Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 6 Elektronic Shopping


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang


lebih 45 menit, mereka sampai di Toko Elektronik Santoso di Blimbing.


“Bapak temenin saya lihat-lihat dan


milih ya” Ajak Raya.


“Waduh neng, nggak malu apa di temenin


sama aki tua gini” Tolak halus Pak Malik.


“Bapak apaan sih, saya takut gak bisa


milih pak, dan lagi saya takut nyasar” Kata Raya berbisik untuk kalimat


terakhir seraya terkekeh. Dia nggak pd aja jalan sendiri, karena biasanya


kemanapun ia pergi Revian selalu menemani bersama duo putrinya masih ditambah


lagi dengan beberapa bodyguard yang selalu sigap di belakang mereka.


Mereka berdua memasuki toko dan


langsung di hadapkan pada banyak barang elektronik mulai yang terkecil sampai


yang terbesar. Pak Malik langsung mengarahkan Raya ke tempat mesin cuci berada.


Semua mesin cuci berbagai merk dengan berbagai harga tersedia di sini, mulai


dua tabung, satu tabung bukaan atas, sampai bukaan depan.


“Mas, tolong mesin cuci yang terbaik


ya” Kata Raya kepada salah satu penjaga toko.


“Bisa mbak, ini merk xxx yang terbaik


mbak, kapasitas 8 kg, bukaan depan, kualitas terjamin deh mbak, kalau harganya


sekitar 5 jutaan mbak”


“Iya deh, saya ambil ini, sama televisi


dinding ya dan kulkas dua pintu”


“Yang ukuran berapa in mbak televisinya”


“Nggak usah yang besar mas, cukup untuk


di ruang tengah, anak saya suka nonton kartun”


“Oh..di bagian sini mbak, ini ada


berbagai merk, ini yang terbaik mbak dengan merk xxx harganya 8 jutaan, kalau


kulkas dua pintu sebelah sini mbak, ini merk xxx dan kualitas terjamin harganya


5 jutaan”


“Boleh deh mas, sekalian magic com dan


kompor gas ya mas”


“Wah diborong aja semua mbak…hehe”


“Mas ini, butuhnya hanya itu kok”


“Maaf mbak bercanda, ini mbak, tinggal


pilih aja” Penjaga itu mengajak Raya ke area magic com.


“Kalau ini berapa harganya mas?”


“Wah tepat sekali mbak, mbak ini


penyuka merk terkenal ya, ini sekitar 2 jutaan mbak, kalau kompor tanam merk


xxx yang terbaik mbak tapi harganya 7 jutaan”


“Oke deh gak papa saya ambil mas, jadi


mesin cuci, televisi, kulkas, kompor tanam sama magic com ya mas”


“Baik mbak, sebentar saya buatkan


notanya”


Raya mengangguk kemudian menanyai Pak


Malik.


“Pak Malik ada yang mau di beli?”


“Nggak neng, bapak nggak biasa ada


barang mewah, rumah bapak mah sempit neng, istri saya juga orang desa jadi gak


ngerti barang kayak gini, hehe” Tolak Pak Malik.


“Kalau televisi ada pak?” Tanya Raya


masih belum menyerah, Pak Malik hanya terdiam, ia punya anak yang masih berumur


12 tahun dan selama ini memang di rumahnya tidak pernah ada hiburan apapun,


sehingga kadang anaknya itu pergi ke rumah temannya untuk melihat acara


hiburan. Televisi yang pernah di belinya dulu hanya benda tabung yang kini


sudah tidak bisa di nyalakan lagi.


“Nggak usah neng…” Sungkan Pak Malik.

__ADS_1


“Ya udah televisi yang ukuran lebih


kecil ya pak”


“Waduh neng, saya jadi malu ini…”


“Gak papa, oya mas sama televisi yang


ukurannya di bawah yang tadi ya” Kata Raya menghampiri penjaga tadi.


“Siap mbak”


30 menit urusan di toko elektronik


selesai, barang-barang tersebut akan di antarkan ke alamat yang sudah di


berikan Raya, sementara punya Pak Malik di taruh di bagasi taksi. Mereka berdua


keluar dari toko dan Raya mengajak Pak Malik untuk mencari rumah makan. Pak


Malik mengarahkan ke warung rawon nguling yang cita rasanya sudah terjamin


100%.


“Ayo pak, kita makan dulu”


“Nggak usah neng…malu ini, bapak nggak


pernah makan di tempat seperti ini…biasanya kalau ngantar bos besar juga saya


selalu nunggu di mobil” Tolak Pak Malik.


“Kalau bapak nggak mau nemenin, ya udah


Raya juga nggak jadi makan aja pak” Jawab Raya pura-pura marah.


“Ya udah neng ayo…”


“Nah…gitu dong pak, ayo pak, makasih ya


pak…” Raya memasuki warung rawon nguling diikuti oleh Pak Malik di belakangnya.


Mereka memilih tempat di dekat jendela, dan Raya memesan dua porsi nasi rawon


dengan ditambah daging empal dan krupuk. Mereka menunggu pesanan sambil


ngobrol.


“Pak Malik berapa anaknya?”


“Saya punya dua anak neng, yang sulung


laki-laki berumur 20 tahun, sekarang masih kuliah semester 5 di UM, yang bungsu


perempuan berusia 12 tahun masih kelas 7 SMP neng.”


