
Waktu berlalu dengan sangat cepat, keberuntungan mendatangi Raya karena peretas data itu membuat Raya diberi kelonggaran pulang sesuai jadwal tanpa ada lembur dadakan. Asisten Je tidak bisa berbuat apa-apa karena semua itu perintah langsung dari Tuan Muda Alvero.
Keputusan Alvero sang CEO muda Jewerly Diamond tidak bisa diganggu gugat, siang itu juga, dia memerintahkan seluruh jajaran pimpinan dan staf untuk berkumpul di ruang meeting dan memberikan keputusan mutlak tentang pemecatan tidak terhormat sang General Manager dan black list di semua anak perusahaan dan di seluruh Jawa Timur.
Dan di sinilah Raya sekarang, di tempat parkir sedang menunggu jemputan. Jason besok akan pulang dan malam ini ia meminta Raya menemaninya mencari oleh-oleh untuk sang nyonya di kediaman. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Raya, seorang pemuda tampan keluar dari kursi pengemudi dan memutar untuk membukakan pintu penumpang bagi Raya. Tanpa di sadari keduanya, tampak sepasang mata menatap dengan sangat tajam dengan kedua tangan terkepal sempurna.
“Siap meluncur nona?” Goda Jason seraya membungkukkan sedikit badannya, membuat Raya memukul gemas lengan pemuda di depannya kemudian tertawa lebar. Wanita itu masuk ke mobil setelah itu Jason berlari memutar dan memasuki mobil. Sedetik kemudian mobil meluncur di padatnya jalan raya dengan pantauan yang tidak pernah lepas dari salah satu mobil di belakangnya. Mobil itu dengan setia tetap mengikuti kemana lajunya mobil di depannya membawa sekretarisnya.
Raya dan Jason sampai di sebuah mall terbesar di Malang dan pemuda itu bergegas turun untuk membuka pintu samping yang disambut dengan uluran tangan wanita itu. Mereka berdua berjalan riang memasuki kawasan mall dengan tangan Raya yang menggandeng erat lengan laki-laki di sebelahnya. Sementara tampak agak jauh di belakang mereka, seorang laki-laki masih tetap mengikuti dengan tatapan tajam. Kalaulah tatapan itu setajam laser pasti punggung keduanya langung berlubang.
“Ayo Ray, pilihkan baju untuk mommy dan daddy, kamu tahu sendiri aku paling malas untuk berkeliling” Rajuknya seraya merangkul bahu Raya. Wanita itu hanya tertawa kemudian melangkah ke stand baju bermerk kalangan atas. Ia tahu bagaimana selera mantan mertuanya itu. Setelah puas memilih untuk mantan mertua, Ervin dan Hanna, serta dua keponakannya, Raya kembali memilih diperuntukkan keluarganya dan keluarga Mas Revian. Perdebatan
di kasir menjadi drama yang memusingkan, karena keduanya mempunyai hak untuk membayar.
“Sudah cukup. Mbak ini, tolong totalnya” Potong Raya gemes seraya menyerahkan black gold nya ke kasir yang diterima dengan tangan gemetar. Orang kaya memang aneh! Pikirnya…
“Kita makan malam dulu ya Ray, melilit nih” Jason mengusap perutnya.
“Anak-anak gimana?”
“Amanlah…ya, ya, ya, jarang-jarang lho makan bareng cowok setampan gue” Mata Jason mengedip-ngedip manja.
“Narsis” Ledek Raya seraya mencubit pinggang Jason, laki-laki itu hanya tertawa senang. Jarak umur Jason hanya
terpaut tiga bulan di atas Raya namun Raya tetap meminta adik Ervin itu memanggil namanya saja, apalagi Raya tetap menganggap mereka keluarga bukan keluarga mantan, jadi hubungan semua keluarga itu masih tetap baik. Raya bahkan di anggap sebagai bungsu perempuan mereka.
