Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 9 Sahabat Baru


__ADS_3

Pagi yang cerah kembali menyapa


keluarga kecil Raya. Rutinitas subuh mereka lakukan kemudian keliling kompleks


perumahan namun hari ini mereka tidak makan bubur ayam, karena Raya berjanji


akan memasak nasi goreng favorit mereka.


Nasi goreng sea food ditambah telur


mata sapi merupakan sarapan favorit mereka di Jakarta. Semua masakan Raya memang


tidak ada yang tidak enak, Titania lebih memilih makan di rumah daripada di


luar rumah sepulang sekolah.


“Mama jadi ke perusahaan itu lagi?”


Tanya Titania di sela makannya. Raya mengangguk.


“Heem, mama lolos tahap berikutnya


sayang”


“Tita sepertinya nggak kekurangan


apa-apa deh mam, kenapa harus bekerja? Daddy juga ndak pernah telat ngirim ke


Tita, pun keluarga Papa Ian kan juga tiap bulan ngirimi?” Protes Titania pelan.


Raya menghembuskan napasnya perlahan kemudian tersenyum lembut.


“Iya sayang, tapi mama ingin suasana


baru biar mama ada kesibukan, ndak enak lho nganggur di rumah terus…”


“Mama kan bisa buka kafe, masakan mama


enak kok” Raya menggeleng.


“Mama nggak terlalu suka sayang, tapi


kalau kakak Tita nggak ngebolehin mama kerja, mama bakal batalin undangan


tesnya” Kata Raya akhirnya membuat Titania membelalak terkejut.


“Jangan mam, mama udah bersusah payah


itu, asal nanti mama nggak lupa aja sama kita” Kata Titania terutama dikata


terakhir dengan lirih. Raya tersenyum kemudian memeluk anaknya.


“Sayang…selama mama kerja di Jakarta


pernah mama lupa kewajiban mama?” Titania menggeleng.


“Maafin Tita ma…” Lirih gadis itu


seraya menunduk.


“Hei…sudah jangan gitu ah…bentar lagi


kakak berangkat lho, kalau sedih nanti gimana di sekolahnya…senyum dong”


Titania mengangkat wajahnya kemudian tersenyum tapi hanya sebentar, membuat


mamanya menggeleng-geleng. Susah sekali nak membuatmu tersenyum. Sementara


Hanum malah asyik dengan makan yang berlepotan tanpa memperdulikan percakapan


kedua orang di sebelahnya.


“Aiiihh…pipi anak mama kenapa ini?”


Raya kaget dengan wajah Hanum yang sudah tercoreng moreng dengan saos membuat


Raya tertawa dan Titania hanya menggeleng heran. Raya segera melap wajah Hanum


dengan tissue yang ada di meja makan.


Selesai makan, Titania berangkat


sekolah, ia sekarang menaiki sepeda mini untuk ke sekolah yang dibelikan Raya.


Dengan begitu Titania akan cepat sampai di sekolah. Gadis itu terbiasa dengan


suasana penyendiri bukan karena ia introvert tapi karena ia memang suka


sendiri, ia ingin mencari teman sekaligus sahabat yang tidak melihat siapa dan


bagaimana latar belakangnya. Di Jakarta ia memiliki satu sahabat yang sangat peduli


dengannya, walaupun mereka berjauhan mereka masih tetap berhubungan.


Waktu yang biasanya 10 menit bisa ia


tempuh hanya dalam waktu 5 menit saja. Gadis itu berhenti di tepi jalan untuk


menyeberang menuju sekolahnya. Petugas lalu lintas membantu gadis itu


menyeberang, laki-laki dengan usia 30an tahun itu sudah hafal dengan sosok


Titania, sehingga ketika gadis itu datang dia segera sigap membantunya


menyeberang. Sesekali Titania memberinya selembar uang merah yang membuat


laki-laki itu terharu.


“Makasih bang” Seru Titania seraya


menaiki kembali sepedanya.


