
Gadis remaja itu keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi kemudian berjalan menuju walk in closet, ia
melihat almari kaca itu dan semua baju yang ia miliki masih lengkap di dalamnya. Ia meraih kemeja polos warna soft abu sama celana jeans selutut dan memakainya secepat kilat. Dikeringkannya rambutnya perlahan di depan cermin besar kemudian menyisirnya perlahan.
Bip
Bip
Titania menoleh mendengar getar dari hp di nakas dan mengambilnya, melihat panggilan dari Amanda langsung digesernya ke atas.
“Ya Nda” Sapanya
“Kita pulang dulu ya, kamu kan masih nginap lagi, tiket kita udah siap nih, lagian Pak Dhani udah suruh kita siap -siap dari tadi” Jelas Amanda di seberang.
“Iya deh, maaf ya nggak bareng pulang”
“Sans ae lah, kita ketemu di Malang ya, bye…Assalamu’alaikum” Tutup Amanda.
“Iya waalaikumussalam” Titania meletakkan hpnya kembali di nakas kemudian menuju ke meja rias untuk mengembalikan sisir. Pagi ini Om Jason sudah janji mau ngajak keliling mall untuk membelikan oleh-oleh bagi keluarganya.
“Tita sayang, sudah siap belum” Teriak suara di depan pintu kamarnya sambil mengetuk pintu berulang-ulang. Gadis remaja itu mendesis kesal.
“Huh, selalu berisik” Dia membuka pintu kamarnya dan tampaklah pemuda tampan dengan pakaian kasual yang tersenyum lebar ketika melihatnya keluar. Pemuda itu meraih kepala Titania untuk di acak rambutnya.
“Om…rusak nih” Protes Titania cemberut, sementara Jason hanya terbahak senang. Kini dicubitnya kedua pipi ponakannya itu gemas.
“Hahaha, dah yuk berangkat, mumpung belum ada adegan heroik”
“Apaan?” Tanya Titania heran seraya mengikuti langkah Jason.
“Haah siapa lagi kalau bukan nenek kelewat ceria itu” Sungutnya membuat Titania melebarkan matanya.
“Hih, Om Jason, awas lo ya…aku bilang oma nih” Goda Titania seraya memicingkan matanya.
“Eh..jangan dong … gak jadi ntar kita jalannya” Rengek Jason seraya berbalik menghadap ponakannya membuat Titania menahan tawanya.
“Ayok deh” Dua manusia beda usia itu segera bergerak keluar menuju tempat parkir dan keluar area mansion Rahmadi dengan aman.
Dan sudah dipastikan acara gerilya oleh-oleh itu memakan waktu seharian, semua barang yang diinginkan sudah
lengkap semua, mulai dari oleh-oleh untuk teman sekelasnya, keluarganya, sampai dua wanita tua yang menjaga nya dan adiknya di rumah, tak lupa keluarga Pak Malik juga ia belikan oleh-oleh. Wah…jiwa sosial Raya benar-benar menurun pada putrinya. Acara keliling mereka berakhir di sebuah restoran seafood faforit Titania, namun keseruan itu tidak berlangsung lama karena telepon dari Oma Rima membuyarkan acara makan siang yang nikmat itu. Oma Rima segera menyuruh mereka pulang karena dikabarkan keluarga besar datang semua. Berita itu membuat Titania langsung optimis pulang karena dia sudah sangat kangen dengan keluarganya yang lain di Jakarta ini.
Tidak kurang dari 30 menit mereka sudah sampai di mansion dan langsung di sambut oleh jeweran di telinga Jason, membuat pemuda itu meronta kesakitan.
“Mamiiii, sakit ini” Rengeknya.
“Emang ya, keluar nggak bilang-bilang, dikira rumah ini hutan apa ya” Marah Oma Rima seraya melepas jewerannya tapi diteruskan dengan memukul bahunya berulang-ulang.