Setelah puas makan mereka langsung meluncur pulang ke rumah, membersihkan diri, Raya langsung menuju ke kamar Hanum untuk melihat keadaan gadis kecil itu. Ia khawatir anaknya merengek dan membuat kedua wanita tua itu merasa repot. Saat membuka pintu kamar dilihatnya Bu Rumi sedang memeluk Hanum dan gadis kecil itu merasa nyaman di dekapannya. Raya tersenyum dan membiarkan moment tersebut, kemudian ia keluar dan
menghampiri kamar Titania dan melihat gadis remaja itu sudah pulas tertidur. Terbersit rasa bersalah dalam hatinya melihat anak gadisnya yang melampau hari ini tanpa di dampinginya. Diusapnya kepala gadis itu dan dikecup keningnya kemudian ia berlalu menuju kamarnya. Sementara Jason mulai packing untuk berangkat besok pagi.
.
.
Pagi sekali Raya terbangun mendengar suara rengekan di sampingnya, ia membuka mata perlahan dan mendapati wajah Hanum yang mendusel ke dadanya.
“Emm…anak mama sudah bangun?” Sapanya seraya menciumi wajah Hanum membuat gadis kecil itu geli dan tertawa senang. Hilang sudah cemberut di wajahnya.
__ADS_1
“Mama kenapa pulangnya malam?” Rajuknya. Raya tersenyum kemudian bangun dengan masih memeluk putri bungsunya.
“Om Jason mau pulang hari ini, jadi kemaren mama cari oleh-oleh buat oma, opa, yang ti, yangkung, kakek dan nenek, buat kakak kembar juga ada, maafin mama ya jadi gak bisa nemenin Hanum tidur.” Jelas Raya. Gadis kecil itu beringsut duduk menghadap Raya.
“Buat aku ada?” Matanya menatap dengan binar berharap. Raya menatap dengan tatapan menyesal.
“Emm, bagaimana kalau nanti malam kita keliling mall, Hanum bisa minta apa aja deh…”
“Beneran?” Raya mengangguk, “Mau…mau…” Teriak Hanum seraya menciumi wajah Raya membuat wanita itu tertawa lega.
“Ya sudah, sekarang Hanum siap-siap, katanya mau daftar sekolah.” Kata Raya seraya menyentil hidung mancung Hanum.
“Iya.” Gadis kecil itu beringsut turun dan berlari keluar, “Aku mandi sama Nenek Rumi ya.” Sambungnya sambil berlari keluar. Raya hanya menggeleng-geleng senang. Sejak kehadiran Bu Rumi Hanum sering kali minta ditemani dan di layani oleh Bu Rumi dan wanita baya itu juga sangat sayang pada Hanum. Raya merasa bersyukur keberadaan kedua wanita baya itu sedikit banyak membantu kehidupan Raya di Kota Malang ini.
Setelah mendaftarkan Hanum ke TK di lingkungan kampus negeri dan ditunggui oleh Bu Rumi, Raya meluncur ke
perusahaan bersama Pak Malik. Sampai di perusahaan, Raya langsung masuk ke ruangannya untuk mengambil berkas-berkas yang siap dilaporkan ke Asisten Je untuk diperiksa terlebih dahulu.
Raya mengetuk pintu tiga kali kemudian membukanya perlahan.
Ceklek.
tanpa menghiraukan kehadiran sekretarisnya. Raya berjalan mendekat dengan tumpukan berkas yang siap di cek.
“Maaf Tuan, ini berkas yang membutuhkan edit dan persetujuan anda sebelum di tanda tangani oleh Tuan Muda.”
“Hmm.” Raya menaikkan alisnya, ia masih bingung memaknai reaksi atasannya itu. Yang ia pahami, setiap kali laporan ia harus menunggu 30 menit sampai 1 jam. Kali ini ia juga langsung menunggu dengan tetap berdiri tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Setelah 20 menit menunggu….
“Ada yang lain?!” Tanya Asisten Je tanpa melihat ke arahnya. Raya kembali menaikkan alisnya kemudian menghela
nafas pelan dan mengucapkan sabar berulang kali dalam hatinya.
“Baik Tuan, saya kembali ke ruangan.” Raya menunduk hormat kemudian berbalik menuju ke ruangannya.