“Wah…hebat ya bapak terhadap


pendidikan, bagus itu pak”


bisa berkarya lebih dari orang tuanya”


“Mulia sekali pak, semoga lancar ya


pak, oya, kalau perlu bantuan Raya bilang aja ya pak”


“Terima kasih neng, neng baik sekali,


padahal kita baru bertemu lho dan bukan saudara lagi”


“Ya kita sebagai manusia kan harus


saling menolong pak…”


Pesanan mereka datang, dan mereka mulai


memakan makanannya dengan lahap, rasanya benar-benar lezat.


Setelah makan, Pak Malik mengantar


kembali Raya pulang ke rumahnya.


“O ya pak, nih rawon untuk di rumah ya


pak, terima kasih telah bersedia mengantar saya hari ini, dan ini bayarannya…”


Raya menyodorkan bungkusan berisi rawon nguling dan lauk empal dan sejumlah


lembaran merah 5 lembar.


“Neng…ma syaa Allah, ini terlalu banyak


neng, hari ini bapak udah di kasih apa saja ini…”


“Udah gak papa pak, rezeki bapak dan


yang di rumah, terima kasih ya pak, jangan bosan lho kalau saya sering menelpon


bapak…” Kata Raya tersenyum ramah.


“Baik neng, sekali lagi terima kasih


banyak, setiap waktu eneng telepon, saya selalu siap neng.” Ucap Pak Malik


terharu. Raya masuk ke rumah dan mendapati anaknya tengah tertidur di sofa


dengan di bentengi dengan meja agar tidak terjatuh. Sementara Bu Nanik


sepertinya sedang di dapur.


“Lho Bu Nanik ngapain?”


“Eh…nak Raya, sudah pulang? Ini lho ibu

__ADS_1


hanya beresin ini saja, biar rapi nak” Kata Bu Nanik yang sedang melap piring


dan gelas.


“Kenapa Hanum tidak dipindah di kamar


bu?”


“Aduh maaf nak, ibu tidak berani masuk


ke kamar, takut mah…”


“Ih…ibu ini, gak papa kali, di sini


Raya hanya punya ibu lho sebagai pengganti keluarga Raya, jadi mulai sekarang


di biasakan aja bu”


Bu Nanik menatap Raya dengan


berkaca-kaca, “Ma syaa Allah nak, ibu serasa mendapatkan kembali anak ibu,


terima kasih atas kepercayaannya ya nak”


“Iya bu, Raya senang ternyata di sini


Raya bisa memiliki ibu…” Raya memeluk Bu Nanik haru, untuk mengurangi


kerinduannya terhadap mamanya di Jakarta.


“Ya sudah, nak Raya sudah makan? Tadi


ibu membuatkan masakan untuk Hanum, sekalian memasak untuk makan siang juga”


“Waahh, Raya udah makan tadi bu, ini


malah Raya bawa dua bungkus rawon, satu untuk ibu, satu untuk anak-anak”


“Alhamdulillah, terima kasih ya nak…”


Raya tersenyum mengangguk, “Raya


bersih-bersih dulu ya bu, sekalian mau memindahkan Hanum”


“Iya nak…” Bu Nanik meneruskan


pekerjaannya yang tertunda tadi.


Raya menggendong Hanum untuk


dipindahkan ke kamarnya, kemudian ia masuk ke kamarnya sendiri untuk mandi.


Setelah mandi ia berencana untuk tidur siang sebentar, dan benar saja, setelah


kepalanya menyentuh bantal, maka mata itu langsung terpejam dengan nyenyak.


“Assalamu’alaikum” Titania memasuki


rumah setelah mengucap salam, gadis itu terlihat lelah dengan keringat menetes


di dahinya.


“Wa’alaikumussalam, kakak sudah


pulang?” Sambut Bu Nanik seraya mengambil tas Titania, gadis itu menolak halus


tapi wanita tua itu memaksa untuk membawakannya ke kamarnya.


“Iya eyang, apa mama udah pulang yang?”


“Sudah, tapi mama masih istirahat, biar


dulu ya, ayo kakak bersih-bersih dulu, eyang sudah siapin makan siang tuh” Bu


Nanik membawa tas Titania ke kamar dan menyuruh gadis itu untuk mandi dan ganti


baju.


“Makasih eyang” Titania tersenyum dan


itu sebuah rekor bagi keluarganya, karena selama ini jarang sekali anak itu mau


tersenyum kepada orang lain.


Bu Nanik mengangguk kemudian berlalu


dari kamar untuk menyiapkan makan siang Titania yang sudah di anggapnya cucunya


sendiri, bahkan Titania ikut-ikutan memanggil eyang seperti Hanum.


Titania melangkah ke dapur sudah dengan


celana pendek selutut dan t’shirt warna biru muda. Di meja sudah tersedia aneka


masakan yang menggugah selera makan.


“Wah eyang yang masak semua?” Tanya


Titania heran. Wanita tua itu menggeleng.


“Eyang hanya masak telor dadar sama cap


cay aja kalau rawon dan empal ini mama yang bawa”


“Oh, ayo eyang makan juga”


“Eyang sudah makan, dah…kakak mau makan


sama apa biar eyang ambilkan”


“Tita bisa sendiri eyang” Tolak Titania


yang memang bukan gadis manja dan tidak mau menjadi manja. Ia mulai mengerti

__ADS_1


bagaimana kehidupan mamanya tanpa papa, walaupun daddy dan mommy sangat


memanjakannya tapi Titania tetap menjadi gadis mandiri untuk mamanya.


__ADS_2