Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 18 Kedatangan istri bos


__ADS_3

Tiga bulan berlalu.


Masa tryning Raya telah berakhir,


sekarang dengan kinerja yang selama tiga bulan itu sudah dipantau oleh


atasannya langsung CEO Alvero dan Asisten Je, maka mulai hari ini Raya resmi


menajdi sekretaris tetap Asisten Je. Laki-laki datar itu juga mulai mengakui


kepiawaian Raya dalam mewakilinya di rapat-rapat staf dan rapat bersama klien


di luar kantor. Bahkan banyak klien yang mulai terkesan dan kagum dengan


kecerdasannya dalam keberhasilannya ikut memenangkan setiap tender yang ada.


Hari ini Raya hanya bekerja di


ruangannya, mempersiapkan berkas-berkas meeting yang akan dilaksanakan Senin


lusa bersama perusahaan luar negeri. Diamond Jewerly akan membuka cabang baru


di Australia, sehingga mereka mendatangkan investor yang ingin menanamkan


sahamnya di perusahaan baru tersebut. Rencana makan siang dengan Nitha pun


selalu gagal karena jadwal Raya yang sangat padat. Raya sendiri sampai heran,


kenapa setiap harinya jadwalnya selalu sangat padat bahkan ia merasa bahwa


jadwal itu sengaja di padatkan oleh Asisten Je. Tapi ia bisa apa, ia hanya


bawahan seorang Asisten yang kekuasaannya di bawah CEO langsung.


Kringgggg


Raya yang sedang fokus terjingkat


kaget, namun segera mengangkat gagang telepon di samping laptopnya.


“Ya Tuan?” Sapanya santun.


“Ke ruangan”


“Baik” Raya membereskan berkas yang


sudah siap di bahas di ruangan bosnya. Bergegas ia keluar menuju ruangan


Asisten Je.


Tok


Tok


“Masuk”


Raya membuka pintu perlahan dan


mendapati sosok dingin itu masih mengetik di laptopnya. Hmmm, ganteng


sih…tapi…hei apa yang kamu pikir Raya. Wanita itu menepuk pelan kepalanya,


berusaha membuang pikiran tidak masuk akal yang sempat melintas di otaknya.


“Permisi Tuan”


“Hmmm” Raya sudah terbiasa dengan


jawaban minim atasannya, ia masih menunggu dengan tetap berdiri di depan meja


Asisten Je.


“Laporan…” Belum selesai Asisten Je


berucap Raya langsung menyela.


“Sudah siap Tuan,..mohon koreksinya”


Raya menyerahkan map berisi berkas yang cukup tebal.


  “Taruh…” Katanya datar tanpa melihat ke arah


Raya.


“Baik Tuan, saya permisi” Raya


meletakkan berkas itu di meja hadapan Asisten Je kemudian berbalik pergi.


“Tunggu…” Cegah Asisten Je ketika Raya


hendak membuka pintu, wanita itu kembali menoleh seraya menampilkan senyum


termanisnya, tapi bisa dilihat jika matanya menyiratkan kekesalan.


“Kamu diminta ke ruang Tuan Muda” Kata


Asisten Je tanpa memperdulikan senyuman Raya, padahal dalam hatinya mengumpat


habis, memarahi jantungnya yang berdegup kencang hanya menyaksikan senyum Raya.


“Ada apa ya Tuan?” Tanya Raya bingung.


“Kalau saya tahu…” Geram Asisten Je.


“Baik Tuan, saya segera ke sana” Potong


Raya segera, karena ia tahu kelanjutan dari kalimat itu. Asisten Je hanya


mendengus, kemudian menatap pintu yang sudah ditutup kembali.


“Kenapa akhir-akhir ini jantungku


selalu berdebar? Apa aku punya penyakit jantung? Aku harus periksa sama dr


Jeffri ini” Asisten Je menggeleng kuat mencoba menghilangkan praduganya.


