Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 31 MASIH PERSAINGAN DUA HATI


__ADS_3

Raya kembali beraktifitas seperti biasanya, dia benar-benar sibuk mempersiapkan berkas-berkas perjanjian


kesepakatan yang akan di pakai meeting persetujuan kerja sama dengan perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, mereka berusaha mencari peluang yang lebih luas selain bisnis di bidang perhiasan. Meeting akan kembali di adakan di perusahaan Diamond Jewerly dengan mengundang pemegang saham termasuk Prasaja


Resot and Hotel.


Hingga akhirnya pukul dua siang semua undangan sudah hadir di ruang rapat, tinggal menunggu Alvero sebagai CEO Diamond Jewerly beserta asistennya, tak lupa sekretaris pribadi Asisten Je.


“Siapkan berkasnya, jangan sampai tertinggal atau terlewat satu informasi pun, karena ini kerja sama awal” Titah


Alvero kepada dua orang yang berdiri di depannya, siapa lagi kalau bukan Asisten Je dan Raya. Kedua orang itu mengangguk mantab.


“Baiklah kita ke ruang rapat sekarang”


“Baik Tuan Muda, silahkan” Asisten Je menyilahkan Alvero berjalan duluan kemudian di susul keduanya di belakangnya.


“Jaga sikapmu” Kata Asisten Je tiba-tiba membuat kening Raya berkerut heran.


“Maksudnya?” Tanyanya tak mengerti.


“Aku tahu dia tertarik padamu, jadi jangan tebar pesona di saat jam kerja” Bisiknya sinis agar tidak didengar bos


mereka. Raya langsung membelalakkan matanya.


“Saya selalu bersikap ‘profesional’ kalau Anda lupa Tuan” Tekan Raya pada kalimat ‘profesional’. Laki-laki itu hanya tersenyum sinis.


Mereka sudah memasuki ruang rapat dan terlihat semua sudah hadir. Saat Raya muncul terakhir pandangan sepasang mata langsung berbinar dan bersemangat.


“Selamat siang tuan-tuan semua, kita akan mulai meetingnya dengan masing-masing investor menyampaikan presentasinya” Sambut Asisten Je yang selalu tegas, lugas dan tanpa basa-basi dengan menanyakan kabar terlebih dahulu. Hal itupun sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi para pengusaha itu. Alvero hanya mengamati semua presentasi dengan gaya yang elegan dan tegas, tanpa ada interupsi atau menyela, ia memperhatikan semua materi yang di sampaikan oleh masing-masing pemegang saham. Kesepakatan diambil dengan saling menguntungkan pihak pertama dan para pemegang saham, sehingga tidak ada yang merasa di rugikan.


“Baiklah setelah ini semua akan diurus oleh sekretarisku mulai dari kontrak kerja dan lainnya, saya harap kerjasama

__ADS_1


ini bisa berjalan dengan baik. Kita akan bertemu kembali ketika berkas perjanjian sudah jadi, terima kasih atas kehadiran tuan-tuan semua.” Asisten Je mengakhiri pertemuan itu kemudian mengangguk sebagai salam hormat kepada semuanya. Raya ikut berdiri dan membereskan semua kertas kerja kemudian mengikuti Alvero dan Asisten Je keluar ruangan terlebih dahulu.


“Hai…” Sapa suara laki-laki yang tiba-tiba menjajari langkah Raya. Wanita itu menoleh terkejut kemudian buru-buru mengangguk tersenyum.


“Bagaimana saudaramu, apa sudah sembuh?” Tanyanya. Tanpa mereka sadari tampak tangan seseorang di depan mereka terkepal kesal. Haha…hati-hati Je, kamu rupanya benar-benar telah terpesona pada Raya.


“Baik Tuan”


“Huh, Adit, kau ingat kan”


“Maaf Tuan, kita sedang berada di lingkungan kerja” Jawab Raya formal membuat laki-laki itu hanya menghela nafas.


“Nanti malam ada waktu luang tidak?” Tanya Aditya masih belum menyerah.


