
Raya memasuki ruangan Asisten Je dengan kesal. Emosinya sedang meledak2 dan ingin sekali ia melampiaskannya pada suaminya yang super protektif itu.
Begitu pintu terbuka dengan kasar tampak Asisten Je yang sedang memeriksa berkas dengan serius seketika mendongak dengan wajah geram. Siapapun sebenarnya sudah tahu bagaimana peraturan ketika memasuki sebuah ruangan dan Asisten Je paling tidak suka jika ada yang masuk ke ruangannya tanpa permisi. Tentu terkecuali Tuan Muda Alvero dan Nona Meili.
Namun begitu mendapati yang membuka pintu adalah istrinya, wajah geramnya langsung berubah 180 derajat, super lembut dan bibir yang tersenyum lebar. Tanpa menyadari ada orang lain di ruangan itu, Raya melangkah menuju ke hadapan suaminya dengan wajah juteknya.
“Ada apa sayang?” Tanya Asisten Je dengan heran membuat 2 orang yang hadir di situ langsung melotot tak percaya. Bagaimana tidak? Dari mereka datang, wajah Asisten Je datar, dingin, hanya menjawab dengan deheman, dan tidak perduli dengan keberadaan mereka. Asisten Je hanya membaca laporan yang di bawa oleh dua orang itu tanpa susah-susah mendengarkan mereka bicara. Yang jadi pertanyaan mereka, sejak kapan asisten datar itu berbicara lembut dan panggilan tadi, kalian dengar kan? Sayang.
“Huh, aku tidak suka sikap Lani ahagi bersamaku!” Tandas Raya dengan suara marah.
“Apa memangnya yang dilakukan Lani?”
“ Dia terlalu over protektif, apa2 nggak boleh, apa sih maumu sebenarnya?!” Masih kesal.
Asisten Je tersenyum, ia meletakkan bolpoint nya di meja kemudian tangannya menarik pinggang istrinya untuk semakin dekat. Raya memberontak karena masih sangat kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat suaminya itu menekan pinggangnya hingga menempel diantara kedua paha Asisten Je yang sedang duduk.
Posisi mereka benar-benar membuat yang melihatnya akan salah paham. Kedua paha Asisten Je yang mengapit tubuh Raya dengan kedua tangannya melingkar di pinggang. Sementara kedua tangan Raya menahan di dada Asisten Je agar masih ada jarak antara mereka namun posisi wajah keduanya sudah sangat dekat. Dua laki-laki itu semakin dibuat terbelalak dengan tingkah Asisten Je yang sudah di luar akal mereka.
Mau menyela tapi tatapan tajam yang sempat mengarah pada mereka membuat nyali mereka menciut, jadi mereka dengan pasrah menunggu drama roman picisan itu berakhir.
“Aku hanya ingin kamu aman sayang, ku pikir itu wajar saja”
“Dia mengganggu selama pertemuan dengan pihak Panada Diamond.” Kesalnya cemberut.
“Emang apa yang dilakuin Lani?” Masih memeluk erat pinggang istrinya.
__ADS_1
“Dia mengganggu pembicaraan kerja sama, dikit-dikit protes, kan mengganggu sayang” Rajuk Raya seraya tangannya mengelus dada suaminya.
“Lani tidak mungkin berani mengganggu acaramu kalau tidak ada sesuatu yang memicu kemarahannya” Kata Asisten Je yang sudah tahu bagaimana karakter gadis yang menjadi bawahannya itu.
Raya cemberut tidak setuju. “Tadi kan perwakilan Panada Diamond sudah datang dan hendak bersalaman, masak iya cuma…” Seakan tersadar akan kalimatnya Raya langsung terdiam. Gawat, aku keceplosan. Ah, kalau begini ceritanya, bener Lani sih, jangan sampai memprovokasi Asisten Je.
“Cuma?”
Raya menggeleng seraya mengibaskan kedua tangannya.
“Ah, tidak ada sayang, hanya tadi dia ribet banget emang, lain kali bilang sama Lani jangan terlalu over protektif, aku bisa jaga diriku sendiri” Jawab Raya agak gugup.
“Tidak bisa” Jawab Asisten Je memicing curiga melihat gelagat istrinya yang tiba-tiba menghentikan pemibacaraan mereka.
“Ada yang mau di jelaskan? Aku menunggu” Pandangan Asisten Je kembali menajam, ia merasa ada yang tidak beres.
Ya dua orang itu adalah Aditya dan Darren.
Raya langsung menutup wajahnya malu dan berlari keluar dari ruangan suaminya. Setelah menutup pintu, ia bersandar sebentar untuk menata hatinya.
Haduh, malunya mau dibawa kemana ini mama…
Ketika hendak melangkah ke ruangannya, Raya mendengar suara tawa suaminya dari dalam.
“Ish….” Raya berlari menuju ruangannya dengan semburat merah di wajahnya.
__ADS_1
“Buang pikiran kotor kalian pada wanitaku!” Sentak Asisten Je pada dua orang yang saling memandang.
“Raya tidak mungkin bertingkah seperti itu, aku mengenalnya dengan baik” Kata Darren yang masih tidak percaya pada penglihatannya tadi. “Kamu pasti memaksanya berbuat seperti itu, apalagi dia wanita bersuami” Lanjut Darren.
Asisten Je menaikkan alisnya.
“Mengenalnya dengan baik? Memang siapa dirimu baginya atau kalian saling kenal?” Tanyanya heran.
“Tentu saja, aku pernah menjalin hubungan dekat dengannya, kalau saja perjodohan itu tidak ada, pasti saat ini aku yang menjadi suaminya” Jawab Darren tanpa beban.
Asisten Je mengepalkan kedua tangannya. Hubungan dekat seperti apa yang pernah dilakukan istrinya? Tidak, ia tidak boleh terpancing dengan isu yang belum tentu benar. Laki-laki itu mengurai kepalannya kemudian tersenyum.
“Hmm, pernah berarti sudah berlalu kan? Sepertinya kamu tidak tahu ya kalau Raya sudah menjadi janda? Dua kali.” Asisten Je menyandarkan punggungnya untuk merelaxkan dirinya.
“Apa? Tidak mungkin” Darren terbelalak tak percaya. Saat perjodohan itu terjadi, Darren akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan melanjutkan studi sampai S3 di Prancis. Jadi dia tidak pernah tahu berita apa-apa.
Sampai dia kembali ke Jakarta pun, keluarga nya sepertinya menutupi semua aksesnya tentang Raya agar Darren tidak terus fokus pada Raya. Akhirnya Darren pun setuju dengan perjodohan keluarganya terhadap dirinya.
“Jangan coba-coba mendekatinya atau berusaha merayunya, karena dia adalah istriku” Tegas Asisten Je tajam.
“Apa?!” Kaget Darren lagi-lagi berseru tak percaya. Sementara Aditya yang sudah tahu sejak awal, hanya menjadi pendengar pembicaraan mereka berdua tanpa ingin ikut campur di dalamnya. Ia sudah mengikhlaskan perasaannya, ia bahagia jika melihat Raya bahagia.
“Baiklah, kita sudahi pertemuan kita, aku akan kirim resume lewat email, kalian bisa pergi sekarang” Usir Asisten Je tanpa menghiraukan raut terkejut dari Darren.
“Baiklah kami permisi dulu, selamat siang” Pamit Aditya menyeret lengan Darren keluar dari ruangan Asisten Je.
__ADS_1
TBC