Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 114 Kalau Sakit Katakan Sakit


__ADS_3

“Terima kasih sudah mencintaiku” Menghentikan ciumannya dan memeluk erat istrinya dengan penuh cinta.


“Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku, jangan khawatir lagi ya, aku sudah menggantinya dengan minum vitamin penyubur kandungan dan makan makanan sehat. Kondisi tubuhku sudah normal kembali, jadi wajar aku mengalami datang bulan” Mengelus punggung suaminya dengan lembut. “Aku sudah benar-benar baik baik saja”


Terdengar helaan nafas lega, laki-laki itu mengendurkan pelukannya, dipandanginya istrinya.


“Jangan lagi menyembunyikan apapun dariku dan berhenti selalu bilang baik-baik saja” Raya mengangguk tersenyum. “Kalau sakit anita sakit”


“Iya sayang, aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu, sekarang biar aku melepas selimutku ya, datang bulan itu bukan demam. Hanya perutku saja yang sedikit nyeri dan tidak nyaman karena darah yang keluar terus” Langsung menyesal dan menutup mulutnya.


“Apa! Nyeri? Perut?” Sudah panik lagi.


Hadew…kenapa aku keceplosan sih.


Raya merasa lucu sekaligus gemas tidak tertahan namun jika ia menertawakan Asisten Je pasti suaminya itu akan merengut sepanjang hari. Sebenarnya bukan masalah cemberutnya tapi masalah cara menghentikan cemberut itu. Tidak ada satupun rayuan yang berhasil kecuali satu.


Ranjang. Hhhh.


Suara ketukan pintu melunakkan pandangan khawatir berlebih Asisten Je, ia merasa tenang istrinya segera tertangani oleh dokter.


Lani masuk membawa secangkir minuman dan paper bag di tangan sebelah kiri diikuti oleh Leon di belakangnya.


“Apa itu?” Asisten Je mengambil cangkir yang sudah diletakkan di meja nakas oleh Lani kemudian ingin mencoba rasanya, memastikan itu aman untuk perut istrinya.


“Masih agak panas Tuan, itu air jahe dan madu ditambah ciaseed untuk menghangatkan perut nona” Lani menunjuk sendok kecil di tatakan cangkir.


Aku hanya datang bulan Lani bukan penyakitan, semua anita akan menertawaiku jika mereka tau.


“Sayang biar aku saja” Raya sudah meraih gelas di tangan Asisten Je, tapi tangannya langsung ditepis dengan dibumbui mata tajam tidak suka laki-laki itu. Seperti mau bilang, kau mau apa, orang sakit itu diam saja.


“Sudah diam, ini masih panas!” Mengaduk-aduk isi gelasnya, mengambil sesendok dan menempelkan di bibirnya. Sekiranya sudah merasa aman disodorkan sendok di depan bibir Raya.


Dengan lemah lembut Asisten Je Menyuapi sesendok demi sesendok ke mulut Raya. Wanita itu menurut saja daripada urusannya tambah panjang. Matanya melirik kedua orang yang berdiri di belakang Asisten Je. Leon terdiam namun tampak sekali gurat khawatir di wajahnya. Sementara Lani yang sudah tahu duduk persoalannya terlihat menunduk sambil menahan senyum dan tawanya sendiri.


Tertawalah Lani, kau layak tertawa melihat kebodohan para lelaki ini.

__ADS_1


Setelah hampir separoh minuman jahe itu habis Raya menahan sendok yang di sodorkan Asisten Je. “Sudah sayang”


“Kenapa? Perutmu tambah sakit?” Sudah khawatir dengan ekspresi marah menoleh pada Lani dan Leon seakan bertanya, minuman apa yang kamu berikan pada istriku?


“Tidak sayang, perutku sudah nyaman kok” Ia menoleh pada Lani, “Aku ke kamar mandi sebentar ya” Menyentuh tangan Asisten Je untuk meletakkan sendok di dalam gelas.


“Kemarilah, biar ku gendong, lagian ngapain sih ke kamar mandi lagi?” Asisten Je masih mengerut tak suka.


Raya menggeleng pasrah kemudian membisikkan sesuatu ke telinga suaminya. Laki-laki itu mengangguk kemudian memerintahkan Lani untuk mengikuti istrinya melalui matanya.


Lani yang sudah paham segera mengikuti Raya dan menyerahkan paper bag yang diinginkan Raya kemudian menunggu di depan pintu kamar mandi. Keringat dingin meluncur deras di punggungnya, ia merasa gugup karena Asisten Je menatap tajam dirinya. Walaupun tidak berhadapan langsung, ia tahu tatapan tajam sosok itu seakan ingin membakar dirinya.


“Leon, apa dokter sudah datang?” Tanya Asisten Je tak sabar.


“Sedang dalam perjalanan Tuan”


“Lani siapkan makanan untuk istriku” Perintahnya pada Lani, segera gadis itu beranjan ke dapur dan menyiapkan makanan sehat dan bergizi untuk Raya. Ketika dia kembali ke kamar Asisten Je dan Raya, Raya masih belum keluar dari kamar mandi. Dia malah di hadapkan pada tatapan tajam atasannya yang menuntut.


“Kenapa istriku harus mengeluarkan darah seperti itu, apa itu sakit?” Tanya Asisten Je membuat Lani hampir saja tertawa. Ia menunduk sejenak.


“Setiap wanita akan mengalami hal demikian Tuan, dan itu sesuatu yang wajar” Benar kan jawabanku, emang semua wanita mengalaminya kan? Tapi kenapa wajah Tuan Muda jadi semakin suram ya.


