
“Kenapa lama sekali?” Asisten Je sudah menunggu Raya dengan kedua tangan yang bersedekap di dada. Tampangnya terlihat imut sekali, alisnya mengerut, bibirnya cemberut, matanya menunjukkan kilat kemarahan, tapi malah membuat kesan lucu di mata Raya. Ah….singa galak ku jadi kucing imut. Hehehe….
Wanita itu menampilkan senyum manis andalannya untuk meluluhkan hati yang lagi marah itu. Tidak lupa, tangannya langsung mengambil lengan Asisten Je dan memeluknya erat.
Merayu dikit boleh kali ya, bisik Raya dalam hati. Tapi Raya lupa siapa Asisten Je, rayuan yang di sengaja untuk meluluhkan kemarahan suaminya malah menjadi boomerang bagi Raya.
Buktinya, begitu tangan lembut itu menyentuh lengannya, desiran hebat langsung menguar dari dalam tubuh Asisten Je. Tanpa aba-aba, laki-laki itu langsung menggendong tubuh Raya dan membawanya ke kamar mereka.
“Aw…turunkan sayang…iya maaf-maaf, kasihan Hanum, dia barusan baru bisa tidur, masak iya langsung aku tinggal” Bela Raya seraya mencengkram lengan dan leher suaminya agar tidak jatuh.
Laki-laki itu hanya diam kemudian menurunkan istrinya di atas ranjang dengan hati-hati, seakan takut membuat tubuh istrinya tergores.
Asisten Je memutari ranjang untuk mematikan lampu kamar kemudian ikut naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya posesif.
“Aku sudah kangen tahu” Rajuknya.
Raya kembali tersenyum manis, kali ini jemari tangan kanannya bergerak membelai pipi dan rahang suaminya. Laki-laki itu hanya terpejam menikmati sentuhan lembut istrinya.
“Padahal baru sore juga kita berpisah nya”
“Kamu segera berbicara sama kakak, biar kita tidak tidur terpisah lagi” Kembali merajuk sambil menciumi wajah istrinya.
__ADS_1
“Iya, sabarlah, aku mencari waktu yang pas untuk berbicara dengannya” Bujuk Raya masih mengelus pipi dan rahang suaminya. Laki-laki itu menggeram perlahan menerima sentuhan lembut istrinya. Entah siapa yang mulai duluan, kini mereka sudah sama-sama melakukan kegiatan olahraga malam yang memang sudah menjadi candu bagi Asisten Je.
.
Asisten Je mendekap erat tubuh istrinya di pelukannya. Wanita itu terpejam karena merasa lelah dengan aktifitas malam suaminya yang tidak ada bosan-bosannya mengeksplor tubuhnya. Laki-laki itu menciumi pucuk rambut istrinya berkali-kali, berharap istrinya terganggu dan membuka mata.
“Engggghhh, sayang…” Lirih Raya merasa terganggu. Asisten Je tersenyum seraya mengusap pipi istrinya dengan ibu jarinya. Menggemaskan sekali….
Asisten Je bertekat untuk jujur pada istrinya tentang masa lalunya, ia tidak ingin hubungan yang sudah terbangun dengan baik ini menjadi renggang jika Raya tahu masa lalunya dari orang lain. Meskipun ia sangsi ada yang tahu tentang masa lalunya. Tanggapan apapun yang diterimanya dari istrinya akan ia terima dengan lapang dada.
“Aku ingin jujur” Kata Asisten Je.
“Hmmm” Raya membuka sedikit matanya untuk melihat wajah suaminya.
“Besok saja ya, aku lelah sayang” Ucap Raya tanpa menyadari akibat perbuatannya.
“Dengan resiko aku lupa dan tidak ada kejujuran lagi dan kita olahraga lagi” Tegas Asisten Je membuat mata Raya akhirnya benar-benar terbuka. Raya menggeser tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang, kedua tangannya mendekap selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
“Kenapa ditutupi, aku sudah hapal lagi tempat-tempat faforitku” Goda Asisten Je. Wanita itu hanya cemberut seraya semakin mengeratkan selimutnya.
“Mesum!” Desisnya ketus.
__ADS_1
“Mesum sama istri sendiri masak dilarang” Asisten Je semakin menggoda Raya dengan memasukkan tangan kanannya ke dalam selimut.
“Seriuslah atau aku pulang” Ancam Raya memasang wajah sebal. Asisten Je reflek mengangkat tangannya.
“Baiklah…baiklah, dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulang untuk kedua kalinya” Raya hanya mengangguk dan menatap intens wajah suaminya. Laki-laki itu ikut menggeser tubuhnya untuk bersandar di sebelah istrinya. Pandangannya lurus ke depan, ia tidak sanggup jika melihat tatapan istrinya yang mengandung kekecewaan bahkan jijik.
Laki-laki itu menghela nafas panjang.
“Aku anak haram” Lirih Asisten Je.
Hening
Sunyi
Hanya nafas mereka yang terdengar.
“Dia bukan ayahku” Usai mengatakan kalimat pendek itu Raya merasakan tangan Asisten Je terkepal kuat di sebelah tubuhnya. Perlahan ia mengurai kepalan tangan itu dengan menggenggam tangan suaminya kemudian menyatukan jemari mereka dengan lembut. Asisten menoleh menatap wajah istrinya, di carinya tatapan jijik dari wajah wanita di sebelahnya itu, namun yang di dapatinya tatapannya tidak berubah tetap menatapnya, lembut, tidak ada penghakiman. Asisten Je balas menggenggam jemari istrinya sambal tersenyum tipis.
“Bajingan itu mengusir kami dengan kejam” Sambungnya dengan ekspresi wajah yang mengeras dan tatapan yang tajam penuh kebencian.
Raya beringsut memeluk tubuh suaminya, tidak di hiraukannya akibat perbuatannya akan membuat suaminya kembali dalam mode ‘on’. Yang penting saat ini ia harus bisa meredam amarah dan kebencian suaminya.
__ADS_1
Flashback On
TBC