Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 17 Lembur Mendadak


__ADS_3

Jam pun terus berputar, hingga tak


terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 waktunya pulang pun telah tiba. Raya


membereskan berkas-berkas yang telah diprint untuk di masukkan ke dalam map-map


sesuai judulnya. Besok pagi harus diajukan kepada Asisten Je untuk meminta


tanda tangannya. Ia bersiap pulang, namun dering telepon di mejanya berbunyi


nyaring.


Kringggg


Kringggg


Tidak mau terkena semprot amarah


Asisten Je, Raya segera meraih gagang telepon itu.


“Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Ke ruangan segera”


“Baik Tuan” Raya menghembuskan nafas


pelan, semoga tidak terjadi apa-apa, doanya dalam hati. Raya keluar dari


ruangannya sudah dengan mencangklong tas di tubuhnya.


Tok


Tok


“Masuk”


Raya membuka pintu perlahan dan


mendapati Asisten Je sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Cukup lama Raya


hanya berdiri di depan meja Asisten Je tanpa dihiraukan oleh atasannya itu.


Setelah 15 menit berlalu….


“Ehm…” Raya berdehem untuk mengingatkan


atasannya mengenai tujuannnya memanggil kemari. Tapi laki-laki itu tetap pada


posisi semula tanpa merasa terganggu sedikitpun dengan deheman Raya.


“Tuan, maaf ada apa ya Tuan memanggil


saya” Laki-laki itu mendongak sejenak, ada pancaran kebencian dan jijik di mata


itu, membuat bulu kuduk Raya meremang dengan sendirinya.


“Kau terburu?” Tanyanya tajam.


“Tidak Tuan” Jawab Raya cepat.


“Baguslah” Asisten Je kembali fokus


pada laptopnya, tanpa dilihat oleh Raya, bibir laki-laki itu menyeringai puas


membuat wanita di depannya pasti kesal karena menunda untuk menemui kekasihnya.


Ih…sok tahu kamu Asisten Je…


Sudah hampir setengah jam Raya hanya


disuruh menunggu bahkan tanpa disilahkan duduk membuat kaki Raya serasa


kesemutan, pegal sekali. Huh…sabar, jangan sampai terpancing emosi Raya…kamu


baru bekerja sehari, ingat itu. Tapi karena tidak ada pergerakan apapun dan


perintah penting dari Asisten Je membuat Raya memberanikan diri untuk bertanya


lagi.


“Maaf Tuan kalau tidak ada hal yang


penting, bolehkah saya permisi?”


“Aku belum selesai” Jawabnya datar.


Raya menghela nafas pelan, tapi aku sudah, dasar triplek.


“Baiklah, apa yang bisa saya kerjakan


Tuan?” Tanyanya masih dengan mode sabar.


“Tidak ada” Jawab Asisten Je pendek


membuat mata Raya membelalak tak percaya, hampir saja kemarahannya meledak. Ia


mengurut dadanya perlahan.


“Kamu marah padaku?” Tanya Asisten Je


melihat gerakan Raya, sontak wanita itu menurunkan tangannya dan menggeleng.


“Tidak Tuan, tapi…”


“Hmmm, ini kamu atur ulang jadwal untuk


Tuan Muda besok pagi, dan hari ini harus kelar” Kata Asisten Je menyerahkan


berkas yang baru diketiknya dan diprint ke arah Raya. Wanita itu menatap


bingung.


“Kenapa? Tidak mau? Mau kupecat? Baru


sehari sudah mau membangkang?” Tanyanya tajam. Raya menggeleng cepat dan


menerima berkas dari tangan Asisten Je.


“Baik Tuan, akan segera saya kerjakan,


saya permisi dulu” Raya membungkuk hormat dan berlalu keluar dari ruangan


Asisten Je, namun sedetik kemudian ia terheran-heran mendengar tawa Asisten Je


yang menggema di ruangannya.


“Aneh” desis Raya tanpa memperdulikan


bosnya itu. Ia kembali masuk ke ruangannya dan meletakkan tasnya di kursi


kemudian kembali meneliti dan mengatur ulang jadwal Tuan Muda Alvero.


Setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk merevisi jadwal tersebut.


“Ah… ternyata tidak sampai satu jam berkas sudah selesai… alhamdulillah” kemudian


Raya segera mengeprintnya dan menata kembali dalam map. Kali ini aku harus


langsung pamit pulang, sepertinya dia sengaja menunda kepulanganku.


Tok


Tok


Tidak ada suara apapun yang menyuruhnya


masuk, sehingga Raya langsung membuka pintu dan ternyata memang benar tidak ada

__ADS_1


keberadaan asisten kaku itu. Raya berdecak kesal.


