
Asisten Je memandangi Raya yang kembali masuk menceburkan diri ke dalam kolam. Laki-laki itu membuka pakaiannya hingga menyisakan boxer saja dan mendekati pinggir kolam. Ia masuk perlahan tanpa menimbulkan bunyi yang berdebur dan mendekat perlahan, spontan laki-laki itu memeluk Raya dari belakang.
“Aahhh” Teriak Raya kaget seraya berbalik ke belakang. Ekspresi wajahnya langsung gugup karena Asisten Je memepetnya ke dinding kolam.
“Kenapa kamu sangat ceroboh, hmm?” Suara Asisten Je terdengar serak. Pandangannya turun ke bibir istrinya yang terlihat pink alami, jangan lupa…seksih.
“Aku sudah mengunci pintu dari dalam, bagaimana kamu bisa masuk?” Tanya Raya heran. Sebenarnya tubuhnya sudah panas dingin berdekatan seperti ini dengan suaminya itu, secara selama 3 tahun dirinya menjanda dan tidak pernah bersentuhan lagi dengan yang namanya laki-laki. Kini, laki-laki yang berstatus sebagai suami sirinya itu mengungkung tubuhnya ke dinding kolam dengan jarak yang sangat dekat, bahkan tubuh mereka nyaris menempel.
“Kamu lupa siapa aku? Aku bisa saja membuat semua kamar di hotel ini menjadi milikku” Ucapnya sombong.
Raya mendengus kesal kemudian mendorong dada Asisten Je untuk melepaskannya dari kungkungannya. Tapi laki-laki itu sedikitpun tidak bergeming dari posisinya, malah wajah itu semakin mendekati wajahnya dengan tatapan mengarah ke bibirnya.
Tanpa suara Asisten Je mencium bibir seksi Raya membuat tubuhnya langsung menegang. Sebagai manusia yang sama-sama telah dewasa dan menikah pula, tidak dipungkiri hal seperti ini merupakan sesuatu yang wajar. Namun, tidak bagi Raya, ia tidak ingin terlena dengan sesuatu yang hanya bertahan sementara. Ia tidak tahu kehidupan apa yang akan di laluinya setelah 2 bulan ke depan. Perjanjian pra nikah hanya berlaku selama 2 bulan, itu sudah membuat Raya harus bertindak hati-hati terhadap perasaan apalagi tubuhnya.
Ia tidak munafik, tubuhnya sebagai wanita dewasa membutuhkan sentuhan biologis, tapi ia juga tidak mau egois terhadap dirinya sendiri. Ada 2 anaknya yang menantinya di rumah, ada seluruh keluarga besarnya yang tidak mengetahui pernikahan siri ini. Jadi Raya tidak mau gegabah menerima semua perlakuan asisten yang menjadi tuannya di tempat kerja itu.
Raya kembali mendorong tubuh Asisten Je dengan kekuatan penuh yang ia miliki dan berhasil. Ia segera berdiri memakai baju mandinya lalu berlari masuk ke kamar mandi. Sedangkan Asisten Je merebahkan tubuhnya di pinggir kolam sambil bersumpah serapah terhadap kebodohan yang dilakukannya sendiri. Laki-laki itu mengusap kasar wajahnya kemudian bangkit menuju ke kamar.
__ADS_1
Raya sedang berendam di bath up dengan perasaan yang galau. Tambah ke sini ia semakin takut akan mengkhianati perasaannya sendiri.
“Tidak…aku tidak boleh menyukainya, kami tidak punya masa depan, aku seorang janda, dia seorang asisten bahkan seorang CEO berbagai hotel. Ini tidak benar, aku harus menghapus perasaan yang mengganjal ini, perasaan ini tidak seharusnya hadir” Monolognya sambil menerawang ke langit-langit kamar mandi.
“Bagaimana dengan keluargaku? Bagaimana dengan Tita? Dia sudah paham arti seorang ayah sambung, apa dia bisa menerima keputusan ku nantinya? Tidak. Aku harus tahu diri, aku akan mulai menjaga jarak dengan Tuan Je” Putusnya seraya menyudahi berendamnya.
Keluar kamar mandi sudah dalam keadaan rapi, dilihatnya Asisten Je tampak berdiri di balcon seraya menelpon seseorang. Laki-laki itu menoleh melihat siluet istrinya di pintu balcon.
“Sudah mandinya? Padahal aku ingin mandi bersama…” Bibirnya cemberut kesal tapi malah terkesan manja terdengar di telinga Raya.
“Nyuruh orang gak boleh manja malah dia yang manja, aneh”
Asisten Je keluar hanya mengeluarkan handuk yang melilit di pinggangnya. Kebiasaan sekali, suka sekali membuat orang jantungan. Gerutu Raya seraya berbalik menatap dinding. Asisten Je tersenyum, ia meraih pakaian yang sudah disiapkan oleh istrinya tanpa protes.
“Menikahlah dengan ku” Kata Asisten Je mendekati Raya yang terbaring menghadap tembok.
“Bukannya kita sudah menikah?”
__ADS_1
“Menikah secara resmi, agama dan negara, sah di mata hukum negara”
Raya terdiam.
“Kau tak harus menjawab sekarang, tidurlah, besok pagi sekali kita akan berangkat lagi ke Balikpapan” Asisten Je ikut berbaring di sampingnya.
“Mengapa kau tak mau melepasku, bukannya kita hanya menikah siri selama 2 bulan, setelah perjalanan audit ini selesai kau tak bisa menahanku” Protes Raya.
“Apa kau sangat ingin pernikahan ini berakhir? Sedikit saja tidak ada perasaan untukku? Kamu benar-benar ingin berpisah dariku?” Tanya Asisten Je beruntun. Hatinya teriris perih, ternyata selama ini hanya ia saja yang mencintai istrinya, wanita itu sedikit pun tidak mempunyai rasa cinta padanya. Ia ingin egois, biarlah dirinya saja yang mencintai istrinya asal istrinya itu tidak meninggalkannya.
Raya masih bergeming tanpa mampu berucap sepatah katapun. Ia tidak mau berharap, sungguh, ia menekan semua perasaannya agar tidak semakin jauh berlabuh. Pernikahan pertamanya gagal karena keegoisan masing-masing yang sama-sama tidak memiliki rasa cinta. Raya tidak ingin mengulang hal yang sama yang akan membuat hatinya semakin sakit dan menyakiti pasangannya.
“Kamu menanyakan mengapa aku tak mau melepasmu?” Lirih Asisten Je di telinga Raya, “Karena aku mencintaimu, Raya. Sangat. Karena kau sangat mengena di hatiku, kau bisa membuat hatiku berdebar dengan kencang, kau dan anak-anak bisa menghilangkan alergi yang menyerangku. Kau mengubah hidupku yang kaku menjadi lebih berwarna. Apalagi alasan yang harus kuberi?”
Asisten Je membalikkan tubuh Raya untuk menghadap dirinya. Pandangan mereka bertemu, Raya seolah terhipnotis, ia bahkan tak bergerak saat bibir suaminya mencium bibirnya. Lembut. Raya hanya bisa memejamkan matanya dan membiarkan suaminya itu menciumnya dalam.
TBC
__ADS_1