
Raya pov
Tak terasa 2 tahun telah berlalu sejak pernikahan mereka, dan telah lahir seorang bayi mungil yang diberi nama Hanum Saputri Rahardja. Widya dan Harun orang tua Raya dan Zidan adik Raya sering mengunjungi Raya di kediaman baru mereka. Setelah menikah dengan CEO atasan tempatnya bekerja sebagai sekretaris, Revian Rahardja, Raya menempati rumah baru yang dibelikan oleh suaminya sebagai hadiah pernikahan mereka.
Dalam sebulan keluarga Raya bisa 3 kali ke rumah mereka sejak mengetahui kalau Revian suaminya sakit keras. Sasi dan Koko orang tua Revian juga tidak pernah absen menghibur dan berusaha mencari pengobatan untuk penyakit yang diderita putra semata wayangnya.
Kesehatan Revian semakin hari kian menurun, mereka berdua selalu menghabiskan waktu bersama hanya di dalam rumah. Raya benar-benar mengabdikan dirinya dengan penuh cinta pada suaminya.
Sedetikpun ia tidak pernah meninggalkan suaminya tidak juga mengeluh. Pernah Revian menyuruh Raya untuk berpisah dan menikah lagi, tapi Raya langsung marah dan menyapa selama seharian penuh. Hal itu benar-benar menyiksa perasaan Revian, di satu sisi ia sangat mencintai istrinya tapi ia juga kasihan melihat pengorbanan Raya yang tidak pernah berhenti mengurusnya.
Ia mengalami kelumpuhan permanen karena penyakitnya dan istrinya itu tidak pernah mengurangi kadar cintanya padanya. Betapa bersyukurnya laki-laki yang bersuamikan dirinya nanti. Kadar cinta yang sangat besar dan kesetiaan yang tidak pernah terragukan.
Pada saat ini Revian terkekeh melihat baby Hanum yang tertawa saat Zidan menggelitikinya. Titania ikut menggoda adik kecilnya dengan menciumi pipi gembulnya yang
“Sayang…” Revian duduk di samping Raya, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. Wajahnya sangat pucat, bibirnya kering seakan saat ini dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
“Apa sayang?” Tanya Raya seraya mengelus pucuk kepala Revian lembut.
__ADS_1
“Kamu lihat, putri kita selalu tersenyum. Aku senang selama ini kamu menjaga ku dengan baik.” Tanpa terasa air mata telah membasahi pipinya.
“Aku bahagia memiliki istri sepertimu, kau istri sempurna bagiku, dalam keadaanku seperti ini kasih sayangmu tidak
berkurang sedikitpun, bahkan setiap harinya selalu bertambah kadar sayangnya”
Dada Raya semakin berdebar, ia menahan tangisnya, sementara hatinya sudah menangis sejak tadi.
“Raya istriku…” Revian menjatuhkan kepalanya di pangkuan istrinya. Tangannya menunjuk ke arah seberang jalan, di mana ada seorang pria yang menghadap ke arah mereka dengan tersenyum.
“Ada apa dengan laki-laki itu?” Tanya Raya bingung.
“Dia laki-laki yang sempurna, dia laki-laki baik dan bertanggung jawab. Dia pantas menjadi suamimu kelak dan juga
ayah yang penyayang pada Tita dan Hanum”
Raya menggigit bibir bawahnya kuat, ia tidak ingin menangis dan terlihat lemah di hadapan suaminya. Dipeluknya dan diciumnya kecing laki-laki itu dalam.
__ADS_1
“Jangan katakan apa-apa lagi, kamu akan sembuh. Ayo kita ke kamar agar kamu bisa beristirahat” Raya membantu suaminya bangun tapi laki-laki itu tetap menahan tubuh istrinya yang dijadikan bantalan kepalanya.
“Tidak sayang, aku ingin di sini saja, aku ingin melihat mereka dengan puas. Biarkan seperti ini sayang” Raya sudah tidak tahan, ia membekap mulutnya dengan air mata yang menetes di pipinya. Ia menghapus air matanya kasar, tidak ingin membuat suaminya semakin sedih.
“Sayang, aku harap kamu tidak melupakanku, aku ingin namaku masih terukir indah di hatimu sekalipun pria itu sudah menempatinya. Bilang pada putri kita dan Titania, aku sangat menyayangi mereka. Maaf aku tidak bisa melihat mereka de..wa..sa..” Revian memejamkan matanya. Tangan yang tadinya menggenggam erat tangan Raya perlahan mulai terlepas.
“Sayang” Raya tidak bisa menahannya lagi, ia memeluk suaminya dengan erat. Ia mencium kening suaminya sangat lama dan dalam. Jiwanya telah dibawa pergi.
“Sayang, aku sudah bilang kamu akan sembuh. Kamu melihat mereka tumbuh dewasa, menikah dan mempunyai anak, kamu ingin punya cucu dari mereka kan? Tapi kenapa kamu tidak menurutiku. aku harus apa supaya kamu bisa bangun?”
“Sayang bangunlah, jangan mengingkarinya, jangan seperti ini, ayolah jangan bercanda” Raya memeluk suaminya erat, ia tidak perduli dengan darah yang tiba-tiba mengalir deras dari hidung suaminya dan mengotori bajunya. Tapi laki-laki itu tetap bergeming, tetap diam, matanya tertutup sangat rapat.
Raya menangkup kedua pipi suaminya dan mencium bibir pucat itu lalu memeluknya kembali. Raya melihat ke arah depan dimana kedua putrinya masih bersama Zidan, namun ada sosok lain di samping mereka seakan melindungi mereka.
“Aku berjanji namamu tidak akan pernah hilang, aku berjanji sayang…” Raya menangis tersedu-sedu.
TBC
__ADS_1