__ADS_1
“Aduh iya mami…iya…udah mami…tuh diliatin sama yang lain, malu mami” Jason menangkap kedua tangan Oma Rima dan perlahan membalik tubuh maminya menghadap ke depan. Wanita itu tersenyum ke arah besannya ceria, emang mami paling top tidak ada sungkan atau malu. Titania berlari menyerbu memeluk ke arah eyang putri dan eyang kakung dari mamanya, ada juga Om Zidan yang juga memeluknya erat. Di samping mereka ada kakek dan nenek dari Ayah Revian, mereka saling berpelukan erat untuk meluapkan rasa kangen mereka.
“Udah ayo-ayo kita santai dulu di taman samping ya, biar lebih rileks” Ajak Oma Rima, kemudian semuanya ber jalan menuju ke taman samping mansion. Acara gelak tawa mengiringi kegembiraan itu.
“Hanum apa sudah sekolah Ta?” Tanya Nenek Widya dari Ayah Revian. Titania menggeleng.
“Belum nek, mungkin ajaran baru ini masuk PAUD”
“Nenek kangen banget sama cucu nenek itu” Lirih Oma Widya sendu membuat Titania jadi tidak enak hati.
“Nenek mau Tita telponkan mama?” Tawar Titania yang membuat mata Nenek Widya langsung berbinar.
“Apa boleh? Nggak mengganggu?” Titania menggeleng.
“Tapi biasanya mama jam segini masih di kantor” Jelasnya.
“Ya sudah nggak papa, asal nenek bisa lepas kangen sama mamamu” Pintanya lagi. Titania mengangguk kemudian mengambil hp disaku celananya kemudian mendial nomor mamanya, dalam dering pertama langsung
tersambung, terpampanglah wajah mamanya di layar hpnya.
“Assalamu’alaikum ma” Sambutnya.
“Waalaikumussalam sayang, gimana olimnya lancar? Mama udah kangen sayang, kapan pulang nih” Jawab Raya yang masih belum menyadari kalau semua keluarga besarnya sedang berkumpul, membuat mereka tersenyum geli mendengar suara merajuk Raya.
“Iya ma, alhamdulillah Tita dan tim dapat medali emas, oya ma ada yang ingin bicara nih” Kata Titania yang sengaja
“Oya? Selamat ya sayang, eh siapa sayang? Mommy Hanna? Mana, mama mau ngomong” Titania tersenyum kemudian memberikan hp nya pada Nenek Widya. Wanita baya itu menerima dengan tangan gemetar menahan rindu dan tangis, sementara Kakek Harun tampak mengelus punggung istrinya pelan.
“Sayang…” Suara Nenek Widya langsung hilang karena tidak kuasa menahan tangis. Raya langsung terbelalak kaget, dia terdiam beberapa saat sampai tanpa disadarinya ada air mata yang merembes dari kedua matanya.
“Mama…” Raya menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya, ia harus tegar, ia tidak boleh terlihat lemah di depan mamanya. Wanita itu menghapus air matanya lalu tersenyum.
“Mama sehat-sehat saja? Apa papa juga di situ?” Suara Raya terdengar bergetar menahan perasaannya. Nenek Widya mengangguk dan berusaha tersenyum.
“Iya sayang, nih mereka” Nenek Widya mengarahkan hp ke beberapa keluarga Raya yang lain, mereka tersenyum sambil melambai.
“Aaaa, kalian…kenapa jadi acara reuni sih…ini nggak adil” Rajuk Raya, jebol sudah pertahannya untuk tidak menangis membuat suasana di kediaman Oma Rima menjadi ramai dengan tawa.
“Eh..kok malah jadi cengeng sekarang?” Ejek Zidan remeh. Raya menghapus air matanya kasar.
“Abang jahat ya…” Rajuknya cemberut.
“Kamu sih nggak ikut ke sini, atau kita bikin reuni besar aja di Malang” Kata Kakek Harun.
“Iya Papa, ayo sekalian antar Tita ya” Rengeknya pada ayahnya. Kakek Harun hanya menggeleng tak percaya, anaknya masih juga manja padahal umurnya sudah kepala tiga.
