Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 11 Ujian Akhir


__ADS_3

Setelah tiga jam berlalu, giliran Raya


bersama 9 orang lainnya masuk ke dalam ruangan untuk melaksanakan tugas. Di


balik kaca itu, ketiga orang tersebut tetap memperhatikan setiap menit apa yang


terjadi pada para pelamar itu. Menurut mereka sampai empat gelombang ini belum


ada yang menarik perhatian mereka, hampir saja mereka menyerah. Tampak Asisten


Je mengamati langkah seorang wanita yang sangat tenang pembawaannya menuju ke


kursi yang ditunjukkan oleh petugas dan duduk di atasnya. Kenapa ia seperti


tidak asing dengan wanita itu ya, lirihnya dalam hati.


“Sayang, wanita yang berjilbab itu, kau


lihat kan? Terlihat anggun sekali, pembawaannya sangat tenang” Kata Meili


menatap suaminya.


“Hmmm…”


“Je, kau meneliti semua data KTP mereka


kan?” Tanya Alvero.


“Benar Tuan Muda”


“Kau tahu umurnya berapa? Kelihatannya


dia di bawah syarat umur?” Tanyanya lagi.


Asisten Je terlihat mengeluarkan hp dan


memanggil Antoni untuk ke ruangan monitor. Laki-laki itu dengan cepat


mendatangi bosnya.


Tok


Tok


Seorang laki-laki berkulit kuning bersih


dengan wajah Asia, hidung mancung, dan mata agak sipit dan berkaca mata


memasuki ruangan.


“Ya Asisten Je?” Tanya begitu ia


sampai  di ruang monitor.


“Kualifikasi usia pelamar memang ada


yang dibawah usia 27 tahun?” Tanya Asisten Je.


“Tidak ada Asisten Je, yang termuda itu


27 tahun dan yang tertua itu usia 32 tahun atas nama Raya Septiani Sudjana, itu


Asisten Je wanita yang memakai hijab, saya ingat karena hanya dia yang memakai


hijab dari sekian ratus pelamar Asisten Je”


“32 tahun?” Seru Meili tertahan, ia


tidak percaya.


“Kenapa kelihatannya baru berusia 25


tahun ya, sayang….padahal dia usianya di bawahku lho…kenapa dia bisa awet muda


gitu?” Kata Meili merasa sedih yang langsung membuat Alvero kelabakan.


“Hei…kamu juga cantik sayang, kamu


kelihatan muda kok, wajahmu juga mulus tidak ada…”


“Kau mau mengataiku keriput?” Sanggah


Meili cepat membuat Alvero tambah gusar. Laki-laki itu langsung memeluk dan


menciumi wajah istrinya tanpa melihat keadaan.


“Tidak sayang….kamu cantik…cantik…dan


cantik…” Rayu Alvero.


Asisten Je dan Antoni hanya bisa


memalingkan wajah jengah. Huh tidak bos tidak istri bos…narsis. Batin Antoni


seraya tertawa dalam hati.


Fokus mereka berempat kembali ke arah


ruangan ketika terdengar suara dari pengeras suara.


“Perhatikan baik-baik, kalian diberi


waktu maksimal 30 menit untuk mengetik berkas yang ada di hadapan kalian dan


langsung mengeprintnya. Jika sudah selesai harap mengumpulkannya di meja saya.”


Perintah petugas itu, “Oke  3 2 1,


silahkan di mulai” Lanjutnya memberi perintah.


Raya mengamati berkas di hadapannya,


ada 10 lembar, “hmm…mudah sekali, dalam waktu 10 menit juga selesai” Gumamnya


perlahan. Dengan tenang Raya menyetel printer dan menyiapkan kertas kemudian


mulai mengetik berkas tanpa melihat ke papan keyboard, pandangannya hanya lurus


ke layar laptop di hadapannya tanpa berkedip dengan sesekali melihat dan


membalik berkas yang ingin di ketik. Ke sepuluh jemarinya menari dengan lincah

__ADS_1


di atas papan keyboard, huruf dan angka itu sudah mandarah daging di otaknya


jadi tanpa melihat keyboard dalam waktu 10 menit ia sudah selesai lengkap


dengan ngeprintnya.


