
Asisten Je membuka hp Raya dan mengernyit tak suka.
“Apa kata sandinya?” Tanyanya malas.
“Lovely Husband” Jawab Raya, dan Asisten Je mengetik sandi kemudian muncul layar menampilkan foto kebersamaan keluarga kecil Raya, ada laki-laki yang menggendong bayi usia satu tahun, itu pasti Hanum, dan Raya serta Titania yang berdiri di sebelahnya. Terdengar dengusan pelan dari mulutnya. Sejenak ia mengetikkan sesuatu di hp Raya lalu mengembalikannya, setelah itu ia mengambil dompet Raya. Asisten Je mengambil semua ATM Raya dan menyimpannya di dalam laci meja kerjanya.
“Hei, kenapa Anda mengambil ATM saya Tuan, kembalikan semuanya Tuan” Protes Raya.
“Tidak akan, aku akan mengembalikannya setelah 2 bulan lagi tepat ketika kita sampai di rumah ku lagi. Dan mulai sekarang gunakan kartu dariku…jangan khawatir aku tak akan membatasi jumlahnya, kau juga bisa memenuhi kebutuhan rumah dan anak-anakmu dengan itu.” Jawab Asisten Je tanpa mau dibantah.
“Anda ternyata sangat licik Tuan, Anda menahan kartu saya karena Anda takut saya akan lari begitu? Picik sekali pikiran Anda Tuan…” Protes Raya tidak terima.
“Aku bukan licik, tapi itu sebagai bentuk tanggung jawabku dalam memberi nafkah pada istriku” Jawab Asisten Je tak mau kalah. Wanita itu hanya mendengus pasrah dengan ketentuan ‘Singa Galak’ itu.
“Ingat dua hari lagi kita berangkat ke bandara, jadi besok kamu sudah harus berkemas dan menginap di sini untuk menyiapkan segala keperluanku, kamarmu ada di lantai 2 di sebelah kamar yang memiliki pintu abu-abu, itu kamarku” Raya terbelalak tak percaya.
“Tuan…saya belum bilang ke anak-anak saya, saya harus ngomong apa? Siapa yang akan menjaga mereka?”
“Aku akan menugaskan Lani dan Leon untuk menjaga mereka selama kita ke luar kota, jangan khawatir mereka profesional dan dapat diandalkan” Raya masih sanksi untuk meninggalkan anak-anaknya dengan orang asing.
“Mereka bawahanku yang dapat dipercaya, aku jaminannya” Kata Asisten melihat keraguan istrinya tersebut. Raya menghela nafas pelan kemudian mengangguk.
“Baiklah, terima kasih Tuan…”
__ADS_1
“Tunggulah di sini, aku panggil mereka.” Potong Asisten Je seraya menekan nomor di hpnya dan sesaat kemudian…
“Aku tunggu di rumah, sekarang.” Perintahnya datar dan tegas. Raya yang mendengar tak habis pikir, perintah dengan kata ‘sekarang’ apa berarti harus secepatnya dan tidak boleh terlambat? Uh…kejam juga ternyata. Yang ia tahu dan alami selama menjadi istri dari dua CEO, atasan tidak berlaku semena seperti itu, bahkan ia salut bagaimana Revian suami keduanya sangat merangkul bawahan tanpa membedakan status, tugas dan wewenang semestinya di kerjakan dengan tanggung jawab, di luar itu berlaku aturan yang ramah dan tidak otoriter.
Belum sampai 10 menit, terdengar bel pintu berbunyi dan sekejap kemudian pintu ruang kerja di ketuk dari luar. Wah…rupanya mereka sudah paham cara kerja bertamu, pencet bell, masuk, ketok pintu, dan…
“Masuk” Perintah Asisten Je. Pintu tampak terbuka dan muncul 2 orang laki-laki dan perempuan, mereka membungkuk sejenak dan berdiri tegak di depan meja kerja Asisten Je. Raya meneliti 2 orang itu, yang laki-laki perawakannya sangat tegap, tinggi kurang lebih 180 cm, kulit sedikit gelap, dan aura wajah yang tegas, dan jangan lupakan…tampan. Yang seorang lagi, gadis dengan postur tinggi semampai, ramping, rambut bergelombang sebahu, kulit sedikit gelap juga, aura wajah yang sebelas duabelas dengan sebelahnya, dan cantik. Mereka kembar ternyata.
“Perkenalkan, dia istriku, kalian harus melayani dan menjaga nya seperti kalian melayani dan menjagaku” Kata Asisten Je. Mereka tampak terkejut dengan perintah laki-laki itu dan segera menoleh ke arah pandangan Asisten Je. Di sofa tampak duduk seorang wanita berhijab yang Anggun, elegan, dan…cantik. Kapan bos menikah? Pikir mereka, karena Raya tampak melihat mereka saling melirik.
“Selamat siang Nyonya” Sapa mereka bersamaan dengan sopan dan membungkukkan badan.
“Hai, jangan terlalu formal, saya Raya, kalian pasti Lani dan Leon” Raya mengulurkan tangannya untuk bersalaman, keduanya hendak meraih tangan itu namun deheman seseorang menghentikan gerakan mereka sehingga tangan mereka masih menggantung di udara.
“Aku tidak suka dipanggil nyonya, aku belum tua” Ketus Raya, membuat kedua orang itu saling melirik kemudian menoleh ke arah Asisten Je.
“Maka panggil aku juga dengan panggilan tidak formal” Cetus Asisten Je cuek. Raya mengernyit heran.
“Maksud Anda?”
“Kau pakai anda ketika bicara sama aku, tapi dengan mereka yang baru bertemu kau sudah menggunakan aku-kamu..” Kedua orang bawahan itu saling mendelik tak percaya mendengar apa yang dikatakan atasan mereka. Benarkah di hadapan mereka itu Tuan Muda yang terkenal dengan dingin, tegas, kejam? Kenapa sangat berubah sekali.
“Tunggu di luar” Perintah Asisten Je, paham dengan perintah tegas itu, dua orang itu langsung keluar tanpa di suruh dua kali. Raya takjub melihatnya, padahal ia saja bingung dengan perintah tersebut.
__ADS_1
“Mulai sekarang ubah panggilan mu padaku”
“Saya harus panggil apa Tuan? Anda atasan saya…”
“Aku suami mu kalau kau lupa” Sergah Asisten Je kesal. Raya menutup mulutnya rapat. Ia bingung, panggilan seperti apa yang harus ia sematkan untuk laki-laki yang sah menjadi suami siri nya itu. Tidak mungkin kan ia akan memanggil, ‘hai Singa ku’ Haha. Raya tertawa sendiri, namun hanya dalam hati ya.
“Kenapa? Ada yang lucu?” Asisten Je menatap tak suka terhadap Raya yang sepertinya menahan tawa. Wanita itu terkejut dan menggeleng cepat.
“Tidak Tuan…”
“Hmmm”
“Mas?”
“Aku bukan kakakmu, ganti!” Ketusnya.
“Abang?”
“Apalagi itu?”
“Terus saya harus manggil apa?”
“Terserah, asal jangan yang itu” Jawab Asisten Je seenaknya.
__ADS_1
TBC