Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 20 Kita di perumahan yang sama?


__ADS_3

Hari Sabtu merupakan hari santai bagi


Raya, karena ia bisa kembali melakukan rutinitas lari paginya bersama kedua


anaknya. Di hari biasa ia diharuskan berada di kantor sebelum asisten itu


datang, sehingga rutinitas pagi itu tidak bisa dilakukannya.


Titania dan Hanum bersiap di teras


menunggu mamanya yang masih berada di dalam rumah. Hanum terlihat menoleh ke


kanan dan ke kiri, dari arah kanan ia melihat seorang laki-laki yang tengah


berlari dan akan melewati rumah mereka. Tampak laki-laki itu memakai trining


abu-abu dan kaos kasual lengan pendek yang menampilkan otot lengannya yang


tampak bagus. Gadis kecil itu berdiri di depan halaman rumahnya dan tampak


tersenyum genit seraya menggerakkan tubuhnya seperti malu-malu kucing.


“Monin om danten” Sapanya malu-malu.


Laki-laki itu menoleh sekilas, namun langsung mengalihkan pandangannya kembali ke


arah depan tanpa memperdulikan binar malu pada wajah mungil itu.


“Hanum, apaan sih, masih kecil juga!”


Ketus Titania seraya menepuk pelan lengan adiknya membuat gadis kecil itu


langsung menangis. Hal itu sempat di dengar juga oleh Asisten Je, namun ia tetap


berlari menjauh. Raya langsung menghampiri Hanum yang menangis.


“Huaaa mama” Tangisnya semakin keras


melihat Raya mengampirinya.


“Ada apa sayang?” Raya menghapus air


mata di pipi anak gadisnya.


“Tak Tita ahat, ubit Anium” Ceritanya


sambil menangis. Raya menatap Titania meminta penjelasan.


“Hanum genit ma, masak ada om-om lewat


disapa dengan centil”


“Eh…apa benar Hanum?” Raya tidak habis pikir


dengan tingkah menggemaskan Hanum ini. Gadis kecil itu memainkan dua ujung jari


telunjuk nya merasa bersalah.


“Aap” Ucapnya sambil menunduk, Raya


menghela nafas pelan kemudian tersenyum seraya mengelus kepala putrinya.


“Iya mama maafin, lain kali kalau


menyapa yang sopan ya…”


“Leh capa?” Raya mengangguk tersenyum,


membuat gadis kecil itu kembali ceria.


“Yuk jalan, keburu panas nanti” Mereka


bertiga memulai acara lari paginya dengan suasana yang ceria.


Titania berlari terlebih dahulu


meninggalkan Raya dan Hanum, karena tahu pastilah langkah Hanum yang pendek dan


kadang meminta berhenti dengan alasan capek. Setelah kurang lebih 30 menit


mereka berlari, Hanum minta istirahat lagi di pasar dadakan yang menyediakan


aneka jajanan, Raya tahu pasti anaknya itu meminta sesuatu nantinya.


“Mama, mau itu” Tunjuk Hanum ke arah


gerobak yang menjual kue dorayaki nya doraemon.


“Hanum mau kue itu? Mama buatin aja


yah?” Tawar Raya, bukan berarti takut higienisnya tapi Raya takut anaknya akan


keterusan meminta.


“Mau itu…hiks hiks” Raya menghela nafas


pelan, kalau sudah acting nangis gini, Raya pun tidak tega.


“Sekali aja ya, kalau Hanum nanti


pingin biar mama buatin”


“Iyah” Kata Hanum ceria, tuh kan cepet


bener perubahan wajahnya.


“Hmmm, Kak Tita ada yang dibeli juga?”


Tawar Raya namun gadis itu menggeleng.


“Tolong jaga adeknya ya” Titania hanya


mengangguk seraya cemberut.


“Lain kali tuh gak usah repotin mama


kayak gitu, masih enak kue buatan mama” Kata Titania dengan nada ketus.

__ADS_1


“Tapi Anium pinin” Ekspresi wajah gadis


cilik itu sudah memelas dengan berkaca-kaca.


“Huh, gak usah cengeng napa” Hanum


sudah menampilkan mimik muka yang mau nangis, membuat Titania berdecak sebal.


Ia akhirnya merayu Hanum agar tidak menangis.


“Iya deh kakak minta maaf, aku beliin


es krim mau?” Bujuk Titania membuat mata Hanum langsung berbinar cerah dan aura


tangisnya langsung hilang. Wah…bener-bener, kecil-kecil sudah pandai drama


rupanya dia. Hehehe.


“Mau-mau, yan totat ya” Titania


mengangguk.


“Hanum jangan kemana-mana, duduk diem


sini”


“Iyah” Angguk Hanum patuh. ia


mengayunkan kedua kakinya di kursi taman sambil melihat ke arah kakaknya yang berjalan


membeli es krim. Pandangannya memutar melihat mamanya mengantri di tukang jual


dorayaki dan ia melambai saat mamanya menoleh. Pandangannya beralih menoleh ke


sebelah kiri, ia melihat seseorang yang dikenalnya sedang berjalan santai


seorang diri. Bibir gadis kecil itu tersenyum kemudian berdiri, lupa sudah


peringatan dari kakaknya dan berlari menghampiri seseorang itu, namun tanpa di


duga Hanum tersandung paving yang agak rusak di taman membuat gadis kecil itu


terjatuh dan menangis.


Asisten Je yang melewati taman untuk


kembali pulang melihatnya jatuh dan reflek membantu Hanum dengan mengangkat


badannya dan membersihkan lututnya yang berdarah dengan mengusap-usap lututnya


dari tanah yang menempel. Dia lupa tidak memakai sarung tangan tapi reaksi yang


ia dapat sangat mengejutkan dirinya, karena tidak ada rasa gatal dan jijik. Apa


karena gadis yang ditolongnya masih kecil?