“Pukul sembilan datang ke ruangan Tuan Muda.” Kata Asisten Je saat Raya mencapai pintu.
__ADS_1
“Baik.” Raya menoleh sejenak kemudian berlalu, di balik pintu ia menggerakkan kedua tangannya membentuk kepalan tinju.
“Pikil simbilin diting ke riwingin Tiwin Midi. Huh, tidak bisa apa bicara baik-baik” Dengus Raya kesal. Sebelum ketahuan Singa Galak itu Raya bergegas menuju ke ruangannya.
.
.
“Kenapa syaratnya begini? Apa maksudnya saya menjadi asisten merangkap kekasih Tuan Je?” Tanya Raya seraya mengerutkan dahinya. Wanita itu memandang semua yang hadir dengan tak mengerti.
“Ya maksudnya seperti yang tertulis, jangan khawatir, kamu hanya sebagai kekasih kontrak, artinya kamu menjadi
kekasih Asisen Je hanya jika di perlukan untuk tampil di depan publik.” Jelas Anthoni yang saat ini dijadikan jubir oleh kedua atasannya tersebut.
“Lalu apa ini … saya harus mau tidur sekamar dengan Tuan Je … maaf Tuan Muda saya bukan wanita murahan!” Protes Raya dengan mata melotot, tidak diperdulikannya lagi perintah itu walaupun atasan tertinggi yang memerintahkan. Kalau pekerjaan dinas silahkan oke saja tapi kalau sampai harus tinggal dan tidur sekamar … no way.
“Begini Raya, berdasarkan pengalaman saat Tuan Muda berhalangan, maka Asisten Je yang mewakili, nah saat ada kunjungan ke luar kota selalu ada yang mengiriminya wanita penghibur ke kamarnya karena selama ini Asisten Je tak pernah terlihat memiliki kekasih. Untuk itulah maka kau diperlukan sekamar dengan Asisten Je untuk mengusir wanita kiriman tersebut.” Anthoni membantu menjawab.
“Kan kalian punya banyak bodyguard, tinggal perintahkan mereka untuk berjaga di depan kamarnya kan beres. Untuk apa memerlukan kekasih kontrak.” Sahut Raya, ia sudah benar-benar melupakan etika sopan santun berbicara dengan atasan.
“Lebih tepatnya untuk mematahkan gossip bahwa Asisten Je penyuka sejenis Raya.” Jawab Anthoni lagi. Raya terdiam menatap keberadaan dua atasannya yang seolah tak terganggu dengan pembicaraan mereka. Raya kembali membaca point berikutnya.
“Di luar area kantor harus bergandengan tangan dengan mesra, apabila dimungkinkan berciuman”
Uhuk … uhuk … uhuk …
Raya langsung terbatuk membaca point tersebut.
“Maaf Tuan, sepertinya saya tidak mampu …”
“Kamu sudah terlanjur menyetujui ...” Sergah Asisten Je tajam.
“Tapi kan saya belum tanda tangan…” Protesnya tak kalah tajam. Anthoni hanya geleng kepala seraya menahan napas, sementara Tuan Muda Alvero hanya tersenyum tipis.
“Maaf Tuan Muda, bisakah keputusan itu di ubah?” Tanya Raya seraya menatap Tuan Muda Alvero memelas. Semua mata memandang Raya diam, seakan sepakat menunggu kalimat selanjutnya. Wanita itu memilin jemarinya gugup.
“Maksud saya…kenapa harus satu kamar? Bukankah kami bisa berada di kamar yang berbeda, dan kalau ada yang dirapatkan bisa bertemu di meeting room” Jelas Raya selanjutnya.
__ADS_1
“Maaf Raya, semua keputusan saya serahkan pada Je, jadi silahkan kamu rundingkan dengannya.” Laki-laki gagah itu berdiri mengambil jasnya kemudian berlalu diikuti oleh Asisten Je. Raya menatap laki-laki itu dengan pandangan judes, sementara laki-laki itu hanya angkat bahu acuh.