Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 3 Lari Pagi Bersama


__ADS_3

Raya Pov


Cuitan burung membangunkanku dari alam


mimpi. Dengan malas aku menggeliatkan badanku sambil mengumpulkan kesadaranku


yang tercecer. Perlahan aku bangun, kupandangi kamar yang kutiduri tadi malam


sangat jauh jika dibandingkan dengan istana tempat tinggal kami dulu sebelum


Mas Revian meninggal. Dengan terpaksa rumah itu aku kembalikan kepada mertuaku,


walau mereka menyerahkan semuanya padaku, tapi aku ingin merekalah yang merawat


peninggalan Mas Revian, aku tidak sanggup untuk hidup terus di rumah yang banyak


kenangan indah bersamanya. Orang tua Mas Revian akhirnya menyetujui merawat


rumah itu dan merelakan menantu serta cucu mereka hidup di tanah rantauan.


Uang warisan dari Mas Revian sebenarnya


juga sangat banyak jika untuk membeli rumah yang sangat besar, hanya aku tidak


ingin hidup mewah dan foya-foya, aku masih harus memikirkan kedua putriku yang


masih membutuhkan biaya yang sangat banyak. Kalau mengandalkan uang warisan


saja, suatu saat pastilah uang itu akan habis, jadi aku memutuskan membeli


rumah yang tidak terlalu besar tapi nyaman untuk tempat tinggal kami. Kedua


putrinya juga tidak mempersalahkan hal itu asalkan mereka masih tetap bisa


bersama.


Jam sudah menunjukkan pukul 05.00


setelah aku membersihkan diri dan sholat subuh, serta membangunkan Titania dan


Hanum, aku bersiap untuk jogging, olahraga yang memang sudah rutin aku lakukan


sejak SMA, bahkan Mas Revian juga sering mengajakku jogging ke taman


menghabiskan pagi bersamanya. Dan hari ini aku memulai kembali rutinitas


joggingku, yang memang membuat tubuh sehat, segar, bugar, dan keadaan tubuhku


yang selalu ideal, walaupun umurku sudah 32 tahun, tapi aku masih merasa sangat


energik. Aku tertawa sendiri di kamar seraya memandangi postur tubuhku di


cermin.


Aku keluar dari kamar dan ku lihat


Titania dan Hanum sudah berdiri di depan kamarku lengkap dengan pakaian


olahraga juga. Aku sampai terkejut dengan keberadaan mereka.


 “Lho


Kak Tita sama Dedek tumben pakai baju olahraga?” Tanyaku seraya mengelus kepala


kedua putriku kemudian mencium kening mereka bergantian.


“Aku mau ikut lali cama Mama cama Tak


Tita…” Kata Hanum ceria.

__ADS_1


“Wah…bolehlah, Mama jadi ada teman nih,


ndak kesepian lagi kalau lari pagi”


“Pi anti bli bubuliyam ya Mama” Kata


Hanum dengan kata-kata yang masih belum jelas.


“Ngomong tuh yang jelas Dek, jadi Mama


ngerti” Sahut Titania judes.


“Iya, Mama ngerti kok, bubur ayam kan?”


Tanyaku tersenyum, Hanum meledek kakaknya dengan memeletkan lidahnya.


“Dasar bocil!”


“Kakak…” Peringatku memandang putri


sulungku, karena aku menekankan kepada mereka jangan suka memanggil dengan nama


yang tidak bagus, gadis remaja itu hanya tersenyum manyun.


“Dah yuk mulai lari paginya” Ajakku


kepada kedua putriku yang langsung keluar begitu aku membuka pintu.


Kami lari pagi mengelilingi komplek


perumahan dengan diiringi celotehan Hanum yang tidak pernah berhenti. Dan


ternyata banyak juga bapak ibu dan remaja yang lari pagi di minggu pagi ini.


Asyik berlari, tak lama ada seseorang yang membalap kami, seorang laki-laki


wajahnya, ku yakin ia laki-laki tampan. Haha…apa sih…


Kami sudah lari cukup jauh dari rumah


dan ku lihat Hanum juga sudah mulai kelelahan, gadis kecilku itu sudah merengek


minta berhenti. Kami berhenti tepat di taman perumahan yang ternyata


menyediakan aneka jajanan dan makanan di pinggir taman. Hanum mengajakku ke


tempat penjual bubur ayam. Hanum dan Mas Revian memang penyuka bubur ayam,


sementara aku dan Titania sangat menyukai mashed potato yang berbahan dasar


kentang, susu cair, dan keju. Sayangnya di taman ini tidak ada yang menjual


makanan jenis itu, akhirnya kami bertiga menikmati bubur ayam di pagi hari.


Raya Pov End


Setelah puas makan bubur ayam mereka


bertiga kembali pulang ke rumah, dan ketika akan memasuki rumah, seorang ibu


memanggil Raya. Wanita itu menoleh tersenyum ramah.


“Neng baru pindah ya…” Sapa ibu yang


bertubuh agak gendut itu.


“Iya bu, salam kenal saya Raya…, kami


baru pindah seminggu yang lalu”

__ADS_1


“O ya, kenalin saya Bu Nanik, semoga


betah tinggal di kompleks perumahan ini ya”


“Ah…iya bu terima kasih”


“Eh…tapi Neng Raya hanya tinggal


bertiga saja sepertinya…” Tanya Bu Nanik heran.


Raya tersenyum canggung, ini yang ia


khawatirkan kalau mereka sudah bertanya tentang statusnya.


“Iya bu, suami saya meninggal satu


tahun yang lalu…”


“Ooo innalillahi wainna ilaihi


roojiuun, maaf ya Neng, ibu nggak tahu…”


“Iya bu nggak papa, oya, boleh Raya


masuk dulu bu?” Pamitnya mulai merasa tidak nyaman.


“O iya, silahkan Neng, sekali lagi ibu


minta maaf ya Neng” Kata Bu Nanik merasa bersalah.


“Iya bu nggak papa, mari bu…” Raya


pamit masuk dan menutup pintu dengan rapat. Ia menghela nafas sejenak seraya


memejamkan matanya, “Ya Allah, kuatkanlah hamba menghadapi ujian mu ini Ya


Allah…” Lirihnya di iringi dengan lelehan air matanya ke pipinya. Wanita itu


terkejut ketika ada yang menyentuh tangannya. Dilihatnya Titania sudah berdiri


di depannya dengan wajah yang sendu.


“Mama jangan sedih ya, kita pasti bisa


melewati ini semua” Kata Titania menghibur Raya. Wanita itu memeluk putrinya


dengan erat seraya tersenyum. Ia merasa bersyukur memiliki putri yang sangat


mengerti akan keadaan dirinya.


“Iya…kita baru memulai ini, jadi harus


semangat” Raya melepas pelukannya dan mencium kening putrinya sayang.


“Yum aku dugak Mama” Tarik Hanum di


baju Raya. Wanita itu segera berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi


putri kecilnya.


“Ehmmm sini..sini..pipinya Mama cium,


muah…muah” Gadis kecil itu tertawa kegirangan bahkan kegelian dengan ciuman


Raya, Titania juga ikut menggoda dengan mengacak-acak rambut Hanum.


“Lucak tak ini…” Hanum memperbaiki rambutnya yang


membuat Raya dan Titania tertawa.

__ADS_1


__ADS_2