
Hari minggu pagi pukul 05.00
Hari ini Raya bangun pagi sekali dan
melaksanakan sholat shubuh, seperti biasa ia akan membangunkan kedua putrinya
untuk melaksanakan sholat shubuh juga, namun setelah sholat mereka lanjut tidur
lagi, jadinya Raya lari paginya sendirian saja.
Baru berlari beberapa meter, tampak ada
seorang laki-laki dengan penampilan setelan trining warna hijau tentara mendahuluinya.
Dari belakang terlihat postur tubuhnya yang tinggi gagah dengan kulit kuning
langsat. Semerbak wangi parfumnya sangat menyegarkan, membuat Raya menikmatinya
sambil tetap berlari santai. Namun, kenapa lari laki-laki itu tetap stabil
bahkan ia sedikit memperlambat laju larinya, hingga ketika ia hendak mendahului
terdengar deheman keras dari laki-laki itu.
“Ehm, dilarang mendahului atasan!” Tegur
laki-laki itu ketus. Raya menoleh terkejut dan langsung membelalakkan matanya,
namun kemudian ia tersenyum miring.
“Maaf ya Tuan, ini bukan hari kerja
saya, jadi saya tidak mengenal Tuan, permisi” Jawab Raya seraya tetap melajukan
larinya.
“Hei, walaupun begitu tidak sopan ya wanita
mendahului pria” Katanya tak mau kalah.
“Peraturan dari mana itu?” Tanpa mereka
sadari mereka telah sejajar dalam berlari.
“Peraturan yang aku buat sendiri”
Jawabnya cuek.
“Hm, aneh” Dengus Raya.
“Kemana putrimu, kenapa tidak ikut?”
Tanya Asisten Je seraya menoleh memandangi wajah wanita di sebelahnya.
“Tidur lagi” Jawab Raya malas. Mereka berdua
terdiam dan meneruskan lari pagi mereka sampai selesai mengitari taman
perumahan.
“Nih” Asisten Je menyodorkan botol
mineral kepada Raya yang sedang istirahat di kursi taman. Wanita itu menerima
dengan heran, ‘kenapa berbeda sekali sikapnya di luar kantor? Ah bodo amat’
Pikir Raya.
“Terima kasih Tuan”
“Katamu bukan atasan, kenapa masih
manggil Tuan?” Protes Asisten Je seraya duduk di sebelah Raya.
“Bukannya tidak sopan ya manggil nama
kepada yang lebih tua?”
“Tua, aku?” Tanya laki-laki itu seraya
menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuknya.
“Emang benar kan?” Jawab Raya seraya
tersenyum miring.
“Usiaku belum 40 tahun ya!” Jawab
Asisten Je ketus, membuat Raya langsung tertawa lepas. Asistes Je sejenak
terpana dengan ekspresi wanita itu namun secepat itu juga ia kembali pada
ekspresi datarnya.
“Kalau keseringan marah ntar jadi usia
50 tahun lho” Sindir Raya seraya tersenyum tipis kemudian berdiri dari
duduknya.
“Maafkan saya Tuan, saya harus pulang,
terima kasih mineralnya, permisi” Tanpa menunggu jawaban atasannya Raya
langsung berlalu dari taman dan pulang ke rumah. Asisten Je tampak melotot tak
percaya dengan reaksi yang diterimanya dari sekretarisnya itu. Sekejam itukah
aku baginya, hingga menyapa di luar kantor saja masih formal.
.
Sampai di rumah, Raya melihat rumah
masih dalam keadaan sepi, sepertinya kedua putrinya masih tetap tertidur
nyenyak. Raya bergegas menuju ke kamar untuk membersihkan diri. 15 menit
kemudian ia sudah berkutat dengan peralatan dapur, di hadapannya telah tersedia
sayuran hijau, telur, dan mie instan yang akan di buat omelet sayur, tak
ketinggalan sosis kesukaan Hanum. Bu Nanik kalau hari Minggu akan datang lebih
siang, karena tidak harus menyiapkan keperluan kedua putrinya. 30 menit masakan
telah matang dan tersaji di meja makan, kemudian ia mulai membangunkan kedua
putrinya.