Raya berdiri dan maju ke depan meja


petugas untuk mengumpulkan hasil tugasnya yang membuat semua orang yang di


ruangan itu terkejut, tak terkecuali delapan pasang mata di balik kaca lebar di


belakang meja petugas tersebut. Kali ini mereka berempat bisa dengan jelas


mengamati wajah wanita yang berjilbab itu.


“Cantiknya….” Puji Meili tulus seraya


mencengkram lengan suaminya. Alvero hanya meringis.


“Iya sayang…”


“Apa?” Meili mendelik menatap suaminya.


“Eh…maksudku, kamu masih lebih cantik


sayang…kamu tiada duanya” Meili tersenyum tersipu membuat Alvero gemas dan


mendaratkan ciuman di bibir istrinya dengan gemas.


Cup


“Ih…ada mereka…” Lirih Meili malu.


“Ehm” Alvero berdehem sekali yang


langsung membuat kedua laki-laki itu membuang muka dan menutup kedua telinga


mereka. Hmmm…ada-ada saja si bos ini…batin Antoni.


“Emmm, pak permisi, apa ada tes lagi


setelah ini?” Tanya Raya sopan.


“Tidak ada mbak, hanya mbak harus


menunggu keputusannya, karena yang lolos akan diberi briefing oleh HRD”


“Baik pak, terima kasih” Raya berlalu


keluar dari ruangan dan kembali menunggu di loby sambil bermain hp. 20 menit


kemudian semua pelamar tahap akhir telah keluar dan menunggu informasi


selanjutnya. Sementara itu petugas tadi membawa hasil tesnya ke ruang Asisten


Je. Dan Asisten Je pun membawa hasil itu ke ruang bosnya.


Tok


Tok


Tok


Je memasuki ruangan Alvero dan melihat laki-laki itu kembali berkutat dengan berkasnya


sementara Meili tampak duduk bermain hp di sofa.


“Permisi, Tuan Muda…”


“Kemarilah, bagaimana hasilnya?”


Yang mencari sekretaris siapa yang


memberi keputusan siapa? Lirihnya dalam hati, tapi Asisten Je hanya menuruti


perintah bosnya karena di belakang perintah itu ada perintah yang lebih tidak


bisa di tolak. Perintah mutlak Nyonya Alvero.


Asisten Je menyerahkan rekap hasil tes


kepada Alvero, laki-laki itu mengamatinya sebentar.


“Sayang, sini deh” Panggil Alvero,


Meili menghampiri dan berdiri di sebelah suaminya.


“Lihatlah” Alvero menyodorkan berkas


itu yang membuat Meili langsung terkesan.


“Jadi gadis itu ada di peringkat ke


satu? Ajaaib…aku suka dengan nya sayang…kau harus pilih dia Asisten Je, aku


nggak mau tahu” Serunya di akhir kalimat dengan menatap Asisten Je tajam.


Laki-laki itu hanya mengangguk pasrah.


“Di sini ada saingan berat sayang, dia


juga bisa menyelesaikan tugasnya walaupun selisih lima menit.” Kata Alvero.


“Tak masalah itu urusan Asisten Je,


yang pasti kau harus membuat dia di terima”


“Je, undanglah 2 kandidat sekretaris


ini ke ruanganmu besok dan uji mereka dengan kemampuanmu”


“Baik Tuan Muda” Asisten keluar


kemudian menuju ruangannya dan memanggil Antoni selaku kepala HRD.


Seorang laki-laki tampan seumuran


Asisten Je mamasuki ruangannya.


“Selamat siang Asisten Je” Hormat Antoni.

__ADS_1


“Kau umumkan yang tertera di kertas itu


pada para pelamar, jangan sampai terlambat.” Tegasnya.