Sementara Raya kini menuju ke ruangan


CEO dengan ekspresi heran, karena jarang sekali ia dihadapkan pada CEO secara


langsung, apalagi ini tanpa didampingi Asisten Je.


Tok


Tok


“Masuk” Perintah tegas suara di dalam.


Raya memasuki ruangan yang megah dan bersih itu dengan hati-hati, belum hilang


herannya, tampak di sofa duduk wanita anggun yang dikenalnya sebagai istri sang


CEO.


“Permisi Tuan Muda, Nyonya” Sapanya


ramah. Meili sang istri CEO itu menoleh kemudian tersenyum lebar.


“Eh…Ra sudah datang? Sini, temani aku


ngobrol yah” Raya membulatkan matanya melihat sikap istri atasannya itu. Dengan


canggung ia menoleh kepada Alvero, namun laki-laki gagah itu hanya mengangguk.


“Huh, aku kangen tahu Ra, masak mau


menemui mu saja suamiku melarang terus, katanya kamu sibuk kerja…belum lagi si


asisten datar itu” Cemberutnya seraya melirik suaminya yang tampak balas


menatapnya.


“Ehm” Dehem Alvero. Raya meringis tak


enak hati.


“Maaf Nyonya…akhir-akhir ini perusahaan


memang sedang sibuk mempersiapkan pembukaan cabang yang baru”


“Ah..kamu…sudah aku bilang panggil aku


kakak, umur kita tidak jauh beda Ra”


“Eh..iya kak, maaf”


“Kamu lagi gak sibuk kan? Ini sudah mau

__ADS_1


jam istirahat lho…masak kamu masih aja mau kerja”


“Masih kurang setengah jam kak untuk


istirahat”


Tiba-tiba Meili berdiri mendekati


suaminya dan memeluknya dari samping membuat Raya membelalakkan matanya dan


membuang muka ke arah lain. Duh…nyonya, kenapa Anda menggemaskan sekali sih.


“Sayang…boleh ya aku keluar sama Raya,


aku ingin me time bersama seorang teman, selama ini kan aku hanya di rumah


terus…” Rajuknya dengan mengusap dada bidang suaminya. Di kecupnya bibir Alvero


lembut. Laki-laki itu hanya mende**h lirih.


“Sayang….” Lirih Alvero, mendapat


perlakuan manja istrinya membuat sesuatu di bawah langsung menegang.


“Boleh ya, aku hanya akan makan sama


shoping sebentar, janji deh…” Meili mengangkat kedua jari telunjuk dan


tengahnya membentuk huruf V.


“Bolehkan temanmu menunggu di luar


dulu?” Tanya Alvero dengan suara tertahan.


“Tapi boleh kan?” Alvero mengangguk


membuat Meili tersenyum lebar kemudian mencium pipi suaminya.


“Raya…kamu tunggu di ruanganmu dulu ya,


nanti aku jemput” Meili sepertinya paham apa yang diinginkan suaminya, ia


tergolong wanita yang sangat peka terhadap mimik muka seseorang.


“Baik kak, saya permisi dulu” Raya


berlalu menunduk sebentar ke arah Alvero dan keluar dari ruangan CEO itu. Ia


sangat paham dengan adegan suami istri tersebut, dulu ia juga sering


mengalaminya di kantor suaminya almarhum. Wanita itu hanya menggeleng-geleng


kemudian tersenyum sambil memasuki ruangannya kembali dan menunggu sampai Meili


menjemputnya.


.


.


Kini dua wanita dewasa itu telah berada


di dalam mall, mereka berkeliling ke beberapa gerai pakaian wanita. Meili


tengah asyik memilih-milih gaun pesta sementara Raya lebih memilih mencari


pakaian simple dan casual untuk dipakai sehari-hari. Menurutnya baju kerja


sebanyak 3 setel sudah cukup baginya. Ia juga terlihat memilih baju untuk


Titania dan Hanum.


“Kak Mei, kau juga mencari baju anak?”


