
Raya akhirnya sampai di restoran tempat janji temu setelah melalui berbagai drama picisan seorang Asisten Je.
Tadi setelah Titania, Hanum, dan Bu Arumi berangkat sekolah di antar Pak Malik, sebentar kemudian Asisten Je datang dengan wajah yang ternyata masih cemberut.
Segala upaya dilakukan untuk tetap bisa menemani istrinya, tapi penolakan tegas diberikan oleh Raya. Bisa bisa pertemuan itu bukan membahas ambassador Nitha Amelia menjadi model kerja sama Panada Diamond dan Jewerly Diamon tapi akan membahas hal lain dengan menciptakan ketegangan di sekelilingnya.
Raya sampai harus melakukan drama ciuman pagi hari yang sangat lama dan mengesalkan sampai Raya harus mengancam tidak ada adegan 18+ nanti malam. Baru saat ancaman itu di lontarkan Raya, Asisten Je mengalah untuk berangkat ke kantor. Tentu konsekwensinya Lani dan Leon di panggil dan diperintah untuk selalu berada di sisi Raya.
“Ternyata Asisten Je itu orangnya romantis banget ya mbak?” Puji Nitha dengan menangkupkan kedua tangannya ke pipinya sambIl membayangkan ia akan terbang melayang bila diperlakukan romantis oleh pacarnya.
Ia tadi sempat menyaksikan drama pagi hari, di mana Raya yang turun dari mobil dengan di bukakan pintu oleh Asisten Je kemudian merapikan hijab Raya dan memberikan ciuman hampir di seluruh wajah Raya.
Gadis yang selalu ditemani oleh Dio sang manajer sekaligus asisten pribadi nya itu menjerit tertahan dengan memeluk erat lengan Dio. Masih ingat Dio kan? Laki-laki jadi-jadian yang selalu meminta di panggil Dina oleh orang lain, tentu terkecuali Nitha dan Raya.
“Hadew, jangan lihat dari sampulnya Nith, semua itu tidak sesuai dengan pandanganmu” Kata Raya.
“Mbak Raya harus bersyukur di posesifin sama Asisten Je, eh… tapi kok ada yang aneh deh” Nitha mulai berpikir dan memandang Raya dengan menyipitkan mata. Tidak mungkin kan seorang sekretaris mendapatkan prioritas perlakuan seperti itu. Apa jangan-jangan…
“Buang jauh-jauh pikiran kotormu gadis kecil” Sentak Raya menyentil kening gadis itu.
“Auu ish sakit mbak” Rengek Nitha manja seraya mengusap keningnya.
“Sudah, kita bahas rencana model mu, sambil kita menunggu Tuan Alfonso datang”
“Mbak Raya udah pernah ketemu sama Tuan Alfonso kah? Gimana, tampan nggak orangnya?” Tanya Nitha antusias membuat deheman keras terdengar dari arah belakang Raya.
“Ya elah, cuma nanya doang, emang Mbak Raya tiap hari di kawal oleh dua orang itu?” Sewot Nitha seraya memelankan suaranya.
Raya hanya menggedikkan bahu acuh tanpa mau menjawab pertanyaan Nitha membuat gadis itu langsung cemberut. Ia mencomot asal kentang goreng ke mulutnya. Dio hanya bisa tertawa cempreng melihat pembicaraan mereka berdua tanpa mau ikut nimbrung dalam obrolan mereka. Padahal biasanya ia akan menjadi emak gosip kalau sudah membicarakan seorang laki-laki.
“Maafkan saya terlambat nona-nona, jalanan macet sekali” Sapa seorang laki-laki di sebelah mereka. Mata Dio langsung membelalak tak percaya melihat penampakan sosok tinggi, gagah dan maskulin itu. Mulutnya sampai menganga.
__ADS_1
“O ya ampyiuuuunnn, ganteng banget sih, duduk sini nek” Suara cempreng Dio menyapa laki-laki itu. Laki-laki itu hanya berdecak kesal dan memilih duduk di dekat Raya. Dio hanya cemberut sementara Raya dan Nitha hanya menggeleng.
Laki-laki itu mengulurkan tangan memperkenalkan diri pada Raya, padahal di sana ada Nitha dan Dio. Kenapa dia hanya menyodorkan tangan pada Raya?
Sebelum Raya mengangkat kedua tangan untuk menangkupnya menjadi satu, sudah ada gerakan gesit di belakang Raya.
“Maaf Tuan, Anda tidak diizinkan menyentuh tangan nona muda” Kata Lani datar seraya menepis tangan laki laki itu kasar.
Semua yang duduk di meja makan itu tampak melongo bingung dengan reaksi yang dilakukan Lani, apalagi dengan tatapan datar seperti seolah semua yang berhubungan dengan Raya berada di bawah tanggung jawabnya termasuk hal yang sepele barusan. Leon hanya tersenyum smirk menatap laki-laki itu.