“Sama-sama non, hati-hati” Seru

__ADS_1


laki-laki itu.


Titania memarkir sepeda mininya di


tempat parkir khusus sepeda.


“Tita..” Seru suara di belakangnya.


Tampak seorang gadis cantik dengan penampilan serba wah turun dari mobil mewah


dan berlari menghampirinya. Amanda, nama gadis itu, seorang putri dari


pengusaha hotel di Malang, tentunya berasal dari kalangan berada, tapi ia tidak


pernah memandang orang dari segi statusnya.


Pada saat Tita masuk kelas, ia langsung


menyukai sosok gadis itu, sehingga mereka sepakat menjadi sahabat. Titania pun


merasa persahabatan yang ditawarkan Amanda sangat tulus.


“Hai” Sapa Tita. Amanda langsung


merangkul Titania untuk berjalan menuju kelas 9 A. Ya 9 A merupakan


satu-satunya kelas unggulan olimpiade. Titania ditempatkan di kelas tersebut


karena berbagai prestasi yang disandangnya, bahkan kedatangannya membuat kelas


dan sekolah bangga. Ia merasa bersyukur, di kelas barunya ini walaupun kelas


unggulan olimpiade tapi mereka tidak ada yang iri dengan kepintaran atau


keberhasilan teman-temannya. Mereka saling mendukung, dengan kehadiran Titania


mereka semakin bangga bahwa kelas mereka mendapat anggota baru yang memiliki


segudang prestasi.


“Eh…udah denger pengumuman belum?”


Tanya Amanda. Titania menggeleng.


“Pengumuman apa?”


“Ampun deh Ta, jadi anak jangan kutu


buku napa” Keluh Amanda kesal. Titania hanya mendengus.


“Gini…sekolah kita akan mengadakan


Study Tour lho”


“Benarkah?” Tanya Titania tanpa


ekspresi.


kek…” Cemberut Amanda, Titania hanya berdehem pelan.


Bel berbunyi menandakan jam pertama


masuk kelas dimulai…


“Ntar aja pas rehat sambung lagi” Kata


Titania mengakhiri pembicaraan karena Pak Salim selaku guru matematika telah


hadir di kelas. Amanda mengangguk senang.


Jam pelajaran berakhir sementara pukul


10.00, karena bell pertanda istirahat telah berbunyi, segera saja para siswa


siswi langsung bergegas menuju ke kantin.


“Ke kantin yuk Ta” Ajak Amanda, gadis


itu hanya mengangguk dan mengikuti Amanda serta beberapa temannya yang berjalan


menuju ke kantin. Tiba di kantin suasana sudah sangat ramai dengan siswa siswi


yang kelaparan dan mengantri di beberapa dapur mini kantin. Amanda dan Titania


menuju ke dapur bakso, mengantri sebentar kemudian membawa nampan bakso dan


minuman mereka ke barisan meja yang terlihat kosong di ujung kantin. Hanya ada


3 siswi saja yang sedang makan di sana, jadi mereka langsung bergabung di sana.


“Eh, kamu tahu ada siswa baru di kelas


unggulan itu?” Tanya suara seorang siswa laki-laki di belakang mereka. Titania


hanya mendengar dengan cuek, sementara Amanda sudah berusaha komentar, tapi oleh


Titania langsung di tahan dengan gelengan kepala.


“Tahulah, siapa yang bisa melewatkan


kehadiran cewek cakep kayak gitu, kenapa emang?” Tanya teman siswa tersebut.


“Kemaren aku nyoba nyapa dia,


dih…sombong banget, nerima salam tanganku aja ogah” Katanya marah.


“Yang bener Ger, kalau aku sih baru mau


nyamperin nanti di kelasnya” Kata temen satunya lagi.


“Huh, mentang-mentang kelas unggulan,


sama kelas lainnya gak mau kenal” Kata Geri dengan kesal, “awas aja kalau

__ADS_1


ketemu…”


“Heh, bege, emang mau kamu apain hah?”


