
Keberangkatan Titania dan rombongan dari sekolahnya telah berkumpul di bandara Abdul Rahman Saleh, mereka menunggu panggilan untuk masuk pesawat. Dan hal itu dimanfaatkan oleh Raya untuk memeluk putri sulungnya itu erat yang malah membuat Titania merajuk.
“Mama, malu ah, Tita udah besar, bisa jaga diri” Ucap Titania di pelukan mamanya.
“Mama tahu sayang, maafin mama nggak bisa dampingi ya, jaga dirimu” Pesan Raya seraya mengelus rambut Titania. Gadis itu mengangguk tersenyum kemudian melambai ketika panggilan dari pengeras suara sudah terdengar begitu kencang.
Setelah mengantar putrinya Raya langsung berangkat ke kantor karena ijinnya tidak lama, bisa mengaum keras Srigala itu di kantornya. Untuk sementara selama Pak Malik berada di rumah sakit Raya berangkat sendiri menyetir mobilnya, ia tidak ingin mengganggu kenyamanan laki-laki tua itu dalam menunggui anaknya.
Tiba di kantor, ia langsung naik lift khusus karyawan dan di sambut senyum lebar oleh rekan sesama sekretaris yang kebetulan berada di dalam lift.
“Wah Ra, kamu beruntung banget, barusan Pak Bos marah besar mencari keberadaan mu di divisi, huh, ketiadaanmu benar-benar membuat kami tak berdaya Ra” Sambut Teja dengan mimik muka serius.
“Oh ya, padahal aku udah ijin lho”
“Aku rasa Asisten Je sudah masuk dalam pesonamu deh Ra, buktinya ditinggal bentar aja langsung kebakaran jenggot” Ledek Teja, membuat Raya membulatkan matanya.
“Bisa aja kamu Ja, udah ah, tuh lantai 5”
“Jangan lupa janjian kita makan siang nanti” Teriak Teja dari luar lift. Raya melambai pada rekannya itu dan lanjut
sampai lift berhenti di lantai 6, ia memasuki ruangannya kemudian meletakkan tasnya di kursi dan membuka laptop untuk memulai aktifitas kerjanya. Dia tidak tahu saja bahwa saat ini di ruang kerjanya Asisten Je masih uring-ringan
dengan beberapa bawahannya yang lagi-lagi kena semprot karena kerjanya belum beres. Lamat-lamat Raya mendengar seruan keras dari ruang sebelahnya, buru-buru ia berlari pelan menuju ruangan bosnya.
Tok
Tok
“Masuk!” Seru suara di dalam dengan nada marah. O..o, awas saja kamu Ra kena imbasnya, batin Raya tersenyum miris. Ia membuka pintu perlahan dan memasuki ruangan Asisten Je yang langsung sunyi senyap. Semua pasang mata di depan pria arogan itu menatap dengan pancaran terima kasih karena merasa terselamatkan dari amukan Srigala Ganas. Sementara tatapan tajam seolah menusuk jantungnya tertuju pada dirinya.
“Maaf Tuan…” Suara Raya terputus oleh teriakan Srigala Jantan itu.
“Keluar kalian semua!” Perintahnya yang langsung membuat mereka semburat keluar dari ruangan Asisten Je termasuk Raya.
“Mau kemana kamu, tetap di sini!” Sentak Asisten Je tajam yang membuat Raya langsung terhenti. Entahlah kenapa dia tiba-tiba berhenti, ia merasa seolah perintah itu ditujukan untuknya. Ia berbalik menghadap bosnya tersebut dengan menunduk.
__ADS_1
“Kamu semakin melunjak ya, kemaren 4 jam sekarang 1 jam, kamu sudah merasa hebat hah?!” Sentak Asisten Je dengan tatapan masih tajam.
“Maaf Tuan, saya sudah mengirim pesan ke hp Tuan tadi pagi sekali…”
“Dan kau mengabaikan panggilanku sampai berapa kali? Sebegitu pentingkah urusanmu?” Tanya pria itu masih dengan sikap arogan. Raya menghembuskan nafas pelan. Sabar, lirih dalam batinnya. Kekerasan tidak akan bisa diredam dengan kekerasan juga.
“Saya mengantar putri saya berangkat olimpiade ke bandara Tuan, saya sebagai seorang ibu tidak akan tega melepas putrinya pergi sendiri Tuan” Ucapnya pelan. Sejenak mata Asisten Je terkejut namun sedetik kemudian wajah itu sudah normal kembali. Datar dan dingin.
“Sudahlah, siapkan berkas yang kemaren aku suruh, pukul 09.00 akan ada meeting besar di ruang rapat” Ujar Asisten memutus pembicaraan.
“Baik Tuan, saya permisi” Raya mengangguk kemudian berbalik keluar menuju ruangannya. Raya menyiapkan semua berkas yang diperlukan untuk meeting bersama seluruh pengusaha yang bernaung dibawah Diamond Jewerly dan yang berusaha meminta investasi untuk bisnis perhotelan dan tambang di Kalimantan. Hal inilah yang membuat perusahaan hari ini sibuk mempersiapkan semua keperluan meeting.
