Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 13 Dia pikir siapa dia?


__ADS_3

Baru saja selesai bicara telepon di


mejanya berdering.


“Ya Tuan Muda?”


“Bawa sekretaris barumu ke ruanganku,


Meili ingin bertemu dengannya” Perintah Alvero langsung menutup teleponnya


tanpa memberi kesempatan Asisten Je untuk menjawab. Asisten Je tercengang, ia


menatap Antoni bingung.


“Gawat”


“Kenapa?”


“Nona Muda ingin bertemu dengan


sekretaris baruku” Katanya frustasi. Kali ini Antoni hanya angkat bahu.


“Bukan urusan saya Asisten Je, saya


permisi” Katanya berani seraya meninggalkan ruangan asisten aneh itu. Asisten


Je melempar bolpoint ke arah Antoni dengan marah tapi laki-laki itu keburu


menutup pintu dengan tertawa sehingga bolpoint itu hanya mengenai daun pintu.


.


.


“Bodoh” Sentak Alvero tajam. Ia tak


habis pikir, kemana pikiran waras laki-laki yang sudah mengabdi sejak bersama


papanya ini.


“Dia yang mengundurkan diri Tuan Muda”


“Kau pasti menyusahkannya” Tuduh Meili.


“Maaf Nona”


“Huh…aku nggak mau tahu, panggil dia,


dalam 10 menit dia harus berada di sini” Perintah Meili marah. Dia sudah merasa


kalau sekretaris itu sangat kompeten dengan penampilan yang berbeda dengan yang


lain, dengan begitu ia bisa berharap Asisten Je bisa merubah dirinya. Asisten


Je terpaku menatap Alvero meminta pendapat.


“Kau sudah dengar perintah istriku


kan?”


“Baik Tuan Muda” Asisten Je keluar dari


ruangan menuju ruangan Antoni. Laki-laki itu sedang mengetik sesuatu di


laptopnya.


“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu


dulu?” Sinisnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.


“Ehm” Terdengar deheman keras di


depannya dan tatapan penuh amarah langsung ditangkapnya. Ia langsung berdiri


begitu Asisten Je yang masuk.


“Maafkan saya Asisten Je, saya tidak


tahu…”


“Panggil wanita itu kemari, dalam 5


menit” Perintahnya lalu keluar tanpa menghiraukan kebingungan Antoni.


“Siapa yang harus ku panggil? Apakah


Raya? Ah…benar pasti Raya, pasti dia kena marah sang bos, hahaha” Kali ini


wajahnya terlihat bahagia sekali. Dasar…teman lucknut, ada teman di marahi kok


bahagia banget.


.


.


“Sudahlah neng, mungkin belum rezeki


eneng bekerja di sana” Hibur Pak Malik berusaha meredakan amarah Raya.


Wanita itu tak habir pikir dengan


syarat dalam kontrak yang diajukan, selama ia menjadi sekretaris tidak ada


atasan yang seperti Asisten Je itu. “Dia pikir siapa dia? Seenaknya saja


memberi syarat yang tidak masuk akal. Tentu saja aku memilih berada bersama


anak-anakku dari pada terkurung di apartemen bersama dengan lelaki asing dan


tidak jelas seperti atasannya itu.” Gumamnya marah-marah.


“Coba bayangkan pak, mana ada


sekretaris yang harus tinggal bersama? Selama saya jadi sekretaris, tidak ada


bos yang seperti itu” Ucapnya masih dalam keadaan marah.


“Iya neng, mungkin saja beliau khilaf”


“Khilaf apaan pak, menyuruh tinggal di


apartemen di bilang khilaf? Kalau terjadi apa-apa dengan saya, maka itu juga khilaf


namanya? Syarat apa itu pak? Saya bukan wanita murahan ya pak…” Wanita itu


tersulut emosinya.


“Iya neng, yang sabar…mudah-mudahan


eneng mendapat kerja yang lebih baik lagi.”