Tanya Roni temennya.


“Aku benci cewek sok kayak gitu Ron,


coba aja dia suka sama aku langsung aku tolak dia, hahaha” Kata Geri dengan


nada sombong.


“Yoooo, siapa juga yang berani nolak


seorang Geri” Timpal Beni temennya yang lain.


“Kalau kamu yang di tolak gimana?!”


Sahut Amanda dengan nada gemas menahan amarah, sementara Titania hanya


menggeleng-geleng melihat reaksi sahabat barunya.


Tiga sekawan itu menoleh terkejut ke


arah depan mereka, tampak dua cewek membelakangi mereka.


“Siapa emangnya kamu hah? Beraninya


ngomong tidak sopan sama bos kami” Sentak Beni marah. Amanda berdiri menoleh


dengan tatapan tajam ke arah tiga siswa yang terkenal nakal itu. Mereka bertiga


terkejut melihat Amanda siswi teladan dari kelas unggulan yang sekaligus putri dari


pemilik sekolah ini. Beni dan Roni saling senggol sementara Geri hanya


tersenyum sinis.


“Hmmm, ternyata hanya anak manja”


Sindirnya seraya tersenyum remeh membuat Amanda mengepalkan tangannya menahan


marah.


“Daripada kamu yang hanya bisa


menyusahkan orang tua, dasar brandalan!” Seru Amanda marah membuat Geri


langsung berdiri seraya mendorong kursinya kasar.


“Beraninya kamu…!” Tangannya sudah


bergerak hendak menampar pipi gadis itu tapi langsung di tahan oleh Beni.


Melihat situasi yang sudah tidak kondusif, Titania berdiri dan berbalik


menghadap mereka. Geri yang tangannya mengepal di udara langsung diturunkan


mendadak melihat wajah datar dan dingin gadis yang menatap mereka tajam.


“Apa masalahmu?” Tanya Titania dengan


datar. Geri yang semula marah dan kesal begitu melihat wajah Titania langsung


berubah gugup dan pandangannya terkesan memuja.


“Hai nona…” Sapanya cengengesan sambil


menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuat Titania menaikkan kedua alisnya


heran. Demikian juga dengan ketiga anak yang ada di situ memandang heran dengan


perubahan drastis Geri sang badboy sekolah. Banyak pasang mata yang menyaksikan


pun mulai berisik saling berbisik menyaksikan pemandangan langka itu.


“Aku hanya ingin kenalan” Sambungnya


seraya mengusap tangan kanannya ke bahu Beni dan mengulurkan tangannya ke


Titania. Beni yang mendapat usapan hanya mengeluarkan sumpah serapah saja.


“Geri Fernanda Hasby” Kata Geri seraya


tersenyum. Dua temannya hanya bisa melongo melihat aksi Geri yang tadi marah


dan benci pada anak baru, sekarang dengan mode tengilnya ia mengajak kenalan


musuhnya. Amanda yang juga heran hanya memandang tak percaya, kemudian ia


menoleh ke arah sahabatnya. Titania memandang tangan dan Geri bergantian, dalam


hati ia merasa malas hanya ia ingat pesan mamanya perbanyaklah teman dan jangan


merasa enggan untuk berteman apalagi memilih-milih teman. Mengingat pesan itu


Titania menyambut uluran tangan itu.


“Titania” Jawabnya singkat kemudian


langsung melepas tangannya membuat Amanda membelalakkan mata tak percaya jika


sahabatnya mau berkenalan dengan sang badboy sekolah. “Sudahkan, kami permisi


dulu” Sambung Titania seraya menarik lengan Amanda untuk keluar dari kantin.


“Hei…bisakah kita berteman?” Seru Geri


masih dengan tersenyum tengil.


“Terserah” Jawab Titania pendek dan berlalu dari


kantin, Kembali ke kelas mereka.

__ADS_1


__ADS_2