
Arumi menggeleng tak percaya pada apa yang diingatnya, ia memang pernah khilaf melakukannya sekali dengan laki-laki cinta pertamanya saat di bangku kuliah itu. Tapi ia sudah mengakhiri hubungan salah itu dan bertaubat walaupun ia tidak berani jujur pada suaminya.
Suaminya mengenal Johan sebagai saingannya ketika di bangku kuliah dulu. Keduanya selalu bersaing di bidang akademik, ternyata mereka juga bersaing masalah hati. Johan sudah berpacaran saat itu dengan Arumi dan Yuwana berusaha untuk merebut Arumi dari Johan karena ingin selalu berada di atas Johan.
Akhirnya Yuwana menikahi Arumi secara paksa membuat Arumi marah dan kecewa, hingga ia tidak mau di sentuh oleh suaminya itu sampai setahun lamanya. Hati Arumi luluh dengan kebaikan dan kelembutan Yuwana dan keluarga Yuwana yang sangat menyayanginya. Namun dalam setahun berikutnya mereka masih belum dikaruniai seorang anak, hingga malam pertemuan kembali Arumi dengan Johan yang menciptakan kenangan masa lalu hadir kembali dan terjadilah perbuatan khilaf antara keduanya.
Sejak saat itu Arumi tidak ingin bertemu dengan Johan, ia menutup semua akses mantan kekasihnya itu. Kejadian itu ia gunakan sebagai kesalahan fatal dan penyesalan karena mengkhianati Yuwana. Ia tidak berani bercerita sampai akhirnya ia hamil, tapi ia meyakini bayi yang dikandungnya adalah anak Yuwana dan Arumi.
“Kenapa? Kamu sudah mengingatnya? Kamu ingin mengelak?” Pertanyaan Yuwana membuat lamunan Arumi buyar.
“Tidak bang, tapi…aku…aku…”
“Kamu merusak kepercayaanku Arumi, aku tidak bisa meneruskan hubungan yang sudah ternoda ini” Ucapnya tegas.
“Bang, aku memang pernah khilaf…tapi itu sudah berlalu bang, maafkan aku…kita jangan…”
“Dan kamu menginginkan aku terus mengingat bahwa anak itu bukan anakku, begitu maumu? Egois sekali kamu” Marah Yuwana menggebu, nafasnya naik turun menahan emosi, tangannya terkepal. Ingin sekali ia menampar wanita yang sudah menjadi istrinya selama 7 tahun itu.
“Kita sudahi hubungan kita hari ini, mulai saat ini Arumi Bestari, aku talak kamu, jadi mulai hari ini kita bukan suami istri lagi, bawa anakmu itu, Iza akan ikut dengan ku, masalah harta aku akan memberikan gono gini padamu” Putusan Yuwana mutlak.
Laki-laki itu berdiri dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Arumi yang yang langsung terjatuh terduduk di lantai dengan menangis tersedu, ia tidak mampu menopang tubuhnya. Ia tidak yakin dengan pendengarannya tapi respon tubuhnya mengatakan lain.
Spontan Arumi berdiri dan berlari mengejar suaminya, di raihnya tangan suaminya.
“Bang, kondisi Nero sangat lemah, ia kritis bang, bagaimana aku bisa ….”
Yuwana menepis tangan Arumi kasar, pandangannya menajam.
“Mulai sekarang anak itu bukan tanggung jawabku, jadi urusi sendiri masalahmu, kita selesai” Kata Yuwana dan berlalu tanpa menoleh lagi walaupun teriakan Arumi memanggil namanya. Hatinya sudah terlanjur terluka dan dikhianati, selama 7 tahun ia merasa dibohongi oleh wanita lemah lembut itu.
Arumi yang merasa tidak mendapat respon dari suaminya, langsung berbalik mengingat putranya yang masih di dalam, namun langkahnya langsung membeku saat mendapati tubuh putranya berdiri bersandar di pintu dengan kondisi memprihatinkan. Lemah, pucat, tapi yang ia takuti ada sorot kecewa di mata sendu putranya.
__ADS_1
Arumi merengkuh putranya ke pelukannya sambil menangis perlahan.