“Lani ada apa denganmu? Dia bukan mau menyentuhku, dia hanya bersalaman, ada Nitha dan Dio juga yang akan bersalaman juga” Raya menangkupkan kedua tangannya menjadi satu seraya memandang laki-laki itu merasa bersalah dan malu dengan tindakan Lani.
“Mohon maafkan teman saya” Pinta Raya.
Laki-laki itu tersenyum menggeleng.
“Tak apa”
“Lani apa yang aku lakukan tanda sopan santun di negara kita, aku juga tahu batasan Lani” Raya menempelkan jarinya di bibir, isyarat untuk diam saat tahu Lani akan bicara lagi. Pun dengan Leon yang sudah siap berdiri untuk menjadi tameng nonanya.
“Duduk diam di situ Lani, kamu juga Leon, jangan bicara apa-apa” Malu sekali rasanya Raya diperlakukan demikian oleh dua bawahan suaminya itu, entah gimana jadinya kalau suaminya itu tetap ngotot ikut pertemuan ini. Bisa-bisa kerja sama akan mengalami kegagalan. Lagi.
Lani dan Leon akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah dan diam di belakang Raya.
“Anda Raya sekretaris Asisten Je kan? Kenapa dia tidak datang ke sini?” Tanya Laki-laki itu dengan pandangan terus ke arah Raya tanpa peduli pada keberadaan semua orang di sekitar mereka.
“Nona kami is….” Ralat Lani tapi langsung di potong Raya.
“Lani!” Sentak Raya seraya menggertakkan giginya, merasa marah dengan tingkah Lani. Gadis itu hanya berdehem seolah tidak merasa bersalah.
“Ah ya maaf Tuan, beliau sedang sibuk, tapi untuk urusan ambassador memang dari dulu di serahkan kepengurusannya pada saya Tuan” Jelas Raya sopan.
__ADS_1
“Alfonso, jangan panggil tuan Raya, seakan aku sudah tua saja” Goda Alfonso tersenyum.
“Kenapa Anda memanggil nona kami dengan sebutan nama?” Lagi-lagi Lani bicara yang mengagetkan semuanya. Raya menggeram kesal dan menyenggol lengan Lani agak keras.
“Maaf nona, tapi dia menyebut nama Anda” Bela Lani.
Raya memutar bola matanya malas. Tidak percaya pada gadis di sebelahnya yang malah lebih cerewet dan posesif ketimbang Asisten Je.
“Bisa diam kan? Mau kusuruh pergi sekarang?” Ancam Raya.
“Maaf nona, tapi kami harus menjaga Anda” Kali ini yang menjawan bukan Lani tapi Leon dengan pandangan yang tajam menusuk ke arah Alfonso, membuat Alfonso sedikit menelan ludah gugup.
“Kalau begitu diam ya Lani, Leon, jangan bicara apapun, jangan menyela. Cukup lihat aku saja. Oke. Di mengerti?” Kata Raya frustasi. Lani dan Leon serempak mengangguk tanda setuju.
“Maaf ya Tuan, mari kita lanjutkan agenda kita, ini perkenalkan dulu model kami yang akan mewakili kerja sama dengan Panada Diamond, Nitha Amelia dan di sebelahnya Dio manajernya” Jelas Raya.
“Dian Mbak Raya, ish” Cemberut Dio.
“Dio…” Peringatan Nitha, butkinya laki-laki semi itu langsung kicep.
“Santai saja Nona Raya” Kata Alfonso seraya melirik keberadaan Lani dan Leon yang sekarang duduk lebih mendekat di belakang Raya.
Loyalitas bodyguard, benar-benar, hanya menyebut nama Raya saja, mereka langsung memandangku dengan tatapan membunuh.
Alfonso memulai menyampaikan proposal yang dia bawa untuk proses kerjasama yang sempat gagal akibat ulah model mereka. Kini Alfonso yang menangani langsung kerjasama ini, ia turun tangan langsung tanpa melibatkan pihak ketiga di antara kerjasama itu.
Tak di sangka ia menemukan seorang wanita cantik yang menjadi partner kerjasamanya membuat moodnya langsung bangkit. Semula ia menolak karena yakin yang ditemui si asisten datar dan dingin itu.
Pembicaraan mereka memakan waktu kurang lebih dua jam dan mereka mengakhirinya dengan menyantap hidangan yang di sajikan oleh waiters.
Kesepakatan akhirnya di dapat oleh ketiga belah pihak, ketiganya menyetujui agenda kerjasama yang akan di lanjutkan dengan penandatangan berkas yang akan di susunnya nanti dan mereka akan melakukan penandantanganan MoU di kantor pusat.
__ADS_1