
Namun yang paling ia kejutkan, kenapa reaksi jijik dan gatal-gatal tidak dia rasakan sama sekali. Di dalam mobil sejenak ia mengamati kedua telapak tangannya, bersih, tidak ada ruam, tidak ada bintik-bintik merah, tidak gatal sama sekali, perasaannya juga tidak jijik. Aneh! Kenapa bisa begitu? Apa aku memang sudah sembuh? Ia jadi teringat beberapa bulan lalu saat pagi bertemu dengan Hanum yang terjatuh dan ia menolongnya, ia juga tidak merasa gatal dan jijik, pun dengan Titania yang langsung menarik tangannya dari genggaman Hanum, ia juga tidak jijik. Ah, aku harus periksa lagi sama dokter Stevano, siapa tahu memang penyakitku sudah sembuh.
“Atau apakah ini semacam keberuntungan yang didatangkan kepadaku? Mampukah aku benar-benar sembuh dari alergiku?” Gumam Asisten Je kalut. Asisten Je segera meluncur ke tempat praktek dr. Stevano untuk membuktikan bahwa dirinya telah sembuh dari penyakit alerginya. Kebetulan di ruang praktek Stevano ditemani oleh kekasihnya, Mareta.
Setelah dicek semua kesehatan Asisten Je, ketiga orang itu duduk saling berhadapan di sofa ruang kerja dr. Stevano.
“Kondisimu benar-benar dalam keadaan yang sangat baik Je, aku rasa dengan kondisimu yang seperti ini, penyakit akan takut sendiri untuk menghampirimu” Seloroh Stevano disambut tawa Mareta di sampingnya.
“Jangankan menghampiri, baru lihat aja dah kabur … haha” Sambung Mareta seraya menutup mulutnya karena tawanya membawa dampak tatapan tajam ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan delikan mata Asisten Je.
“Kenapa aku tidak mengalami alergi ketika aku menyentuhnya tadi” Kata Asisten Je mirip seperti gumaman pada diri sendiri namun cukup terdengar jelas oleh kedua orang di depannya. Stevano mengerutkan kening heran.
“Siapa?” Tanyanya menyipit curiga. Dulu laki-laki di depannya ini pernah konsultasi juga di pagi buta tentang tidak adanya reaksi alergi ketika bersentuhan dengan anak kecil.
“Apa gadis kecil lagi?” Lanjutnya. Asisten Je menggeleng. Stevano dan Mareta saling pandang.
“Wanita dewasa” Lirihnya, “Dia ibu dari kedua anak yang dulu pernah menyentuhku.” Sambungnya seraya menatap Stevano minta penjelasan lebih.
“Janda?” Seru Stevano kaget.
__ADS_1
“Apa yang aneh” Desis Asisten Je yang merasa seolah tersinggung seruan Stevano.
“Je…aku akan merasa terhormat kalau aku bisa melihat wanita keberuntunganmu itu.” Ucap Stevano seraya tersenyum.
“Apa aku dinyatakan sembuh Stev?” Tanya Asisten Je penuh harap. Dokter muda itu menghela nafas pelan.
“Je, aku tidak tahu penyakit alergi apa yang kau alami ini, tapi dalam 10 nama alergi kulit yang aku tahu, tidak seperti dirimu, mungkinkan ini seperti kutukan…”
“Kamu penyihirnya!” Potong Asisten Je sarkarme.
“Itu mulut nggak pedes nggak bisa ya” Protes Stevano jengkel, Mareta hanya menggeleng aneh melihat perdebatan kedua sahabat itu.
“Iya, puas kamu” Terdengar tawa terbahak dari dokter itu kemudian dia meraih tangan kekasihnya dengan masih mode tertawa.
“Baiklah Je, coba kau sentuh Mareta, kau bilang telah menyentuh tiga wanita…”
“Yang dua masih gadis ya, anak-anak malah” Protes Asisten kesal.
“Iya..iya, kau menyentuh mereka dan alergimu tidak kambuh bukan? Sekarang coba kau sentuh Mareta” Kata Stevano ingin memastikan.
__ADS_1
Dengan ragu Asisten Je mencoba menyentuh kulit Mareta.
“Je, kalau alergimu ternyata kambuh, jangan salahkan aku ya” Ucap Mareta sedikit takut. Tanpa menjawab Asisten Je menyentuh kulit Mareta. Saat sentuhan itu terjadi beberapa detik, bintik merah pun bermunculan disertai rasa panas dan gatal dan rasa jijik juga perlahan menguar dari perasaannya. Dengan segera Mareta melepaskan pegangan tangan Asisten Je pada tangannya.
“Je lepas, kulitmu…” Ucap Mareta yang melihat bintik merah di kulit mulus Asisten Je.
“Ck, hanya dia yang bisa ku sentuh dan aku tidak merasa jijik padanya” Ucap Asisten Je kesal.
“Hei ralat ucapanmu ya, Mareta bukan perempuan yang ada dalam benakmu!” Seru Stevano dengan nada marah. Asisten Je bangkit dari duduknya lalu menuju ke cermin, ia membuka kancing kemejanya dan melihat bintik merah dan ruam di sekitar dadanya dan yang pasti sekujur tubuhnya akan mengalami hal yang serupa. Tangannya sudah mulai terulur untuk menggaruk rasa gatal dan panas itu, namun tangan Stevano langsung menghentikannya dan memberikan obat kepada Asisten Je.
“Istirahatlah dan segera minum obatmu” Ucap Stevano akhirnya seraya menatap Mareta dengan tatapan yang penuh isyarat.
“Hmm” Asisten Je segera melakukan apa yang diperintah dr. Stevano dan mencoba merebahkan diri sejenak di ranjang ruang kerja Stevano, yang pasti bukan ranjang rumah sakit.
.
.
Suasana di kantor pagi ini sangat menegangkan, pertama kali ketemu Asisten Je tadi pagi, aura menyeramkan laki-laki itu tampak sangat jelas, hingga Raya tidak berani mendekat untuk menyapa yang ternyata akan semakin menambah aura meyeramkan laki-laki itu tidak pernah pudar. Hal itu sangat tidak di sadari oleh Raya, beberapa pelaksana direktur yang masuk untuk meminta tanda tangan tidak lepas dari amarah Asisten Je yang tidak ber-dasar. Semua hal yang dilaporkan oleh mereka di anggap salah dan harus memperbaiki hari itu juga atau hengkang dari perusahaan mengancam mereka.
__ADS_1
Raya berupaya menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan saat menyerahkannya pada Asisten Je nanti dia berharap tidak ada revisi seperti sebelum-sebelumnya. Wanita itu tampak mengumpulkan beberapa berkas yang telah siap di bawa ke ruangan atasannya, segera ia melangkahkan kakinya ke pintu dan menuju ke ruangan atasannya tersebut.