Saat ini di ruangan meeting sudah berkumpul seluruh peserta meeting dan satu persatu mereka mulai mempresentasi kan brand perusahaan mereka yang nantinya akan mendapatkan suntikan dana dari Diamond Jewerly sebagai perusahaan perhiasan terbesar di Asia dan beberapa negara Eropa. Waktu 4 jam untuk meeting telah membuahkan kesepakatan yang menguntungkan bagi perusahaan dan beberapa pemegang saham yang ingin bergabung.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00, saatnya istirahat. Raya membereskan berkas yang sudah selesai ia rekap tinggal melaporkan setelah makan siang. Ia mengambil tasnya dan melangkah keluar ruangan, ia akan makan siang bersama teman-temannya yang sudah lama tidak bersama lagi.
“Mau kemana kamu?” Tanya suara berat dan tegas di belakangnya saat ia menutup pintu. Ia langsung berbalik kaget.
“Tuan bikin kaget saja sih” Protesnya agak cemberut yang malah membuat mata di depannya gerah karena merasa gemas dengan bibir tipis seksi yang malah maju itu.
“Saya permisi makan bersama teman-teman Tuan…”
“Kamu…” Ucapan pria itu terpotong saat kemunculan CEO Alvero di belakang mereka.
“Je, kita ke hotel xxx sekarang, biarkan sekretarismu istirahat” Alvero menatap tajam ke arah Asisten Je.
“Baik Tuan” Pria itu mengangguk dan melirik ke arah Raya yang tersenyum penuh kemenangan karena lepas dari arogansi Sang Srigala.
“Oya Raya, istriku berpesan untuk membawa anakmu ke rumah, sesuaikan dengan waktumu” Perintah Alvero seraya menatap Raya. Wanita itu membelalakkan matanya terkejut. What? Istri bosnya ingin bertemu lagi dengannya dan sekarang ingin dengan anaknya juga?
“Baik Tuan Muda, tapi putri sulung saya masih ada even olimpiade di Jakarta, mungkin baru minggu depan kembali ke Malang” Jelasnya.
“Okelah istriku bisa menunggu untuk itu, ayo Je” Alvero melangkah meninggalkan dua orang bawahannya yang masih berdiri tegak di depan pintu ruangan Raya. Wanita itu menatap jengah ke arah Asisten Je yang masih melotot tak terima.
“Kenapa? Jangan-jangan…” Ucapan Raya terpotong.
__ADS_1
“Apa?!” Ketus Asisten Je. Raya menutup mulutnya dengan tangan kanannya, tampak meringis lucu. Entah kenapa ada sebersit pikiran untuk mengerjai asisten itu.
“Apa benar kata teman-teman saya?”
“Kenapa memangnya?” Tanya Asisten Je seraya mengernyit heran. Raya maju selangkah dan sengaja mendekatkan mulutnya ke telinga Asisten Je membuat desiran halus pada dada pria itu.
“Anda telah terpesona dengan saya” Bisik Raya mesra kemudian tertawa ringan seraya berlalu menuju lift karyawan tanpa memperdulikan reaksi wajah Asisten Je yang sudah merah padam karena malu dan shock berat. Laki-laki itu segera berlalu menuju ke arah lift pimpinan dimana Alvero telah siap di dalam lift. Untung CEO itu tidak melihat interaksi mereka berdua, Asisten Je tidak akan sanggup menerima ledekan dari atasannya itu.
Sementara itu Raya telah bersama kelima rekan sesama divisi sekretaris di kafe dekat perusahaannya. Mereka tengah menikmati hidangan yang tersaji seraya bercanda.
“Tumben Ra kamu dibolehin gabung sama kita-kita” Kata Teja sambil menyuap nasi padang ke mulutnya.
“Iya bener, biasanya Mbak Raya kan selalu menemani Asisten Je, pisah barang sedetik aja sudah segitu hebohnya”
Timpal Weni antusias.
“Hih, kalian ini ngomong apa sih, yang namanya istirahat ya berarti istirahat, kalau pas gak keluar itu artinya lembur”
Sangkal Raya.
“Tapi mbak, selama ini Asisten Je itu jarang lho betah sama sekretaris wanita, yang sering itu hanya bertahan selama satu minggu, bahkan terakhir sebelum Mbak Raya di sini sekretaris itu hanya bertahan selama dua jam saja, bayangin aja gimana kerjanya sampai ia nggak betah coba” Jelas Wita panjang lebar dengan mulut yang tetap mengunyah makanan.
“Jangan-jangan Asisten Je mulai…” Tebak Reni sambil memandang Raya takjub. Raya langsung memukul lengan gadis itu.
“Jangan sok tahu kamu” Sergahnya.
“Eh mbak gini ya, secara sekretaris yang paling lama di sisi Asisten Je itu Mbak Raya, dan sepertinya dia tidak
pernah risi mbak ada di sampingnya, padahal beuh…ada cewek yang mandeng dia aja tatapannya langsung tajam…” Jelasnya lagi.
“Iya setajam silet” Sahut Wisnu kocak membuat keenam orang itu tertawa lepas.
“Haahhh, sudah-sudah, ayo cepet selesaikan makan kalian, aku mau segera balik nih, jangan sampai aku datang
yang diomongin sudah di kantornya, hiii” Raya bergidik ngeri disambut gelak tawa semua rekannya. Mereka segera menyudahi acara makan siang gratis yang ternyata semua makanan di traktir sama Raya dan segera Kembali ke divisi masing-masing.
__ADS_1
Hallow readers ku, maaf yaa baru upate...gak banyak deh cuap-cuapnya, semoga suka...jangan lupa like, komen, hadiah, dan votenya yaaa...terima kasih yang sudah kasih like....