Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 22 Santai di Hari Minggu


__ADS_3

Hari minggu pagi pukul 05.00


Hari ini Raya bangun pagi sekali dan


melaksanakan sholat shubuh, seperti biasa ia akan membangunkan kedua putrinya


untuk melaksanakan sholat shubuh juga, namun setelah sholat mereka lanjut tidur


lagi, jadinya Raya lari paginya sendirian saja.


Baru berlari beberapa meter, tampak ada


seorang laki-laki dengan penampilan setelan trining warna hijau tentara mendahuluinya.


Dari belakang terlihat postur tubuhnya yang tinggi gagah dengan kulit kuning


langsat. Semerbak wangi parfumnya sangat menyegarkan, membuat Raya menikmatinya


sambil tetap berlari santai. Namun, kenapa lari laki-laki itu tetap stabil


bahkan ia sedikit memperlambat laju larinya, hingga ketika ia hendak mendahului


terdengar deheman keras dari laki-laki itu.


“Ehm, dilarang mendahului atasan!” Tegur


laki-laki itu ketus. Raya menoleh terkejut dan langsung membelalakkan matanya,


namun kemudian ia tersenyum miring.


“Maaf ya Tuan, ini bukan hari kerja


saya, jadi saya tidak mengenal Tuan, permisi” Jawab Raya seraya tetap melajukan


larinya.


“Hei, walaupun begitu tidak sopan ya wanita


mendahului pria” Katanya tak mau kalah.


“Peraturan dari mana itu?” Tanpa mereka


sadari mereka telah sejajar dalam berlari.


“Peraturan yang aku buat sendiri”


Jawabnya cuek.


“Hm, aneh” Dengus Raya.


“Kemana putrimu, kenapa tidak ikut?”


Tanya Asisten Je seraya menoleh memandangi wajah wanita di sebelahnya.


“Tidur lagi” Jawab Raya malas. Mereka berdua


terdiam dan meneruskan lari pagi mereka sampai selesai mengitari taman


perumahan.


“Nih” Asisten Je menyodorkan botol


mineral kepada Raya yang sedang istirahat di kursi taman. Wanita itu menerima


dengan heran, ‘kenapa berbeda sekali sikapnya di luar kantor? Ah bodo amat’


Pikir Raya.


“Terima kasih Tuan”


“Katamu bukan atasan, kenapa masih


manggil Tuan?” Protes Asisten Je seraya duduk di sebelah Raya.


“Bukannya tidak sopan ya manggil nama


kepada yang lebih tua?”


“Tua, aku?” Tanya laki-laki itu seraya


menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuknya.


“Emang benar kan?” Jawab Raya seraya


tersenyum miring.


“Usiaku belum 40 tahun ya!” Jawab


Asisten Je ketus, membuat Raya langsung tertawa lepas. Asistes Je sejenak


terpana dengan ekspresi wanita itu namun secepat itu juga ia kembali pada


ekspresi datarnya.


“Kalau keseringan marah ntar jadi usia


50 tahun lho” Sindir Raya seraya tersenyum tipis kemudian berdiri dari


duduknya.


“Maafkan saya Tuan, saya harus pulang,


terima kasih mineralnya, permisi” Tanpa menunggu jawaban atasannya Raya


langsung berlalu dari taman dan pulang ke rumah. Asisten Je tampak melotot tak


percaya dengan reaksi yang diterimanya dari sekretarisnya itu. Sekejam itukah


aku baginya, hingga menyapa di luar kantor saja masih formal.


.


Sampai di rumah, Raya melihat rumah


masih dalam keadaan sepi, sepertinya kedua putrinya masih tetap tertidur


nyenyak. Raya bergegas menuju ke kamar untuk membersihkan diri. 15 menit


kemudian ia sudah berkutat dengan peralatan dapur, di hadapannya telah tersedia


sayuran hijau, telur, dan mie instan yang akan di buat omelet sayur, tak


ketinggalan sosis kesukaan Hanum. Bu Nanik kalau hari Minggu akan datang lebih


siang, karena tidak harus menyiapkan keperluan kedua putrinya. 30 menit masakan


telah matang dan tersaji di meja makan, kemudian ia mulai membangunkan kedua


putrinya.