“Huh, rupanya dia sengaja mengerjaiku,


seenaknya saja memberi pekerjaan kemudian pulang tanpa pamit…awas saja kau…”


“Siapa yang kau umpat hah?” Tanya suara


di belakangnya membuat Raya berjengkit kaget.


“Ma sya Allah…” Wanita itu sampai


memegang dadanya yang berdegup kencang, bukan karena berdebar tapi karena


terkejut.


“Tuan…Anda mengagetkan saja…berkasnya


sudah saya taruh di meja Anda Tuan, sekarang saya permisi dulu…” Raya segera


membungkuk dan bergegas keluar sebelum asisten itu berbuat ulah lagi.


Dengan cepat Raya berlari ke arah lift


dan memencet tombolnya, sampai ia keliru menekan lift khusus bos, tapi ia belum


menyadari hal itu. Wanita itu terus berlari keluar dari lift menuju tempat


parkir. Tampak Pak Malik sudah menunggu dengan setia di samping mobil.


“Kenapa lari neng, seperti dikejar


setan aja?” Tanya Pak Malik heran.


“Iya pak setan triplek” Jawab Raya


sekenanya.


“Hah…mana ada neng setan triplek”


“Ada pak, dah ayo pak pulang, saya


sudah rindu sama anak-anak, ternyata tidak bertemu seharian membuat saya sangat


kangen sama mereka” Pak Malik terkekeh dan segera menjalankan mobilnya. Tanpa di


sadari oleh Raya, ternyata ada sepasang mata yang mengawasi pergerakannya


sampai hilang dari parkiran. Tampak senyum menyeringai muncul di bibir


penuhnya.


“Kita lihat seberapa kuat kamu


bertahan, aku akan membuatmu tersiksa sehingga kau akan meminta berhenti dengan


sendirinya.” Kata Asisten Je dengan keyakinan penuh bahwa usahanya akan


membuahkan hasil.


Raya sampai di rumah dengan di sambut


tangisan dari Hanum yang menggelegar memekakkan telinga bagi siapapun yang


mendengarnya. Raya buru-buru menghampiri gadis kecilnya itu.


“Lho sayang…kenapa nangis?” Tanya Raya


seraya menggendong gadis kecil itu.


“Tak Tita oong, mama dak balik”


“Hah…kenapa gitu sayang? Ini buktinya


mama ada di sini?” Raya menggelengkan kepala melihat tingkah lucu Hanum, pasti putri


“Udah diem dong…ayo kita masuk dulu


ya?”


“Neng Raya, bapak pamit dulu ya…”


“O iya pak, mobilnya nggak dibawa aja


pak?”


“O ndak usah neng, bapak pakai sepeda


supra ini saja, kenangan ini neng”


“O ya sudah pak, hati-hati ya”


“Dada dedek Hanum…”


“Dada tek” Gadis kecil itu masih


sesenggukan di bahu Raya. Ketika masuk dilihatnya Bu Nanik datang dari dapur


dengan membawa secangkir teh hijau yang masih mengepul asapnya.


“Ayo Hanum turun dulu ya, biar mama


istirahat dulu…yuk sama eyang” Bujuk Bu Nanik tapi gadis kecil itu malah


mengeratkan kedua tangannya di leher Raya.


“Inda mau, anti mama ilang” Raya dan Bu


Nanik tertawa gemas, kemudian Raya duduk di sofa untuk menyegarkan


tenggorokannya dengan teh hijau buatan Bu Nanik.


“Maaf ya bu, tadi ada lembur mendadak


jadinya Bu Nanik lama nungguin Hanum nya”


“Tenang saja nak, Hanum anak yang


cerdas kok, nggak pernah rewel”


“Nggak rewel kok cengeng” Ketus Titania


yang datang dari dalam kamar.


“Huwaaaa Tak Tita atan mama” Jerit


gadis kecil itu dengan tersendat karena tangisannya kembali menggema.


“Kakak….” Raya menatap Titania lembut.


“Habisnya resek ma, masak iya tiap


menit tanya kapan mama pulang?!” Jelas Titania membela diri. Raya hanya


menggeleng.


“Hanum kakak hanya goda-goda, udah


jangan nangis, nanti cantiknya hilang gimana, wajah Hanum nanti jadi kayak


nenek sihir yang semalam” Kata Raya. Gadis kecil itu langsung berhenti menangis


walaupun masih ada isakannya.


“Anium inda mau dadi enek cihil” Ia


ingat semalam mamanya menceritakan dongeng seorang nenek sihir yang jahat

__ADS_1


dengan wajah yang menyeramkan, matanya besar dan merah, hidungnya panjang dan


bengkok, bibirnya lebar menyeringai, kadang tertawa kadang menangis, jadi kalau


Hanum suka menangis nanti jadi kayak nenek sihir.