“Maafkan mama, tenanglah, mama akan cari donor darah ya, Nero kenapa keluar, ayo masuk lagi sayang…”
“Kita pulang saja ma” Jawab Nero pendek.
Arumi menggeleng.
“Nero sayang, mama akan berusaha membuat kamu sembuh”
Pria kecil itu menggeleng lemah, walaupun usianya masih 5 tahun tapi ia tahu pembicaraan antara orang tuanya tadi. Mereka telah bercerai gara-gara dia, dia tidak tahu siapa yang salah, tapi dari kata-kata papanya yang ia pahami bahwa dia bukan putranya itu sudah sangat jelas baginya.
“Bawa aku pulang ma, aku tahu tidak ada stock darah di sini” Ucapnya semakin pelan.
Arumi memeluk erat putranya, ia tidak ingin kehilangan putranya, tapi mau kemana mereka pulangnya, sementara ia tidak punya rumah selain rumah yang mereka tinggali saat ini. Ia sudah tidak mempunyai orang tua, keluarganya yang lain pun tinggal di luar negeri.
Terpaksa Arumi meminta pulang paksa pada pihak rumah sakit dengan resiko yang ditanggung oleh Arumi jika terjadi sesuatu dengan putranya. Mau bagaimana lagi, ia tidak memegang uang sama sekali, ATM di dompetnya pasti tidak cukup untuk biaya operasi dan pengobatan.
“Akhirnya wanita itu membawaku ke suatu tempat, karena tidak mungkin kami kembali ke rumah sementara bajingan itu sudah mengusir kami, kamu tahu tempat apa yang di datangi wanita itu?” Asisten Je menoleh pada istrinya yang masih setia memeluknya di dalam selimut. Tangannya yang dijadikan bantal mengusap pundak istrinya lembut.
Raya menggeleng.
“Panti asuhan, dia berkata akan mencari uang untuk mengobatiku, semuanya buulshit, wanita itu tidak pernah kembali, andai ibu panti tidak menolongku, mungkin aku sudah mati saat itu” Raya mengelus dada suaminya lembut.
“Laki-laki kecil itu telah menjelma menjadi laki-laki dewasa yang sangat tampan, bijaksana, dingin, arogan, tapi tidak kenal terima kasih” Sindir Raya.
“Kamu memuji atau menyindir sih? Kamu tidak jijik dengan ku? Kamu ingin berpis…”
“Apa sih yang” Potong Raya seraya telunjuknya menutup mulut suaminya.
Cup.
__ADS_1
“Ih..selalu cari kesempatan, serius juga…” Cemberut Raya, “Bagiku, itu hanya masa lalu, kamu harus bisa mengambil hikmah ke depannya, jangan jadi laki-laki egois dan arogan, suatu saat kalau kamu bertemu dengan keduanya, kamu harus bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin” Lanjut Raya panjang lebar.
Asisten Je memandang tak percaya pada istrinya.
“Mereka sudah keterlaluan”
“Mereka juga orang tuamu sayang”
“Tapi dia bukan ayahku”
“Selama 5 tahun dia ayahmu, aku yakin mereka masih hidup sekarang, aku harap kamu mencari keberadaan mereka dan membawanya padaku”
“Buat apa sayang? Menyusahkan saja!”
“Aku ingin meminta restu pada mereka sebagai menantu”
“Ah…sayang”
“”Aku tidak mau tahu , cari atau kita…”
“Oke-oke fine” Selalu kalah dengan ancaman, batin Asisten Je. Tapi bagaimanapun Asisten Je tidak ingin berpisah dengan wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Raya tersenyum senang dan hendak melanjutkan tidur namun ada tangan yang langsung mencengkram pundaknya dengan erat.
“Kamu harus bertanggung jawab sayang, dari tadi aku sudah berusaha menahan dengan posisi seperti ini” Serak suara Asisten Je.
Raya terbelalak, tanpa sadar ia melihat posisinya dengan suaminya, memang tampak sekali ia memeluk suaminya, dengan perlahan ia menggeser menjauh.
Terlambat, tubuh tegap itu sudah mengungkungnya kembali…dan jadilah aktifitas malam terulang kembali….
TBC
__ADS_1