
Sampai di rumah Raya langsung
membersihkan luka di lutut Hanum dengan drama tangisan yang memekakkan telinga.
Gadis kecil itu di dudukkan di sofa ruang tamu.
“Sabar dulu ya, biar ndak infeksi
nanti, mama pelan-pelan kok bersihinnya”
“Atit mama…” Rengeknya di sela
tangisnya. Raya tersenyum menggeleng.
“Kakak Tita bisa ambilkan kotak P3K di
kamar mama?”
“Iya ma, sebentar” Titania bergegas
menuju kamar Raya dan mengambil kotak P3K. Semenit kemudian Titania datang
dengan membawa kotak P3K dan segelas teh hangat yang dibuatkan Bu Nanik untuk
diberikan ke Hanum.
“Ini ma” Raya mengambil kotaknya
kemudian membukanya dan mengambil kapas serta refanol untuk menyeka darah dan
sedikit debu di luka Hanum.
“Nih, minum dulu biar nggak sakit”
Titania meminumkan teh itu dan langsung dihabiskan oleh Hanum.
“Dah…bersih ini, tinggal menempelkan
tenxxplas ya” Raya membuka perekat benda tipis itu kemudian menempelkan di luka
yang sakit.
“Dah…coba gerakin lututnya, nggak sakit
kan?” Tanya Raya membuat gadis itu mencoba menggoyangkan kaki kanannya ke depan
dan ke belakang, sedetik kemudian wajahnya langsung cerah.
“Waaa…inda atit ma, acih mama” Kata
Hanum seraya memeluk dan menciumi pipi Raya.
“Sama-sama sayang”
“Aku ndak nih…” Sewot Titania.
“Iyah, acih Tak Tita…ini tium Anium”
Hanum merentangkan kedua tangannya yang disambut Titania dengan memeluk juga.
Hanum menciumi kedua pipi Titania sayang. Raya dan Bu Nanik yang menyaksikan
tersenyum.
“Dah…sekarang gimana kalau sarapan dulu
ya” Kata Bu Nanik seraya mengambil cangkir yang ada di atas meja untuk di bawa
ke dapur.
“Hayuk….Hanum bisa jalan kan?” Raya
meraih tangan Hanum, walaupun jalannya agak tertatih gadis kecil itu tidak
mengeluh sakit.
.
.
Sementara itu di rumah Asisten Je.
Laki-laki itu duduk diam di meja makan
sembari menikmati sepiring nasi goreng buatannya. Ia paling anti makanan yang
dibeli di luar apalagi di sembarang tempat, yang kemungkinan higienisnya kurang
terjaga. Laki-laki itu termenung seraya mengaduk nasi goreng di piringnya, Ia
tidak habis pikir dengan kejadian tadi pagi di taman. Bagaimana mungkin kedua
bersaudara itu bersentuhan bahkan si kecil menggenggam tangannya dan tidak ada
reaksi jijik atau gatal pada tangannya. Kakaknya tadi juga sempat memegang
tangannya untuk melepas genggamannya pada gadis kecil itu.
Asisten Je menaruh sendoknya dan
membolak-balikkan kedua telapak tangannya untuk melihat apakah reaksi gatal dan
bintik kemerahan akan muncul setelah sekian lama. Tapi telapak tangannya tetap bersih,
lengannya juga bersih, tidak ada bercak kemerahan dan efek gatal pada tangan
itu. “Ajaib” Katanya perlahan, “Mana mungkin?” Sekali lagi Asisten Je memeriksa
kedua tangannya dan ia masih dibuat bingung dengannya. “Aku harus menghubungi
dokter Stevano, siapa tahu alergiku telah sembuh”
Asisten Je beranjak menuju ke kamar dan
mengambil hp di nakas kemudian mendial nomor dr. Stevano. Selang beberapa detik
nada dering itupun tersambung.
“Hallo Je, apa ada yang penting kau
menelponku pagi-pagi? Tuan Muda sehatkan? Atau Nona Meili dan anak-anak juga
sehatkan?” Berondong suara di seberang membuat Asisten Je berdecak kesal.
“Ck…kebiasaan!” Terdengar tawa di
seberang.
“Hehe…ya kali aja, kau pagi-pagi sudah
telpon, ada apa?”
“Bisa ke rumahku?”
“Kapan?”
