
Tampak dari kejauhan Tuan Besar Hardi dan Nyonya Besar Laras berlari kecil menuju ke arah Asisten Je dan Antoni berada. Kedua orang itu menunduk hormat sebagai salam.
“Bagaimana keadaan menantuku?” Tanya Laras.
“Alhamdulillah, sudah lahiran nyonya” Jawab Asisten Je sopan.
“Syukur alhamdulillah” Laras menangkupkan kedua tangannya di dada.
Kembali dalam ruangan bersalin, Alvero tampak menghela nafas besar namun lega. Padahal ini sudah bukan yang pertama kalinya, tapi tetap saja dia bersimbah peluh dan air mata. Laki-laki itu terduduk lemas di kursi, ia kembali menangis.
Rasa ketakutan menderanya ketika istrinya merasakan kontraksi panjang tadi, dia membayangkan adegan pertama istrinya melahirkan dulu, sangat menyiksa, apalagi yang dilahirkan istrinya kembar.
Kini ketakutan itu kembali menderanya namun rasa syukur lebih besar ketika istrinya berhasil melahirkan putranya dengan selamat.
Tim dokter yang membantu persalinan juga menarik nafas lega penuh rasa syukur.
“Tuan Muda lahir dengan sehat Nona, beratnya 3,5 kilo gram dan panjangnya 55 cm. Selamat untuk Tuan Alvero dan Nona Meili” Ucap dokter wanita menyeka keringat di keningnya dengan lengan bajunya. “Kami akan membersihkannya dulu sebelum dibawa kembali ke sini”
“Terima kasih dokter” Ucap Meili dengan rasa syukur.
“Sayang, terima kasih telah bersedia melahirkan putraku lagi” Alvero mengecupi wajah istrinya sayang. Meili masih terbaring lemah di tempat tidur.
“Terima kasih juga sayang, sudah mau menemaniku” Meili berkata lirih.
Dua suster mendatangi ranjang Meili terbaring sambil membawa beberapa peralatan untuk membersihkan perdarahan setelah melahirkan.
__ADS_1
“Mohon maaf Tuan Alvero, kami akan melakukan perawatan, mohon Tuan menunggu di luar” Ucap salah satu suster dengan gemetar, takut kalau-kalau Tuan Muda itu marah karena merasa di usir.
Alvero mengangguk mengerti, “lakukan yang terbaik, pindahkan ke kamar vvip” Perintahnya lagi. Sebelum keluar ia kembali menciumi wajah istrinya terakhir bibirnya.
“Aku menunggu di luar” Di genggamnya tangan istrinya kemudian ia berlalu setelah istrinya tersenyum mengangguk.
(Suamiku nggak romantis, aaaa aku iri Nona Meili: batin suster Eka, salah satu suster yang menangani Meili)
(Hiks hiks hiks, aku iri, aku jomblo, aku hanya bisa gigit jari: batin Suster Nena, suster satunya lagi)
(Aku bahagia, suamiku melakukan yang terbaik padaku saat aku melahirkan putra putriku: Mbak Author)
(Ngikut aja kamu thor: Kata Asisten Je dengan wajah mengejek)
(Diam kau asisten galak bin jelek!: Judes Mbak author memasang wajah garang)
Semua proses pembersihan plasenta dan darah selesai, Meili pun sudah dipindahkan ke ruang rawat vvip premium. Bayi mungil digendong Suster Nena mendekat ke arah ranjang, di mana Hardi dan Laras menemani Meili.
Laras menerima bayi mungil itu dengan wajah sumringah, terharu, matanya berkaca-kaca.
“Sayang, lihat cucu kita tampan sekali” Puji Laras bahagia. Hardi mengangguk tersenyum, tangannya mengulur untuk mengelus pipi halus itu.
“Terima kasih sayang sudah melahirkan cucu tampan lagi di keluarga besar Ramadhan” Ucap Laras penuh syukur.
“Iya mam, Meili juga bahagia sekali, apa Maudy dan Madika tidak kesini mam?” Tanyanya yang sudah merindukan kedua kembarnya itu.
__ADS_1
“Mereka sedang dijemput sama Aston asisten dad” Jawab Hardi.
Meili mengangguk tersenyum kemudian menoleh ke arah suaminya yang terus menggenggam jemarinya sambil menciuminya.
“Dia mirip denganmu” Kata Meili mengelus jemari suaminya yang terus menggenggam tangannya.
“Kamu juga cantik istriku sayang” Tidak melihat tempat, Alvero kembali menciumi istrinya. Meili hanya bisa meringis malu melihat kelakuan suaminya. Kedua mertuanya tidak terlalu memperhatikan, jadi mereka biasa aja. Tapi jangan lupakan sepasang mata yang masih tetap mengawasi di dalam ruangan itu, yang langsung memalingkan muka. Jadi teringat istri di rumah. Batinnya memendam rindu.
Asisten Je akan selalu setia menemani atasannya bagaimana pun keadaannya. Dalam pandangan mereka, Asisten Je seorang pria jomblo, jadi tidak mungkin dia akan diributkan oleh urusan rumah tangga.
Dua orang suster masuk ke dalam ruang bersalin dengan membawa perlengkapan ganti bagi pasien. Sementara masuk juga seorang perawat yang membawa box bayi untuk membawa ke ruang bayi terlebih dahulu.
“Permisi nyonya tuan, kami akan membersihkan ibu dan menyiapkan bayinya dulu, anda semua bisa menunggu di kamar yang sudah tersedia” Ucap perawat dengan sopan.
Hardi dan Laras mengangguk, “Baiklah sayang, mam dan dad keluar dulu ya, nanti mam tunggu di kamar, pasti si kembar juga sudah datang” Laras menyerahkan bayi pada perawat bayi kemudian mengajak suaminya keluar ruangan.
“Maaf Tuan Muda, anda juga harus keluar” Kata perawat kembali dengan sopan.
Terdengar dengusan kesal, rasanya malas sekali kalau harus berpisah dengan Meili yang masih lemah.
“Aku kan ingin menemanimu sayang, biar kamu nggak kesepian” Rengeknya manja.
Meili menggeleng gemas, di usapnya dagu suaminya.
“Hanya sebentar sayang, memang begini prosedurnya” Hibur Meili.
__ADS_1
“Hmmm, baiklah, aku keluar dulu” Alvero mengecup kening istrinya lembut. Berat sekali rasanya meninggalkan istrinya, padahal cuma beberapa menit aja kali. Makanya, itulah yang menyebabkan dia menyerahkan semua urusan audit kepada Asisten Je dan rombongannya, karena ia tidak mau berjauhan dengan istrinya.
TBC