Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 58 aku diusir dari rumah


__ADS_3

Malam yang sama di Kota Malang


Setelah menidurkan Hanum, Bu Arumi beranjak menuju kamar, di lihatnya di ruang tengah Lani dan Leon sedang duduk di sofa sambil menikmati TV. Cemilan ringan tampak menemani mereka. Sehari pun mereka tidak pernah meninggalkan rumah Raya, benar-benar bawahan Asisten Je yang setia.


Titania lebih banyak di rumah, karena kegiatan sekolah sudah usai, tinggal menunggu klarifikasi berkas ke SMAN xx. Sementara Hanum, sejak Raya berangkat ke luar kota, yang antar jemput sekolah adalah Lani dan Leon. Mereka akan menunggui di sekolah TK itu bersama Bu Arumi.


Keakraban pun cepat sekali terjalin di antara penghuni rumah itu. Bu Nanik yang datang pagi untuk memasak pun merasa senang karena ada teman baru yang bisa menemani dan menghibur dua anak gadis itu.


“Nak Lani, ibu mau ke rumah Mbak Nanik sebentar ya, kalau Hanum bangun, tinggal panggil saja ibu di rumah samping” Pamit Bu Arumi pada dua anak muda itu.


“Perlu di antar bu?” Tanya Lani seraya berdiri.


“Ah, ndak usah nak, orang deket juga”


“Baiklah, silahkan bu”


Bu Arumi melangkah keluar rumah dan berjalan menuju ke rumah Bu Nanik yang berjarak 2 rumah dari rumah Raya.


Tok


Tok


“Mbak Nanik…”


“Iya sebentar” Suara di dalam menyahut kemudian pintu terbuka.


“Lho Rumi, ada apa? Anak-anak kenapa?” Raut khawatir muncul di kerutan wajah Bu Nanik. Bu Arumi tersenyum menggeleng. Usia mereka terpaut 5 tahun, dan Bu arumi minta di panggil nama saja oleh Bu Nanik biar seperti panggilan kakak ke adiknya.

__ADS_1


“Anak-anak sudah tidur barusan, akunya aja yang pingin ngobrol sama mbak”


“Oh, kirain, hayuklah masuk”


“Nggak ngganggu kan?”


“Halah, kayak sama siapa aja”


Mereka berdua menuju ke ruang tengah, televisi masih menyala tanda bahwa masih di lihat sama yang menghidupkan. Bu Nanik keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi 2 cangkir teh panas.


“Haduh, kayak tamu-tamuan aja mbak”


“Hehe, biar anget, agak dingin malam ini kan”


“Iya sih mbak”


“Aku mau curhat mbak, ndak enak rasanya menyimpan beban terlalu lama” Bu Nanik mengangguk paham memposisikan sebagai seorang kakak yang sedang mendengarkan keluh kesah sang adik. Wanita yang mulai memasuki usia 60 tahun itu menunggu dengan sabar dan tidak ingin menyela sedikitpun keluh kesah wanita di sampingnya.


“Aku menjadi TKW sudah 30 tahun lamanya, melanglang buana menjadi pembantu di berbagai negara. Pindah dari satu negara ke negara lain, 6 kali aku berpindah negara dan di sana aku masih belum bisa merasakan ketenangan di dalam hatiku” Bu Arumi menghela nafas pelan, ia memilin kedua tangannya dengan cemas. Bu Nanik merespon dengan mengusap punggung tangan Bu Arumi.


“Aku mulai mengembara di usiaku yang masih muda, 25 tahun, aku diusir dari rumah suamiku dengan membawa  anak laki-laki ku yang berumur 5 tahun. Dia masih sangat kecil untuk menanggung masalah yang ku hadapi” Air mata mulai mengalir dari mata Bu Arumi.


“Anakku ketahuan bukan darah dagingnya ketika sakit dan butuh donor darah, golongan darah mereka berbeda dan aku akhirnya mengaku kalau anak ku hasil dari selingkuhanku. Aku khilaf mbak, aku bertemu kembali dengan temen lamaku...” Bu Arumi sudah terisak-isak, Bu Nanik terkejut namun ekspresinya segera ia ubah kembali menjadi tenang dan tidak berusaha menghakimi atau mengintimidasi.