“Maaf Tuan Prasaja, sepertinya kerja sama telah disepakati di dalam ruang meeting dan sekretaris saya juga sudah


harus kembali bekerja” Sergah Asisten Je kesal seraya membalikkan badan menghadap mereka dengan tatapan yang sangat tajam hingga membuat Raya merinding  takut.


“Maaf Tuan saya permisi dulu” Pamit Raya menuju ke lift untuk kembali ke ruangannya. Aditya hanya tersenyum kecut kemudian memandang Asisten Je.


“Ini di jam kerja tuan, jadi semua aturan berlaku untuk semua karyawan” Kata Asisten Je datar.


“Baiklah, terima kasih atas sambutan dan kerjasamanya, kita akan selalu bertemu ke depannya, jadi jangan kaget dan terlalu protektif ya” Aditya melangkah bersama asistennya menuju ke lift untuk turun ke lantai satu.


.


.


Raya merapikan berkas perjanjian yang telah diketiknya  untuk ditandatangani oleh Tuan Muda Alvero, tapi tentu saja harus melalui prosedur editor sang asisten. Ia melangkah keluar ruangan untuk menuju ruangan Asisten Je.


Tok

__ADS_1


Tok


“Masuk” Suara Asisten Je dari dalam, Raya membuka pintu perlahan dan memasuki ruangan. Laki-laki itu sedang fokus dengan lap top di depannya tanpa memandang ke arah Raya.


“Ehm, maaf Tuan, ini berkas yang sudah siap untuk ditandatangani Tuan Muda” Raya menyodorkan berkas ke depan meja pria itu. Pria itu hanya melirik sejenak kemudian melanjutkan kegiatannya lagi.


“Apa tidak di cek dulu Tuan?” Tanya Raya.


“Hmmm” Gumam Asisten Je masih tetap fokus membuat Raya menggeram dalam hati. Selalu begini…


“Kalau begitu saya permisi dulu.” Raya segera berbalik menuju keluar.


“Siapa yang menuruhmu keluar?!” Tegur suara di belakangnya tajam. Raya langsung berhenti dan berbalik perlahan.


“Maaf Tuan.” Yah…minta maaf saja Raya biar urusannya nggak panjang.


“Duduk!” Perintahnya membuat Raya langsung kembali ke meja Asisten Je dan duduk di depannya. Laki-laki itu


meneliti semua berkas yang diserahkannya tanpa kata dan tatapan. Setelah setengah jam berlalu…


“Oke, yang ini kamu perbaiki lagi” Asisten Je melemparkan satu berkas ke hadapannya yang langsung ditangkap dengan tangkas.


“Kamu siap menanggung kerugian dengan kesalahan fatal seperti itu?!” Tanya laki-laki itu seraya menangkupkan


kesepuluh jarinya dengan punggung bersandar. Raya langsung mengoreksi berkas itu dan matanya langsung terbelalak, ah iya ada kesalahan ketik hingga terjadi selisih yang cukup besar. Walaupun dia mampu menutupi selisih itu, tapi kalau bisa diperbaiki kenapa tidak? Ia menatap laki-laki di depannya dengan pandangan bersyukur.


“Terima kasih Tuan atas koreksinya dan maafkan atas keteledoran saya, akan saya perbaiki lagi”


“Makanya urusan pribadi jangan di bawa ke kantor”


“Maksudnya Tuan?” Tanya Raya bingung.

__ADS_1


“Kalau mau janjian itu di luar kantor” Ketusnya. Raya menaikkan kedua alisnya bingung. Tapi ia tidak mau memperpanjang masalah, pasti ujung-ujungnya di suruh lembur lagi. Iyain ajalah.


“Baik Tuan, maafkan saya, saya mohon undur diri untuk memperbaiki kesalahan ini, permisi” Raya langsung bangkit dari duduknya dan bergegas keluar. Asisten Je hanya menatap tak percaya, jadi dia benar-benar ada janji dengan laki-laki tadi? Segitu pentingkah dia? Tanpa sadar laki-laki itu melempar bolpointnya ke atas meja.


__ADS_2