
Nada dering ponsel
Raya tersenyum kikuk sambil melirik ke arah Asisten Je, karena laki-laki itu diam saja maka ia mengambil hp yang terus berdering di dalam tasnya. Tertera nama Pak Malik di layar hpnya.
“Assalamu’alaikum, ada apa Pak?” Tanya Raya dengan sopan.
“Waalaikumussalam neng, neng apa neng sedang sibuk?” Tanya Pak Malik yang sepertinya panik.
“Tidak juga sih pak, ada apa?”
“Ini neng, saya barusan mengantar Amri control kebetulan jadwalnya untuk ct scan, trus bapak mau pulang, tapi dapat telpon dari polisi katanya suruh datang untuk ngasih informasi, tapi…” Suara Pak Malik terjeda oleh helaan nafas berat.
“Kenapa pak, apa ada masalah?”
“Pihak penabrak malah minta tanggung jawab neng, mereka menuduh Amri yang salah dan katanya mau naik ke jalur hukum, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan neng” Gugup Pak Malik.
“Bapak ini dimana sekarang?”
“Saya ada di kantor polisi neng”
“Bapak tunggu di sana ya, jangan melakukan apa-apa, saya akan segera ke sana, bapak tenang saja ya” Raya segera mengakhiri panggilannya secara sepihak kemudian menoleh ke Asisten Je yang masih fokus mengemudi.
“Tuan bisakah saya turun di sini saja, saya harus ke kantor polisi lebih dulu” Laki-laki itu mengernyit heran.
“Siapa tadi memang, kenapa kamu begitu peduli sekali?” Tanyanya tanpa menggubris permintaan Raya, namun ia langsung membelokkan mobilnya ke arah yang ingin di tuju Raya.
“Pak Malik sudah saya anggap keluarga sendiri Tuan, anaknya baru terkena musibah kecelakaan dan penabraknya
menyalahkannya dan akan diteruskan ke jalur hukum” Jelas Raya.
__ADS_1
“Hmmm, saya antar ke sana” Raya membelalak tak percaya.
“Tapi Tuan…”
“Tidak ada penolakan ya” Potongnya cepat membuat Raya langsung terdiam dan hanya menuruti kemauan laki-laki
disampingnya.
15 menit kemudian mereka telah sampai di polresta malang, dan lagi-lagi tanpa menunggu Asisten Je Raya langsung turun dan bergegas masuk ke dalam kantor polisi. Namun ia kebingungan ke arah mana ia harus menemui Pak Malik.
“Raya…” Wanita itu menoleh cepat saat ada yang memanggil namanya. Seorang pria dengan seragam lengkap dan ada 2 tanda jasa di dada kirinya sedang berjalan ke arahnya dengan tersenyum lebar.
“Tuan Atmaja…” Terdengar laki-laki itu berdecak.
“Adit Ra, susah amat sih, tapi sedang apa kamu di sini?” Wanita itu sempat terdiam melihat penampilan laki-laki di
depannya. Secara kasat mata, Aditya Atmaja tergolong seorang laki-laki dewasa yang matang dengan penampilan yang nyaris sempurna apalagi di dukung dengan seragam lengkap yang menambah poin plus dari penampilannya.
menetralkan suasana hatinya yang mendadak malu.
“Kata mu ingin menemui keluargamu, kenapa malah berbincang yang tidak jelas” Kata Asisten Je dengan penekanan yang terkesan arogan. Kedua orang yang berada di depannya langsung canggung.
“Iya Tuan, Tuan Atmaja saya ingin ke tempat pelaporan bagian kecelakaan, keluarga saya ada yang terkena masalah di sini”
“Oh, begitu, ayo aku tunjukkan ruangannya, lewat sini Ra” Kata Adit yang tanpa sadar menarik tangan Raya, secara otomatis wanita itu mengikuti ke arah mana Adit membawanya. Tapi tanpa ia sadari di belakangnya ada tatapan tajam dan kepalan tangan yang sangat erat.
Mereka memasuki ruangan yang cukup luas dengan ada dua orang polisi, seorang laki-laki setengah baya yang terlihat kaya dan sombong-karena laki-laki itu dalam keadaan duduk terpisah dengan pandangan mengintimidasi ke arah Pak Malik. Di sana juga ada Pak Malik dan Amri yang selalu menunduk pasrah. Mereka yang berada di dalam menoleh bersamaan mendengar ada beberapa orang memasuki ruangan penyidikan itu. Tampak dua orang polisi itu langsung berdiri dan memberi hormat. Adit tampak mengangguk kemudian berjalan ke meja mereka.
