Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 10 Asisten Je


__ADS_3

Raya mendatangi pos 1 yang memanggil namanya


lewat pengeras suara. Di ruang itu ia kembali di wawancarai dalam Bahasa


Inggris, mulai pendidikan sampai pengalaman kerja. Raya adalah sarjana lulusan


S-2 di Inggris, jadi melihat riwayat pendidikan yang diceritakan sudah membuat


nilai plus untuk sang pewawancara.


Setelah itu ia lanjut dengan pos 2


yaitu tes psikologi yang menurutnya sangat-sangat mudah, ia mampu menjawab puluhan


soal itu dalam waktu 20 menit, karena pertanyaan di dalam lembar itu sudah


sangat biasa bagi Raya, jadi tanpa berpikir wanita itu langsung mencoret abjad


yang di inginkan.


Seleksi terakhir berada di pos 3 yaitu


cek kesehatan luar dalam, bahkan ceck up keseluruhan dilakukan, karena mereka


tidak ingin kecolongan menerima karyawan dengan penyakit menular dan berbahaya.


Selesai proses itu Raya diminta menyerahkan email untuk bisa dihubungi jika


lolos nanti, kemudian ia langsung menuju tempat parkir dimana Pak Malik masih


menunggu dan memintanya untuk mengantarnya langsung pulang ke rumah.


.


.


.


Sementara itu, di ruangan yang besar


dan mewah tampak tiga laki-laki gagah itu berdiskusi dengan Alvero sang CEO


besar yang berada di kursi kebesarannya, Asisten Je duduk di depannya dan


laki-laki satunya berdiri di sisi meja.


“Bagaimana hasilnya?” Tanya Alvero


menatap Asisten Je, sementara laki-laki itu menoleh kepada laki-laki yang


berdiri di sebelahnya. Laki-laki berwajah Asia itu mengangguk.


“Dari seleksi pertama yang lolos hampir


separuh Tuan Muda, dan hari ini yang lolos hanya 150 orang” Jawab Antoni ramah.


“Hmmm…”


“Tapi yang sampai pada tahap lolos cek kesehatan


hanya 50 orang saja Tuan Muda” Lanjut Antoni. Alvero dan Asisten Je saling


pandang.


“Pastikan semua bisa berjalan lancar,


aku tidak ingin ada kekeliruan sedikitpun” Kata Asisten Je tegas.


“Baik Asisten Je” Kata Antoni.


“Dan jangan lupakan pesan istriku…”


Kata Alvero.


“Baik Tuan Muda” Laki-laki itu


membungkuk mengiyakan.


“Kau boleh keluar” Kata Asisten Je.


“Baik, saya permisi Tuan Muda…” Antoni kembali


membungkukkan badannya kemudian berlalu keluar ruangan.


“Menurutmu apa Meili harus hadir untuk


tes terakhir besok?” Taya Alvero.


“Kalau Nona Muda menginginkan, tentu


boleh Tuan Muda” Jawab Asisten Je. Sebenarnya ia malas untuk mencari sekretaris


wanita, ia lebih nyaman bila bekerja dengan laki-laki, ia tidak harus


berkomunikasi dengan wanita, apalagi kalau wanita itu nanti berusaha mencari


masalah dengannya.


“Hmmm, pasti dia akan merajuk kalau


melewatkan hal itu, secara dia menginginkan sekretaris wanita untukmu…”


“Ck…”


“Hei…kau marah sama istriku?!” Bentak


Alvero membuat Asisten Je menggeleng panik.


“Tidak Tuan Muda, hanya saya tidak


terbiasa dengan sekretaris wanita, bagi saya mereka pasti merepotkan” Keluhnya


membuat Alvero tertawa.


“Biasakanlah dirimu, karena penentu


terakhir nanti ada di tangan istriku” Asisten Je mengangguk pasrah.


“Dahlah lanjutkan tugasmu, aku akan

__ADS_1


makan siang dengan istriku…kau tak perlu ikut, karena ini acara romantis…”


Ejeknya tersenyum. Asisten Je hanya mengangguk walau dalam hatinya mendesis


marah terus disindir oleh bos sekaligus sahabatnya itu.


