
Assalamu'alaikum para readers yang semoga selalu sehat dan setia....
Mohon maaf yaaaa karena lamaaaa banget up nya, masih ada kesibukan nih di skul, ini sudah mulai mengurai ya kesibukannya hehe....
Aku sebenarnya ingin segera menamatkan novel kedua ku ini, tapi rasanya kok selalu di rundung kemacetan ide...huh...kadang mumet sendiri mikirin ide apa yang cocok untuk bisa terus up tapi alurnya nyambung...
Jadi bagiku gak papa deh up agak lamaan tapi alurnya nyambung, susah lho mikirin ide yang nyambung, takutnya kalau dipaksain gak sesuai ekspektasi, jadiiii inilah up ku...
Selamat membaca ya readers...jangan lupa like and vote yaaa.... lope you pulll
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba.
Perhelatan wisuda SMPN xx yang di gelar di hotel mewah bintang 5, yang ternyata merupakan sumbangan dari orang tua Amanda sang pemilik hotel, lengkap dengan vendor, dekorasi, dan hidangan prasmanan.
Kebahagiaan dan rasa bangga tengah dirasakan oleh Raya di tengah hiruk pikuknya acara perhelatan wisuda SMPN Titania. Bagaimana tidak, akhirnya sang putri Titania Amara Rahmadi lulus dari SMP dengan predikat yang membanggakan, bukan hanya bagi orang tua tapi juga bagi sekolah. Bayangkan saja dalam waktu kurang lebih delapan bulan ia telah meraih beberapa prestasi nasional dengan medali emas tiap perolehannya. Nama sekolah benar-benar melambung akibat namanya, apalagi namanya tercatat sebagai peraih peringkat satu pararel SMP Se Indonesia, bagaimana tidak bangga sekolah memiliki siswa berprestasi seperti Titania.
Bukan hanya Raya, tampak di samping kanannya duduk tenang dan elegan sosok pria tampan paripurna mendampinginya dengan wajah dan senyum bangga menyaksikan putrinya mendapatkan berbagai prestasi. Meski tak lagi bersama, namun pria itu tetap dekat dan berusaha menjadi ayah yang baik untuk Titania. Ya, dia adalah mantan suami Raya, Ervin Rahmadi. Tidak ada kecanggungan di antara keduanya walaupun lama tidak bertemu, karena sejak berpisah mereka telah berkomitmen untuk menjalin persaudaraan. Raya menganggap Ervin sebagai abangnya dan mantan keluarga mertuanya sebagai orang tuanya. Hal tersebut membuat kenyamanan tersendiri bagi Raya dan dia dengan nyaman bisa melanjutkan hidupnya bersama kedua buah hatinya tanpa harus direcoki dengan perasaannya.
Titania nampak menuruni panggung dan segera menghampiri kedua orang tuanya. Ia tampak bahagia karena kedua orang tuanya menemani momen bahagianya ini, walaupun sudah tidak bersatu lagi, Titania sudah paham masalah yang dialami orang tuanya. Gadis itu memeluk erat kedua orang tuanya dan menunjukkan keberhasilan nya dalam prestasi. Sudah tidak asing lagi bagi Titania masalah penghargaan, karena dari SD ia sudah berprestasi, bahkan sekolah dasar itu hanya ditempuh dalam waktu 4 tahun. Rupanya kejeniusan Ervin menurun pada putrinya itu.
“Daddy, terima kasih sudah mau hadir” Terang Titania seraya memeluk kembali Ervin dengan erat.
“Always my sweety” Ervin mencium kening putrinya sayang.
“Daddy bangga padamu, tapi jangan di forsir ya”
“Tidak akan dad” Gadis itu beralih memeluk Raya dan tanpa diperintah air mata langsung luruh dari kedua matanya.
__ADS_1
“Hei…kenapa menangis? Ini hari bahagia lho…” Hibur Raya seraya mengelus punggung putrinya.
“Terima kasih ma, Tita bangga punya mama yang menyayangi dan mendukung Tita.”
“Ayolah…siapa juga yang tidak bangga punya putri yang luar biasa…mama lebih bangga dan selalu sayang Tita” Keduanya berpelukan erat sementara Ervin mengelus rambut putrinya sayang dan menepuk lembut pundak Raya.