__ADS_1


“Iya pak, maaf ya, saya kok jadi


marahnya sama bapak ya…” Kata Raya seraya tertawa malu.


“Nggak papa neng, lebih baik marah itu


diungkapkan daripada di simpan di hati nanti malah membuat sakit hati neng…”


“Iya pak terimakasih ya pak, kita


pulang aja pak, Raya nggak mood kemana-mana ini”


“Baik neng” Pembicaraan terhenti dan


mereka berdua saling berpikir dengan masalah masing-masing.


Nada dering ponsel terdengar dari tas


Raya, wanita itu meraihnya kemudian melihat nomor yang tidak di kenal.


Sebenarnya ia malas mengangkatnya, karena ia tidak terlalu suka menerima


telepon yang tidak di kenal. Kontaknya saja hanya berisi seluruh keluarganya


dan satu teman baiknya di Jakarta serta ditambah nomor Bu Nanik. Tapi kali ini


ia takut itu sesuatu yang penting, jadi ia berpikir untuk mengangkatnya.


“Assalamu’alaikum” Sapanya ramah.


“Ya, selamat pagi” Jawab suara di


seberang, “Raya, saya Antoni…” Lanjut suara itu tanpa membalas salam Raya,


ah…mungkin dia non muslim.


“Oh iya Pak Antoni, ada apa ya?” Tanya


Raya sopan. Sekilas Pak Malik melirik dari kaca spion.


“Begini, apa Raya bisa kembali ke


kantor? Kamu di terima kerja?”


“Maaf pak, saya…”


“Tanpa syarat menginap kok, saya jamin


itu”


“Ini bukan keputusan bapak kan?”


“Bukan, Asisten Je sendiri yang meminta


saya memanggil kamu”


“Ini bukan rekayasa tuan arogan itu kan


pak?” Terdengar tawa renyah di telepon.


“Bukan Raya, ini sebenarnya keputusan


Nona Muda Meili”


“Siapa itu pak?” Tanya Raya penasaran,


apa istrinya tuan arogan itu? Pikirnya.


“Oh baiklah pak, saya segera ke sana,


terimakasih”


“Oke baik Raya, saya tunggu di loby ya…”


“Baik pak” Raya mematikan sambungan


telponnya kemudian menatap Pak Malik, “Pak kembali ke kantor ya, saya jadi di


terima tanpa menginap di apartemen atasan”


“Alhamdulillah, siap neng…” Kata Pak


Malik senang.


“Kok yang senang bapak ya” Tanya Raya


heran.


“Hehe…bapak mah senang kalau neng Raya


dapat kerja, semoga barokah neng”


“Aamiin, terimakasih pak”


“Sama-sama neng”


“Bapak siap kan antar jemput saya?”


“Wah…selalu siap neng…” Pak Malik


mengacungkan jempol setuju disambut tawa Raya.


.


.


Dalam waktu 8 menit mobil Pak Malik


telah sampai kembali di perusahaan Diamond Jewerly tersebut, dan Raya telah di


sambut langsung oleh Antoni yang langsung mengantarkannya ke ruangan CEO.


“Kenapa ke ruangan CEO pak?”


“Tuan Muda yang menyuruh Raya”


“Oh”


Tok


Tok


“Masuk” Perintah suara di dalam. Pintu


terbuka dan Antoni masuk beserta Raya di belakangnya. Tampak laki-laki tampan


di atas rata-rata sedang duduk di kursi kebesarannya, di dalam juga ada Asisten


Je yang sedang berdiri di belakang laki-laki itu. Dan di sofa terdapat seorang


wanita yang duduk dengan anggunnya sambil membalik-balik majalah di tangannya.

__ADS_1


Wanita itu menoleh kemudian tersenyum. Wah, cantik sekali wanita itu, itukah


Nona Muda Meili? Kagum Raya.


