Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 21 Apa ini artisnya ma??


__ADS_3

Sampai di rumah Raya langsung


membersihkan luka di lutut Hanum dengan drama tangisan yang memekakkan telinga.


Gadis kecil itu di dudukkan di sofa ruang tamu.


“Sabar dulu ya, biar ndak infeksi


nanti, mama pelan-pelan kok bersihinnya”


“Atit mama…” Rengeknya di sela


tangisnya. Raya tersenyum menggeleng.


“Kakak Tita bisa ambilkan kotak P3K di


kamar mama?”


“Iya ma, sebentar” Titania bergegas


menuju kamar Raya dan mengambil kotak P3K. Semenit kemudian Titania datang


dengan membawa kotak P3K dan segelas teh hangat yang dibuatkan Bu Nanik untuk


diberikan ke Hanum.


“Ini ma” Raya mengambil kotaknya


kemudian membukanya dan mengambil kapas serta refanol untuk menyeka darah dan


sedikit debu di luka Hanum.


“Nih, minum dulu biar nggak sakit”


Titania meminumkan teh itu dan langsung dihabiskan oleh Hanum.


“Dah…bersih ini, tinggal menempelkan


tenxxplas ya” Raya membuka perekat benda tipis itu kemudian menempelkan di luka


yang sakit.


“Dah…coba gerakin lututnya, nggak sakit


kan?” Tanya Raya membuat gadis itu mencoba menggoyangkan kaki kanannya ke depan


dan ke belakang, sedetik kemudian wajahnya langsung cerah.


“Waaa…inda atit ma, acih mama” Kata


Hanum seraya memeluk dan menciumi pipi Raya.


“Sama-sama sayang”


“Aku ndak nih…” Sewot Titania.


“Iyah, acih Tak Tita…ini tium Anium”


Hanum merentangkan kedua tangannya yang disambut Titania dengan memeluk juga.


Hanum menciumi kedua pipi Titania sayang. Raya dan Bu Nanik yang menyaksikan


tersenyum.


“Dah…sekarang gimana kalau sarapan dulu


ya” Kata Bu Nanik seraya mengambil cangkir yang ada di atas meja untuk di bawa


ke dapur.


“Hayuk….Hanum bisa jalan kan?” Raya


meraih tangan Hanum, walaupun jalannya agak tertatih gadis kecil itu tidak


mengeluh sakit.


.


.


Sementara itu di rumah Asisten Je.


Laki-laki itu duduk diam di meja makan


sembari menikmati sepiring nasi goreng buatannya. Ia paling anti makanan yang


dibeli di luar apalagi di sembarang tempat, yang kemungkinan higienisnya kurang


terjaga. Laki-laki itu termenung seraya mengaduk nasi goreng di piringnya, Ia


tidak habis pikir dengan kejadian tadi pagi di taman. Bagaimana mungkin kedua


bersaudara itu bersentuhan bahkan si kecil menggenggam tangannya dan tidak ada


reaksi jijik atau gatal pada tangannya. Kakaknya tadi juga sempat memegang


tangannya untuk melepas genggamannya pada gadis kecil itu.


Asisten Je menaruh sendoknya dan


membolak-balikkan kedua telapak tangannya untuk melihat apakah reaksi gatal dan


bintik kemerahan akan muncul setelah sekian lama. Tapi telapak tangannya tetap bersih,


lengannya juga bersih, tidak ada bercak kemerahan dan efek gatal pada tangan


itu. “Ajaib” Katanya perlahan, “Mana mungkin?” Sekali lagi Asisten Je memeriksa


kedua tangannya dan ia masih dibuat bingung dengannya. “Aku harus menghubungi


dokter Stevano, siapa tahu alergiku telah sembuh”


Asisten Je beranjak menuju ke kamar dan


mengambil hp di nakas kemudian mendial nomor dr. Stevano. Selang beberapa detik


nada dering itupun tersambung.


“Hallo Je, apa ada yang penting kau


menelponku pagi-pagi? Tuan Muda sehatkan? Atau Nona Meili dan anak-anak juga


sehatkan?” Berondong suara di seberang membuat Asisten Je berdecak kesal.


“Ck…kebiasaan!” Terdengar tawa di


seberang.


“Hehe…ya kali aja, kau pagi-pagi sudah


telpon, ada apa?”


“Bisa ke rumahku?”


“Kapan?”


