
Hati-hati Asisten Je meletakkan tubuh Raya di atas tempat tidur, diluruskannya kedua kakinya kemudian berlari menuju kamar mandi, keluar sudah membawa handuk bersih basah dan membasuh kedua paha istrinya yang terkena darah.
Raya sampai tidak habis pikir, ia mendengar sesenggukan ringan suaminya.
Pasrah.
Tanpa bicara apapun atau berusaha menjelaskan semuanya, Raya membiarkan Asisten Je membantunya mengganti baju sampai pada bagian yang terdalam kemudian melingkarkan selimut sampai ke lehernya. Wanita itu sampai ingin tertawa terpingkal-pingkal, ia berusaha menahannya, takut suaminya tersinggung.
Apa-apaan sih ini, aku hanya datang bulan kali bukan demam!
Ish, ini nih kalau laki-laki atawa suami tidak mengerti tentang perempuan. Peringatan bagi para suami, kenalilah istrimu sebelum kamu bertindak memalukan dirimu sendiri.
“Sayang, aku hanya…”
Asisten Je sudah duduk kembali di atas tempat tidur di samping istrinya dan meraih kedua pipi Raya dengan tangannya. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan kepanikan dan kecemasan.
“Kenapa? Ada yang sakit? Jangan membuatku gila karena tidak tahu kau sedang sakit. Darimana datangnya darah itu?” Menunjuk jubah mandi yang ada di lantai. Asisten Je terdengar frustasi bercampur sedih dan dipenuhi rasa bersalah.
Raya menggeleng cepat, saat ini yang dirasakannya hanya merasa tidak nyaman dengan darah yang keluar dari area bawahnya. Itu benar-benar membuat tubuhnya rishi, pun dengan sprei dan kasur pasti akan membekas dan sulit untuk dibersihkan.
“Sayang, aku tidak apa-apa” Jawaban Raya bukannya membuat Asisten Je tenang malah membuat wajah Asisten Je berubah tidak senang.
“Berhenti mengatakan kau tidak apa-apa!” Marah. “Kau sudah berdarah-darah dan masih mengatakan tidak apa-apa” Asisten Je meraih tangan istrinya. Belum Raya berbicara terdengar ketukan di pintu kamar.
Hadew! bakal tambah ribet nih urusannya, apalagi kalau yang dihubungi suaminya tadi Leon.
“Tuan, apa Anda baik-baik saja? Apa boleh saya masuk?”
Benar kan? Suara Leon terdengar cemas di balik pintu kamar. Pemuda itu bergegas ke rumah Asisten Je begitu atasannya itu menelpon untuk segera ke rumah tanpa memberikan alasan apapun. Mendengar suara Asisten Je yang panik, tanpa berpikir Leon bergegas menuju ke sini.
“Masuklah!”
Leon masuk dengan raut wajah panik, matanya berkeliling melihat situasi di dalam kamar, sepertinya tidak ada yang aneh dengan keadaan di kamar. Dia melihat nona mudanya duduk sambil dililit selimut seluruh tubuhnya. Kedua orang di tempat tidur itu sedang saling berpegangan tangan, menggenggam satu sama lain.
Ada apa ini? Mereka baik-baik saja kan? Tidak ada yang sakit di antara mereka? Apa mereka sedang bermain peran?
__ADS_1
“Panggil dokter wanita sekarang juga” Hanya memberi perintah tanpa memberi penjelasan.
Apa mereka main dokter-dokteran?
“Sayang aku…” Raya sudah sangat malu dengan kepanikan suaminya ditambah lagi dengan perintah memanggil dokter. Dia bingung gimana kalau sampai dokter itu jadi datang, mau di taruh dimana mukanya?
“Diam!” Menghardik lewat sorot mata yang tidak bisa dilawan. “Kau tidak tahu secemas apa aku sekarang!”
Itu karena kamu bodoh! Boleh tidak sih aku memukulnya? Durhaka tidak yah memukul suami sendiri? Atau nanti kusuruh saja ia mengikuti kelas suami siaga. Biar dia tahu dunia wanita itu seperti apa.
“Apa nona baik-baik saja Tuan?” Leon belum beranjak untuk memanggil dokter, ia masih berusaha tenang dan menggunakan akal sehatnya melihat situasi di depannya. Raya pun berharap Leon mengerti situasinya.
“Dia sedang datang bulan dan ada banyak darah” Raya menarik selimut menutupi wajah merahnya. Malu.
“Darah!” Leon menjawab terkejut.
