Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 7 Melamar Pekerjaan (1)


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


“Mama…banun…dah sole nih…” Teriak suara


cempreng di luar pintu kamar Raya, wanita itu mengusap kedua matanya yang masih


terlihat mengantuk kemudian melihat hpnya. Jam 16.00. Wah sudah sore saja ini,


nyenyak banget tidurku…hehe.


“Iya sayang, sebentar” Raya beringsut


bangun dan berjalan untuk membuka hendel pintu, ia mendapati Hanum sudah segar


dengan harum strawberry.


“Hmmm, sayang mama sudah mandi ini,


harum sekali…”


“Iyan mandiin Anyium” Kata Hanum seraya


merangsek ke pelukan mamanya. Raya membawa Hanum ke gendongannya dan menurunkan


ke kasurnya.


“Hanum mau nunggu mama mandi dulu?”


Gadis kecil itu mengangguk senang, ia naik ke tempat tidur mamanya dengan


melompat-lompat senang.


“Hati-hati ya” Raya mengelus kepala


putrinya sayang kemudian berlalu menuju kamar mandi. Gadis kecil itu makin


asyik lompat-lompat, namun sebentar kemudian ia sudah rebahan, rupanya capek


dia…hihi.


“Ck…lama cekali mama” Cemberutnya tidak


sabar. Dipandanginya terus pintu kamar mandi berharap mamanya segera keluar


dari dalamnya. Dan mata serta senyumnya langsung cerah begitu melihat mamanya


keluar dari kamar mandi.


“Bosan ya…”


“Lama andinya mama”


“Uluh-uluh….cemberut nih…” Raya


mencubit pipi Hanum gemas.


“Cakit mama…” Hanum mengelus pipinya


namun sedetik kemudian ia sudah berada di gendongan mamanya.


“Hanum sudah makan?”


“Undu mama ini”


“Aduh…kasian anak mama lapar yaaa…, dah


yuk makan”


Raya membawa Hanum ke dapur kemudian


menyiapkan makan untuk putrinya setelah itu menuju ke ruang tengah di mana


Titania dan Bu Nanik berada.


“Kakak…maaf ya mama ketiduran tadi…”


Kata Raya dengan sesal karena tidak menyambut putri sulungnya pulang.


“Nggak papa ma, Tita udah besar, gak


usah di sambut kayak anak kecil” Katanya sedikit ketus. Raya tersenyum mengacak


puncak kepala Titania.


“Nak Raya, ibu pulang ya, maaf kalau


malam tidak bisa menemani kalian…” Sela Bu Nanik.


“Oh…iya bu, maaf seharian ini sudah


merepotkan ibu…”


“Nggak papa nak, besok pagi ibu akan di

__ADS_1


sini sebelum nak Raya dan kakak berangkat”


“Iya bu, terima kasih”


“Dedek…eyang pulang dulu ya” Wanita tua


itu mencium pipi Hanum. Gadis itu hanya mengangguk seraya mengunyah makanan


yang disuap mamanya.


“Becok main lagi iyan” Pintanya.


“Pasti sayang…eyang pamit dulu,


assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka


bersamaan.


Selesai makan Raya membawa piring dan


gelas untuk di cuci, kemudian menemani kedua putrinya bermain di ruang tengah.


.


Cuit


Cuit


Cuit


Raya menggeliatkan badannya dengan


malas.


“Hmmm, kenapa udah pagi lagi sih…”


Gumamnya malas, tapi karena kewajiban yang harus ia kerjakan, tanpa menunda


lagi ia bangun dari tidurnya dan melakukan ritual mandinya. Setelah itu ia


melaksanakan sholat shubuh, berdzikir, mengaji sebentar, kemudian keluar kamar


untuk membangunkan Titania dan Hanum. Ia sudah mengajarkan sejak dini bagi kedua


putrinya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Hanum pernah


beralasan bahwa dia masih kecil, tapi Raya memberi pengertian bahwa kewajiban


kesungguhan, kesanggupan, dan keikhlasan pelakunya dalam melaksanakan kewajiban


itu, maka orang tersebut akan terus mendapatkan rezeki dan diampuni


kesalahannya. Kini ketika ia membangunkan kedua putrinya sudah tidak ada yang


merengek.