“Iyalah Ra, aku punya anak kembar cowok


cewek, sekarang mereka kelas 9, eh yang ini bagus nggak Ra?” Tanya Meili seraya


memperlihatkan gaun selutut tanpa lengan, kelihatan sederhana tapi sebenarnya


mewah.


“Bagus kak, pasti yang pakai cantik


sekali”


kalau kamu gimana? Katanya kamu juga punya dua anak kan?”


“Iya kak, mereka cewek semua, yang


sulung kelas 9 dan yang bungsu masih 3 tahun. Mereka kebanggaanku kak” Raya


menerawang sejenak membayangkan kedua anaknya.


“Maaf ya Ra, emang suamimu kemana?


Dalam identitas KTP mu tertera kamu janda?”


Raya mengangguk kemudian tersenyum


pilu.


“Suamiku sudah meninggal setahun yang


lalu kak, makanya aku merantau keluar Jakarta berharap aku bisa memulai hidup


baru di sini, aku belum sanggup menghilangkan bayangan dan kenangan indah


bersama suamiku kak” Jelasnya sendu. Meili meraih kedua tangan Raya dengan


wajah merasa bersalah.


“Ra, maaf ya bukan maksudku


mengingatkanmu….”


“Gak papa kak, aku harus mulai bangkit


kan, demi kedua anakku” Kata Raya dengan tersenyum.


“Kau wanita hebat Ra, aku yakin kau


akan bisa menjadi ibu tangguh untuk anak-anakmu”


“Iya, terimakasih kak”


“Ah…sudahlah, jangan melo mulu, yuk


kita makan dulu, keasyikan belanja jadi lupa makan, sini biar aku yang bayar


Ra” Meili mengambil baju-baju yang Raya pegang. Terjadilah tarik menarik baju


tapi tetap saja Raya kalah dengan kekuasaan Meili. Hmm, bu bos dan pak bos sama


saja, menang kuasa. Batin Raya.


Selesai membayar tagihan belanja mereka


menuju ke foodcourt yang ada di lantai satu gedung mall ini.


“Mbak…” Meili melambai ke waiters


wanita. Tampak wanita itu mendatangi meja mereka dengan membawa note book


kecil.


“Selamat siang nona-nona, apa yang bisa


saya bantu?” Tanya waiters itu ramah. Meili tersenyum seraya menunjuk menu di


atas buku menu.


“Ra kamu pesan apa?”


“Samain aja kak”


“Oke deh, ini 2 Teriyaki Salmon, tumis


buncis sapi giling saus tiram, udang masak bumbu pedas, 2 porsi nasi, sama 2


jeruk lemon panas, ada yang kurang Ra?”


“Cukuplah kak, udah banyak itu”


Meili mengangguk kemudian menoleh pada


waiters.

__ADS_1


“Cukup itu dulu ya mbak”


“Baik nona, tolong di tunggu”


“Ra menurutmu Asisten Je itu gimana?”


Tanya Meili setelah waiters berlalu dari hadapan mereka, ia ingin sekali bisa


mendekatkan Asisten Je dengan seorang wanita, sampai sekarang memang tidak ada


yang tahu kenapa ia begitu anti terhadap seorang wanita. Ia mengetahui dari


suaminya bahwa Asisten Je termasuk pria yang tidak tersentuh dan tidak mau


menyentuh wanita, karena reaksinya akan membuat dia gatal-gatal, walaupun Meili


belum membuktikan sendiri.


“Gimana maksudnya kak?” Tanya Raya


bingung.


“Duh…gini lho Ra, secara kamu single


Asisten Je single, kamu gak ada gitu pingin suasana baru?”


“Oh…nggak lah kak, aku mau fokus membesarkan


anak-anakku saja”


“Ra, kamu masih muda dan kamu bilang


tadi anak bungsumu masih berumur 3 tahun? Apa…”


“Untuk sementara ini aku pingin fokus


dulu kak, selama anak-anakku nyaman maka aku juga akan nyaman” Potong Raya.


