Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 87 Dia akan menerima kami kan ma?


__ADS_3

Hanum menunjukkan gambar keluarga yang lengkap, ada orang tua di kanan kiri dua orang anak perempuan. Raya bisa menebak siapa mereka, sosok ayah, sosok ibu, Titania, dan Hanum. Raya terkesiap dan terdiam mengamati gambar tersebut. Ada kilatan air yang mengambang di pelupuk matanya.


“Mama…?” Hanum menyentuh lengan Raya yang terdiam, wanita itu segera menghapus air yang sudah hadir di sudut matanya. Ia tersenyum lembut ke arah putri kecilnya sambil mengusap rambut bergelombangnya lembut.


“Emang siapa mereka?” Tanya Raya pura-pura tidak tahu.


“Ini mama, kak Tita, Hanum, dan yang pegang tangan Hanum ini papa” Jelasnya riang.


“Tadi di sekolah bu guru suruh menggambar foto keluarga yang paaaling bahagia” Jelasnya lagi.


"Kenapa papa ada sayapnya?" Tanya Raya


"Kata mama papa sedang jaga surga, trus Hanum tanya ke Bu Anisa kenapa papa harus jaga surga, kenapa nggak jaga Hanum saja? Kata bu Anisa, papa sudah jadi malaikat, dan malaikat itu punya sayap yang saaaangaaaat lebar, tapi aku buatnya kecil aja, soalnya buku gambarnya nggak cukup, kata Bu Anisa juga papa sudah bahagia di surga sudah dijaga sama Allah, jadi Hanum cukup mendoakan papa supaya papa tenang di surga" Jelas Hanum panjang lebar, ekspresinya pun tampak bahagia karena mengetahui kalau papanya juga bahagia di surga.


Raya menangis tergugu mendengar untaian kalimat Hanum, dipeluknya erat putrinya itu.


“Tapi tadi Reno nakal ma, masak bilang Hanum ndak punya papa, Hanum bilang punya papa di surga, Reno malah bilang enakan papa yang jaga di rumah, Bu Anisa bilang sama Reno kalau tugas papa tiap anak itu berbeda, ada yang jaga anaknya di rumah dan ada juga yang jaga semua anak di dunia, dan itu lebih mulia. Trus Reno minta maaf sama Hanum” Hanum bercerita kembali dengan ekspresi yang membuat Raya semakin tergugu.


Di sampingnya Titania sudah mengelus punggung sang mama menenangkan. Dia tahu bagaimana perjuangan mamanya setelah papa Revian meninggalkan mereka, itu sangat berat bagi mamanya. Tita pun juga sudah sangat menyayangi papa Revian, belum lama merasakan kasih sayang seorang ayah, ternyata Allah lebih menyayangi papa Revian.


Sementara Bu Nanik dan Bu Arumi menjadi pendengar setia yang sudah tidak bisa dibendung air matanya. Bagi mereka berdua, kehadiran keluarga Raya di tengah-tengah mereka serasa membawa kesejukan dan kebahagiaan tersendiri. Dalam tangis mereka, mereka berjanji akan selalu menjaga dua gadis itu dengan kasih sayang yang berlimpah seakan cucunya sendiri.


"Kalau misalnya Hanum punya papa gimana?" Tanya Raya setelah berhasil menguasai diri kembali. Ia mencoba mengetuk perlahan hati dua gadisnya itu. Titania mengernyit heran menatap Raya, namun wanita itu hanya tesenyum.


"Memang bisa? Kalau bisa sih Hanum inginnya yang jadi papa Hanum Om Ganteng itu ma" Kata Hanum sambil tubuhnya bergoyang malu-malu. Titania mendengus kesal.


“Masih kecil juga, udah genit aja!” Ketus Titania tidak suka dengan sikap adiknya.


Hanum menatap Raya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, gadis kecilnya itu memang memiliki sifat yang mirip ayahnya, lemah lembut dan welas asih.


Raya menatap gemas putrinya kemudian mengusap kepala gadis itu sayang.

__ADS_1


"Kenapa Hanum pinginnya om ganteng yang jadi papa Hanum, kenapa bukan yang lain?"


"Adek suka sama om ganteng ma, om ganteng baik, suka ngasih coklat sama es krim ke adek”


"Hanya itu?” Tegas Raya.


“Aku juga bisa kali beliin adek coklat sama es krim” Sela Titania masih dengan mode ketus.


“Kakak kenapa nggak suka om ganteng sih padahal om ganteng sudah nolongin adek waktu jatuh dulu, dan nggak jijik waktu bersihin luka Hanum yang berdarah-darah" Bela Hanum kepada Titania. Titania malah terdiam, karena insiden itulah Titania memberi label ‘penculik anak’ pada Asisten Je.


