Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 40 Tidak Usah Sok Kenal!


__ADS_3

Malam hari pukul 20.00 wib. kantor sudah benar-benar sepi, tinggal beberapa orang saja yang melakukan lembur, tak terkecuali Raya dan Asisten Je. Wanita itu mengemasi barang-barangnya dengan rapi ke dalam rak dan laci meja, setelah bersih ia bergegas mengambil tasnya dan keluar dari ruangannya. Langkahnya langsung terhenti kala membuka pintu, matanya terbelalak dengan indahnya menatap sesosok tubuh tegap berdiri gagah di depan pintu ruangannya. Ekspresi wajahnya kembali di buat sedatar mungkin.


“Kenapa?” Tanyanya malas. Laki-laki itu hanya mendengus.


“Aku antar” Katanya datar.


“Pak Malik sudah menjemputku” Tolaknya ketus.


“Bilang mulai sekarang tidak usah antar jemput” Perintahnya tegas, “dan tidak ada penolakan!” Tegasnya lagi ketika melihat Raya membuka mulut hendak protes. Asisten Je berbalik acuh menuju ke lift pimpinan.


“Arogan!” Lirih Raya kesal.


“Aku dengar…” Kata Asisten Je seraya menekan tombol lift dan menunggu pintu terbuka, sementara Raya hanya mengikuti dengan wajah kesal dan cemberut. Pintu terbuka dan mereka masuk dengan posisi Raya berada di belakang Asisten Je, laki-laki itu membiarkan saja. Raya mengirim pesan singkat ke Pak Malik untuk tidak usah menjemputnya malam ini.


“Kamu pulang…” Kata-kata Asisten Je terhenti.


“Saya pulang ke rumah saya, di dalam dan di luar kantor Anda tetap atasan saya, jadi saya tetap pulang ke rumah saya” Jelas Raya panjang lebar.


“Ck…kamu dengar dulu, main potong saja” Sergah Asisten Je seraya menoleh ke belakang.


“Malam ini iya, tapi selebihnya kamu pindah ke rumahku, itu akan memudahkan kamu menghendel urusanku, hitung-hitung latihan ketika nanti kita sudah lawatan ke beberapa anak cabang di luar kota”


“Tidak bisa begitu Tuan” Protes Raya kesal, “bagaimana dengan anak-anak saya” Lanjutnya lagi.

__ADS_1


“Aku tidak keberatan mereka tinggal bersamaku” Ujarnya enteng, apalagi ia sudah kangen sekali ingin bertemu dengan gadis cilik menggemaskan itu.


“Tidak bisa, kita tetap tidak akan satu rumah, pernikahan ini terjadi hanya sekedar melaksanakan tugas lapangan ke beberapa kota, jadi saya kira tidak perlu harus serumah juga”


“Kamu lupa wali hakim tadi bilang apa?”


“Tidak, tapi tetap saya tidak setuju, saya tetap tinggal dengan anak-anak saya dan saya tidak mau anak-anak saya tahu mengenai hal ini” Tolak Raya mentah-mentah.


Laki-laki itu akhirnya menghela nafas pasrah, jelas sangat sulit mengubah pandangan seorang wanita yang keras kepala. Untuk sementara Asisten Je akan mengikuti apa yang di mau wanita di belakangnya, perlahan akan ia coba untuk mengubah pandangannya tentang diriku.


.


.


“Bisa dong kak, pukul 08.00 kan? Mama akan ijin untuk besok, o iya untuk pendaftaran sekolah sudah beres kan?” Tanya Raya. Titania mengangguk sambil mengunyah suapan nasi goreng ke mulutnya. Bu Rumi datang dari dapur membawa jus jeruk dan meletakkan di meja.


“Terima kasih bu, ibu sudah makan juga? Ayo bareng sini bu” Ucap Raya.


“Sudah kok nak, tadi bantuin Mbak Nanik masak terus sarapan sama-sama, o iya Mbak Nanik ijin sebentar tadi, katanya ada keperluan sebentar” Jawab Bu Rumi.


“Iya bu…”


“Nenek nanti jagain Hanum kan?” Tanya gadis kecil itu seraya mencomot sosis ke dalam mulutnya. Raya tertawa gemas melihat pipi anaknya berlepot saus, ia mengambil tissue dan melapnya.

__ADS_1


“Hati-hati sayang, nanti kena seragamnya kotor jadinya” Peringat Raya pelan.


“Iya mama…” Gadis itu kembali melihat ke wajah Bu Rumi yang tampak bingung, ia belum menyelesaikan beres- beres karena Mbak Nanik masih belum datang, untuk meninggalkan rumah dalam keadaan berantakan juga tidak enak.


“Tidak apa bu, masalah rumah nanti aja di atur, Raya juga nggak bisa nganter soalnya, nanti Pak Malik langsung yang antar jemput ya.”


“Baiklah Nak Raya”


“Ma, bolehkah daddy ikut datang di wisuda Tita?” Titania memandang penuh harap pada mamanya. Dulu waktu kelulusan SD, ia tidak ikut hadir karena terkena covid-19. Masa ini, ia ingin sekali kelulusannya bisa dihadiri oleh daddy dan mamanya.


“Boleh sayang, kalau daddy tidak sibuk dan bersedia datang.” Titania tersenyum seraya mengangguk.


Acara sarapan mereka selesai dan masing-masing segera bersiap untuk melaksankan tugas rutin tiap harinya. Terdengar bunyi klakson di depan rumah. Raya yang tanggap langsung berdecak sebal, sementara Titania menaikkan alisnya melihat reaksi mamanya. Apa laki-laki penculik itu yang datang menjemput mamanya lagi?


Dengan menyandang tas sekolah Titania segera berpamitan kepada mamanya, Raya ingin mengingatkan untuk tidak membuat masalah, tetapi gadis itu sudah menghilang di balik tembok. Wanita itu menghela nafas pelan, sebelum berangkat ia harus menyiapkan keperluan sekolah Hanum.


“Ada apa lagi?!” Tanya Titania menatap tajam ke arah laki-laki yang sudah berdiri di samping pintu mobil. Tangannya bersedekap di dadanya tanda tak suka dengan kehadiran laki-laki itu.


“Mau berangkat? Mau om antar?” Tawar Asisten Je mencoba ramah. Ia harus bisa mengambil hati si sulung terlebih dahulu.


“Tidak usah sok kenal!” Ketus Titania tidak suka.


Laki-laki itu menghela nafas pelan, sabarrrr.

__ADS_1


__ADS_2