Tok
Tok
Ceklek
Tampak Titania bergelung di dalam
selimut, masih enggan untuk menggerakkan tubuhnya. Raya hanya menggeleng-geleng
dan membuka gorden sampai penuh hingga sinar matahari langsung menyinari kamar
gadis itu. Merasa kamarnya menjadi terang, matanya mengerjap-ngerjap.
__ADS_1
“Mama?” Panggilnya dengan suara serak.
“Sudah bangun? Bersih-bersih yuk, makan
dah siap tuh” Ajak Raya. Gadis itu mengangguk kemudian beringsut bangun menuju
kamar mandi. Raya membenarkan sprei dan selimut putrinya yang berantakan,
kemudian ia melangkah keluar untuk menuju kamar putri bungsunya.
Tok
Tok
Ceklek
Gadis kecil itu juga masih bergelung
manja di balik selimut, bahkan posisinya mirip bayi dalam kandungan. Raya
tersenyum menggeleng, ia membuka gorden kemudian menghampiri ranjang dan duduk
di sisi ranjang.
“Sayang, bangun dong…mama dah masak
sosis lho…. Ntar dimakan habis ma Kak Tita lhooo” Goda Raya seraya mencium
kening dan pipi gadis kecil itu.
“Anan mama, puna aku tuuuu” Rengeknya
manja seraya membuka matanya dan menguceknya. Raya mengambil tangan itu dan
mengusap-usap mata Hanum pelan dengan jempolnya.
“Ya udah, yuk bangun” Ajaknya lagi,
gadis kecil itu langsung duduk dengan menyadongkan kedua tangan, namun kedua
matanya masih terpejam. Raya dibuat tertawa lebar dengan aksi lucunya,
diangkatnya tubuh gembul itu ke kamar mandi dan dimandikan. 15 menit kemudian
acara mandi dan ganti baju telah selesai. Kini mereka berdua telah duduk rapi
di meja makan. Raya membawa 3 gelas jus aneka buah dan di letakkan di depan
masing-masing putrinya dan dia sendiri.
“Ayok makan, eh giliran siapa yang berdoa
nih” Kata Raya menatap kedua putrinya. Hanum mengacungkan tangan.
“Aku mama, bismilahillohmanilohim,
allohuma alik ana iima lojaktana wakina ada bannal”
“Aamiin” Serempak Raya dan Titania
mengaminkan kemudian Raya mulai menata nasi, sayur dan lauk di piring kedua
putrinya tanpa ada adegan protes dari kedua putrinya membuat Raya tersenyum
senang karena pagi ini ia bisa melayani kedua putrinya.
.
.
Raya menyirami tanaman di taman mini
depan rumahnya sementara Hanum bermain dengan kelima boneka my little pony nya
di teras dan Titania santai duduk di kursi teras sambil membaca novel remaja.
Tring
Tring
“Ma, Pak Malik nih” Seru Titania
melihat notif panggilan di hp mamanya.
“Iya, bentar” Raya mematikan kran air
dan menghampiri teras.
“Assalamu’alaikum Pak Malik, ada apa ya?”
Tanya Raya seraya duduk di kursi rotan sebelah Titania.
“Wa’alaikumussalam, gini neng, apa
Neng Raya jadi mau mencari pembantu rumah tangga?” Tanya Pak Malik.
“Jadi pak, bapak sudah ada orangnya
yang bersedia?”
“Ada neng, tetangga bapak yang dulu
pernah bapak bilang”
“Ya udah, ajak kesini aja pak, apa
sekarang bisa?”
“Bisa neng, ini orangnya di sebelah
saya, ya sudah neng saya ke rumah eneng ya”
“Iya pak saya tunggu ya,
assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam”
Raya meletakkan hpnya dengan tersenyum.
“Kenapa ma?” Tanya Titania heran.
“Kita mau kedatangan ibu yang mau
membersihkan rumah, kasihan eyang kan kalau semua di tangani sendiri, kalau
masak aja mama masih ngatasi tapi yang lainnya…” Kata Raya dengan tersenyum
lebar.
“Iya ma, eyang juga udah tua lagi”
“Siapa yang sudah tua nih?” Tanya Bu
Nanik yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah sambil membawa sepiring roti
goreng krispi coklat keju.
“Waaahhh, enak ini eyang” Titania yang
biasanya cuek langsung spontan mencomot roti goreng krispi coklat keju yang
masih hangat.