Raya tersenyum trenyuh, anaknya sudah bisa menilai orang pada pandangan pertama.


“Mama beneran om ganteng mau jadi papanya Hanum?” Tanya Hanum akhirnya dengan mata berbinar.


“Hanum kan sudah punya daddy” Kata Titania mengingatkan, lebih ke belum rela sih sebenarnya.


“Didi punyanya Kak Tita, Abang Rexy sama Abang Raksa” Cemberut Hanum, posisinya kini sudah bergelayut manja di pangkuan mamanya.


Titania memalingkan wajah ke sembarang arah, ia tidak suka melihat Hanum menangis, ia tidak suka menjadi gadis yang berjiwa lemah.


Raya hanya terdiam sambil terus mengelus kepala Hanum, pandangannya mengarah pada Titania tapi gadis itu tidak mau menatapnya. Ia paham bagaimana perasaan anak gadisnya itu, ia tidak bisa egois memaksakan kehendaknya untuk menerima Asisten Je sebagai papa sambungnya.


“Bisa ya mama?” Tanya Hanum lagi seraya mendongak menatap mamanya. Raya hanya tersenyum mengangguk.


“Yeee, Hanum mau punya papa” Soraknya bergembira. Sementara Titania hanya melengos tak suka.


“Kalau kakakbagaimana?” Tanya Raya meminta pendapat gadisnya itu.


“Bagaimana apanya ma?” Tanya Titania enggan menanggapi.


Raya meminta tolong Bu Arumi untuk membawa Hanum bersiap-siap, jadi dia dan Titania bisa mengobrol santai tanpa harus di dengar oleh Hanum yang belum mengerti pembicaraan orang dewasa.

__ADS_1


“Mama lihat kakaksepertinya tidak suka dengan atasan mama” Pancing Raya.


Gadis itu berkelit dengan memalingkan pandangannya, enggan menatap mamanya.


“Mama suka sama dia?” Tanya balik Titania membuat Raya kaget. Ia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari putrinya. Wanita itu terdiam cukup lama.


“Belum sih, tapi kalau kakaktidak suka, mama ngikut aja sih” Jawab Raya ragu.


Titania terdiam, ia tidak ingin mamanya tergantung pada sikapnya, mamanya berhak untuk bahagia, mamanya sudah pernah mengalami kondisi yang tidak menyenangkan, ia ingin mamanya juga merasa bahagia apabila kelak menemukan pendamping hidupnya. Hanya yang ia ingin pendamping mamanya kelak juga harus menyayangi dirinya dan Hanum.


“Dia orangnya baik, pernah nolong Hanum, sangat perhatian waktu Hanum sakit kemaren, dia juga berusaha baikin kakak…” Titania akhirnya mengeluarkan pendapatnya.


“Tapi…?” Raya memberi jeda.


“Dia akan menerima kami kan ma?” Tanya Titania pelan, ia takut mamanya akan dikuasai oleh laki-laki itu dan perhatian mamanya pada mereka akan terkesampingkan.


Raya tersenyum lembut, di peluknya gadisnya itu dari samping, di ciumnya keningnya dengan sayang.


“Harus dan wajib, itu syarat dari mama untuk siapa saja yang ingin mendekati mama” Tegas Raya.


Titania mengangguk kemudian mencium pipi mamanya.


“Asal mama bahagia, kakak setuju saja”


"Tidak sayang, bagi mama, apapun yang membuat putri-putri mama bahagia, mama juga akan ikut bahagia" Sanggah Raya merasa tidak enak dengan jawaban putrinya. Ia tidak ingin putrinya yang masih remaja harus menanggung beban keterpaksaan apabila menerima seseorang yang baru. Dulu saja ketika akan menikah dengan Revian, Raya mengambil keputusan dengan melibatkan putrinya itu tanpa harus ada keterpaksaan dan hubungan keduanya juga sangat harmonis seperti putri kandungnya sendiri.


"Ehm" Tinania berdehem seraya bangkit berdiri untuk menyiapkan diri menemani mama dan adiknya jalan-jalan yang langsung membuat Raya tersadar dari lamunannya.


“Kakak mau ke mana?” Tanya Raya yang masih belum fokus.


“Mau jalan-jalan kan?” Raya mengangguk tersenyum. Matanya berkabut, ia trenyuh dengan pemikiran putrinya yang dewasa dan bijaksana. Ia tidak mengira gadis itu akan menerima semua pembicaraan ini dengan sangat baik.

__ADS_1


TBC


__ADS_2