Tok


Tok


Ceklek


Tampak Titania bergelung di dalam


selimut, masih enggan untuk menggerakkan tubuhnya. Raya hanya menggeleng-geleng


dan membuka gorden sampai penuh hingga sinar matahari langsung menyinari kamar


gadis itu. Merasa kamarnya menjadi terang, matanya mengerjap-ngerjap.

__ADS_1


“Mama?” Panggilnya dengan suara serak.


“Sudah bangun? Bersih-bersih yuk, makan


dah siap tuh” Ajak Raya. Gadis itu mengangguk kemudian beringsut bangun menuju


kamar mandi. Raya membenarkan sprei dan selimut putrinya yang berantakan,


kemudian ia melangkah keluar untuk menuju kamar putri bungsunya.


Tok


Tok


Ceklek


Gadis kecil itu juga masih bergelung


manja di balik selimut, bahkan posisinya mirip bayi dalam kandungan. Raya


tersenyum menggeleng, ia membuka gorden kemudian menghampiri ranjang dan duduk


di sisi ranjang.


“Sayang, bangun dong…mama dah masak


sosis lho…. Ntar dimakan habis ma Kak Tita lhooo” Goda Raya seraya mencium


kening dan pipi gadis kecil itu.


“Anan mama, puna aku tuuuu” Rengeknya


manja seraya membuka matanya dan menguceknya. Raya mengambil tangan itu dan


mengusap-usap mata Hanum pelan dengan jempolnya.


“Ya udah, yuk bangun” Ajaknya lagi,


gadis kecil itu langsung duduk dengan menyadongkan kedua tangan, namun kedua


matanya masih terpejam. Raya dibuat tertawa lebar dengan aksi lucunya,


diangkatnya tubuh gembul itu ke kamar mandi dan dimandikan. 15 menit kemudian


acara mandi dan ganti baju telah selesai. Kini mereka berdua telah duduk rapi


di meja makan. Raya membawa 3 gelas jus aneka buah dan di letakkan di depan


masing-masing putrinya dan dia sendiri.


“Ayok makan, eh giliran siapa yang berdoa


nih” Kata Raya menatap kedua putrinya. Hanum mengacungkan tangan.


“Aku mama, bismilahillohmanilohim,


allohuma alik ana iima lojaktana wakina ada bannal”


“Aamiin” Serempak Raya dan Titania


mengaminkan kemudian Raya mulai menata nasi, sayur dan lauk di piring kedua


putrinya tanpa ada adegan protes dari kedua putrinya membuat Raya tersenyum


senang karena pagi ini ia bisa melayani kedua putrinya.


.


.


Raya menyirami tanaman di taman mini


depan rumahnya sementara Hanum bermain dengan kelima boneka my little pony nya


di teras dan Titania santai duduk di kursi teras sambil membaca novel remaja.


Tring


Tring


“Ma, Pak Malik nih” Seru Titania


melihat notif panggilan di hp mamanya.


“Iya, bentar” Raya mematikan kran air


dan menghampiri teras.


“Assalamu’alaikum Pak Malik, ada apa ya?”


Tanya Raya seraya duduk di kursi rotan sebelah Titania.


“Wa’alaikumussalam, gini neng, apa


Neng Raya jadi mau mencari pembantu rumah tangga?” Tanya Pak Malik.


“Jadi pak, bapak sudah ada orangnya


yang bersedia?”


“Ada neng, tetangga bapak yang dulu


pernah bapak bilang”


“Ya udah, ajak kesini aja pak, apa


sekarang bisa?”


“Bisa neng, ini orangnya di sebelah


saya, ya sudah neng saya ke rumah eneng ya”


“Iya pak saya tunggu ya,


assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumussalam”


Raya meletakkan hpnya dengan tersenyum.


“Kenapa ma?” Tanya Titania heran.


“Kita mau kedatangan ibu yang mau


membersihkan rumah, kasihan eyang kan kalau semua di tangani sendiri, kalau


masak aja mama masih ngatasi tapi yang lainnya…” Kata Raya dengan tersenyum


lebar.


“Iya ma, eyang juga udah tua lagi”


“Siapa yang sudah tua nih?” Tanya Bu


Nanik yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah sambil membawa sepiring roti


goreng krispi coklat keju.


“Waaahhh, enak ini eyang” Titania yang


biasanya cuek langsung spontan mencomot roti goreng krispi coklat keju yang


masih hangat.