“Raya ya, sini duduk sama saya” Ajak


wanita itu ramah. Raya tersenyum canggung kemudian menatap Antoni dan kedua


laki-laki dengan tampang datar itu. Antoni hanya mengangguk, demikian juga


dengan Alvero, hanya Asisten Je saja yang masih diam tanpa ekspresi. Antoni


langsung pamit kembali ke ruangannya. Raya mendekati wanita itu dengan


canggung.


“Aku Meili istrinya Alvero, CEO di


sini” Kata Meili seraya mengulurkan tangannya yang disambut Raya dengan masih


canggung.


“Biasa aja kali, nggak usah canggung


gitu, eh tapi kenapa kamu menolak bekerja sebagai sekretaris Asisten Je?” Tanya


Meili penasaran, karena laki-laki itu belum mengaku kenapa Raya menolak


bekerja.


“Maafkan saya nyonya, saya tidak


sanggup kalau diharuskan menginap di apartemen dengan laki-laki asing” Jawab


Raya jujur yang membuat seisi ruangan itu membelalak tak percaya. Segitunya


Asisten Je ingin menguji sekretarisnya.


“Dasar bodoh” Sindir Alvero pelan,


Asisten Je hanya menelan ludah kasar. Ia tak menyangka wanita itu akan seterus


terang itu di depan istri bosnya.


“Emang kenapa? Banyak lho wanita yang


menantikan berdiri di sebelah Asisten Je”


“Saya bukan bagian dari mereka nyonya,


maaf”


“Emm, alasanmu apa selain laki-laki


asing, secara tugas sekretaris pribadi itu kan memang harus selalu stand by di


dekat bosnya” Meili semakin memancing jawaban Raya.


“Saya mengerti nyonya, tapi jam kerja


sekretaris juga ada batasannya kan?” Meili mengangguk paham.


“Lagipula saya mempunyai tanggungan di


rumah yang tidak bisa saya lepas tanggung jawabnya begitu saja nyonya”


“Oya, siapa kalau boleh tahu?”


“Kedua putri saya nyonya” Asisten Je


terkejut mendengar kenyataan itu beda dengan Meili dan Alvero yang sudah


mengetahuinya sejak awal, “jadi wanita ini sudah menikah, pantas saja dia tidak


mau disuruh menginap di apartemen.” Batin Asisten Je.


“Oh, kamu sudah menikah rupanya” Kata


Meili pura-pura tidak tahu.


“Maaf, saya janda nyonya” Lirihnya.


Kembali Asisten Je terkejut.


“Eh…maaf-maaf, bukan maksudku…” Meili


tidak mengira kalau Raya akan berterus terang dengan statusnya, ia jadi merasa


tidak enak hati.


“Tidak apa-apa nyonya”


“Hmm, baiklah, sesi wawancara selesai,


kamu lolos, mulai besok kamu resmi menjadi sekretaris Asisten Je tanpa harus


menginap” Putus Meili akhirnya. Raya membelalak tak percaya.


“Tapi…” Ia ragu sejenak seraya


memandang dua lelaki yang sudah sibuk dengan kegiatannya.


“Keputusan istriku mutlak, jadi itu


juga keputusanku” Kata Alvero tegas. Raya mengangguk canggung.


“Baik Tuan Muda, kalau begitu saya


permisi, terima kasih nyonya…”


“Sama-sama dan jangan panggil aku


nyonya, kita sepertinya seumuran, panggil nama saja, kita bisa berteman”


“Maaf nyonya, saya merasa tidak pantas”


“Ish…siapa yang bilang begitu,


bagaimana kalau kakak saja, aku pingin sekali punya adik perempuan” Rayunya


membuat Raya mendelik tak percaya. Seorang istri CEO bisa berperilaku layaknya


seorang gadis yang manja.


“Baiklah kak, kalau begitu saya permisi


dulu untuk mempersiapkan esok hari” Meili tersenyum mengangguk, ia puas telah


berbicara dengan Raya, ia merasa Raya adalah sosok wanita yang tangguh sebagai


single parent.

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2