Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 42 BERI RUANG UNTUK KU


__ADS_3

Sampai di kantor, Raya langsung berpisah cepat-cepat berlari menuju ke divisi sekretaris untuk menghindari  kecanggungan yang dia hadapi dan untuk menghindari gossip dari sesama rekannya. Dari kejauhan Teja sudah terlihat menatapnya dengan pandangan menyelidik dan kedua tangan bersedekap, menanyakan semua yang ingin ia ketahui.


“Diam dan simpan” Kata Raya singkat dan tegas, tanpa memberi celah bagi Teja untuk bertanya lebih lanjut. Ia masuk ke ruangan divisi dan disambut oleh semua yang hadir. Mereka tampak ceria, karena produk yang mereka rancang mulai membuahkan hasil gemilang di pasaran, banyak kalangan anak muda yang mengagumi desain perhiasan yang di desain langsung oleh Raya selaku desainer dadakan karena insiden hacker beberapa waktu yang lalu. Teja mengikuti di belakangnya dalam diam.


Setelah semua laporan ia serahkan dan mengadakan meeting sebentar dengan ketua tim, mereka mulai menyebar ke ruangan-ruangan yang menjadi tugas mereka sebagai sekretaris dan melaksanakan tugas dengan tanggung jawab.


Raya langsung menuju lift dan naik ke lantai tujuh, ia melangkah cepat ke arah ruangannya, malas sekali kalau harus ke ruangan atasannya. Biarlah, yang penting tugas beres, tinggal menyiapkan apa yang diperlukan untuk visit journey ke beberapa anak cabang di berbagai kota tiga hari lagi. Salah satunya karena Tuan Muda Alvero mendengar terjadi kekacauan dana dan penggelapan di beberapa perusahaan emasnya. Raya masih belum  mempunyai kesempatan untuk membicarakan masalah ini kepada kedua putrinya, ia akan bicara pelan-pelan dan memberi pengertian pada mereka tentang tugasnya di luar kota.


Asisten Je dan Raya yang mendapatkan tugas sebagai auditor harus siap mental dan raga untuk menyelesaikan  permasalahan tersebut tanpa harus menempuh jalur hukum. Kalau terpaksa, harus dia ambil jalan damai untuk menyelesaikannya tanpa kedua belah pihak merasa dirugikan. Kecuali kalau memang terbukti terjadi penggelapan dana bahkan mark up dalam jumlah besar yang memungkinkan perusahaan rugi, maka yang bersangkutan mau tidak mau harus diproses secara hukum yang berlaku.


“Bagus ya, pagi-pagi sudah rumpi dengan laki-laki gak jelas” Sindir Asisten Je begitu Raya memasuki ruangannya. Wanita itu terkejut bukan main, ia menoleh sejenak ke arah pintu untuk memastikan bahwa ia tidak salah masuk, kemudian ia melihat mejanya, benar kok, ada namanya di meja itu.


“Ada meeting dengan ketua tim, Anda bisa bertanya kepada Bu Dina” Jawab Raya malas, “dan kenapa Anda jadi selalu ingin tahu urusan orang?” Tanyanya lagi dengan memicingkan mata.


“Kita sudah menikah kalau kau lupa” Tegas Asisten Je tegas.

__ADS_1


“Sirri saja kok bangga” Cibir Raya, tapi sedetik kemudian wajahnya langsung pias mendapati wajah kelam di depannya.


“Aku bisa menjadikannya sah di mata hukum sekarang juga” Tegasnya tajam menatap tak suka pada Raya. Wanita itu gelagapan, ia segera menggeleng-geleng cepat.


“Maaf Tuan, saya mohon jangan…” Raya sampai menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Sampai segitunya kamu tidak suka menikah denganku?” Mata Asisten Je memicing curiga.


“Tidak, eh, maksud saya, bukan begitu, saya hanya…”


.


.


“Selamat siang Raya…” Sapa seorang laki-laki berpostur gagah yang langsung menjajari langkahnya menuju ke ruang meeting. Wanita itu terlambat hadir, hanya 2 menit sih itu pun karena harus mempersiapkan agenda yang akan dibahas dalam meeting tersebut.

__ADS_1


“Selamat siang Tuan.” Jawab Raya singkat sambil terus berjalan.


“Ah…tidak bisakah kamu panggil namaku saja?” Tanya laki-laki itu seraya menahan lengan Raya agar berhenti sebentar.Wanita itu menoleh terkejut dan segera menepis tangan Aditya. Ya, laki-laki yang menyapa Raya adalah Aditya, pengusaha sekaligus sang kapten.


“Tidak” Jawab Raya lugas dan tegas,kemudian bergegas mendului memasuki ruangan meeting room, yang langsung disambut tatapan ganas dari sepasang mata di sebelah Tuan Muda Alvero. Raya hanya menunduk pasrah seraya duduk di sebelahnya.


Rapat dimulai dengan berbagai opsi yang disampaikan masing-masing perwakilan. Dengan kesepakatan bersama akhirnya menghasilkan keputusan auditor pembangunan hotel sekaligus pemeriksaan ke beberapa kota dilakukan oleh Asisten Je, Raya, Andre asisten Aditya dan Aditya selaku pemegang saham kedua di perusahaan Tuan Muda Alvero dan seorang pengusaha muda lainnya yang berasal dari Jakarta, kebetulan hari ini ia tidak bisa hadir jadi diwakili oleh Hansen asistennya.


“Tidak bisakah kamu memberi ruang untukku berbicara santai Raya?” Aditya menjajari langkah Raya setelah keluar  dari ruang meeting. Ia sengaja menunggu wanita itu keluar dari ruangan, ingin sekali ia megungkapkan apa yang dirasakannya selama ini. Hal yang sangat langka terjadi pada dirinya, karena baru kali inilah ia merasakan perasaan yang berbeda terhadap seorang wanita.


“Maaf Tuan, ini di jam kerja…” Aditya menangkupkan kedua telapak tangannya di dada dengan pandangan memohon. Raya menghela nafas pelan, ia tidak tega melihat wajah penuh harap itu, tapi ia lebih tidak tega menyaksikan kekecewaan yang akan dihadapi laki-laki itu nanti ketika ia tahu bagaimana statusnya. Raya tidak mau munafik, ia suka berteman dengan banyak orang dan ia sempat punya sedikit rasa pada Aditya, namun keadaan membuat semuanya berubah. Ia bukannya kegeeran merasa Aditya suka padanya tapi ia sangat paham jenis laki-laki yang menginginkan hubungan yang lebih dari seorang teman dan Raya menyadari apa yang dirasakan oleh Aditya.


“Please… kali ini saja, setelah itu terserah bagaimana sikapmu padaku.” Kata Aditya kemudian.


“Baiklah, hanya 10 menit, di taman depan kantor.” Aditya mengangguk seraya tersenyum lebar, ia bergegas melangkah mengikuti Raya. Sementara itu dari balik pintu Asisten Je keluar dengan mengepalkan kedua  tangannya. Laki-laki itu melangkah mengikuti kedua orang di depannya.

__ADS_1


__ADS_2