“Sekarang”
“Hei...aku belum…”
“Aku tunggu sekarang!” Asisten Je
langsung menutup sambungan telpon yang jelas pasti membuat dokter Stevano
mengumpat habis asisten itu. Dalam waktu 15 menit dr. Stevano telah sampai di
__ADS_1
kediaman Asisten Je, dan saat ini laki-laki gagah dengan wajah yang tampan
sedang memeriksa gejala aneh yang ada di tangan Asisten Je seperti yang di
ceritakan kepadanya.
“Bersih kok, ndak ada efek apapun,
gimana ceritanya sih, kok bisa kamu nggak berasa apa-apa, apa karena dia masih
anak-anak kali ya” Ucap dr. Stevano panjang lebar.
“Kamu ingat waktu nona Maudy tidak
sengaja menyentuhku?” Tanya Asisten Je, dr. Stevano menerawang pada beberapa
bulan lalu tentang kedatangan Asisten Je dan Tuan Muda Alvero di tempat prakteknya.
Saat itu hampir seluruh tubuh Asisten
Je terdapat ruam dan bintik-bintik merah serta di beberapa bagian tubuh
terkelupas lecet seperti tersiram air panas dan laki-laki itu mengeluh gatal.
Ternyata akibatnya karena sentuhan yang dilakukan oleh Nona Kecil Maudy karena
gadis kecil itu juga ingin bermanja dengan lelaki yang sudah dianggapnya
pamannya itu. Namun ternyata efeknya sangat luar biasa, bahkan hal itu sempat
membuat kemarahan Tuan Muda Alvero meluap karena menganggap bahwa Asisten Je
jijik dan menganggap putrinya pesakitan yang membawa penyakit menular. Tapi
setelah dijelaskan oleh dr. Stevano bahwa sebenarnya Asisten Je mengidap alergi
mysophobia yang dikenal dengan alergi terhadap sentuhan dari lawan jenis,
siapapun orangnya tanpa memandang usia. Dari situ Tuan Muda Alvero akhirnya
memahami situasi yang di alami oleh asistennya.
“Ya aku sangat mengingatnya, Nona kecil
bahkan masih anak-anak waktu itu”
“Nah…terus ini kenapa tidak ada efek,
aku sendiri bingung? Apa alergiku sudah sembuh? Tapi kau tau sendiri beberapa
waktu lalu aku mengalami hal yang sama lagi saat sekretaris sialan itu sengaja
menyentuhku” Amarah Asisten Je meluap, hingga ia melupakan kalau ia sudah
bicara panjang lebar di depan dr. Stevano, yang membuat pria itu melongo tak
percaya.
“Tutup mulutmu!” Sentak Asisten Je
seraya melempar muka Stevano dengan bantalan sofa, pria itu tertawa terbahak.
“Kalau alergi mu jelas belum sembuh,
tapi dingin mu sudah kayaknya…hahahaha” Pria itu menghindar dari lemparan bantalan
sofa berikutnya dengan masih tertawa.
.
.
Kembali ke kediaman Raya.
di mulai, Hanum tidak mau mandi karena takut lututnya akan basah dan akan
menimbulkan rasa sakit. Segala bujuk rayu sudah di lancarkan tapi Hanum masih
kekeh. Tinggal satu jurus, Raya yakin kali ini pasti ampuh.
“Ya sudah…kalau begitu Hanum tinggal di
rumah sama eyang ya” Kata Raya memulai rencananya. Gadis kecil itu menoleh
dengan mata sembab dan bibir yang sesenggukan. Tubuhnya melekat erat ke pelukan
Raya.
“Mau temana?” Tanyanya terbata.
“Mama mau jalan sama Kak Tita terus
ketemu sama artis, Hanum kan sakit, jadi Hanum di rumah aja ya”
“Itut mama…” Rengeknya. Raya menutup
hidungnya pura-pura bau dengan tubuh Hanum.
“Tapi Hanum bau acem…nanti kalau
artisnya mencium bau tidak sedap Hanum gimana?”
“Iyah…ayok…mandi mama…Anium mau mandi
mama”
“Hanum mau mandi? Tadi katanya sakit?”
Goda Raya.
“Indak atit agi lo, ini Anium alan…”
Hanum meminta turun dari pangkuan Raya dan mulai berjalan. Di gandengnya tangan
Raya menuju kamarnya uintuk mandi.
“Ayok mama…” Raya tersenyum seraya
mengikuti langkah Hanum. Rencana berhasil. Walaupun sesi meringis dan merengek
tetap ada tapi proses mandi berhasil dengan aman. Hehe.
.
.