“Om danten…acih” Asisten Je yang entah


mengapa ia mengerti bahasa gadis kecil itu tersenyum singkat. Ia mengingat


dari Raya?


“Kenapa sendirian di sini? Mana


mamanya?”


“Mama li tue, Tak Tita li ekim”


“Hah?”


“Ih…Mama li tue, Tak Tita li ekim”


“Kue? Es krim?” Hanum mengangguk.


“Lukanya gimana? Pasti sakit…“ Hanum


hanya meringis sedikit.


“Ti obat mama”


“Ayo aku antar ke mamamu” Hanum dengan


antusias  menggandeng tangan Asisten Je


yang membuat Asisten Je semakin terkejut, ia terdiam sebentar menunggu reaksi


gatal-gatal dan kemerahan di kulitnya. Ia menunduk mengamati tangannya yang di


genggam oleh Hanum, ia sampai tidak percaya, tangannya benar-benar tidak ada


efek gatal dan bintik kemerahan. Apakah ia sudah sembuh atau karena gadis ini


masih kecil dan belum mengenal kejamnya dunia? Asisten Je hanya menggeleng-geleng


tak percaya.


“Napa Om?” Hanum memandang heran.


“Ah…itu…” Belum selesai Asisten Je menjawab


ada suara bentakan di belakangnya.


“Hei lepasin tangan adikku!” Seru


Titania seraya berlari. Reflek dia menggeplak tangan Asisten Je keras seraya


memisahkan genggaman laki-laki dan adiknya hingga laki-laki itu melepas


tangannya. Kembali ia diam menunduk memandang ke arah tangan kanannya menunggu


reaksi selanjutnya tapi yang ia juga heran kali ini sentuhan keras itupun tidak


menimbulkan reaksi apa-apa. Asisten Je memandang gadis yang membentaknya tadi


dengan takjub sekaligus tajam.


“Apa maksud Anda mau membawa adikku? Om

__ADS_1


penculik ya?” Tanya Titania dengan tatapan curiga dan menyembunyikan Hanum di


belakang tubuhnya. Gadis kecil itu terus menarik ujung bajunya.


“Diamlah!” Hanum langsung berkaca-kaca


karena dibentak Titania.


“Eh…jangan salah ya!” Balas Asisten Je


tak kalah sengit. Ia sungguh tak terima dikatai penculik oleh gadis yang jauh


sekali usianya di bawahnya.


“Huh, penampilan aja keren, tapi sayang


tampang penculik!” Kata Titania pedas membuat Asisten Je membelalak tak


percaya. Ia dikatakan penculik oleh anak kecil.


“Hei kau…”


“Apa?! Aku akan teriak kalau Anda mau


macam-macam.” Peringat Titania dengan mode galak.


“Hei, adikmu jatuh, aku hanya menolongnya,


emang dari mana tampang penculik hah?!” Sergah Asisten Je, ia merasa heran juga


kenapa ia begitu meladeni tingkah bocah itu bahkan berdebat dengan kalimat


panjang. Titania mengawasi lutut Hanum dan memang benar lutut Hanum tergores


dan mengeluarkan darah.


“Dasar ceroboh, kakak kan sudah suruh


tunggu!” Marah Titania, ia mendudukkan Hanum di kursi taman dan menyerahkan es


krim coklat ke Hanum. Gadis kecil itu menerima dengan ekspresi bersalah dan


mata yang berkaca-kaca.


“lutut adikmu perlu segera di beri obat


nanti infeksi” Kata Asisten Je merasa kasihan juga.


“Sudah tahu!” Jawab Titania ketus


membuat Asisten Je melotot. Gadis ini mulutnya kenapa pedas sekali…


“Hei…!”


“Lho…Kak Tita kenapa dengan Hanum?”


Tanya Raya yang telah kembali dari membeli kue dorayaki, melihat lutut Hanum


berdarah sontak tas plastik berisi kue dorayaki langsung ia jatuhkan begitu


saja, namun belum sampai jatuh ke tanah ada tangan yang langsung menangkap tas


plastik itu.


“Mama…Huaaa” Hanum menodongkan kedua


tangannya minta digendong Raya.


“Hmm cup-cup…sudah-sudah jangan nangis,


kita obati di rumah ya…” Hanum mengangguk kemudian Raya menggendong Hanum untuk


dibawa pulang namun langkahnya langsung terhenti karena melihat atasannya


berdiri di depannya.


“Astaghfirullah…Tuan?” Asisten Je hanya


mendengus.


“Jangan suka ninggalin anak sendiri,


nih!” Asisten Je menyerahkan tas plastik yang tadi dilempar Raya, kemudian


berlalu dari sana.


“Kenapa Tuan bisa ada di sini?” Tanya


Raya curiga, Asisten Je yang baru mau melangkah menatap jengah.


“Aku tinggal di perumahan xxx”


Jawabnya.


“Hah? Kita tinggal di perumahan yang


sama? Bagaimana bisa? Tuan bukan memata-matai saya kan?” Tanya Raya kaget


sekaligus mencurigai Asisten Je.


“Memang kamu orang penting hah?” Marah


Asisten Je membuat Raya terdiam cukup lama.


“Obati segera anakmu…” Kata laki-laki


itu kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.


“Ayo mama…” Hanum sudah meringis


merasakan luka di lututnya.


“Ah…iya, ayo kita pulang” Raya bersama


Titania berjalan beriringan menuju ke rumah dengan pikiran yang masih bingung.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2