
Hari-hari Raya selanjutnya dilaluinya tanpa ada kejadian istimewa antara dirinya dengan Asisten Je yang mengharuskan mereka berdebat atau intimidasi atasan memerintah bawahan. Semuanya berjalan dengan semestinya, seperti hari ini perusahaan tempatnya bekerja menugaskan ia dan Asisten Je untuk menghadiri peletakan batu pertama di wilayah xxx untuk menandai bahwa proses pembangunan hotel bintang lima akan segera di laksanakan.
Putrinya Titania juga sudah mulai fokus utuk mempersiapkan USBN, karena waktunya sudah tinggal 2 bulan lagi, sehingga semua kegiatan olimpiade sementara tidak boleh diikuti oleh siswa-siswi kelas 9. Mereka harus fokus pada agenda utama yaitu kelulusan dan prioritas lagi pendaftaran ke SMA faforit yang mereka inginkan.
Sementara Raya sudah mendaftarkan Hanum ke sebuah sekolah TK unggulan di belakang universitas faforit, dan dia meminta pada Bu Nanik dan Bu Arumi untuk bisa mengantar dan menunggunya, secara bergantian tentunya.
Tin
Tin
Tin
Suara klakson terdengar sangat keras di depan rumah Raya, Titania kebetulan sudah berada di teras dan melihat secara langsung siapa yang membunyikan klakson dengan tidak sopan seperti itu. Alisnya terangkat begitu melihat seorang laki-laki di belakang kemudi yang sepertinya pernah dilihatnya. Di dekatinya mobil itu dan orang yang berada di dalam langsung keluar karena merasa di perhatikan. Laki-laki itu memandang dengan dahi berkerut.
Titania menyilangkan kedua lengannya di depan perutnya, lagaknya sudah seperti satpam yang mencurigai seseorang yang akan berbuat sesuatu. Ia ingat sekarang, laki-laki itu yang pernah dia sangka mau menculik adiknya.
“Mau berangkat ya?” Tanya laki-laki itu melihat Titania yang memang sudah siap dengan atribut sekolahnya.
“Sedang apa Anda di rumah saya?!” Tanya Titania ketus tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu.
“Eh?” Alis laki-laki itu langsung bertaut.
“Saya tidak suka ada orang tidak di kenal berada di depan rumah saya” Sambung Titania masih dengan nada ketus.
“Hmm, saya teman ibumu” Jawabnya pelan terkesan kesal.
“Oh? Setahu saya mama nggak punya teman laki-laki, jadi siapa sebenarnya Anda?” Belum sampai menjawab terdengar teriakan cempreng dari seorang anak kecil di belakang Titania.
“Om danten ya, mo apa?” Tanyanya centil seraya menggoyangkan badannya kanan kiri dengan ekspresi malu membuat kedua mata Titania memutar malas.
__ADS_1
“Hanum, kita nggak kenal ya, jadi jangan sok” Tegur Titania membuat gadis cilik itu langsung cemberut dengan ujung bibirnya sudah terangkat hendak menangis.
“Huh…Anda menakuti adik saya Tuan, silahkan pergi dari sini!” Ketusnya tanpa memperdulikan kondisi sekitarnya.
“Kak…” Lirih Hanum seraya menarik ujung baju Titania namun gadis itu tidak perduli.
“Sayang, ada apa? Lho Tuan ada di sini?” Raya keluar dari rumah dengan keadaan yang sudah rapi dan menenteng tas besar berisi berkas yang akan di bawa ke tempat pembangunan hotel nantinya. Dan ya laki-laki yang sedang berdebat dengan Titania adalah Asisten Je.
“Kita akan berangkat bersama ke lokasi pembangunan” Jawab Asisten Je datar.
“Oh, tapi…” Belum selesai ia menjawab Titania sudah memotong.
“Mama biasa di antar jemput sama Kakek Malik, jadi Tuan bisa berangkat duluan” Titania menjawab dengan tetap memandang judes ke arah Asisten Je. Laki-laki itu tampak kesal, seorang anak kecil berdebat dengannya yang sudah dewasa, dan kalau ia meladeni pasti ia dikira laki-laki dewasa yang kekanakan. Hhh.