Apa! Mengintip dari balik selimut.
Jangan bilang kau sama bodohnya dengan tuanmu tidak tahu darah datang bulan itu apa.
Cih, dua orang ini bener-bener deh, katanya pintar.
“Apa lagi itu, apa kamu butuh pembalut untuk menutup luka mu?” Asisten Je kembali panik bergerak untuk mengecek tubuh istrinya.
“Katakan saja pada Lani begitu, dia pasti tahu maksudnya” Kata-katanya ditujukan untuk Leon tanpa melihat ke arahnya, karena ia kembali bersembunyi di dalam selimut.
“Baik nona” Leon segera keluar dari kamar, ia mengeluarkan hpnya dan menghubungi….dokter juga Lani.
Kembali dengan kecemasan Asisten Je yang tidak mengetahui dunia seorang istri. Peringatan bagi suami, belajarlah tentang dunia wanita, agar kalian ketika menikah mengerti dan memahami istrimu.
“Sayang…dengarkan aku”
“Apa! Berhenti bicara kau baik-baik saja” Marah lagi kan.
“Jangan marah dulu, dengarkan aku dulu” Mengelus pipi suaminya. “Aku jelaskan ya. Datang bulan itu bla, bla, bla, dan bla, bla, bla…”
__ADS_1
Asisten Je hanya mengernyit karena merasa penjelasan Raya hanya menenangkannya.
“Semua perempuan juga mengalami itu sayang, tidak ada yang aneh”
“Tunggu, kenapa selama ini kamu tidak pernah datang bulan? Baru kali ini setelah sekian lama” Asisten Je mengingat-ingat semuanya. Sejak mereka melakukan malam pertama sampai hari ini, inilah kali pertamanya dia melihat Raya datang bulan.
Bagaimana ini? Apa aku jawab jujur saja ya?
Raya menyadari dia bersalah pada suaminya, sebenarnya sejak suaminya itu meminta haknya dulu, ia sudah khawatir dan diam-diam meminum pil kb sampai saat ia memiliki perasaan yang sama dan penerimaan kedua , Raya memutuskan untuk tidak meminum lagi pil kb tersebut.
“Jelaskan!”
“Sebenarnya waktu kamu meminta hakmu dulu, aku begitu ketakutan hingga aku mengambil jalan pintas dengan meminum pil kb” Menundukkan kepala merasa bersalah.
“Pil kb itu untuk mencegah kehamilan, jadi karena itu aku tidak datang bulan” Cepat-cepat meraih tangan Asisten Je mendapati wajah laki-laki itu mengeras.
“Aku sudah tidak meminumnya sejak dua minggu lalu sayang, aku…aku…” Raya menatap manik mata suaminya dengan lekat, di ciumnya bibir suaminya itu lembut seraya berbisik, “Aku mencintaimu” Kembali menunduk menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah.
Gila, beraninya ia menyatakan perasaan cintanya pada laki-laki di depannya ini.
Asisten Je mematung tak percaya\, wajahnya yang keras berangsur-angsur melembut\, senyum cerah muncul di bibirnya. Meraih wajah istrinya dengan kedua tangan besarnya\, tanpa menunggu lama di lu***nya bibir istrinya dengan lembut. Hatinya penuh dengan bunga-bunga\, usahanya tidak mengecewakan\, perasaannya bersambut.
“Terima kasih sudah mencintaiku” Menghentikan ciumannya dan memeluk erat istrinya dengan penuh cinta.
“Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, jangan khawatir lagi ya, aku sudah menggantinya dengan minum vitamin penyubur kandungan dan makan makanan sehat. Kondisi tubuhku sudah normal kembali, jadi wajar aku mengalami datang bulan” Mengelus punggung suaminya dengan lembut. “Aku sudah benar-benar baik- baik saja”
Terdengar helaan nafas lega, laki-laki itu mengendurkan pelukannya, dipandanginya istrinya.
“Jangan lagi menyembunyikan apapun dariku dan berhenti selalu bilang baik-baik saja” Raya mengangguk tersenyum. “Kalau sakit katakan sakit”
“Iya sayang, aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu, sekarang biar aku melepas selimutku ya, datang bulan itu bukan demam. Hanya perutku saja yang sedikit nyeri dan tidak nyaman karena darah yang keluar terus” Langsung menyesal dan menutup mulutnya.
“Apa! Nyeri? Perut?” Sudah panik lagi.
Hadew…kenapa aku keceplosan sih.
__ADS_1
TBC