“Sekarang”


“Hei...aku belum…”


“Aku tunggu sekarang!” Asisten Je


langsung menutup sambungan telpon yang jelas pasti membuat dokter Stevano


mengumpat habis asisten itu. Dalam waktu 15 menit dr. Stevano telah sampai di

__ADS_1


kediaman Asisten Je, dan saat ini laki-laki gagah dengan wajah yang tampan


sedang memeriksa gejala aneh yang ada di tangan Asisten Je seperti yang di


ceritakan kepadanya.


“Bersih kok, ndak ada efek apapun,


gimana ceritanya sih, kok bisa kamu nggak berasa apa-apa, apa karena dia masih


anak-anak kali ya” Ucap dr. Stevano panjang lebar.


“Kamu ingat waktu nona Maudy tidak


sengaja menyentuhku?” Tanya Asisten Je, dr. Stevano menerawang pada beberapa


bulan lalu tentang kedatangan Asisten Je dan Tuan Muda Alvero di tempat prakteknya.


Saat itu hampir seluruh tubuh Asisten


Je terdapat ruam dan bintik-bintik merah serta di beberapa bagian tubuh


terkelupas lecet seperti tersiram air panas dan laki-laki itu mengeluh gatal.


Ternyata akibatnya karena sentuhan yang dilakukan oleh Nona Kecil Maudy karena


gadis kecil itu juga ingin bermanja dengan lelaki yang sudah dianggapnya


pamannya itu. Namun ternyata efeknya sangat luar biasa, bahkan hal itu sempat


membuat kemarahan Tuan Muda Alvero meluap karena menganggap bahwa Asisten Je


jijik dan menganggap putrinya pesakitan yang membawa penyakit menular. Tapi


setelah dijelaskan oleh dr. Stevano bahwa sebenarnya Asisten Je mengidap alergi


mysophobia yang dikenal dengan alergi terhadap sentuhan dari lawan jenis,


siapapun orangnya tanpa memandang usia. Dari situ Tuan Muda Alvero akhirnya


memahami situasi yang di alami oleh asistennya.


“Ya aku sangat mengingatnya, Nona kecil


bahkan masih anak-anak waktu itu”


“Nah…terus ini kenapa tidak ada efek,


aku sendiri bingung? Apa alergiku sudah sembuh? Tapi kau tau sendiri beberapa


waktu lalu aku mengalami hal yang sama lagi saat sekretaris sialan itu sengaja


menyentuhku” Amarah Asisten Je meluap, hingga ia melupakan kalau ia sudah


bicara panjang lebar di depan dr. Stevano, yang membuat pria itu melongo tak


percaya.


“Tutup mulutmu!” Sentak Asisten Je


seraya melempar muka Stevano dengan bantalan sofa, pria itu tertawa terbahak.


“Kalau alergi mu jelas belum sembuh,


tapi dingin mu sudah kayaknya…hahahaha” Pria itu menghindar dari lemparan bantalan


sofa berikutnya dengan masih tertawa.


.


.


Kembali ke kediaman Raya.


di mulai, Hanum tidak mau mandi karena takut lututnya akan basah dan akan


menimbulkan rasa sakit. Segala bujuk rayu sudah di lancarkan tapi Hanum masih


kekeh. Tinggal satu jurus, Raya yakin kali ini pasti ampuh.


“Ya sudah…kalau begitu Hanum tinggal di


rumah sama eyang ya” Kata Raya memulai rencananya. Gadis kecil itu menoleh


dengan mata sembab dan bibir yang sesenggukan. Tubuhnya melekat erat ke pelukan


Raya.


“Mau temana?” Tanyanya terbata.


“Mama mau jalan sama Kak Tita terus


ketemu sama artis, Hanum kan sakit, jadi Hanum di rumah aja ya”


“Itut mama…” Rengeknya. Raya menutup


hidungnya pura-pura bau dengan tubuh Hanum.


“Tapi Hanum bau acem…nanti kalau


artisnya mencium bau tidak sedap Hanum gimana?”


“Iyah…ayok…mandi mama…Anium mau mandi


mama”


“Hanum mau mandi? Tadi katanya sakit?”


Goda Raya.


“Indak atit agi lo, ini Anium alan…”


Hanum meminta turun dari pangkuan Raya dan mulai berjalan. Di gandengnya tangan


Raya menuju kamarnya uintuk mandi.


“Ayok mama…” Raya tersenyum seraya


mengikuti langkah Hanum. Rencana berhasil. Walaupun sesi meringis dan merengek


tetap ada tapi proses mandi berhasil dengan aman. Hehe.


.


.


