-laki yang bersama mamanya sementara Hanum hanya tersenyum-senyum gemes.


“Om danten mo ikut?” Tawarnya dengan suara manja.


“Tidak boleh” Jawab Jason dan Titania bersamaan membuat laki-laki itu tiba-tiba mengepalkan kedua tangannya.


“Eh…maaf Tuan saya yang salah tidak lihat jalan, saya permisi.” Raya mengakhiri perseteruan tanpa suara itu dengan menggeret lengan Jason dan Hanum menjauhi tempat tersebut, sementara Titania membuntuti di belakang mereka. Laki-laki yang ternyata Asisten Je itu hanya menatap geram ke arah mereka dan tatapannya hanya fokus ke tangan Raya yang menggamit lengan laki-laki itu dengan mesra membuat hatinya tiba-tiba berdenyut sakit dan kepalan tangannya tambah mengerat. Ia melangkah keluar dari mall dengan perasaan kesal dan hati yang tak menentu. Baru kali ini ia merasakan hatinya berdenyut sakit seakan ia tidak rela melihat pemandangan tadi.  Perasaannya langsung hancur saat itu juga. Ada apa dengan diriku? Aneh, kenapa aku merasa marah Raya dekat dengan laki-laki lain, kenapa aku merasa tidak suka? Apa aku cemburu? Hah cemburu? Tidak mungkin, siapa dia hingga membuatku harus cemburu? Huh!

__ADS_1


Namun yang paling ia kejutkan, kenapa reaksi jijik dan gatal-gatal tidak dia rasakan sama sekali. Di dalam mobil  sejenak ia mengamati kedua telapak tangannya, bersih, tidak ada ruam, tidak ada bintik-bintik merah, tidak gatal sama sekali, perasaannya juga tidak jijik. Aneh! Kenapa bisa begitu? Apa aku memang sudah sembuh? Ia jadi teringat beberapa bulan lalu saat pagi bertemu dengan Hanum yang terjatuh dan ia menolongnya, ia juga tidak merasa gatal dan jijik, pun dengan Titania yang langsung menarik tangannya dari genggaman Hanum, ia juga tidak jijik. Ah, aku harus periksa lagi sama dokter Stevano, siapa tahu memang penyakitku sudah sembuh.


“Atau apakah ini semacam keberuntungan yang didatangkan kepadaku? Mampukah aku benar-benar sembuh dari alergiku?” Gumam Asisten Je kalut. Asisten Je segera meluncur ke tempat praktek dr. Stevano untuk membuktikan bahwa dirinya telah sembuh dari penyakit alerginya. Kebetulan di ruang praktek Stevano ditemani oleh kekasihnya, Mareta.


__ADS_2