Tok


Tok


Raya membiasakan etika memasuki kamar


orang lain untuk selalu mengetuk pintu terlebih dahulu. Raya memasuki kamar


Titania, gadis itu masih asyik dengan selimutnya. Raya melihat buku yang


berserakan di meja bahkan ada yang tergeletak di lantai. Wanita itu hanya


menggeleng, ia tidak ingin memaksa anaknya untuk harus juara, tapi itu semua


kemauan Titania, jadi Raya hanya mampu mendukung saja. Di bereskannya buku-buku


itu dengan rapi di atas meja belajar tanpa mengembalikan ke rak buku, takutnya


buku itu masih penting dan harus di bawa ke sekolah.


“Kak Tita, bangun sayang…waktunya


sholat shubuh nih…” Raya mengecup kening dan mengelus kepala Titania dan


menggoyang sedikit tubuhnya. Sebentar kemudian terlihat gerakan menggeliat dari


balik selimut.


“Mama…”


“Bangun yuk, mandi terus sholat shubuh”


“Iya ma…” Gadis itu beringsut bangun


menuju kamar mandi, sementara itu Raya keluar dan berjalan ke kamar Hanum. Ia


bangga sekali, karena di usianya yang baru menginjak 3 tahun Hanum sudah


meminta tidur sendiri, untungnya kedua anaknya tidak memiliki kebiasaan

__ADS_1


mengigau di tengah malam.


Tok


Tok


Raya membuka pintu kamar dan mendapati


Hanum sedang melingkar di kasur khusus anak itu. Di kecupnya kening dan pipi


anaknya, biasanya dengan cara itu Hanum langsung membuka matanya. Entah kenapa,


sepertinya ia memiliki sensor di tubuhnya yang ketika di sentuh oleh orang lain


sensor itu langsung terjaga.


“Huammm” Tuh, benarkan? Hanya tiga kali


ciuman gadis kecil itu sudah menggeliat bangun terduduk dengan mengucek kedua


matanya dan menguap.


“Udah cubuh ya mama…”


“Iya sayang, mau sholat shubuh?”


“Mau mama” Gadis kecil itu menerima


uluran tangan Raya untuk membawanya ke kamar mandi, karena untuk urusan satu


itu ia belum bisa mandiri.


Rutinitas harian mereka berjalan dengan


sempurna sampai Bu Nanik datang untuk membantu menyiapkan keperluan anak-anak


Raya. Raya benar-benar terbantukan dengan keberadaan Bu Nanik, tetangganya yang


sangat baik hati.


“Duh…cucu eyang udah pada cantik semua


ini…”


“Iya dong iyan, Anyium uda mandi ini”


Bangga Hanum.


“Wah…rajin sekali…”


Titania tersenyum ke arah Bu Nanik


seraya menunggu sarapan yang di buat mamanya.


“Eyang bantu mama dulu ya” Mereka


mengangguk bersamaan dan Bu Nanik segera melangkah ke dapur. Hari ini Raya


hanya memasak nasi goreng dan telur mata sapi, ia lupa belum belanja untuk


memenuhi kulkas yang sudah datang kemaren sore, hingga bahan yang ada di masak


jadi nasi goreng.


“Nak Raya, biar ibu yang masak tadi…”


“Ini sudah selesai kok bu, cuma nasi


goreng aja, hehe”


Raya menyiapkan 4 piring kemudian


menuangkan nasi goreng ke dalamnya dan di tambah telur mata sapi. Bu Nanik


membantu membawanya ke meja makan.


“Hmmm, hayo siapa yang mau nasi goreng


mama?” Tanya Bu Nanik seraya membaui hidung mereka dengan nasi goreng yang


dipegangnya.


“Anyium mau iyan, naci oyen mama enak…”


“Terima kasih sayang, dah yuk sarapan


dulu, ayo bu..” Ajak Raya seraya duduk di kursi makan.


“Ibu sudah…”


“Iyan makan uga, ini duduk ini” Kata


Hanum seraya menepuk kursi di sebelahnya serasa dia orang dewasa. Raya dan Bu


Nanik tertawa gemas, akhirnya mereka berempat memakan sarapan dengan khitmad.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2