“Ada masalah apa sebenarnya?” Tanyanya dengan nada yang berwibaya, berbeda dengan tadi. Raya paham akan hal itu, karena dipastikan kedudukan Adit lebih tinggi daripada dua orang polisi itu.
__ADS_1
“Siap Kapten, di sini ada kasus kecelakaan yang melibatkan pelaku dan korban, dan Pak Susilo menuntut ganti rugi karena dia merasa menjadi korban”
“Hmmm, benar begitu pak? Bagaimana kronologi sebenarnya?” Tanya Adit tegas membuat laki-laki itu sedikit gemetar dan gugup.
“I..itu, sa..saya menuntut karena mobil saya rusak parah karena di tabrak anak muda itu” Jawabnya dengan terbata-bata.
“Apa benar begitu mas?” Tanya Adit beralih ke arah Amri yang tiba-tiba mendongak terkejut.
“Bukan begitu pak kejadiannya” Kata Amri tenang. Dahi Adit tampak berkerut, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, seakan ia menantikan lanjutan cerita dari Amri.
“Waktu itu saya mengendara di km 40, dan tiba-tiba ada sebuah mobil menyalib dengan kecepatan tinggi dan tidak jauh berhenti mendadak membuat saya terkejut dan tidak siap untuk menghindar, kalau masalah menabrak memang posisi saya sebagai penabrak, tapi kalau masalah keamanan saya kira bapak itu yang melakukan kesalahan dalam mengemudi” Jelasnya panjang lebar. Adit dan kedua polisi langsung mengangguk, tak lupa salah satu polisi itu tetap berada pada posisi mengetik di laptopnya untuk membuat berita acara pengaduan. Mendengar pemaparan yang lugas dari Amri membuat dahi laki-laki arogan itu langsung berkeringat dan kegugupan semakin nampak di matanya.
“Menurut saya sudah jelas kesalahan pengemudi menyalip di situasi kemacetan dengan kecepatan tinggi dan mendadak berhenti, tapi mengapa anda malah menyalahkan semua pada Amri?” Kata Raya sambil menatap laki-laki itu tajam.
“I..itu..sa..sa..”
“Jordi kalau sudah lengkap BAP nya bisa di serahkan ke mereka, lalu segera adakan penyidikan di lokasi” Tegas Adit membuat laki-laki arogan itu langsung gemetaran. Polisi yang mengetik BAP mau menjawab langsung di potong oleh laki-laki arogan itu.
“Ba..bagaimana kalau..damai saja” Ucapnya semakin gugup.
“Bapak sudah bertindak sewenang-wenang ya dengan menuduh adik saya yang menabrak dan merusak mobil bapak, ini tidak bisa dibiarkan, harus ada penyelesaian secara hukum” Kata Raya menekan laki-laki arogan itu, membuat mereka merasa takjub dengan keberanian Raya, bahkan Pak Malik dan Amri merasa terharu karena dianggap keluarga.
“Iya..sa..saya mengakui kesalahan saya, jadi…bagaimana…kalau…”
“Semua terserah adik saya” Potong Raya seraya memandang ke arah Amri. Pemuda itu tersenyum kikuk memandang Raya namun hanya sebentar, setelah itu ia dengan tenang menghadap laki-laki arogan itu.
“Saya hanya ingin bapak tidak melanjutkan ke jalur hukum tuduhan bapak dan bapak harus membersihkan nama baik saya secara hukum” Kata Amri membuat Raya bernafas lega.
“Bersyukurlah anda, karena adik saya tidak memperpanjang masalah, saya yakinkan anda akan tetep kalah kalau mau lanjut” Kata Raya berusaha mengintimidasi.
__ADS_1
“Iya Nona, terima kasih atas pengertiannya, saya akan mencabut tuntutan saya dan saya akan menulis permohonan perbaikan nama baik di hadapan bapak-bapak semua” Kata laki-laki arogan itu akhirnya.
“Baiklah, saya tunggu inisiatif bapak hari ini juga” Raya mengangguk puas dan meminta pihak polisi untuk menyediakan kertas dan bolpoint untuk laki-laki itu. Setelah surat pernyataan itu selesai langsung ditandatangani oleh Haryanto selaku pembuat surat permintaan maaf dan diikuti juga oleh Amri dan Adit selaku saksi dan mendapat stempel langsung dari kepolisian.