“Maaf ya Ra, aku terlalu ikut campur


ya, padahal kita baru ketemu dua kali…”


“Eh…gak papa kali kak, biasa aja, hanya


memang aku belum siap membuka diriku, lagi pula aku harus mengedepankan


kepentingan anak-anakku kan?”


“Iya benar sih Ra, eh habis makan kamu mau


kan ikut aku menjemput anak-anakku dulu, sekalian biar kamu kenal sama mereka,


nanti ajaklah anak-anakmu siapa tahu mereka bisa berteman”


“In shaa Allah kak”


Pesanan mereka datang dan mereka


menikmati hidangan lezat itu dengan tenang, tanpa ada percakapan lagi.


.


.


Sesuai permintaan Meili, saat ini mereka


telah berada di depan sekolah anak kembar Meili. Hanya menunggu 5 menit tampak


dua anak yang benar-benar mirip versi Alvero mendatangi mobil yang telah


menunggu.


“Mama….” Teriak anak perempuan itu


dengan riang seraya memeluk dan menciumi wajah Meili.


“Eh…ada siapa ma?” Tanyanya masih


dengan ekspresi riangnya.


“Ini tante Raya sayang, sekretarisnya


Asisten Je yang baru.”


“Oooo, hallo tante, aku Maudy” Kata


Maudy dengan mencium punggung tangan Raya, wanita itu tersenyum ramah. Rupanya


didikan Meili bagus juga terhadap mereka.


“Hallo juga, salam kenal, eh siapa nih


si ganteng ini?” Goda Raya seraya tersenyum. Melihat reaksi yang ternyata tidak


diharapkan dari anak cowok itu membuat Raya tertawa gemas. Di cubitnya pipi


anak laki-laki itu gemas yang langsung mendapat pelototan kesal darinya.


“Yang sopan Madika…” Tegur Meili pelan.


“Iya mam…maaf tante, aku Madika…”


“Hallo Madika…maaf ya habisnya tante


gemes lihat kalian, cantik dan ganteng” Puji Raya tersenyum membuat mereka


akhirnya tersenyum senang mendapati Raya yang supel dan ramah.


“Dah yuk, kita antar Tante Raya dulu ke


kantor ya, habis itu kita mampir sebentar ke papa trus pulang”


“Oke mam” Sahut mereka berbarengan. Pak


Rudi sopir keluarga Alvero membelah jalan raya menuju perusahaan Diamond


Jewerly dengan kecepatan sedang.


“Tante kok mau sih jadi sekretarisnya


Asisten Je?” Tanya Maudy di dalam mobil. Raya menoleh ke belakang tempat di


mana Maudy dan Madika duduk di kursi yang paling belakang.


“Lho emang kenapa Maudy?” Tanyanya.


“Ya…kan tahu sendiri Asisten Je itu


orangnya gak pernah tersenyum, datar gitu orangnya, 11 12 deh sama Kak Dika”


Cerewetnya menyebabkan deheman keras dari cowok di sebelahnya. Raya dan Meili


saling tatap sedetik kemudian tawa meluncur deras dari kedua bibir wanita


dewasa itu.


“Maudy kok bisa bilang begitu? Nggak


baik lho menilai orang dari luarnya aja” Kata Raya tersenyum.


“Emang iya kok tan, iya kan mam? Masak


iya disentuh aja nggak mau, emang kita-kita penyakitan apa” Sewot Maudy dengan


bibir cemberut.


“Maudy itu namanya kepribadian orang


berbeda-beda, kita tidak bisa menilai dari fisiknya aja” Nasehat Meili.


“Iya sih mam…ah sudahlah, tapi tante,


Maudy doain tante kuat ya kerja sama Asisten Je, siapa tahu lumernya sama


tante, hihi” Canda Maudy.


“Mentega kali lumer” Sindir Madika seraya


mendengus.


“Huh sirik aja” Maudy melengos menatap


ke luar jendela, sementara Raya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua


saudara kembar itu. Ternyata walaupun kembar kepribadian tidak tentu sama…


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2