
"Ayo menikah" Ucap laki-laki di depannya dengan datar membuat wanita itu membelalakkan matanya tak percaya. Setelah mengantar Tuan Muda Alvero, Asisten Je memanggil Raya untuk menghadap ke ruangannya.
“Uhuk uhuk uhuk” Raya tersedak ludahnya sendiri mendengar permintaan Asisten Je yang tidak masuk akal. Cepat Asisten Je menyodorkan gelas air minum di depannya dan langsung disaut Raya tanpa berpikir dua kali. Tenggorokannya serasa panas sampai ke hidung.
“Maksud Tuan apa ya?” Tanya wanita itu menatap shock ke arah laki-laki yang kembali duduk tenang di kursi kebesarannya. Tampak dia bersandar santai dengan bersedekap dada.
“Kalau kamu enggan sekamar dengan ku, solusinya adalah menikah” Jelasnya seraya tersenyum remeh, walaupun dalam hatinya ia berharap Raya menerima dengan senang hati.
“Anda tidak bisa seenaknya memutuskan solusi tidak masuk akal itu” Jawab Raya dengan emosi. Tangannya mengepal erat di atas pahanya, ia mengingat bagaimana kehidupannya selama dua tahun ini yang masih belum bisa melepaskan bayang-bayang suaminya.
“Hanya sirri, apa susahnya?” Katanya kembali dengan enteng.
“Tuan, menikah itu bukan permainan yang seenaknya Anda anggap angin lalu, pernikahan itu berhubungan langsung dengan perjanjian di hadapan Tuhan.” Sergah Raya marah, nafasnya sempat naik turun dengan marah.
“Kalau begitu, terima saja job ini tanpa protes” Asisten Je berkata tegas kemudian ia berdiri dan melangkah untuk membuka pintu kemudian menatap Raya. Wanita itu kembali mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya erat.
“Saya ingin membuat perjanjian” Kata Raya akhirnya. Laki-laki itu menaikkan kedua alisnya. Menolak sepertinya bukan solusi lagi, karena Raya sudah dipercaya sebagai sekretaris mumpuni, apalagi dengan penyelesaian kasus hacker yang dengan mudah diselesaikan oleh Raya.
__ADS_1
“Surat perjanjian dengan tanpa sentuhan fisik dan tanggung jawab lain” Raya perlahan menunduk menunggu reaksi Asisten Je. Laki-laki itu menutup pintu kembali, beranjak duduk di kursinya dan menyatukan kedua tangannya di atas meja kerjanya.
“Saya keberatan pasal tidur satu kamar apalagi satu ranjang, bagaimana kalau Anda melakukan hal yang tidak- tidak pada saya.” Ucapnya terus terang.
“Jangan takut…, saya tidak suka perempuan, saya tak akan menyentuhmu, atau kau yang takut kalau nantinya kamu yang akan merayuku” Jawab Asisten Je sambil tersenyum menghina.
“Huh, Anda bukan selera saya…” Ketusnya membuat bola mata Asisten Je melebar sempurna. Apa wanita ini buta atau gila? Pria setampan aku dia nggak selera. Lihat saja Raya, akan aku buat hidupmu tergantung sama aku… tunggu saja.
“Bagus kalau begitu, jadi…?” Tegas Asisten Je tegas dan tajam.
“Saya harap tidak ada yang tahu tentang pernikahan ini, saya akan membawa Teja sebagai saksi saya dan wali saya serahkan ke wali hakim, saya tidak ingin keluarga saya tahu menahu tentang hal ini.” Lanjutnya lagi panjang lebar.
“Namanya Teja dan dia teman saya, kalau Anda tidak bersedia, Anda bisa mencari sekre…”
“Fine!” Potongnya cepat.
.
__ADS_1
.
“Saya terima nikah dan kawinnya Raya Septiani Sudjana binti Handoko Sudjana dengan mas kawin tersebut TUNAI” Ucap Asisten Je dengan suara lantang.
“Bagaimana saksi, sah?” Tanya wali hakim kepada dua saksi di sebelah kanan kiri mereka, Anthoni dari pihak Asisten Je dan Teja dari pihak Raya.
“Sah.” Jawab mereka bersamaan.
“Alhamdulillah….” Puji syukur wali hakim kemudian membaca doa nikah.
“Selamat, kalian telah menjadi suami istri yang sah secara agama dan secara agama juga kalian telah berhak dan dikenai kewajiban layaknya sebagai suami istri.” Jelas wali hakim.
“Baik, terima kasih.” Jawab Asisten Je kemudian menjabat tangan wali hakim tersebut. Ia menoleh ke arah Raya dengan mengernyit karena melihat wanita itu mengulurkan tangannya.
“Kewajiban ku hanya mencium tangan suamiku di awal nikah.” Bisik Raya yang disambut Asisten Je dengan mengulurkan tangannya dan sentuhan bibir wanita itu membuat hatinya langsung tersengat. Terasa lembut dan dingin. Setelah itu mereka kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda. Pernikahan dadakan itu hanya diketahui oleh wali hakim, Anthoni, dan Teja, di luar itu tidak ada yang tahu. Bahkan Tuan Muda Alvero sendiri juga tidak mengetahuinya. Raya tidak mau salah langkah dalam bertindak, lebih baik merahasiakan dulu semuanya sampai waktu yang tidak bisa ia tentukan kapan akan berakhir.
To Be Continued
__ADS_1
Tunggu episode selanjutnya yaaa, ini sambil ngawas sambil menulis lanjutan episode ....moga aja lancar