“Kak Tita, aku juga mau dipeluk” Rengek suara manja di bawah mereka. Tampak Hanum dengan wajah cemberut menatap ketiganya yang membuat mereka tertawa bersamaan. Ervin langsung meraih gadis kecil itu di gendongan nya.
“Hmm, dah my little girl bisa cium dan ucapin selamat pada kakak” Kata Ervin lembut setelah sebelumnya mencium pipi gembul gadis kecil itu dengan gemas.
Gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya memeluk kakaknya, tubuhnya masih berada dalam gendongan Ervin.
“Kak Tita, selamat yah”
“Iya adikku sayang, Hanum juga banggain mama sama daddy yah”
“Kenapa sayang?” Tanya Raya. Hanum meneteskan air mata tanpa suara.
“Sayang papah gak bisa pulang, sibuk terus di syurga ya ma” Rengeknya membuat hati Raya langsung terasa nyuutt. Ervin mengelus punggung gadis kecil itu seraya dipeluk dengan erat.
“Kan ada diddy di sini, papah biar tenang dan nyaman di sana, papah tidak bisa berkunjung karena harus jaga syurga” Hibur Ervin.
“Papah bahagia di sana?” Hanum memandang satu persatu wajah di sekitarnya, kemudian ia tersenyum senang melihat mereka mengangguk.
“Pasti…sekarang Hanum harus selalu doain papah ya, biar papah bisa bobok dengan tenang” Ervin menciumi puncak kepala gadis kecil itu seraya tangan kirinya mengelus pundak Raya yang hanya terdiam.
“Iyah” Hanum mengangguk mantab.
__ADS_1
“Dah yuk tunggu Kak Tita sambil makan kue, eh ada es krim tuh, Hanum mau?” Ervin menetralkan suasana agar Raya bisa kembali ceria dan Hanum yang masih belum mengerti tentang apa itu kematian dengan cepat melupakan pembicaraan tersebut.
Sebelum pulang, Titania minta ijin untuk menemui teman-temannya lebih dulu. Dan disinilah mereka, satu kelas berkumpul untuk merayakan kelulusan mereka dan keberhasilan Titania meraih ‘the best predikat’. Mereka tampak bahagia dan terharu dengan pecapaian semuanya. Setelah ini mereka akan berjuang di tingkat yang lebih tinggi, dan akan bertemu dengan teman-teman yang banyak juga.
Titania tampak berhadapan dengan Amanda, Felix, dan Geri. 4 siswa itu memang menjadi sahabat sejak perkenalan waktu itu (ingat episode ‘sahabat baru’). Mereka tampak asyik dalam obrolan penting.
“Kamu jadi masuk SMAN xx Ta?” Tanya Amanda serius. Titania mengangguk.
“Aku bakalan diterima nggak ya” Keluh Geri pesimis. Ia sanksi, apa tanpa prestasi seperti ketiga temannya akan diterima juga di SMA faforit tersebut.
“Jangan menyerah Ger, kamu juga tidak kalah di bidang bela diri, sudah banyak juga piala yang kamu dapatin, semangat dong” Kata Felix.
“Iya, prestasi itu tidak hanya akademik Ger, non akademik juga membanggakan tahu” Seru Amanda menyemangati sahabatnya.
“Belum-belum udah menyerah kalah, payah” Ejek Titania.
“Yaaa, kamu Ta, bukannya semangatin juga” Sewot Geri lemas. Titania menggeleng tak mengerti dengan pemikiran
temannya yang satu ini.
“Hei Gery dengar, kita berempat sudah sepakat masuk bersama, maka kita juga harus berjuang dengan kemampuan kita masing-masing.” Kata Titania panjang lebar, membuat ketiga temannya menjadi terdiam melongo.
“Ini beneran Tita teman kita kan gaes?” Amanda menanyakan kepada teman-temannya seraya telapak tangannya ikut megecek suhu di kening Titania. Gadis itu langsung manyun dan dengan sadar menyentil kening Amanda cukup keras.
“Aduh! Sakit Ta…” Amanda mengusap keningnya sambil cemberut.
“Bodo” Titania beranjak dari kursi dan menuju ke arah orang tuanya sudah siap-siap untuk pulang.
__ADS_1