Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 4 Mencari Pekerjaan (1)


__ADS_3

Hari Senin, merupakan hari baru bagi


mereka, Raya akan mendaftarkan Titania di SMPN favorit di Kota Malang. Sekolah


ini kelebihannya selain memiliki sarana yang lengkap juga terletak di zona


pendidikan jalan Veteran. Dekat dengan kampus UB, UM, UIN, UNMER, UNMUH dan


dekat juga dengan beberapa sekolah negeri maupun swasta. Pun juga lokasinya


dekat dengan perumahan yang Raya tinggali, hanya membutuhkan waktu 10 menit


untuk sampai ke sekolah. Untungnya, sekolah bersedia menerima murid pindahan di


kelas sembilan yang merupakan jenjang akhir di SMP apalagi melihat nilai dan


prestasi Titania yang membanggakan. Berbagai olimpiade saint sudah sering ia


juarai dan hampir semuanya juara satu, ia juga pernah menjuarai olimpiade


Matematika internasional di Jepang dengan meraih juara satu, sehingga nilai


lebih itulah yang membuat sekolah itu menerima Titania. Masih ada waktu enam


bulan untuk membuat harum nama sekolah tersebut.


Titania langsung masuk sekolah hari itu


juga, kini Raya mulai bingung bagaimana dengan hari-hari ke depannya, karena ia


harus mulai mencari pekerjaan untuk melangsungkan hidup ke depannya. Sebenarnya


tidak bekerjapun kebutuhan Titania sudah dicukupi tiap bulan oleh Ervin, yang


langsung mentransfer uang bulanan ke rekening Titania. Untuk kebutuhan dia dan


Hanum pun sudah di tanggung tiap bulan oleh keluarga Revian dari hasil


keuntungan perusahaan. Tapi Raya tidak mau kalau hanya mengandalkan uang diam


tersebut, ia ingin menyibukkan diri dengan bekerja agar pikirannya tidak


terpaku pada almarhum suaminya. Namun yang sekarang ia bingungkan adalah siapa


yang harus menemani Hanum, sementara ia belum terlalu mengenal semua tetangga


di perumahan, ia masih mencari informasi sekolah play grup di sekitar perumahannya.


Raya menuntun Hanum kembali ke


perumahan, mereka hanya perlu berjalan kaki dan itu membuat gadis kecil itu


berlompatan riang di gandengan Raya.


“Mama, aku cekolah kapan” Celotehnya


riang.


“Iya, nunggu Hanum setinggi ini” Kata


Raya seraya mengukur tinggi Hanum sejajar dengan pahanya membuat aura wajah


gadis kecil itu langsung muram.


“Napa lama Mama” Rajuknya.

__ADS_1


“Hanum yang sabar ya, Hanum harus rajin


makan sayur dan lauk yang banyak agar cepat tumbuh segini” Kata Raya lagi.


Gadis kecil itu tertawa riang.


“Aku mo makan cayul, biyal cepat


becal…” Katanya seraya melompat-lompat kegirangan. Raya mengacungkan jempolnya


memberi semangat.


“Lho…Neng Raya, baru nganter putrinya


sekolah ya…” Sapa Bu Nanik yang kebetulan habis belanja di warung.


“Eh…iya bu…” Jawab Raya tersenyum


ramah.


“Aduuuhhh, gemes sekali sih, siapa


namanya cantik?” Tanya Bu Nanik seraya mencubit gemas pipi Hanum, membuat gadis


kecil itu memandang Raya berkaca-kaca karena sakit di pipinya.


“Cakit Mama…” Rengeknya manja dengan


mengelus pipinya, Raya tersenyum seraya mengelus pipi Hanum.


“Aduh, maafkan ibu ya sayang….sakit


ya?” Bu Nanik mengelus pipi Hanum lembut, gadis kecil itu mengangguk, wajahnya


sudah ceria kembali karena ternyata wanita di depannya ini sangat baik dan


ramah.


Katanya ceria namun membuat Bu Nanik mengerutkan dahinya bingung mencerna


kalimat Hanum.


“Sudah sembuh bu, dan namanya Hanum”


Raya menimpali dengan tersenyum.


“Oalah…ibu sampai bingung ini…haha”


“Oya bu, dimana ya saya bisa cari baby


sitter untuk menjaga anak saya”


“Neng Raya cari pembantu gitu


maksudnya?” Tanya Bu Nanik.


“Tidak bu, tapi pengasuh untuk Hanum”


“Oooo kirain pembantu, kalau ibu saja


gimana mau nggak?” Tawar Bu Nanik membuat Raya tak percaya.


“Benarkah Bu Nanik bersedia? Apa tidak


merepotkan suami dan anak-anak Bu Nanik nantinya?” Kata Raya canggung.

__ADS_1


“Tenang saja Neng, saya ini janda,


anak-anak saya sudah pada nikah semua dan ikut suaminya, saya hanya tinggal


seorang diri”


“Oh, maaf bu, jadi membuat ibu sedih.”


“Nggak kok Neng, kalau eneng mau ibu


bersedia menjaga Hanum, Neng Raya mau cari kerja ya?” Kata Bu Nanik.


“Iya bu, saya sudah harus mencari kerja


untuk anak-anak saya…”


“Ya sudah Neng biar Hanum sama ibu


saja, ibu jadi semangat ini ada yang menemani ibu lagi setelah dua tahun anak


bungsu ibu menikah.”


“Alhamdulillah, terima kasih ibu mau


menolong saya…”


“Sudah nggak papa, Neng Raya mau cari


kerja sekarang?”


“Maunya gitu sih bu, ibu cukup panggil


saya Raya aja ya bu, nggak usah pakai Neng…”


“Wah…ndak papa ini…”, Raya menggeleng


tersenyum, “Baiklah, bukannya Nak Raya harus siap-siap ya, oya Princes Hanum


mau main sama nenek nggak?” Hanum langsung mengangguk senang, ia merasa wanita


itu sangat-sangat baik dan tulus sehingga ia langsung lengket dengan Bu Nanik.


“Iyan bukan nenek” Katanya membuat Bu Nanik menatap Raya bingung.


“Hanum manggil ibu eyang bukan nenek”


“Oalah…iya ndak papa, eyang juga bagus


hehe”


“Baiklah bu, Raya siap-siap dulu ya”


“Ya nak…” Bu Nanik membawa Hanum masuk


ke dalam rumah Raya.


“Yuk Iyan, ain neka” Bu Nanik masih


berusaha menyesuaikan apa yang dibicarakan oleh Hanum.


“Main boneka?”


“Iya” Seru Hanum ceria. Bu Nanik


menggandeng gadis kecil itu bermain dengan bonekanya di karpet.

__ADS_1


To Be Cintinued


__ADS_2