Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 50 Bersihkan bibir Anda sebelum berangkat


__ADS_3

Yang ini baru bener readers....


Hahahaha....salah fokus, akibat ngantuk.....


Dahlah met baca yaaaaa


Urusan dengan kedua putrinya sudah beres, mereka mengerti bagaimana tuntutan pekerjaan mamanya. Raya merasa bersyukur memiliki dua putri yang pengertian dan memahami situasi di sekitar mereka. Mereka tidak pernah menuntut apa-apa pada Raya, mereka mengerti bagaimana susahnya mama mereka menghidupi, melindungi, dan menjaga mereka dengan seluruh segenap jiwa raganya. Bahkan Raya rela mengorbankan keinginannya demi menyenangkan kedua buah hatinya. Terutama untuk Hanum yang sangat membutuhkan perhatian lebih, gadis kecil itu belum memahami arti kematian sesungguhnya.


Raya memberi pengertian bahwa papa harus menjaga syurga untuk tempat itu tetap terlindungi dan aman. Pikiran  kecilnya menyerap bahwa menjaga syurga agar aman, maka tidak boleh sampai kosong atau tidak ada yang menjaganya, sehingga papanya tidak bisa pergi menemuinya karena harus terus berada di syurga. Dari pemikiran itu, gadis kecil itu jarang sekali menanyakan keberadaan papanya, karena memang selama kehadirannya tidak sekalipun papa datang padanya. Raya tahu dalam hati kecil gadis itu ia ingin bertemu papanya, tapi ia sudah bisa mencerna kalau hal itu akan membuat mamanya sedih.


Kembali kepada kesibukan Raya.


Wanita itu tampak memasuki kamar yang disediakan oleh Asisten Je di rumah besarnya. Ya, saat ini ia sudah berada di rumah Asisten Je, ia melihat luas kamar yang berbeda dengan kamar di rumahnya walaupun masih lebih luas kamar di rumahnya dulu di Jakarta. Ia berpikir bahwa Asisten Je membeli 3 stand rumah dan dijadikan satu dengan model yang menyesuaikan seleranya.


Kamar itu bisa dikatakan lengkap, selain warna salem dindingnya, kamar ini dilengkapi dengan tempat tidur big  size, meja rias yang lengkap dengan semua pernak-pernik perempuan yang sepertinya sengaja sudah disiapkan, walk in closet yang luas untuk ukuran almari pakaian dengan susunan pakaian yang sudah tertata rapi di gantungan.


Raya membuka salah satu lemari, ia terbelalak melihat isi lemari yang sudah penuh dengan pakaian syar’i modern  yang sangat trendi dan berkelas. Karena penasaran, ia membuka lemari sebelahnya yang membuat ia semakin takjub. Ia melihat tatanan hijab yang tersusun rapi bersama berbagai macam asesoris yang terkesan mahal. Ia heran, kapan atasannya itu menyiapkan semua ini dan yang bikin ia heran juga, semua ukuran baju itu sesuai dengan ukuran badannya. Mungkinkan asisten itu menyiapkan sendiri atau ada tangan lain yang menyiapkannya? Tapi selama ini, ia hanya melihat Asisten Je hanya selalu sendiri, di rumahnya pun sepi. Dan tatapan matanya terarah pada satu lemari lagi yang lebih kecil, matanya memicing curiga, wajah dan telinganya sudah memerah duluan sebelum membuka dan mengetahui isinya. Dengan penasaran ia membuka lemari itu dan….


Dhuar!!!


Berbagai jenis perlengkapan dalam wanita dengan ukuran yang benar-benar tepat. Bahkan ada beberapa model lingerie yang mengisi lemari itu. Wanita itu menutup wajahnya malu. Ma syaa Allah….malunya…, bagaimana ia menghadapi laki-laki itu nantinya.


Raya tidak tahu saja bahwa yang menyiapkan semua keperluan isi kamar itu adalah Lani, jadi Asisiten  mempercayakan semuanya kepada Lani, karena ia yakin pilihan Lani tidak akan mengecewakan. Buktinya semua dress maupun baju Muslimah terkesan trendy dan mewah, tentu saja jangan lupakan berkelas

__ADS_1


Raya terdiam tak percaya dengan semua hal yang ia dapatkan, namun deringan hp mengagetkannya, lalu ia melihat hp nya yang tertulis MY HANDSOME HUSBAND calling. Ia mengernyit, sepertinya ia tidak mengenal identitas nama itu ada dalam daftar kontaknya, dengan ragu ia menekan gambar hijau.