__ADS_1


“Hanum sini nak, enak lho ini buatan


eyang” Kata Bu Nanik, Hanum berlari meninggalkan bonekanya dan mengambil sebuah


roti.


“Hmmmm, enak iyan” Puji Hanum.


“Eyang pintar buatnya” Puji Titania.


“Terima kasih anak-anak cantik, eyang


dulu pernah ikut anak eyang sebentar di Bali, trus bikin ini, jadi cemilan


favorit sekarang” Terang Bu Nanik.


“Iya iyan, uat ni ja” Kata Hanum dengan


mulut penuh membuat yang melihatnya seperti itu tertawa gemas.


“Di telan dulu sayang, nanti tersedak…”


Peringat Raya seraya mengelap lelehan coklat yang nempel di dagu Hanum dengan


tissue.


“Oh ya, gini bu, Pak Malik barusan


telepon, katanya orang yang mau membersihkan rumah, dan cuci setrika bersedia


ke sini”


“Ooo sudah ada orangnya yang bantu?


Kapan katanya ke sini?” Tanya Bu Nanik.


“Hari ini sih Pak Malik mbawa ke sini,


nanti ibu cukup fokus ke anak-anak saja”


“Ibu jadi nggak enak nih nak…”


“Ibu…Raya yang merasa sungkan sama ibu,


repotin melulu”


“Nggak papa nak, ibu malah terhibur


kok, ya sudah, nanti biar tinggal sama ibu aja nak, biar ibu ada temannya”


“Oh gitu, apa ibu nggak keberatan?


Nggak merepotkan bu?”


“Nggak lah nak, ibu malah seneng kok”


“Baiklah, terima kasih ya bu” Raya


tersenyum tulus ke arah Bu Nanik, wanita itu balas tersenyum seraya mengelus


kepala Hanum sayang.


.


.


Terdengar sepeda motor Pak Malik


memasuki halaman dan terlihat seorang wanita setengah baya perkiraan usia 50an turun


dari boncengan belakang.


“Assalamu’alaikum Neng Raya, Bu Nanik,


anak-anak, Wah…lagi santai ya ini” Sapa Pak Malik.


“Wa’alaikumussalam” Jawab mereka


serempak.


“Iya nih pak, eh silahkan duduk dulu


pak, bu?” Raya mempersilahkan mereka duduk, ‘kok seperti pernah ketemu ya, tapi


dimana?’ Batin Raya.


“Terima kasih neng” Jawab Pak Malik


kemudian mempersilahkan wanita itu duduk.


“Ini neng yang mau membantu Neng Raya, namanya


Bu Arumi” Kata Pak Malik.


“Maaf neng, apa neng bersedia


mempekerjakan wanita yang sudah tua?” Tanya wanita itu, Raya terkejut


mendengarnya.


“Lho, ibu…saya malah merasa


berterimakasih ibu mau membantu saya membersihkan rumah, tapi apa ibu bersedia


menginap?” Tanya Raya.


“Menginap neng? Ibu tinggal sendiri


sih, jadi sepertinya tidak masalah neng”


“Kalau gitu kebetulan sekali, Bu Nanik


ini tetangga saya dan beliau yang mengurus keperluan kedua putri saya, beliau meminta


ibu untuk tinggal sama beliau” Jelas Raya seraya tersenyum, “Dan ini Titania


anak sulung saya, yang imut ini Hanum anak bungsu saya” Sambungnya seraya


mengelus kepala kedua putrinya bergantian.


“Iya terima kasih neng, salam kenal


anak-anak” Kata Bu Arumi yang sepertinya sangat menyukai lingkungan baru


tempatnya bekerja.


“Ya sudah, ibu mulai kapan bisa kerja di


sini?” Tanya Raya.


“Sekarang juga bisa neng”


“Benarkah? Wah baguslah, tapi panggil


saya Raya aja bu jangan pakai neng, ya?” Pinta Raya.


“Baiklah neng”


“Raya bu…” Protes Raya.


“Eh…iya Nak Raya” Ucap Bu Arumi gugup


membuat Raya tersenyum. Wanita setengah baya itu tersenyum dan merasa bersyukur

__ADS_1


dalam hati karena mendapatkan majikan yang baik hati dan ramah, ia berjanji


dalam hatinya akan mengabdi sampai masa tuanya habis.


__ADS_2