Siang ini Raya, Titania, dan Hanum sudah
duduk di dalam mobil menuju ke arah kafe faforit anak muda di kawasan Sukarno
Hatta. Pak Malik hanya tersenyum mendengarkan celotehan Hanum yang katanya akan
bertemu dengan artis. Sementara Titania hanya mendengus jengkel dengan hal yang
tidak masuk akal baginya. Memang artis siapa yang mempunyai janji dengan
mamanya? Seingatnya, meski tinggal di Kota Jakarta dulu tidak pernah mamanya
berhubungan dengan artis ibukota manapun.
Pak Malik memarkirkan mobil di tempat
parkir dan membukakan pintu untuk si kecil Hanum.
“Bapak ikut ke dalam aja” Tawar Raya.
__ADS_1
“Ndak usah neng, bapak nunggu di pos
satpam itu saja”
“O ya sudah, kami masuk dulu ya pak”
Raya tidak memaksa, karena Pak Malik pasti tidak mau.
“Silahkan neng…”
Raya bersama kedua putrinya memasuki
kafe yang cukup padat, mereka di sambut oleh pramutamu untuk menanyakan
reservasi.
“Maaf Nona, apa sudah reservasi
sebelumnya?” Tanya pramutamu perempuan.
“Saya datang atas undangan Nona Nitha
Amelia”
“O iya, silahkan ikuti saya, Nona Nitha
barusan sudah datang”
“Baik” Raya menggandeng Hanum dan
Titania mengikuti di belakangnya menuju sebuah ruangan VIP yang sudah di pesan
oleh Nitha. Begitu memasuki ruangan, tampak seorang gadis tengah duduk bersama
asistennya. Mereka langsung berdiri menyambut kedatangan Raya.
“Mbak Raya, senang sekali akhirnya kita
bisa makan bersama…” Nitha menghampiri kemudian memeluk Raya sebentar.
“Eh…ini pasti Princess Hanum
ya…uluh…cantiknya…” Puji Nitha seraya menubit pipinya gemas. Gadis kecil itu
hanya meringis seraya mengelus pipinya. Sementara Titania hanya memandang
seraya menaikkan kedua alisnya.
“Ini artisnya ma?” Tanyanya tak percaya
seraya duduk bertepatan berhadapan dengan sang asisten yang gemulai.
“Hush…Kak Tita, gak boleh gitu ah”
Tegur Raya pelan, untung berbisik, gimana kalau mereka dengar.
“Mbak Raya bisa pesan apa aja, kalian
juga boleh kok, Hanum mau es krim? Ini Titania kah mbak?” Nitha ceria sekali
menyapa anak-anaknya. Titania hanya mengangguk.
“Leh ekim ma?”
“Iya boleh, Hanum mau yang coklat apa
strawberry?”
“Wa leh?”
“Ish…satu aja Hanum, belum tentu juga
habis” Titania menjawab agak judes. Mata gadis kecil itu langsung berkaca
seraya memandang mamanya.
“Eh…Hanum boleh kok pesan es krim apa
aja, ya kan mbak?” Nitha menengahi debat kecil dua saudara itu.
“Iya boleh, asal Hanum makan dulu ya”
“Iyah…” Gadis kecil itu mengangguk
tersenyum yang membuat Nitha langsung tergelak, pintar acting sekali gadis
kecil ini, batinnya.
.
.
Mereka menikmati hidangan seraya
berbincang santai, mulai dari awal Nitha menjadi model perhiasan Diamond
Jewerly sampai sekolah Titania bahkan keseruan Hanum.
“Eh, Mbak Raya udah dengar jadwal
syuting terbaru?” Tanya Nitha sambil menikmati vanilla latte. Raya hanya
mengernyit heran.
“Aku belum dikabari tuh kalau akan ada
syuting baru, kapan?”
“Pekan depan Mbak, lokasinya di Taman
Safari, temanya bersatu bersama alam mbak”
“Emang Asisten Je belum beritahu ya?”
Kali ini yang bertanya asisten Nitha yang biasa di panggil Wen Wen.
“Belum” Jawab Raya pelan.
“Aku berharap Mbak Raya yang berangkat
sih” Timpal Nitha.
“Kenapa harus aku, kan banyak
personelnya”
“Nyaman aja kalau sama Mbak Raya,
lagipun kita kan udah deket, ya nggak mbak?”
“Iya nek, kalau ada apa-apa aman nih
eike”
“Bisa aja, kalau memang nanti di
tugaskan, in shaa allah siap aja”
“Yess, ya udah terusin makannya, Hanum
mau nambah? Boleh kok, Kak Tita juga” Nitha berucap dengan gembira. Mereka
berdua hanya tersenyum menanggapi keceriaan Nitha.
To Be Continued
__ADS_1