Sebenarnya Meili sudah sering ingin


menjodohkan Asisten Je dengan temannya, namun selalu gagal karena laki-laki itu


benar-benar menutup diri dari yang namanya wanita. Entah kenapa ia begitu


membenci dan jijik jika bertemu dengan wanita, tentu selain Meili istri bosnya.


Meili sampai pernah mengutarakan penasarannya kepada Alvero apa Asisten Je itu


gay, tapi hal itu di tolak oleh Alvero maupun Asisten Je tanpa alasan yang


jelas.


Sekarang Meili mempunyai kesempatan


untuk mendekatkan Asisten Je dengan sekretaris pilihan Meili, agar laki-laki


itu bisa merubah persepsinya terhadap wanita, tentu Meili tidak akan sembarang


memilih sekretaris, makanya ia hanya meminta datang di akhir seleksi untuk


melihat siapa saja pelamar yang lolos di tahap terakhir.


Masalah penyakit Asisten Je yang tidak


bisa menyentuh wanita, itu bisa di atasi dengan memakai sarung tangan tipis


yang mirip dengan warna kulit, seolah ia tidak memakainya, sehingga ketika


tidak sengaja bersentuhan Asisten Je tidak akan mengalami gatal-gatal dan


lecet. Walaupun Meili belum membuktikan sendiri kenyataan itu, ia juga tidak


berani menyentuh Asisten Je bahkan hanya sekedar berjabat tangan. Apalagi sikap


Alvero yang posesif, bahwa tidak ada yang boleh menyentuhnya kecuali DIA, sang


pemilik hati.


.


.


Ting…


Bunyi hp Raya menandakan ada notifikasi


email yang masuk. Wanita itu membaca emailnya dan tersenyum merekah. Di sana


tertulis bahwa ia mendapat undangan tes lanjutan untuk besok jam 10.00 dari PT.


Diamond Jewerly.


“Kenapa mama tersenyum?” Tanya Titania


Raya menunjukkan notifikasi email pada


putrinya, membuat gadis muda itu tersenyum canggung. Ia tidak mau mamanya


mengenal sosok laki-laki, cukup dengan mereka pasti mamanya akan bahagia.


“Boleh mama lanjut?” Raya bertanya


pelan.


“Boleh kok ma, sayang kali mama udah


berusaha masak mau dilewatkan…” Raya tersenyum dan mengelus kepala putrinya.


“Terima kasih sayang”


“Tapi jangan di forsir ya ma, Tita


nggak mau nanti mama malah lupa sama kita” Ingat Titania lagi.


“Pasti sayang…, sudah selesai


belajarnya?” Titania mengangguk dan membereskan buku pelajarannya kemudian


memasukkan ke dalam tasnya.


“Ya sudah kakak tidur gih, lihat adek


kayaknya udah ngantuk tuh” Raya mengangkat tubuh Hanum di gendongannya kemudian


mengantar kedua putrinya ke kamar dan menemani mereka sebentar sampai tertidur.


Ia segera menuju ke kamarnya dan membersihkan diri sebentar kemudian istirahat


agar besok bisa bangun dengan tubuh yang fresh.


.


.


Jam 05.00 seperti biasa Raya sudah siap


dengan kostum olahraga, ia sudah siap di teras dengan ditemani dua anaknya


untuk lari pagi.


“Nak Raya mau lari pagi?” Sapa Bu Nanik.


“Eh…ibu, iya nih, ibu mau ikut?”


“Nggak lah nak, ibu mau membersihkan


rumah saja…”


“Bu apa Raya cari orang lagi untuk


membersihkan rumah ya?” Raya merasa tidak enak dengan Bu Nanik yang malah

__ADS_1


merembet membersihkan rumah kadang malah memasak.


“Sudah nggak papa nak…”


“Nanti Raya coba tanya ke Pak Malik deh


bu, niatan Raya kan hanya menunggui Hanum, kok malah semuanya ibu yang lakuin…”


“Oalah nak, ibu tulus kok…sudah ndak


papa”


“Ndak papa bu, nanti pokoknya ibu hanya


menjaga Hanum saja, titik” Kata Raya tegas dengan nada yang tidak mau dibantah.


