
Suasana di kantor pagi ini sangat menegangkan, pertama kali ketemu Asisten Je tadi pagi, aura menyeramkan
laki-laki itu tampak sangat jelas, hingga Raya tidak berani mendekat untuk menyapa yang ternyata akan semakin menambah aura meyeramkan laki-laki itu tidak pernah pudar. Hal itu sangat tidak di sadari oleh Raya, beberapa pelaksana direktur yang masuk untuk meminta tanda tangan tidak lepas dari amarah Asisten Je yang tidak ber dasar. Semua hal yang dilaporkan oleh mereka di anggap salah dan harus memperbaiki hari itu juga atau hengkang dari perusahaan mengancam mereka.
Raya berupaya menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan saat menyerahkannya pada Asisten Je nanti dia berharap tidak ada revisi seperti sebelum-sebelumnya. Wanita itu tampak mengumpulkan beberapa berkas yang telah siap di bawa ke ruangan atasannya, segera ia melangkahkan kakinya ke pintu dan menuju ke ruangan atasannya tersebut.
Tok
Tok
Tidak ada suara perintah untuk masuk dari dalam, sejenak Raya tampak ragu-ragu untuk membuka pintu, tapi ia merasa kalaupun ia tidak masuk pasti laki-laki itu akan tambah marah, jadi ia putuskan tetap membuka pintu perlahan dan masuk. Di lihatnya laki-laki itu duduk tegak dengan pandangan lurus ke arah laptop di depannya tanpa menggubris datangnya Raya.
“Ehm..Tuan” Tak ada sahutan, ekspresi itu masih datar. Raya menghela nafas pelan, ia maju lebih mendekat kearah
laki-laki itu.
“Tuan, berkas yang saya kerjakan sudah siap untuk di tanda tangani”
“Hmm” Hanya itu?
Raya meletakkan berkas yang bertumpuk itu di meja laki-laki di depannya dengan pelan kemudian ia berniat ingin
keluar, tidak ada pencegahan. Aneh. Biasanya akan ada suara ‘siapa yang menyuruhmu keluar’. Raya mengernyit heran, tidak biasanya dia di abaikan begini, kok rasanya aneh ya. Ketika langkahnya sudah sampai di pintu dan
tangannya sudah menempel pada hendel pintu…
“Hmm” Tetap hanya deheman, namun kali ini lebih tegas dan dalam, membuat Raya langsung membeku di tempat. Mau berbalik takut kalau ia salah tanggap, mau tetap keluar takut kalau efeknya semakin parah. Akhirnya ia tetap berpaling ke belakang dan menatap keberadaan laki-laki itu yang masih tetap bergeming. Tidak mau salah lagi, akhirnya Raya kembali ke depan meja Asisten Je dan duduk diam di kursi menunggu perintah apa yang akan keluar dari mulut Singa galak itu.
5 menit
__ADS_1
10 menit
30 menit
Raya sudah benar-benar jenuh hanya duduk diam tanpa melakukan apa-apa, menunggu yang tidak pasti, ia menghela nafas berat.
“Tuan..” Masih bergeming. Sudah cukup.
“Tugas saya masih banyak Tuan, jadi saya permisi” Lanjutnya dengan segera berdiri dan melangkah tanpa menoleh lagi.
“Pemarah!” Desis suara di belakangnya. Lengkap sudah. Kesabarannya telah benar-benar habis, ia berbalik dengan amarah yang memuncak. Di tatapnya laki-laki yang memandangnya dengan santai. Santai tanpa beban, serasa tidak bersalah.
“Seharusnya Tuan bisa instrospeksi diri sebelum mengatakan kata PEMARAH pada saya!” Ucap Raya seraya menekan pada kalimat pemarah, “Tuan sendiri sedari pagi, apa yang terjadi Tuan?” Lanjutnya dengan emosi.
‘Kenapa wajahnya menggemaskan begitu kalau sedang marah?’ Ah..ada apa dengan hatiku? Kenapa degup jantungku tidak pernah bisa berhenti sedari tadi?
Raya….
“Baiklah, apa ada yang mau Tuan revisi? Kalau tidak ada saya harus kembali dan meneruskan tugas saya agar kinerja saya bagus di hadapan Anda” Raya masih bersedia sabar untuk menunggu revisi dari atasannya itu, namun kembali seperti semula, tidak ada kata yang terucap. Boro-boro kata, berkas aja tidak dilihat. Akhirnya tanpa menunggu jawaban dari bos-nya lagi, Raya menghentakkan kakinya dengan kesal dan berlalu pergi, tidak di hiraukannya teriakan bos-nya yang mengatakan untuk tetap tinggal. Laki-laki itu hanya tersenyum kemudian merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
“Apa yang kamu miliki Ra, hingga aku harus tertarik sama kamu?” Gumamnya pelan.
.
.
Suasana kantin pegawai yang biasanya bising oleh percakapan para karyawan mendadak hening. Cep. Tanpa suara sedikitpun. Bahkan bisik-bisik. Semua mata memandang ke arah pintu masuk, di mana di sana berdiri seorang pria tegap, gagah, tampan sedang memandang dengan tatapan tajam ke satu tempat. Sejenak langkah pria itu mulai melaju menuju ke meja yang dihuni oleh 6 orang yang salah satunya masih tidak sadar jika di perhatikan dari tadi. Langkah kaki itu berhenti di meja yang di duduki oleh Raya dan teman-temannya, yang membuat Raya langsung menatap Teja yang duduk di depannya karena merasa kakinya disepak oleh Teja.
“Apa sih Ja, sakit tahu, main sepak aja” Sewotnya tanpa sadar di belakangnya berdiri seorang pria yang dia juluki
__ADS_1
‘Singa galak’, badannya membungkuk untuk mengelus kakinya.
“Keterlaluan kamu Ja, sakit beneran ini, kamu ada marah sama aku ya?” Marah Raya masih belum sadar juga.
Teja melotot dengan mengkode lewat kedipan matanya agar Raya sadar apa yang terjadi, wanita itu hanya menaikkan alisnya heran.
“Jaga itu mata ya Ja … aku ini wanita yang sudah bersuami” Kata Raya masih tidak sadar. Reni yang ada tepat di
sebelahnya menyenggol lengannya pelan. Raya menoleh heran, kenapa teman-temannya pada aneh sih, seperti ada sesuatu aja. Akhirnya karena kode dari Reni perlahan Raya menoleh ke belakangnya dan tampaklah laki-laki itu berdiri dengan raut wajah yang sudah tidak ramah.
“Ups” Lirihnya seraya kembali ke posisi semula dan melotot ke arah Teja dan beberapa teman di depannya. Mereka hanya angkat bahu dan menggeleng.
“Tuan….apa…”
“Segera ke ruangan!” Ucap Asisten Je tegas dan langsung berbalik tanpa menunggu jawaban dari Raya. Wanita itu hanya tersenyum kecut memandang teman-temannya.
“Kayaknya aka nada perang dunia ketiga nih” Canda Reni.
“Pepet terus Ray” Goda Teja.
“Gasken mbak, mantab” Timpal Weni.
“Hadew … kalian ini, aku tuh udah expired tahu gak” Kata Raya yang langsung di sambut dengan derai tawa semua
teman Raya.
“Dahlah, aku duluan ya, ntar perang dunia ketiga beneran muncul lagi…”
“Oke, semangat” Jawab teman-teman Raya serempak.
__ADS_1