“Ya sudah, yuk mama mandi dulu ya,


setelah itu mainan”


“Hole hole anin anin” Tangisnya sudah


benar-benar berhenti berganti dengan goyangannya di pangkuan Raya. Bu Nanik


hanya tertawa gemas dengan kelakuan lucu Hanum, sedangkan Titania hanya


mendengus kecil. Raya meminum habis teh hijaunya setelah itu beranjak menuju


kamarnya untuk membersihkan diri.


20 menit kemudian ia sudah keluar dari


kamar mandi dengan mengenakan gamis motif bunga dan memakai jilbab terusan.


Wanita itu keluar kamar dan mendapati Hanum sudah menunggunya di sofa ruang


tamu.


“Ayuk mama” Ajak gadis kecil itu seraya


meraih tangan mamanya dan diseretnya keluar rumah.


“Lho kemana sayang?” Tanya Raya heran.


“Anin mama, anji adi” Ucapnya cemberut.


“Eh mama bilang begitu?” Gadis kecil


itu mengangguk, karena melihat binar bahagia di mata anaknya Raya tidak ingin


membuatnya kecewa. Wanita itu melirik jam dinding di ruang tengah, dilihatnya


masih pukul 17.20, cukuplah untuk mengajak Hanum jalan-jalan di sekitar taman


perumahan.


“Baiklah, hayuk kita jalan-jalan sore


di taman di depan perumahan sana saja ya” Ajaknya kemudian disambut jingkrakan


Hanum.


“Holee aciikkk, atak ayuk?” Seru Hanum


memanggil kakaknya yang masih duduk di sofa, sementara Bu Nanik telah siap-siap


pulang.


“Kakak mau ikut?” Tawar Raya melihat


keengganan Titania dan gadis itu menggeleng malas. Raya tersenyum.


“Yuk Hanum, kakak lagi istirahat, kita


berdua aja yang jalan-jalan ya”


“Iyah ayuk mama epet”


Hanum berlari-lari dengan bahagia di


taman itu, sementara Raya hanya mengikuti dari belakang. Perumahan ini memang


difasilitasi dengan playground sehingga anak-anak kecil pada sore hari bisa


bermain-main di playground itu. Seperti sore ini, tampak banyak sekali


anak-anak kecil seumuran Hanum dan yang lebih tua lagi sedang main ayunan di


sana di temani oleh ibu mereka.


Raya tersenyum mengangguk menyapa para


ibu muda yang sedang menunggui anaknya.


“Wah..mbak warga perumahan yang baru


ya, kok baru kelihatan sekarang?” Tanya seorang ibu muda.


“Iya, mohon maaf belum sempat


memperkenalkan diri, saya langsung bekerja” Ucapnya tak enak hati.


“Ooo iya, memang banyak di sini ibu-ibu


yang bekerja, kita-kita aja yang pengangguran ya mbak?” Timpal ibu muda lainnya


seraya tertawa.


“Hmm iya, tapi jangan salah lho mbak


walaupun pengangguran kita banyak duit kok” Sambung ibu muda satunya lagi


dengan tertawa. Raya tersenyum kikuk, ia merasa salah masuk dalam perkumpulan


wanita sosialita yang nyinyir.


“Eh…emang suami mbak kerja apa, kok


mbaknya masih aja kerja?” Ini yang Raya tidak suka dalam perkumpulan wanita


rumpis, selalu yang ditanya hal yang pribadi.


“Maaf saya ke anak saya dulu, marii”


Raya bergegas mendekati anaknya yang sedang main ayunan. Rupanya dia sudah


mendapat teman baru di sini.


Ibu-ibu muda yang suka gossip itu pada


berbisik-bisik.


“Eh, suaminya pengangguran kali…” Kata


ibu pertama.


“Atau kalau nggak suaminya karyawan


biasa yang gajinya pas-pasan” Sela ibu kedua.


“Eh…tapi, selama hampir seminggu di


sini aku kok gak pernah lihat suaminya ya?” Timpal ibu ketiga.


“Ah…masak” Jawab mereka bersamaan.


“Jangan-jangan wanita simpanan” Kata


wanita pertama yang menyapa Hanum tadi. Dan sejak itu isu keberadaan Raya telah


ramai di kalangan ibu-ibu muda dimana ia dikenal sebagai seorang ibu yang tidak


diketahui kemana dan siapa suaminya. Raya sendiri tidak ambil pusing dengan isu


yang beredar, asal tidak mengganggu keluarganya maka ia akan diam saja.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2