“Baiklah nak, tapi untuk hari ini biar


ibu ya”


Raya tersenyum mengiyakan, kemudian


pamit mengajak anak-anaknya lari pagi.


“Iyan lali dulu ya” Pamit Hanum.


“Iya sayang…”


Dengan riang Raya dan kedua putrinya


berlari menyusuri kompleks perumahan yang cukup elit itu. Jajaran rumah yang


besar dan rapi serta di sepanjang sisi kanan jalan di tanami pohon yang rindang


membuat susana pagi itu semakin sejuk. Lagi-lagi ia dipertemukan dengan


laki-laki yang beberapa hari lalu juga lari pagi. Tapi sepanjang penglihatan


Raya, laki-laki itu seolah tidak memandang sekitarnya, pandangannya hanya lurus


ke depan tanpa menoleh kanan ataupun kiri. Di telinganya nampak terpasang


headshed untuk mendengar musik.


“Mama…ada om danten” Kata Hanum dengan


bahasa yang lucu membuat Raya membelalak menatap putri kecilnya.


“Hush…gak boleh ya Hanum…” Gadis itu


hanya terkikik geli dengan larangan mamanya, tapi matanya tak berhenti menatap


laki-laki yang berlari di depan mereka. Sementara Titania tetap berlari dalam


diam. Setelah puas berlari mereka kembali ke rumah dan membersihkan diri dengan


Raya yang memandikan Hanum terlebih dahulu. Ia kemudian menuju kamarnya untuk


mandi dan bersiap-siap juga mendatangi perusahaan emas itu untuk tes lanjutan.


Titania sudah berangkat duluan, ia


bilang bahwa hari ini ia piket, jadi ia membawa bekal untuk dimakan sehabis


piket kelas.


Pukul 10.00 Raya sudah standby di loby


perusahaan menunggu untuk dipanggil tes lanjutan. Ia duduk bersama puluhan


pelamar yang lolos lainnya. Raya memperhatikan sekelilingnya, hampir semua


wanita yang hadir memakai pakaian yang menurutnya kurang pantas, mungkin hanya


lima orang yang memakai pakaian tertutup termasuk dirinya, walaupun hanya dia


seorang yang memakai jilbab.


Gosip tak faedahpun sempat mampir di


telinganya dari para wanita-wanita itu. Mereka berbisik-bisik dengan yakin


bahwa yang diterima pasti yang cantik dan seksi, buat apa wanita muslimah


melamar menjadi sekretaris, menurut mereka wanita berjilbab itu hanya pergi


untuk pengajian saja. Mereka terkikik seraya menatap sinis ke arah Raya, tapi


wanita itu hanya acuh saja.


Jam 10.00 tepat mereka diharapkan masuk


ke ruangan yang telah disediakan laptop dan printer serta kertas, mereka masuk


dalam lima tahap, jadi tahap pertama yang masuk 10 orang. Mereka harus


menyelesaikan tugas yang berikan dalam waktu 30 menit. Tanpa diketahui oleh


para pelamar, di balik kaca besar itu ada tiga orang yang memantau jalannya


seleksi akhir itu. Alvero, Meili, dan tentu saja Asisten Je, mereka mengamati


setiap perilaku pelamar itu dengan teliti dan detail, karena mereka tidak ingin


salah dalam memilih.


Setelah tiga jam berlalu, giliran Raya bersama 9 orang


lainnya masuk ke dalam ruangan untuk melaksanakan tugas. Di balik kaca itu,


ketiga orang tersebut tetap memperhatikan setiap menit apa yang terjadi pada


para pelamar itu. Menurut mereka sampai empat gelombang ini belum ada yang


menarik perhatian mereka, hampir saja mereka menyerah. Tampak Asisten Je mengamati


langkah seorang wanita yang sangat tenang pembawaannya menuju ke kursi yang


ditunjukkan oleh petugas dan duduk di atasnya. Kenapa ia seperti tidak asing

__ADS_1


dengan wanita itu ya, lirihnya dalam hati.


__ADS_2