Karena Aku Mencintaimu, Raya

Karena Aku Mencintaimu, Raya
BAB 76 Sesuatu terjadi?


__ADS_3

Panggilan video tersambung dengan menampilkan wajah Raya di layar penuh.


“Mama…” Lirih Titania. Tampak pergerakan dari sampingnya, Hanum bangun segera meminta layar di hadapkan pada dirinya.


“Kalian sedang di luar? Mau kemana malam-malam?” Tanya Raya masih belum tahu kondisi putrinya. Namun matanya mendelik khawatir mendengar tangisan memilukan gadis kecilnya.


“Hanum, sayang…”


“Mama…huaaa” Hanum memanggil dengan menangis kencang.


“Sesuatu terjadi?” Tanya suara di belakang Raya, wanita itu menoleh seraya menggeleng khawatir.


Titania memicing menyaksikan laki-laki yang di kenal sebagai penculik itu berada satu kamar dengan mamanya, malam-malam, dan hanya memakai celana piyama.


“Leon!” Suara Asisten Je sangat tegas memanggil bawahannya.


“Tuan Muda…” Lani menyela dengan mengambil hp milik Titania dan berbicara dengan atasannya dengan takut.


“Hanum sakit perut, saya pikir dia sudah terlalu merindukan Nyonya…”


“Hanum sayang…sabar ya, mama bentar lagi pulang, Tita, bisa bantu mama menenangkan adek?” Pinta Raya yang sebenarnya panik tapi dia berusaha memasang wajah tegar dan tenang.


Titania mengangguk, “Hanum, dengar kan, bentar lagi mama pulang, Hanum akan jumpa lagi sama mama, jadi Hanum harus sembuh ya” Titania mengusap air matanya pelan, “Mama pasti sedih kalau Hanum sakit, sini…anggap tangan kakak tangannya mama yang mengusap perutmu supaya tidak sakit lagi…” Ucapnya lagi sambil mengusap-usap perut adiknya.

__ADS_1


Raya tersenyum haru melihat kedua putrinya saling memberi dukungan dan semangat. Asisten Je tampak menghubungi seseorang untuk membantu Lani dan Leon nanti di rumah sakit. Dia percaya kepada dua bawahannya itu, tapi kalau ada yang lebih di percaya akan lebih tenang.


“Lani, nanti setelah sampai rumah sakit, kamu hubungi Victor, aku sudah meneleponnya, kamu pastikan dia hadir di sana.”


“Baik Tuan Muda”


“Aku usahakan sebentar lagi selesai, tanpa menunggu besok kita akan meluncur ke sana”


“Baik Tuan Muda, kami sudah sampai di rumah sakit” Lani bergegas keluar dengan menggendong Hanum sementara hp di pegang oleh Titania dengan tetap tersambung, karena Asisiten Je meminta untuk tetap berkomunikasi.


Mereka di sambut oleh beberapa petugas rumah sakit dengan brankar dan dibawa ke ruang pemeriksaan. Lani, Leon, dan Titania menunggu di depan ruang pemeriksaan. Leon segera menghubungi Victor di mana rumah sakit yang mereka tuju.


Lani ingat bahwa panggilan video masih tersambung dengan Raya tetap berada di layar hp. Ia menatap dengan cemas.


“Sudah Nyonya, Hanum sedang di tangani di dalam”


“Syukurlah, tolong jaga putriku ya Lani, aku masih harus menyelesaikanmasalah, ada yang masih sedikit kami kerjakan, aku usahakan tidak sampai menginap lagi”


“Baik Nyonya, kami akan menjaganya dengan segenap hati kami”


“Kita terbang sekarang” Putus Asisten Je pada Raya membuat wanita itu berjengit kaget sekaligus senang.


“Bagaimana dengan jadwal…”

__ADS_1


“Aku sudah telepon Aditya dan Darren untuk menangani sisanya, siap-siaplah” Asisten Je mengelus bahu Raya menguatkan hati istrinya itu untuk tetap tenang. Wanita itu mengangguk kemudian bergegas mempersiapkan semua keperluan yang akan di bawa pulang. Sebenarnya masih ada 2 cabang lagi yang akan di audit, tapi Asisten Je menyerahkan semuanya kepada Aditya dan Darren. Ia percaya mereka akan bersifat profesional dalam bekerja.


“Di bawa yang penting saja, lainnya biar di bereskan bawahanku” Raya mengangguk patuh.


“Jangan khawatir, Hanum akan baik-baik saja, aku sudah telepon pihak rumah sakit untuk melakukan penanganan yang terbaik pada Hanum” Asisten Je memberi tepukan lembut pada bahunya. Raya tidak bisa membalas perkataannya. Biasanya jika Hanum sakit, hanya dia yang kebingungan membawa ke rumah sakit. Kini, ada sosok baru yang menunjukkan kekhawatiran dengan sangat jelas, dia sangat tersentuh, dia merasa perhatian yang mendalam itu membuat hatinya sedikit semakin tergerak dan yakin untuk mengubah statusnya menjadi istri sah suaminya.


“Hei…Hanum akan baik-baik saja” Kata Asisten Je lagi meyakinkan, karena melihat mata Raya berkaca-kaca.


Wanita itu mengangguk tersenyum.


“Terima kasih…” Lirihnya.


“Tita, sabar ya nak, enam jam lagi kita akan berkumpul lagi, sudah jangan menangis, kakak harus kuat, kalau adek bangun, hibur dia ya, mama sudah meluncur ke bandara ini” Hibur Raya masih menatap Titania di layar hpnya. Titania mengangguk paham, kemudian melihat seorang perawat menghampiri Lani membicarakan masalah administrasi.


“Biar saya yang urus” Kata Victor, orang kepercayaan Asisten Je yang sudah menemani mereka di ruang tunggu. Lani dan Leon mengangguk.


Lani terus menggenggam erat tangan Titania untuk memberi kekuatan. Ia terus menggumamkan kalimat, ‘Hanum akan baik-baik saja’ pada gadis itu. Baru kali ini ia mengalami mengurus anak yang sakit, biasanya ia akan dengan sangat cekatan berurusan dengan bisnis, tapi kali ini masalah kondisi anak kecil dan sakit lagi. Ini baru pertama kali baginya, sehingga ia pun bingung harus melakukan apa.


Asisten Je dan Raya telah sampai di bandara, mereka langsung masuk ke dalam pesawat setelah keluiar dari mobil yang berhenti di dekat pesawat pribadi milik Asisten Je.


“Tita, kita harus naik pesawat sekarang dan mematikan telepon, ikuti kata Tante Lani ya” Kata Raya menatap putrinya.


“Ya ma, hati-hati” Titania mengangguk kemudian sambungan telepon terputus.

__ADS_1


TBC


__ADS_2