Lani kelimpungan bingung untuk menjawab, ia menoleh pada kembarannya berharap kakaknya itu bisa membantu menjawab. Tapi pemuda itu malah angkat bahu acuh.


“Maaf Tuan, tapi memang kami mengalami siklus rutin setiap bulan, mungkin ada beberapa wanita yang mengalami nyeri dan kram di perut, tapi itu ….” Belum selesai penjelasan Lani Asisten Je sudah menyela dengan raut wajah suram.


“Sudah kuduga dia pura-pura baik-baik saja, padahal dia kesakitan” Marah sambil menatap pintu kamar mandi tak sabar. ingin mendobrak pintu itu dan melihat istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Lani jadi panik sendiri melihat reaksi tuannya, apalagi saudara kembarnya sepertinya juga mengalami hal yang sama dengan atasannya itu. Lani hanya bisa menghela nafas pelan.


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Raya yang sudah berpakaian rapi, namun Asisten Je langsung bangkit dari sofa dan memeluk tubuh istrinya erat. Wajahnya langsung memerah apalagi mereka berdua masih berada di dalam kamarnya.


“Sayang aku sudah baikan, aku bisa jalan sendiri” Mencoba mengelak dari pelukan suaminya yang ingin menggendongnya ke tempat tidur. Namun itu tidak berlaku bagi Asisten Je, karena laki-laki itu sudah mengangkat tubuh Raya dengan ringannya dan ditidurkan kembali dengan hati-hati.


“Kamu bohong kan? Kata dia rasanya sakit tapi kamu selalu bilang baik-baik saja” Ketus Asisten Je sambil menatap Lani tajam. Gadis itu hanya meringis tak berdaya di hadapan tuannya.

__ADS_1


“Sayang, dengarkan aku dulu, itu siklus yang wajar bagi seorang wanita, kami selalu mengalami setiap bulan, itu normal sayang, aku tidak merasa sakit sama sekali karena itu bukan penyakit” Jelas Raya perlahan agar suaminya yang aneh ini bisa paham.


“Tetep saja keluar darah, itu pasti menyakitkan Raya!” Masih kekeh dengan pendapatnya bahkan sudah marah dengan menyebut nama langsung.


Raya menggeleng frustasi, ia mendekat ke telinga suaminya dan berbisik, “Kalau tidak berdarah, maka aku tidak akan bisa memberimu anak, kamu mau tidak punya anak dari ku?”


Asisten Je melebarkan matanya, tentu saja setiap laki-laki yang sudah menikah ia akan mengharapkan mempunyai anak dari istrinya, tapi kenapa harus menyakitkan begini? Apa sudah cukup Titania dan Hanum saja putrinya? Ia tidak ingin menyiksa istrinya dengan harus mengeluarkan darah setiap bulan.


Hadew, jadi suami oon banget sih lu Je: Mbak Author.


Diam saja kamu Mbak Author, aku pecat jadi penulis tahu rasa kamu: Asisten Je.


Dasar laki-laki, belajar dong tentang wanita, jangan bisanya Cuma bikin anak aja, giliran menstruasi bingung: Mbak Author.


Au akh gelap: Asisten Je ngeloyor pergi.


Dasar, gue buat lu lebih menderita yaaa: Mbak Author tersenyum menyeringai.


“Sayang… masak harus gitu sih” Rengeknya manja tanpa melihat situasi. Lani dan Leon hanya mampu membelalakkan mata tak percaya. Tuannya yang terkenal dengan arogan, kejam, cuek, dingin, tapi bisa berubah 360 derajat karena seorang Raya.


“Makanya, dengerin aku yaaa” Raya mengambil tangan kanan suaminya untuk ia genggam. “Aku baik-baik saja, sungguh” Kepalanya mengangguk meyakinkan Asisten Je bahwa apa yang dialaminya adalah hal yang wajar. Laki-laki itu hanya menghela nafas pelan. Asisten Je benar-benar melayani istrinya dengan sepenuh hati, Raya tidak boleh bergerak barang sedikitpun di tempat tidur. Semua dilayani dengan istimewa oleh Asisten Je.


Raya menyelesaikan suapan terakhir dari tangan langsung suaminya, mereka makan bergantian dari satu tangan, hal itu membuat Asisten Je semakin senang karena Raya menjadi seorang istri yang penurut. Raya bagaikan ratu yang tidak boleh melakukan aktifitas apapun, anit ingin sesuatu tinggal minta maka Asisten Je akan mengambilkannya.


Tok Tok Tok


“Tuan, dokter Melani sudah datang” Seru Leon di luar pintu.


“Bawa masuk segera” Ucapa Asisten Je.


Bagaimana ini, aku harus pasang wajah seperti apa di depan dokter. Aaaa malunya berkali lipat, seperti abg yang baru pertama kali datang bulan. Hhhh.


Menolak seperti apapun tidak akan merubah situasi, Raya hanya bisa bernafas berat sambil menahan senyum malu saat dokter datang dan melakukan pemeriksaan. Semua pertanyaan yang diberikan dokter Melani di jawab Raya dengan senyum malu-malu.


Maafkan aku dokter, besok suamiku aku suruh kursus ilmu pengetahuan tentang anita, biar tidak bodoh bodoh amat urusan beginian. Raya menjawab sorot mata penuh tanya dokter Melani.

__ADS_1


Kenapa dua orang ini, jelas-jelas nona baik-baik saja. Batin dokter Melani sambil merapikan semua alat pemeriksaan, berusaha membuat kesimpulan yang paling enak untuk di dengar dan yang pasti mudah untuk di pahami oleh seorang Asisten Je. Hahahaha.


TBC


__ADS_2