“Tita, nggak boleh gitu ah, nggak sopan ya” Tegur Raya.
“Tapi ma…”
sekalian bareng mama” Tawar Raya tersenyum seraya mengelus puncak kepala putrinya.
“Tita bisa sendiri” Ujarnya malas seraya menatap tajam ke arah Asisten Je kemudian berbalik untuk mengambil sepeda mininya di garasi.
“Hanum mama berangkat dulu ya, baik-baik sama eyang dan nenek ya”
“Iya ma, dada om danten” Tanpa di sadari laki-laki itu melambai seraya tersenyum tipis, membuat Raya terkesima
sejenak.
“Tunggu apa lagi?” Tegur Asisten Je yang sudah duduk di belakang kemudi. Raya tersadar dan langsung membuka pintu dan duduk di sebelah Asisten Je dalam diam. Ia melambai sejenak ke arah Hanum dan kebetulan Bu Arumi keluar untuk membawa Hanum masuk ke dalam rumah, tapi terlihat wanita baya itu tertegun dan shock melihat ke arahnya. Raya sempat mengernyit heran, ada apa dengan Bu Arumi kenapa seperti terkejut ketika melihat dirinya dan Asisten Je? Ah, mungkin nanti kalau pulang aku bisa bertanya. Pikirnya.
__ADS_1
“Maaf atas kelakuan putri saya Tuan” Kata Raya pelan saat mereka sudah melaju di jalan raya.
“Hmm”
“Sebaiknya Tuan tidak perlu menjemput saya” Ucap wanita itu berusaha sopan.
“Huh, apa pentingnya kamu sampai saya harus menjemputmu, inipun Tuan Muda yang menyuruh, kalau saja…” Belum selesai kalimat panjang itu selesai dengan ketus Raya langsung memotong.
“Untuk selanjutnya saya bisa berangkat sendiri!” Suasana di dalam mobil langsung canggung, keduanya diam dalam pikiran masing-masing, sampai mereka tiba di lokasi pembangunan hotel. Raya keluar lebih dulu tanpa menunggu Asisten Je membuat laki-laki itu hanya bisa mendengus.
Peletakan batu pertama berjalan dengan lancar yang langsung dibuka dan diresmikan oleh Asisten Je selaku perwakilan dari Diamond Jewerly. Peresmian itu juga dihadiri oleh pemenang proyek dari perusahaan N yang telah memenangkan tender dan berdasarkan kepercayaan itu pihak Diamond Jewerly menyerahkan semuanya kepada pihak tender. Peresmian itu berlangsung dengan lancar dan menjelang makan siang Asisten Je dan Raya meluncur kembali ke kantor, namun sebelumnya mereka berencana makan siang dulu di restoran xxx.
Nada dering ponsel
Raya tersenyum kikuk sambil melirik ke arah Asisten Je, karena laki-laki itu diam saja maka ia mengambil hp yang terus berdering di dalam tasnya. Tertera nama Pak Malik di layar hpnya.
“Assalamu’alaikum, ada apa Pak?” Tanya Raya dengan sopan.
“Waalaikumussalam neng, neng apa neng sedang sibuk?” Tanya Pak Malik yang sepertinya panik.
“Tidak juga sih pak, ada apa?”
“Ini neng, saya barusan mengantar Amri control kebetulan jadwalnya untuk ct scan, trus bapak mau pulang, tapi dapat telpon dari polisi katanya suruh datang untuk ngasih informasi, tapi…” Suara Pak Malik terjeda oleh helaan nafas berat.
“Kenapa pak, apa ada masalah?”
“Pihak penabrak malah minta tanggung jawab neng, mereka menuduh Amri yang salah dan katanya mau naik ke jalur hukum, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan neng” Gugup Pak Malik.
“Bapak ini dimana sekarang?”
__ADS_1
“Saya ada di kantor polisi neng”
“Bapak tunggu di sana ya, jangan melakukan apa-apa, saya akan segera ke sana, bapak tenang saja ya” Raya segera mengakhiri panggilannya secara sepihak kemudian menoleh ke Asisten Je yang masih fokus mengemudi.