“Jangan di teruskan kalau menyakitkan, Rum” Bu Nanik memeluk Bu Arumi dari samping, wanita itu hanya menggeleng.


“Apa Mbak Nanik juga muak dengan diriku yang…”

__ADS_1


“Ssst, apa sih…” Bu Nanik mengusap punggung Bu Arumi lembut, ia diam menunggu kelanjutan kisah wanita yang sudah dianggap sebagai adiknya ini.


"Dia teman lama ku, sebenarnya ... dia cinta pertamaku dan tanpa aku sadari aku telah terpengaruh terlalu dalam hingga aku lupa dan..." Bu Arumi terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya.


“Malam itu juga suamiku memberi talak padaku, dan aku tidak tahu mau membawa anakku kemana, kondisi fisiknya waktu itu sangat lemah. Keluargaku sudah tahu masalah yang menimpaku dari suamiku dan mereka marah, menolak untuk menerimaku di tengah-tengah mereka” Bu Arumi mengusap air matanya perlahan.


“Akhirnya aku nekat meninggalkan anakku di panti asuhan, dan aku meninggalkan Indonesia untuk menenangkan diri, ah melarikan diri maksudnya”


“Sejak itu aku tidak tahu kabar apapun dari keluarga ku maupun suamiku, aku hilang kontak dengan mereka. Aku sengaja mengganti kartu hp dan tidak menyimpan nomor siapapun yang aku kenal.” Wanita itu sudah mulai tenang.


“Aku pikir masalah tidak akan berakhir kalau dihindari, aku memutuskan pulang, tapi aku tidak berani kembali ke  Balikpapan karena masih trauma dengan penolakan mereka.”


“Aku memutuskan Malang sebagai kota pijakanku, dan yah…walaupun aku masih abu-abu, tapi aku merasa tenang di kota ini, apalagi setelah aku bertemu dengan kalian, hatiku semakin tenang. Biarlah kisahku membawa kepada takdir apa yang Tuhan berikan, aku hanya berdoa semoga anak laki-laki ku di sana menemukan kebahagiaan” Bu Arumi menyudahi ceritanya dengan tersenyum miris, ia menyeka kembali air matanya.


“Sudah?” Tanya Bu Nanik memastikan tidak ada lagi yang akan di ceritakan oleh Bu Arumi. Wanita itu menggeleng.


“Sekarang tinggal penghakiman Bu Nanik padaku” Katanya seraya terkekeh pelan. Bu Nanik menghela nafas pelan.


“Rumi, hidup itu memang butuh pengorbanan dan perjuangan, lika liku manusia sudah ada jalannya sendiri, tinggal manusianya mau melangkah ke jalan yang benar atau jalan yang tidak di ridhoi Allah.” Wanita itu diam sebentar melihat reaksi Bu Nanik.


“Kamu sudah bertahan sekian puluh tahun dengan beban dan penderitaan hati yang aku pikir itu benar-benar sangat berat, tapi kamu wanita kuat yang mampu melalui semua itu. Kamu harus bersyukur Allah masih memberi kesempatan kepadamu untuk bertaubat, tinggal kamu ikhlaskan semua yang sudah berlalu, anggap semua itu ujian yang memang harus kamu alami”


“Allah tidak akan memberi beban kepada hambanya melampaui batas kemampuannya dan kamu sanggup melewatinya, sekarang kamu harus banyak berdzikir dan berdoa untuk kebahagiaan anakmu sama berharap bisa dipertemukan kembali dalam suasana yang saling memaafkan”


“Apapun yang terjadi kamu harus menerima semuanya, anggap kamu sudah menjalani hukuman yang diberikan oleh Allah, tinggal kamu bersabar dan terus berdoa, jangan pernah tinggalkan Allah ketika hatimu sedang sakit dan gelisah.”


Bu Arumi memang sangat besyukur bertemu dengan keluarga Raya yang mau menerimanya sebagai pengasuh kedua putrinya dan Bu Nanik yang memandangnya dengan bijak. Ia tidak akan melupakan kebaikan orang-orang  tersebut dalam hidupnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2