Siang ini Raya, Titania, dan Hanum sudah


duduk di dalam mobil menuju ke arah kafe faforit anak muda di kawasan Sukarno


Hatta. Pak Malik hanya tersenyum mendengarkan celotehan Hanum yang katanya akan


bertemu dengan artis. Sementara Titania hanya mendengus jengkel dengan hal yang


tidak masuk akal baginya. Memang artis siapa yang mempunyai janji dengan


mamanya? Seingatnya, meski tinggal di Kota Jakarta dulu tidak pernah mamanya


berhubungan dengan artis ibukota manapun.


Pak Malik memarkirkan mobil di tempat


parkir dan membukakan pintu untuk si kecil Hanum.


“Bapak ikut ke dalam aja” Tawar Raya.

__ADS_1


“Ndak usah neng, bapak nunggu di pos


satpam itu saja”


“O ya sudah, kami masuk dulu ya pak”


Raya tidak memaksa, karena Pak Malik pasti tidak mau.


“Silahkan neng…”


Raya bersama kedua putrinya memasuki


kafe yang cukup padat, mereka di sambut oleh pramutamu untuk menanyakan


reservasi.


“Maaf Nona, apa sudah reservasi


sebelumnya?” Tanya pramutamu perempuan.


“Saya datang atas undangan Nona Nitha


Amelia”


“O iya, silahkan ikuti saya, Nona Nitha


barusan sudah datang”


“Baik” Raya menggandeng Hanum dan


Titania mengikuti di belakangnya menuju sebuah ruangan VIP yang sudah di pesan


oleh Nitha. Begitu memasuki ruangan, tampak seorang gadis tengah duduk bersama


asistennya. Mereka langsung berdiri menyambut kedatangan Raya.


“Mbak Raya, senang sekali akhirnya kita


bisa makan bersama…” Nitha menghampiri kemudian memeluk Raya sebentar.


“Eh…ini pasti Princess Hanum


ya…uluh…cantiknya…” Puji Nitha seraya menubit pipinya gemas. Gadis kecil itu


hanya meringis seraya mengelus pipinya. Sementara Titania hanya memandang


seraya menaikkan kedua alisnya.


“Ini artisnya ma?” Tanyanya tak percaya


seraya duduk bertepatan berhadapan dengan sang asisten yang gemulai.


“Hush…Kak Tita, gak boleh gitu ah”


Tegur Raya pelan, untung berbisik, gimana kalau mereka dengar.


“Mbak Raya bisa pesan apa aja, kalian


juga boleh kok, Hanum mau es krim? Ini Titania kah mbak?” Nitha ceria sekali


menyapa anak-anaknya. Titania hanya mengangguk.


“Leh ekim ma?”


“Iya boleh, Hanum mau yang coklat apa


strawberry?”


“Wa leh?”


“Ish…satu aja Hanum, belum tentu juga


habis” Titania menjawab agak judes. Mata gadis kecil itu langsung berkaca


seraya memandang mamanya.


“Eh…Hanum boleh kok pesan es krim apa


aja, ya kan mbak?” Nitha menengahi debat kecil dua saudara itu.


“Iya boleh, asal Hanum makan dulu ya”


“Iyah…” Gadis kecil itu mengangguk


tersenyum yang membuat Nitha langsung tergelak, pintar acting sekali gadis


kecil ini, batinnya.


.


.


Mereka menikmati hidangan seraya


berbincang santai, mulai dari awal Nitha menjadi model perhiasan Diamond


Jewerly sampai sekolah Titania bahkan keseruan Hanum.


“Eh, Mbak Raya udah dengar jadwal


syuting terbaru?” Tanya Nitha sambil menikmati vanilla latte. Raya hanya


mengernyit heran.


“Aku belum dikabari tuh kalau akan ada


syuting baru, kapan?”


“Pekan depan Mbak, lokasinya di Taman


Safari, temanya bersatu bersama alam mbak”


“Emang Asisten Je belum beritahu ya?”


Kali ini yang bertanya asisten Nitha yang biasa di panggil Wen Wen.


“Belum” Jawab Raya pelan.


“Aku berharap Mbak Raya yang berangkat


sih” Timpal Nitha.


“Kenapa harus aku, kan banyak


personelnya”


“Nyaman aja kalau sama Mbak Raya,


lagipun kita kan udah deket, ya nggak mbak?”


“Iya nek, kalau ada apa-apa aman nih


eike”


“Bisa aja, kalau memang nanti di


tugaskan, in shaa allah siap aja”


“Yess, ya udah terusin makannya, Hanum


mau nambah? Boleh kok, Kak Tita juga” Nitha berucap dengan gembira. Mereka


berdua hanya tersenyum menanggapi keceriaan Nitha.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2