“Baik Asisten Je, saya permisi”


“Hmmm” Antoni kepala HRD itu berlalu


menuju loby perusahaan dan mengumumkan kandidat yang maju pada tahap


berikutnya.


Tampak para wanita itu antusias, mereka


merasa yakin bahwa mereka lah yang akan terpilih, secara fisik dan penampilan


mereka sangat memukau bahkan mengundang mata jahat. Antoni mendesis menatap


para wanita itu.


“Pasti aku yang terpilih, lihat aja


bodiku” Bisik wanita di sebelah Raya sinis. Raya hanya angkat bahu acuh.


“Kau, mana mungkin bos mau melirik


wanita seperti mu, jelas tidak sedap di pandang mata” Bisiknya lagi lebih


sinis, kali ini sama menatap penampilan Raya yang berjilbab. Apa salahnya


berjilbab, kita sebagai muslim kan wajib berhijab toh?


“Bukannya kita cari kerja ya?” Sindir


Raya pelan, wanita itu ingin membuka mulutnya tapi keburu di potong oleh suara


tegas di depannya.


“Yang bernama Raya Septiani Sudjana


harap maju ke depan” Kata laki-laki itu dengan tegas. Raya melirik wanita di


sebelahnya dan tersenyum ramah. Raya bangkit berdiri dan menuju ke depan


membuat wanita tadi langsung membelalak tak percaya.


“Yang bernama Erika Safitri silahkan


maju ke depan” Tampak seorang wanita dengan pakaian modis maju ke depan dengan


langkah mantab sedikit gemulai.


“Yang lainnya silahkan pulang, karena


kalian tidak lolos” Ucap Antoni.


“Pak, kenapa dia yang terpilih?” Tanya


wanita di sebelah Raya tadi dengan tidak terima.


“Keputusan atasan tidak dapat di ganggu


gugat” Katanya tajam membuat wanita dan semua yang hadir langsung diam dan


segera keluar dari loby perusahaan.


“Kalian berdua, besok harap datang jam


07.00 untuk menghadap Asisten Je, ingat jangan sampai terlambat” Perintah


Antoni tegas.


“Baik Tuan, terima kasih” Ucap Raya


sopan.


“Pasti saya akan datang Tuan” Jawab


wanita yang bernama Erika. Antoni hanya mendengus, sudah kelihatan karakter


wanita itu, berupaya tegas tetap saja penggoda.


Kembali ke ruangan Alvero, ia masih


asyik membahas profil Raya yang mereka terima dari detektif kepercayaannya.


“Raya Septiani Sudjana, lahir di


Jakarta 10 September 1990, seorang janda, janda?” Tanya Meili heran dengan


menatap suaminya. Alvero mengangguk dan kembali membaca.


“Janda dengan dua anak perempuan, SMP


kelas 9 dan usia 3 tahun. Pengalaman sekretaris selama 10 tahun, pantas saja


mengetiknya lihai sekali sayang”


“Iya sayang, oya apa ia bercerai


atau…?” Pertanyaan Meili mengambang.


“Entahlah, di sini tidak disebutkan,


sudahlah semua tergantung Je nanti, ia pilih yang mana, yang perawan apa yang


janda…” Kata Alvero seraya meletakkan berkas itu kemudian memeluk pinggang


istrinya. Meili mencium hawa-hawa mengerikan dari tingkah manja suaminya.


Sebelum ia bisa beranjak menjauh, laki-laki itu udah mengangkat tubuhnya dan


membawa ke kamar pribadinya.


“Auw…sayang…ini kantor” Teriaknya


frustasi dengan kemesuman suaminya.


“Tidak akan ada yang masuk kalau pintu


kamar pribadiku menutup sayang…” Meili hanya pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya,

__ADS_1


namun sedetik kemudian ia sudah melayani suaminya dengan segala kelihaian yang


ia miliki sehingga mampu membuat Alvero benar-benar serasa melayang di udara.


__ADS_2