“Kamu aja Ray yang kesini” Timpal Zidan.
__ADS_1
“Gak bisa abang, Raya di sini kerja lho, jadi kan nggak bisa seenaknya sekarang”
“Kamu ngapain kerja sih Ray, emang nggak cukup apa semua yang sudah kamu miliki” Sergah Zidan yang langsung merebut hp dari mamanya membuat wanita baya itu sewot.
“Jangan mulai deh bang, udah ah, mami, papi, ayah, bunda, ada juga di situ kan, ayo dong kasih lagi wajah mereka” Rengek Raya.
“Ih, udah tua juga masih manja aja” Ledek Zidan.
“Biarin, ayo abang…buruan mumpung bos Raya belum datang nih” Rengeknya. Zidan segera mengekspos seluruh keluarga yang hadir di kediaman Oma Rima membuat Raya tersenyum bahagia, walaupun hanya bertemu dalam video call setidaknya rasa kangennya sudah terobati. Air matanya kembali menetes, kerinduan menyelubungi hatinya, rasanya ingin ia menghambur ke pelukan orang-orang tersayangnya itu.
“Jangan nangis dong sayang” Kata Oma Rima sendu, “Mommy bisa lho langsung terbang saat ini juga” Sambungnya.
“Mommy, Raya kangen, iya Raya senang kok di sini, maaf belum bisa kasih kabar-kabar lagi, ayah bunda sehat-sehat saja kan?” Raya melihat fisik ayah mertuanya seperti agak kurusan.
“Alhamdulillah kami sehat Ra, Hanum gimana? Apa nggak pernah rewel?” Jawab Eyang Sasi. Raya menggeleng tersenyum.
“Hanum sehat bund, Juli nanti dia mau masuk sekolah”
“Hmmm, jaga diri baik-baik ya, maaf kita belum bisa ke sana…” Kata Eyang Koko.
“Iya ayah, Raya akan selalu jaga mereka”
“Mbak Raya, Tita pulangnya besok pagi ya, jangan khawatir aku siap antar, sampai Surabaya aja sih, nanti urusan
selesai aku akan mampir Malang” Sahut Jason seraya mengambil hp dari Eyang Koko sambil cengar-cengir. Laki-laki baya itu hanya menggeleng.
“Kenapa nggak sekalian turun ARS saja sih baru ke Surabaya”
“Yeee itu kan maunya Mbak Raya, udah ah, kita mau reunian dulu, dah bye, assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam” Raya tersenyum mengakhiri video call dengan keluarganya, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang mengawasinya dengan tajam.
“Ehm” Deheman itu membuat Raya mendongak dan reflek berdiri.
“Tuan…”
“Siapkan berkas meeting, segera!” Kata Asisten Je langsung berbalik menuju ruangannya.
“Baik” Raya bergegas menata berkas yang akan dipakai meeting bersama seluruh staf direksi dan beranjak ke ruangan meeting untuk mengkondisikan rapat agar bisa berjalan dengan lancar.
Meeting berjalan dengan lancar sesuai yang diharapkan oleh Raya, tinggal pelaksanaan lapangan untuk memantau
pengerjaan pembangunan hotel yang akan segera dibangun. Tugas lapangan pun sudah ditentukan oleh Asisten Je dan keberuntungan berada di tangan Raya, ia termasuk salah satu staf sekretaris yang harus terjun langsung agar segera bisa melaporkan kondisi pengerjaan hotel.
Walaupun ia pekerjaannya mengharuskan ia berada di luar kantor bukan berarti ia bisa seenaknya memanfaatkan waktu, ia termasuk seorang pekerja yang profesional dan ia selalu berpegang teguh pada komitmen itu agar bisa dipercaya sebagai pegawai yang profesional.
Dah yah, tiga aja dulu, ini mau mikir lagiii, apa ada ide nih readers....sumbang dong.....
__ADS_1