__ADS_1
“Hanum sini nak, enak lho ini buatan
eyang” Kata Bu Nanik, Hanum berlari meninggalkan bonekanya dan mengambil sebuah
roti.
“Hmmmm, enak iyan” Puji Hanum.
“Eyang pintar buatnya” Puji Titania.
“Terima kasih anak-anak cantik, eyang
dulu pernah ikut anak eyang sebentar di Bali, trus bikin ini, jadi cemilan
favorit sekarang” Terang Bu Nanik.
“Iya iyan, uat ni ja” Kata Hanum dengan
mulut penuh membuat yang melihatnya seperti itu tertawa gemas.
“Di telan dulu sayang, nanti tersedak…”
Peringat Raya seraya mengelap lelehan coklat yang nempel di dagu Hanum dengan
tissue.
“Oh ya, gini bu, Pak Malik barusan
telepon, katanya orang yang mau membersihkan rumah, dan cuci setrika bersedia
ke sini”
“Ooo sudah ada orangnya yang bantu?
Kapan katanya ke sini?” Tanya Bu Nanik.
“Hari ini sih Pak Malik mbawa ke sini,
nanti ibu cukup fokus ke anak-anak saja”
“Ibu jadi nggak enak nih nak…”
“Ibu…Raya yang merasa sungkan sama ibu,
repotin melulu”
“Nggak papa nak, ibu malah terhibur
kok, ya sudah, nanti biar tinggal sama ibu aja nak, biar ibu ada temannya”
“Oh gitu, apa ibu nggak keberatan?
Nggak merepotkan bu?”
“Nggak lah nak, ibu malah seneng kok”
“Baiklah, terima kasih ya bu” Raya
tersenyum tulus ke arah Bu Nanik, wanita itu balas tersenyum seraya mengelus
kepala Hanum sayang.
.
.
Terdengar sepeda motor Pak Malik
memasuki halaman dan terlihat seorang wanita setengah baya perkiraan usia 50an turun
dari boncengan belakang.
“Assalamu’alaikum Neng Raya, Bu Nanik,
anak-anak, Wah…lagi santai ya ini” Sapa Pak Malik.
“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka
serempak.
“Iya nih pak, eh silahkan duduk dulu
pak, bu?” Raya mempersilahkan mereka duduk, ‘kok seperti pernah ketemu ya, tapi
dimana?’ Batin Raya.
“Terima kasih neng” Jawab Pak Malik
kemudian mempersilahkan wanita itu duduk.
“Ini neng yang mau membantu Neng Raya, namanya
Bu Arumi” Kata Pak Malik.
“Maaf neng, apa neng bersedia
mempekerjakan wanita yang sudah tua?” Tanya wanita itu, Raya terkejut
mendengarnya.
“Lho, ibu…saya malah merasa
berterimakasih ibu mau membantu saya membersihkan rumah, tapi apa ibu bersedia
menginap?” Tanya Raya.
“Menginap neng? Ibu tinggal sendiri
sih, jadi sepertinya tidak masalah neng”
“Kalau gitu kebetulan sekali, Bu Nanik
ini tetangga saya dan beliau yang mengurus keperluan kedua putri saya, beliau meminta
ibu untuk tinggal sama beliau” Jelas Raya seraya tersenyum, “Dan ini Titania
anak sulung saya, yang imut ini Hanum anak bungsu saya” Sambungnya seraya
mengelus kepala kedua putrinya bergantian.
“Iya terima kasih neng, salam kenal
anak-anak” Kata Bu Arumi yang sepertinya sangat menyukai lingkungan baru
tempatnya bekerja.
“Ya sudah, ibu mulai kapan bisa kerja di
sini?” Tanya Raya.
“Sekarang juga bisa neng”
“Benarkah? Wah baguslah, tapi panggil
saya Raya aja bu jangan pakai neng, ya?” Pinta Raya.
“Baiklah neng”
“Raya bu…” Protes Raya.
“Eh…iya Nak Raya” Ucap Bu Arumi gugup
membuat Raya tersenyum. Wanita setengah baya itu tersenyum dan merasa bersyukur
__ADS_1
dalam hati karena mendapatkan majikan yang baik hati dan ramah, ia berjanji
dalam hatinya akan mengabdi sampai masa tuanya habis.