“Ass…”


“Waktumu tinggal 10 menit, telat 1 detik kau ke bandara jalan kaki” Ucap suara di seberang dengan tegas dan  langsung terdengan bunyi, tut tut.


“Dasar bos gila, Singa galak, my handsom husband palalu peyang, masih cakepan juga suamiku…” Gerutu Raya kesal.


Kilat Raya Bersiap mengambil acak blouse dan celana bawahan navy dengan hijab senada, highill dan tas yang telah disiapkan pula. Selesai, segera ia berlari kecil ke bawah dan menemui Asisten Je yang sudah menunggunya dengan duduk di sofa ruang tengah. Ia membawa sebuah tas besar untuk semua perlengkapannya dan sebuah tas kecil siapa tahu nanti diperlukan. Semua itu sudah tersedia di pojok almari jadi Raya tinggal memakainya tanpa perlu ribet harus ijin. Laki-laki itu mendongak dan menatap kagum pada penampilan istri sirinya itu. Ada senyum tipis terbit di bibirnya. “Good wife” Ucapnya dalam hati.


“Anda belum siap?” Tanya Raya heran melihat Asisten Je masih belum memakai dasinya dan kemejanya juga belum dirapikan apalagi jas nya. Wanita itu memutar mata malas, tadi ia terburu-buru karena di ultimatum, sementara atasannya dengan santainya malah duduk malas tanpa Bersiap-siap.


“Aku lupa cara memakai dasi” Kata Asisten Je tanpa ekspresi, seolah itu sebuah hal yang wajar. So? Apa aku harus memasangkan dasinya juga gitu?


“Tuan mau pakai yang mana?” Tanyanya.


“Pilihkan saja, terserah. Cepatlah, waktuku mendesak” Raya mendecak kesal mendengar perintah aneh itu, siapa yang melambat siapa juga yang disalahkan. Raya kembali ke lantai atas tepatnya ke kamar Asisten Je untuk memilih dasi yang cocok.


“Merepotkan, menyebalkan. Kenapa tidak dibawa sekalian juga ke ruang tamu coba, harus bolak-balik, huh” Raya segera bergegas menuju keberadaan Asisten Je dan memasangkan dasinya sambil berjinjit.


“Bisakah Anda menunduk sedikit?” Keluh Raya kesulitan memakaikan dasi tersebut.


“Kau saja yang terlalu pendek” Sindir Asisten Je dan tanpa aba-aba laki-laki itu mengangkat Raya dan mendudukkannya di atas meja yang agak tinggi.

__ADS_1


“Tuan apa yang Anda lakukan, lepaskan!” Raya kaget sekali dengan perlakuan mendadak itu.


“Nah, begini kan pas? Berlatihlah berenang agar kamu tumbuh ke atas” Olok Asisten Je. Raya hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Tadi sudah dikatain pendek, sekarang tumbuh ke atas, emang dia pendek dan gendut apa? Hei Tuan, tinggiku 175 cm kalau kau tidak tahu dan berat badanku 63 kg. Teriak Raya dalam hati. Itu adalah porsi ideal untuk seorang wanita, apalagi ia sudah pernah menikah dan memiliki dua orang putri. Jarang-jarang ada Wanita yang setelah melahirkan tetap memiliki tubuh yang ideal seperti Raya.


Asisten Je membuka kaki Raya agar ia mudah mendekatinya dan memasang dasinya tanpa harus berjauhan.


Deg


Deg


Deg


Raya sebenarnya kurang nyaman dengan posisi begini, namun bagaimana lagi, secara agama apa yang dilakukan Asisten Je sah-sah saja. Dengan gesit Raya memakaikan dasi tersebut dengan berusaha tetap fokus tanpa menatap pasangannya. Asisten Je memandangi wajah cantik di depannya, begini ternyata rasanya punya pasangan, ada yang masangin dasi, ada yang menemaninya di kamar nantinya, ada yang melayani semua kebutuhannya, ucapnya dalam hati.


“Sudah selesai” Ucap Raya mengagetkan Asisten Je yang sedang melamun. Entah keinginan dari mana yang membuat Asisten Je mencium bibir Raya.


Lembut


Manis


Dingin namun hangat


Raya yang mendapat serangan tersebut langsung terhenyak dan segera mendorong pelan dada laki-laki itu, ia lalu turun dari meja.

__ADS_1


“Bersihkan bibir Anda sebelum berangkat” Ucap Raya seraya berlalu menuju ke luar. Wajah Asisten Je langsung bersemu merah, malu. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba perasaannya membawanya untuk terus menyentuh istri sirinya. Apalagi tidak ada efek apapun dari sentuhan itu membuat laki-laki itu merasa bahagia.


__ADS_2